Rahasia Sang Wanita Besi
Sebagai sekretaris pribadi, Evelyn dikenal sempurna—tepat waktu, efisien, dan tanpa cela. Ia bekerja tanpa lelah, nyaris seperti robot tanpa emosi. Namun, di balik ketenangannya, bosnya, Adrian Lancaster, mulai menyadari sesuatu yang aneh. Semakin ia mendekat, semakin banyak rahasia yang terungkap.
Siapa sebenarnya Evelyn? Mengapa ia tidak pernah terlihat lelah atau melakukan kesalahan? Saat cinta mulai tumbuh di antara mereka, misteri di balik sosok "Wanita Besi" ini pun perlahan terkuak—dan jawabannya jauh lebih mengejutkan dari yang pernah dibayangkan Adrian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Menghadapi Takdir yang Tak Terelakkan
Evelyn berdiri di tengah ruangan yang gelap, pikirannya berputar-putar. Matahari yang tadi masih tampak menyinari dunia luar, kini hanya tinggal bayangan yang menembus jendela yang tertutup rapat. Seluruh dunia terasa begitu hampa. Ia menatap ke layar besar yang kini menampilkan gambaran wajah dirinya yang baru—sebuah identitas yang tidak ia kenali.
Rasanya sulit untuk menerima kenyataan bahwa dirinya bukanlah dirinya yang dulu. Wajah di layar itu lebih matang, lebih kuat, namun dengan aura yang sangat asing baginya. Seperti ada sesuatu yang hilang—sebuah bagian dari dirinya yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Apa itu? Kekuatan yang ditunjukkan oleh gambar itu? Ataukah perubahan ini adalah hasil dari sebuah eksperimen yang sudah ditentukan?
"Ini tak mungkin..." bisiknya pada dirinya sendiri.
Zayne, yang berdiri di sampingnya, menggapai tangannya. "Evelyn," katanya dengan suara lembut namun tegas, "ini semua mungkin terlalu banyak untuk kita terima sekaligus, tetapi kita harus tetap tenang."
Evelyn menoleh padanya, matanya yang sebelumnya penuh dengan kebingungan, kini dipenuhi dengan keputusan yang belum sepenuhnya jelas. "Tapi Zayne, lihat apa yang mereka lakukan pada kita. Mereka telah merencanakan segalanya dari awal. Kami—aku—bukan lagi orang biasa."
Zayne menggenggam tangannya lebih erat. "Kita harus memutuskan bagaimana menghadapi ini. Dunia kita mungkin sudah berubah, tapi kita masih punya pilihan. Kekuatan kita—kekuatanmu—itu adalah sesuatu yang bisa kita kendalikan, bukan sesuatu yang mengendalikan kita."
Evelyn mengangguk pelan, meski hatinya masih terombang-ambing. Ada banyak pertanyaan yang belum terjawab, dan kini, setelah melihat gambaran yang tak terduga itu, semakin banyak keraguan merayapi benaknya. Apa yang sebenarnya mereka hadapi? Apa yang akan terjadi jika mereka memilih untuk melawan takdir yang telah digariskan ini?
Pria yang berada di depan mereka, yang tampaknya tahu lebih banyak tentang "Genesis", tersenyum dingin saat melihat kebingungan yang tercermin di wajah mereka. "Ini adalah bagian dari rencana yang lebih besar," katanya dengan nada yang penuh misteri. "Kalian harus menerima bahwa kalian bukan hanya sekadar manusia biasa. Kekuatan ini akan membentuk dunia baru. Sebagai bagian dari Genesis, kalian akan menjadi pilar dalam tatanan yang baru—sebuah tatanan yang akan menghapus segala yang lama."
"Dan jika kami tidak mau?" tanya Zayne dengan ketegasan yang tak bisa disembunyikan.
Pria itu menatap Zayne dengan penuh arti. "Menolak bukanlah pilihan yang sebenarnya. Kalian berdua adalah kunci untuk membuka babak baru. Pilihannya bukan lagi apakah kalian ingin menjadi bagian dari ini—tetapi bagaimana kalian akan menghadapinya."
Evelyn merasakan angin dingin yang menyentuh kulitnya, seakan dunia luar sedang mencoba mengingatkan mereka akan kenyataan yang tak bisa dihindari. Namun, dia juga tahu bahwa mereka masih memiliki kendali atas apa yang akan datang. Mereka memiliki kemampuan untuk memilih, meskipun tidak mudah.
"Jadi, kami harus memutuskan apa sekarang?" Evelyn bertanya, suaranya lebih mantap, meski masih terkesan penuh ketegangan.
Pria itu mengangguk. "Ya. Pilihlah, Evelyn. Pilih dengan bijak, karena keputusan kalian akan mempengaruhi lebih dari sekadar kalian berdua. Dunia ini sudah dipersiapkan untuk perubahan besar. Takdir kalian sudah terjalin dengan nasib umat manusia."
Seketika, Evelyn merasa dirinya terjebak dalam jaring yang tak bisa ia lepaskan. Semua ini bukan sekadar tentang dirinya atau Zayne. Ini tentang dunia yang lebih besar, tentang kekuatan yang bahkan mereka sendiri belum benar-benar mengerti. Dunia yang mereka kenal kini berguncang. Kekuatan yang ada dalam diri mereka mungkin dapat merubah arah sejarah.
"Apa yang akan terjadi pada kita jika kita menolak?" tanya Evelyn, menahan napasnya, menunggu jawaban yang tak pasti.
Pria itu tersenyum dengan sinis. "Kalian bisa memilih untuk mundur, tetapi itu berarti kalian akan kehilangan kesempatan untuk menguasai takdir kalian. Tak ada jalan kembali setelah kalian mengetahui kebenaran."
Evelyn merasakan beratnya pilihan ini. Di satu sisi, dia merasa seperti dikejar-kejar oleh takdir yang menginginkan dirinya menjadi bagian dari kekuatan yang lebih besar. Namun, di sisi lain, dia tahu bahwa jika dia menerima kenyataan ini begitu saja, maka dia akan kehilangan sesuatu yang sangat penting—identitasnya sebagai individu yang bebas, yang bukan hasil eksperimen atau bagian dari rencana besar yang tidak ia pilih.
Zayne, yang tampaknya juga berpikir keras, akhirnya membuka mulutnya. "Apa yang sebenarnya kalian inginkan dari kami?"
Pria itu menatap Zayne dengan tajam. "Saya sudah katakan sebelumnya—kami tidak menginginkan kalian. Kami hanya ingin melihat sejauh mana kalian bisa berkembang dengan kekuatan ini. Jika kalian memilih untuk melawan, kami akan membiarkan kalian melakukannya. Namun, kami juga tahu, tak ada yang bisa melawan takdir mereka. Kalian adalah kunci untuk merubah dunia ini."
Evelyn merasa jantungnya berdegup kencang. Kekuatan yang mereka miliki, takdir yang ada di depan mereka, dan apa yang sebenarnya mereka pilih, semuanya kini terasa begitu kompleks. Dia tahu bahwa mereka harus segera membuat keputusan—keputusan yang tak hanya akan memengaruhi mereka, tetapi juga seluruh dunia yang mereka kenal.
Namun, sebelum Evelyn bisa melanjutkan pemikirannya, layar besar di hadapan mereka berubah. Gambar wajah yang awalnya menakutkan itu kini berubah menjadi peta besar dunia, dengan titik-titik yang bersinar di berbagai lokasi di seluruh dunia.
Pria itu berbicara dengan nada serius, "Ini adalah peta yang menunjukkan tempat-tempat di mana kalian bisa menemukan lebih banyak tentang Genesis—tempat-tempat yang akan membawa kalian lebih dekat kepada kebenaran. Pilihlah dengan bijak."
Evelyn merasa kebingungannya semakin dalam. Pilihan-pilihan ini terasa seperti ujian yang sulit, dan apa yang terjadi selanjutnya bisa memengaruhi hidupnya selamanya.
"Tidak ada jalan yang mudah, Evelyn," kata Zayne pelan, "Namun, kita harus bersama-sama menghadapi ini."
Evelyn menatap Zayne, merasakan keberadaan pria itu di sisinya, dan untuk pertama kalinya, dia merasa sedikit tenang. Mereka tidak sendirian dalam perjalanan ini. Meskipun jalan yang mereka pilih penuh dengan misteri dan bahaya, mereka harus berjalan bersamanya. Apa pun yang akan mereka hadapi, mereka harus melakukannya bersama-sama.
.
.
.
Masih butuh rekomen?
Masih ada, bagi kalian yang suka dunia Isakai ini aku rekomen banget:
Ceritanya berlandaskan dunia di otak othor, cuma menggabungkan beberapa elemen yang buat hati cenat cenut, dan dunia yang emang belum pernah ada sebelumnya.
Gak tau kenapa ya, kok aku pengen banget nulis novel begini, padahal biasanya ogah dan lebih suka novel yang fantasy masuk akal aja gitu. Meski fantasi emang gak ada yang masuk akal, tapi ya seenggaknya masih bisa di cerna sama akal sehat. Tapi di novel ini, semua akal sehat di telan bulat bulat kawan:
let's cek aja kawan!
Kalo berkenan boleh singgah ke "Pesan Masa Lalu" dan berikan ulasan di sana🤩
Mari saling mendukung🤗