Alyssa hidup dalam pernikahan yang hancur bersama Junior, pria yang dulu sangat mencintainya, kini menolaknya dengan kebencian. Puncak luka terjadi ketika Junior secara terang-terangan menolak Niko, putra mereka, dan bersikeras bahwa anak itu bukan darah dagingnya. Di bawah satu atap, Alyssa dan Niko dipaksa berbagi ruang dengan Maureen, wanita yang dicintai Junior dan ibu dari Kairo, satu-satunya anak yang diakui Junior.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melon Milk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Saat Alyssa membuka pintu apartemen, aroma wangi bunga langsung menyambutnya. Ia segera mengambil remote dan menyalakan dua unit AC besar di sisi ruangan.
Rumah baru, awal baru, kembali di Indonesia. Unit apartemen itu luas dan modern, dengan jendela dari lantai hingga plafon yang menghadap langsung ke gemerlap kota, furnitur minimalis, serta dapur yang masih belum tersentuh tetapi sudah lengkap dengan peralatan memasak. Tinggal mengisi bahan makanan saja.
Alyssa tersenyum sambil memandangi sekeliling. Ia tak menyangka bisa memiliki apartemen seindah ini.
Pandangan matanya beralih ke Niko dan Cecil yang masuk lebih dulu. Niko langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa dan melepas sepatu.
"Wow! Besar banget, Mommy! Aku mau tinggal di sini!" teriak Cecil sambil berlarian di ruang tamu.
"Iya, sayang. Kita akan tinggal di sini mulai sekarang. Jangan lari-lari ya, nanti kamu terpeleset," ucap Alyssa lembut sambil menarik anak bungsunya ke dalam pelukan.
"Aku punya kamar sendiri?" tanya Niko dari sofa.
Alyssa tersenyum dan duduk di sampingnya, memeluk tubuh anak sulungnya. "Tentu saja, sayang. Nanti Mommy tidur bareng adik."
"Oke, Mommy," jawab Niko, wajahnya tampak lebih tenang.
Alyssa mengecup pipinya berkali-kali. Meski sering bersikap dingin, cintanya pada anak itu tak pernah berkurang.
Ia lalu mengantar Niko ke kamarnya—tidak terlalu besar, tetapi terang dan nyaman, lengkap dengan tempat tidur, meja belajar, dan lemari besar. Tema hitam-putih mendominasi ruangan, sesuai kesukaan Niko. Anak itu langsung merebahkan diri di kasur dan mengambil ponselnya.
Alyssa menggeleng pelan. Tak ada yang berubah. Tetap saja ponsel.
"Kalau kamarku, Mommy?" tanya Cecil.
"Kamu tidur sama Mommy, sayang. Kakakmu sudah besar, jadi dia pantas punya kamar sendiri."
"Kak, boleh aku tidur di sini?" Cecil berlari-lari kecil di kamar kakaknya.
"Boleh, asal jangan ribut," jawab Niko singkat.
Alyssa membiarkan keduanya dan menuju dapur untuk membuat kopi. Ia ingin minum sesuatu yang hangat.
TV layar besar di ruang tamu menarik perhatiannya. Ia menyalakannya, memastikan semuanya berfungsi dengan baik.
Tangannya mengganti-ganti saluran TV sambil mengangguk kecil.
Hanya suara TV yang terdengar di dalam apartemen. Ia duduk di sofa, memeluk bantal sambil memegang cangkir kopi yang masih mengepul. Ia ingin menonton drama, tetapi juga penasaran dengan siaran TV Indonesia setelah lama terbiasa dengan tontonan Amerika.
Tanpa sadar, ia mulai merindukan Amerika dan teman-temannya di sana.
Niko benar. Hidup di sana memang terasa lebih ringan. Namun di sinilah ia memilih untuk menetap.
Ia ingin membuktikan pada orang tuanya bahwa ia tidak kalah oleh hidup.
Namun, tiba-tiba, sebuah wajah yang sangat ia kenal muncul di layar.
Jantung Alyssa berdegup kencang. Remote terlepas dari tangannya.
***
"Hari ini, atas nama Brixton Group, saya dengan bangga mengumumkan rencana ekspansi baru yang akan membuka lebih banyak lapangan kerja bagi masyarakat Indonesia…"
Suara itu.
Dalam. Tegas. Berwibawa.
Junior Zero Brixton.
Tatapan matanya serius, penuh keyakinan. Senyum kecil menghiasi wajahnya, namun tak mengurangi aura dingin yang melekat padanya.
Ia berdiri di atas panggung, disaksikan banyak orang yang merekam setiap kata yang ia ucapkan.
Setelan jas biru tua melekat sempurna di tubuh atletisnya. Hidungnya tetap mancung, rahangnya tegas. Tatapannya tajam, menusuk siapa pun yang ada di sekelilingnya.
Namun kini ada sesuatu yang berbeda, kedalaman, karisma. Ia tak lagi tampak terburu-buru dan mudah marah seperti dulu. Ia lebih tenang. Lebih dewasa.
Bulu kuduk Alyssa meremang saat mendengarnya berbicara. Ia menahan napas, dadanya terasa sesak.
Lalu, seolah tak cukup menyakitkan, seorang wanita naik ke panggung bersama seorang anak laki-laki dan wanita itu adalah orang yang dulu ia anggap saudara.
Maureen. Kairo. Dan Junior.
Keluarga bahagia.
Air mata Alyssa jatuh. Amarah lama kembali naik ke permukaan.
Ia menekan tombol power pada remote.
Ia tak sanggup menonton lebih lama.
Ia sudah move on, bukankah seharusnya begitu?
Mengapa masih sakit?
Ia terkejut saat mendengar suara langkah di belakangnya.
"Niko…" panggilnya lirih. Ia melihat anaknya berdiri dengan tangan mengepal, menatap TV dengan mata penuh amarah. "Sejak kapan kamu di situ?"
"Mommy, kenapa Mommy masih menangisi pria itu?" suara Niko dingin. "Lihat dia. Dia bahagia dengan Kairo dan Maureen."
Alyssa terdiam.
"Kupikir Mommy sudah lupa. Kupikir kita nggak butuh dia lagi!"
Ia menunduk, air matanya jatuh tanpa suara.
"Mommy pulang ke sini buat dia, ya?" suara Niko bergetar. "Dia benci aku. Dia nggak pernah menganggapku anaknya!"
"Niko…" Alyssa memeluknya erat.
"Jangan salahkan aku kalau aku marah, Mommy. Karena Mommy sendiri nggak bisa melepaskan dia!"
Niko berlari masuk ke kamarnya.
Kata-kata anaknya menghantamnya tanpa ampun.
***
Di sisi lain kota, ruang makan keluarga Brixton sunyi. Junior, Maureen, dan orang tua Junior duduk bersama. Para keluarga lainnya juga hadir.
Makan malam itu untuk merayakan keberhasilan Junior memperluas bisnis keluarga.
"Akhirnya, pernikahan kami jadi juga," kata Maureen tersenyum paksa.
"Sudah waktanya," jawab Aura. "Aku akan mencarikan desainer gaun pengantin terbaik. Ada desainer Indonesia yang baru pulang dari luar negeri. Namanya Briana Visenya."
"Benarkah?" mata Maureen berbinar.
Junior tetap diam.
Lima tahun berlalu… namun entah mengapa, ia belum yakin.
"Setelah menikah, aku ingin punya anak lagi," ucap Maureen ceria.
Junior terbatuk.
Siapkah ia?
Ia menatap kosong, pikirannya melayang.
Alyssa…
Bagaimana kabarnya sekarang?