menikah dengan laki-laki yang masih mengutamakan keluarganya dibandingkan istri membuat Karina menjadi menantu yang sering tertindas.
Namun Karina tak mau hanya diam saja ketika dirinya ditindas oleh keluarga dari suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26. Karina di pecat?
Pagi hari, setelah selesai mandi, Aldo mencari keberadaan Karina dengan langkah yang ringan dan senyum yang hangat. Dan seperti biasa, karena sudah terbiasa setiap pagi selama menjadi pengasuhnya, Karina sudah berada di tempat favoritnya, siap menyambut Aldo dengan senyum hangatnya di pagi hari.
Aldo turun ke arah meja makan dengan langkah yang ringan, biasanya Karina sudah menunggunya di sana dengan senyum dan sarapan yang sudah siap. Namun, begitu sampai di sana, Aldo merasa sedikit kecewa karena tidak menemukan Karina di tempat biasanya. Meja makan terlihat kosong dan sunyi, tanpa kehadiran Karina yang selalu menyambutnya dengan hangat.
"Oma, Mama belum datang, ya?" Aldo bertanya dengan nada yang sedikit khawatir, karena biasanya Karina sudah ada di meja makan menunggunya.
"Tante Karina hari ini tidak datang, Aldo," jawab Oma dengan nada yang lembut, namun terdengar sedikit aneh bagi Aldo yang terbiasa dengan kehadiran Karina setiap pagi.
Aldo mengernyitkan keningnya dengan ekspresi khawatir. "Kenapa? Apa Mama sakit?" Suaranya terdengar sedikit bergetar, karena Aldo sangat terbiasa dengan kehadiran Karina dan merasa ada yang tidak beres tanpa kehadirannya.
Lusi menggelengkan kepalanya dengan senyum yang menenangkan. "Tidak, Tante Karina tidak sakit, kok. Ayo, kita makan dulu!"
Tak puas dengan jawaban Oma-nya, Aldo beralih kepada papanya dengan wajah yang mulai murung. "Papa, kenapa Mama Karina belum datang?" Tanya Aldo, kini kedua matanya sudah berkaca-kaca dan suaranya terdengar sedikit bergetar, menunjukkan bahwa sebentar lagi akan menangis.
Andrew menghela napas panjang, wajahnya terlihat serius. "Aldo, dengarkan papa, ya!" Suaranya lembut, tapi terdengar tegas. "Mulai sekarang, Tante Karina tidak akan kesini lagi. Papa tidak mau Aldo sampai terluka seperti kemarin," tambahnya dengan nada yang penuh perhatian, sambil memandang Aldo dengan mata yang penuh kasih sayang.
Aldo menggelengkan kepalanya dengan keras, air matanya mulai jatuh ke pipi. "Tidak! Semua bukan salah Mama Karina!" Suaranya terdengar dengan nada yang tinggi dan penuh protes. "Ini semua salah Tante Vania! Dia yang memukulku saat Mama Karina sedang ke toilet. Mama Karina tidak tahu apa-apa!" Aldo berusaha untuk membela Karina, dengan wajah yang merah dan napas yang terengah-engah.
"Tetap saja, Tante Karina ikut dalam andil," Andrew mengulangi perkataannya dengan nada yang tegas dan sedikit kecewa. "Dia harusnya menjaga kamu dengan lebih baik, Aldo. Papa tidak bisa membiarkan hal seperti ini terjadi lagi."
"Pokoknya aku mau sama Mama Karina!" Aldo berteriak dengan suara yang tinggi dan penuh emosi, sebelum berlari menaiki tangga dengan langkah yang cepat dan tergesa-gesa. "Papa jahat, Papa tidak sayang sama aku!" Suaranya terdengar semakin jauh dan samar, namun masih terasa penuh kesedihan dan kekecewaan.
Begitu Aldo sudah tidak terlihat lagi, Lusi menatap tajam ke arah Andrew dengan mata yang berkilauan dengan kekecewaan. "Andrew, Mama rasa kamu yang keterlaluan," katanya dengan nada yang tegas dan penuh perasaan. "Karina tidak salah dalam hal ini, kasihan juga Aldo. Kamu tidak bisa menyalahkan Karina atas kesalahan Vania. Itu tidak adil!" Lusi berbicara dengan suara yang lebih keras dan penuh emosi, menunjukkan bahwa dia sangat tidak setuju dengan keputusan Andrew.
"Ini sudah menjadi keputusanku, Ma," Andrew berkata dengan nada yang tegas dan tidak mau diganggu, namun terlihat sedikit ragu-ragu. "Soal Vania... nanti juga aku akan bicara dengan dia tentang apa yang terjadi."
"Kamu benar-benar keras kepala. Mama hanya tidak ingin Aldo kehilangan sosok ibu yang kedua kalinya. Mama melihat Karina lebih bisa memahami dan merawat Aldo dengan baik, seperti seorang ibu. Janganlah kamu mengambil keputusan yang akan membuat Aldo terluka lebih dalam lagi."
Setelah mengatakan itu, Lusi bergegas pergi menyusul Aldo, meninggalkan Andrew sendirian. Andrew memandang ke arah Lusi yang hilang dari pandangannya, dengan perasaan campur aduk antara penyesalan, kekecewaan, dan keraguan yang mulai menghantui pikirannya.
****
"Darimana saja kamu, Karina?" Bu Marni bertanya dengan suara yang keras dan marah, begitu melihat Karina pulang.
"Habis cari sarapan, Bu," Karina menjawab dengan suara yang santai.
"Kamu cari sarapan dari luar?" Bu Marni bertanya dengan nada yang tinggi dan penuh keheranan. "Kenapa tidak masak? Beli makanan itu boros, Karina! Kamu mau menghambur-hamburkan uang anakku, hah?" Bu Marni melanjutkan dengan nada yang semakin keras dan marah.
"Ya, males masak aja, Bu. Lagian, aku beli sarapan juga tidak pakai uang anak Ibu, kok," tambahnya dengan senyum tipis, seolah-olah ingin mengatakan bahwa dia tidak melakukan kesalahan apa-apa.
Bu Marni memandang Karina dengan mata yang tajam, seolah-olah tidak percaya dengan ucapan Karina yang setiap hari semakin berani membantah.
"Sudah! Sekarang cepat kamu masak! Semua orang sudah lapar dan menunggu sarapan. Suamimu juga akan segera berangkat bekerja," Bu Marni memerintahkan dengan nada yang tegas dan tidak bisa ditawar-tawar lagi, sambil menunjuk ke arah dapur.
"Maaf ya, Bu, kalau lapar masak sendiri! Aku males masak, makanya tadi aku beli sarapan nasi uduk. Kalau Ibu juga tidak mau masak, ya beli saja seperti aku," Karina menjawab dengan nada yang santai dan sedikit menantang, seolah-olah tidak peduli dengan kemarahan Bu Marni. Dia memandang Bu Marni dengan mata yang terang dan tidak bersalah, membuat Bu Marni semakin marah.
"Apa kamu bilang?! Kamu sudah berani sama ibu?! Rudi... Rudi...!" Bu Marni bertanya dengan suara yang keras. Bu Marni mengambil napas dalam-dalam, seolah-olah ingin mengontrol emosinya, tapi tidak bisa menahan kemarahan yang sudah meledak.
Rudi yang mendengar teriakkan ibunya memanggil, segera menghampiri dengan wajah yang khawatir dan penasaran. "Ada apa ini? Apa yang terjadi, Bu?" Rudi bertanya dengan suara yang lembut dan sopan, sambil memandang Karina yang berdiri di samping Bu Marni dengan wajah yang tidak bersalah.
"Kamu tahu, istrimu ini tidak mau masak! Dan dia malah beli sarapan nasi uduk untuk dirinya sendiri, tanpa mempedulikan kita semua yang lapar di rumah ini!" Bu Marni mengeluh dengan nada yang kesal dan kecewa, sambil menunjuk Karina dengan jari telunjuknya.
"Benar begitu, Karina?" Tanya Rudi dengan nada yang tegas dan ingin memastikan.
Dengan cepat dan yakin, Karina pun menjawab dengan anggukan kepala yang tegak, tanpa ragu-ragu atau menunjukkan keraguan. Matanya tetap terang dan tidak menunjukkan tanda-tanda penyesalan.
"Kenapa kamu tidak mau masak?" Rudi bertanya dengan nada yang sedikit kecewa.
"Males," Karina menjawab dengan singkat dan datar, tanpa menunjukkan penyesalan atau keinginan untuk menjelaskan lebih lanjut.
"Kamu sudah berani sama suamimu sendiri? Memasak adalah salah satu tugas istri, dan kamu tidak mau melakukannya? Apa kamu lupa dengan tanggung jawabmu sebagai istri?"
"Hahaha... Kamu tanya tentang tanggung jawabku sebagai seorang istri? Kamu kira selama aku menjadi istri, aku tidak pernah melayani kamu dan keluargamu dengan baik, hah? Bahkan aku sudah mirip seperti pembantu gratisan di rumah ini, bukan sebagai seorang istri maupun menantu. Aku yang selalu melayani, mengurus kebutuhanmu dan keluargamu. Tapi apa balasannya? Apa penghargaannya?
Sekarang kalau aku bertanya balik sama kamu tentang kewajiban dan tugas seorang suami, bagaimana? Apakah kamu sudah memenuhi kewajibanmu sebagai suami? Apakah kamu sudah menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab?"
Rudi pun terdiam, tidak bisa menjawab pertanyaan istrinya. Wajahnya memerah, Rudi terlihat tidak nyaman dan tidak siap untuk menghadapi pertanyaan istrinya yang tajam dan menyakitkan. Suasana di ruangan menjadi semakin tegang dan tidak nyaman.
Karina tersenyum sinis melihat suaminya yang seperti mati kutu. "Kamu tidak bisa menjawab kan, mas? Karena kamu tahu sendiri bagaimana perlakuanmu sama aku. Baru sekali ini aku tidak masak, tapi perlakuanmu dan ibumu seperti orang yang paling benar saja. Oh ya, besok kan kamu sudah punya istri baru? Nah, mintalah istrimu itu masak untuk kamu dan keluargamu. Mungkin dia lebih mau dan lebih bisa memenuhi kebutuhanmu daripada aku."
Karina berbicara dengan nada yang dingin dan menyakitkan, sambil memandang Rudi dengan mata yang tajam dan penuh kebencian.
Bersambung...
lanjut Thor, penasaran!
wong data semua dari kamu