Sarah sang pemeran utama beserta para survivor lainnya telah berada di sebuah dunia tiruan yang nampak aneh. Mereka harus bisa bertahan hidup dengan melewati permainan yang di sebut dengan " 25 aturan iblis ", dimana permainan ini memiliki setiap aturan dan teka teki yang cukup menyulitkan. yang berhasil bertahan hidup sampai akhir, adalah pemenangnya. lalu hadiah yang akan di terima adalah satu permintaan apa saja yang diinginkan...... Mampukah Sarah dan para survivor lainnya keluar dari dunia aneh itu..? lalu bagaimana caranya Alena adik perempuan Sarah yang telah menghilang selama 12 tahun berada di dunia itu....?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhamad aidin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 : Malam mencekam ( part 2 )
" bawa kakak Perempuanku dulu ke tempat yang aman... ". Elang langsung membopong Sarah yang masih pingsan.
" ikuti aku... jangan hiraukan suara apapun, dan tetap fokus ". setelahnya Alena mulai berjalan ke arah tenggara, lalu diikuti Elang yang membopong Sarah lalu di belakangnya Bara yang menjaga barisan belakang. Kami berjalan beriringan mengikuti langkah Alena yang sedikit cepat. Berbagai suara dapat terdengar seperti memanggil nama kami berempat. Suara yang familiar seperti orang yang kami kenal.
Alena terus melangkah dengan cepat, kali ini jalan cukup menanjak mengingat akar-akar pohon besar yang merambat di sepanjang jalur trek yang kami lewati.
Alena melihat sebuah pohon besar, pohon yang memiliki sebuah lubang seperti gua di tengahnya. Pohon itu berdaun putih panjang berbeda dengan pohon di sekitarnya, sesaat ku lihat pohon itu menyala seperti kumpulan lampu yang tertempel ketika sinar bulan menerangi seluruh bagiannya.
" Pergi ke sana... ". Alena menunjuk pohon itu lalu bergegas. Elang dan Bara mengikuti dengan langkah gontai. Tidak bisa di bohongi karena kami semua kelelahan karena belum meminum seteguk air maupun makanan yang masuk ke mulut. Sesampainya di lubang pohon itu, suasana seketika berubah, entah kenapa cukup nyaman tidak mencekam seperti di luaran sana.
" baringkan di sini saja... ". Alena yang melihat sebuah batu tidak terlalu besar, namun cukup untuk satu orang untuk berbaring di atasnya.
" Syukurlah hanya pingsan... ". Dengan nafas tersengal, Alena mengatur deru nafasnya.
" Bagaimana dengan anak-anak itu.... ? ". Tanya Elang yang mulai khawatir keadaan mereka di luaran sana.
" untuk saat ini kita aman di sini. Makhluk gaib itu benci dengan pohon ini, karena itu mereka tidak akan bisa mendekat ke sini ".
" Kau tahu banyak.... Lalu, maksudmu apa makhluk gaib...? ". Kali ini Bara yang membuka suara.
" Dulu aku juga pernah memainkannya, sedikit berbeda, namun musuhnya tetap sama. Aturan ke lima ini mungkin yang paling berbahaya dari aturan yang sudah kita lalui, karena ujiannya adalah keyakinan, keberanian, dan tekad kita ".
" Lalu apa maksudmu dengan mereka membenci pohon ini...? ".
" Aku menyadarinya ketika berada di gerbang pintu masuk rimba ini, pohon ini berdiri di samping sekitar tiga puluh meter dari pintu rimba. Pohon ini di sebut juga westeria putih, sebuah tanaman langka, entah darimana asalnya, namun tanaman ini sangat di hindari oleh makhluk gaib, kayunya jika di buat senjata bisa membunuh mereka, daunnya adalah racun mereka, lalu getahnya adalah air keras bagi mereka. Yang pasti pohon ini unik dan satu-satunya yang bisa kita andalkan saat ini ".
" Apakah kau tau ketiga belas setan ini...? ".
Alena hanya menggeleng, dia tidak bisa mengetahuinya, namun yang pasti mereka tidak akan bisa sampai ke atas puncak bila yang menghalanginya adalah makhluk gaib.
" Buat senjata kalian dari kayu pohon ini , buat tombak maupun benda runcing lainnya. Lalu untuk senjata, lumuri dengan getah pohon ini ". Alena langsung bangkit dari duduknya. Tidak ada waktu untuk memikirkan hal yang tidak penting.
" kita akan terus melangkah maju, untuk persoalan anak-anak..... ". Ada jeda dengan kalimat yang diucapkan Alena. " kita akan meninggalkan mereka ".
Elang bangkit secara tiba-tiba, emosinya memuncak setelah mendengar ucapan Alena. Elang menarik kerah baju Alena.
" Hatimu apakah terbuat dari es kah...? Bagaimana mungkin kau akan tega meninggalkan mereka....? Jika Sarah sadar, dia tak mungkin mengambil keputusan egois seperti ini ".
" Lalu apakah kau siap mengorbankan nyawamu demi anak-anak itu...? ". Dengan datar Alena menanggapi semua yang di sampaikan oleh Elang. Pertengkaran kedua tak dapat dielakkan, Bara yang melihat sahabatnya semarah itu tak bisa berbuat apa-apa. Dia dilema antara membela sahabatnya atau Alena yang sudah cukup paham dengan situasi ini.
" Ini bukan masalah nyawa , tapi hati nurani kita. Selama harapan masih ada, kita harus terus berjuang, walau kecil untuk selamat ".
" Tak bisa...!!!! Terlalu beresiko, aku tidak ingin banyak berdebat denganmu. Tujuan terpenting bagiku adalah keselamatan kakakku ". Alena lalu pergi begitu saja.
" Tunggu.... ". Elang berteriak kencang, lalu mengokang pistolnya. Dia arahkan kepada Alena.
Alena berhenti bergerak, dan masih memunggunginya. Dalam situasi yang panas ini keduanya sama sekali tak mau mengalah. Alena dengan sikap tegasnya dan Elang dengan sikap rasa tolong menolongnya.
" Cukup..... Hentikan semua ini.... ". Tiba-tiba Sarah terbangun dari pingsannya.
" Aku tahu bagaimana caranya untuk dapat menemukan mereka, dan informasi tentang ketiga belas setan ini... ". Sarah yang masih merasakan nyeri di leher dan tengkuknya hanya bisa meringis menahannya.
" Apa maksud kakak....? ". Alena tiba-tiba langsung merespon omongan Sarah.
" Seorang anak kecil bernama Amelia yang memberitahukan ku ".