Follow IG @Lala_Syalala13
Anya, seorang gadis miskin yang bekerja sebagai pelayan, tak sengaja menyelamatkan Marco Valerius, bos mafia kejam yang sedang sekarat akibat pengkhianatan.
Terpikat oleh kemurnian Anya yang tulus, Marco yang posesif memutuskan untuk "membeli" hidup gadis itu.
Ia menghancurkan dunia lama Anya dan mengurungnya dalam kemewahan sebagai bentuk perlindungan sekaligus kepemilikan.
Di tengah ancaman maut dari musuh-musuh Marco, Anya terjebak dalam sangkar emas, berjuang antara rasa takut dan ketertarikan pada pria yang terobsesi menjadikannya milik selamanya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya???
Yukkkk kepoin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OSRM BAB 13_Jalan Sekarang!
Marco bergerak dengan sangat taktis, setiap kali ada bayangan muncul dari ujung lorong, dia melepaskan tembakan dengan presisi yang mengerikan.
Anya hanya bisa memejamkan mata setiap kali mendengar suara letusan yang memekakkan telinga itu.
Dia merasa seperti sedang berada di dalam mimpi buruk yang paling gelap.
"Ayo, sedikit lagi!" bisik Marco saat mereka mencapai tangga darurat.
Namun, saat mereka hendak menuruni tangga, sebuah ledakan kecil terjadi di bagian bawah.
Api menjilat-jilat naik, menutup jalur mereka. Marco mengumpat dalam bahasa Italia.
"Mereka mengepung kita dari bawah, kita harus ke balkon sayap timur." kata Marco.
Mereka berbalik arah, berlari melewati lorong panjang yang dihiasi lukisan-lukisan mahal yang kini sudah robek terkena peluru.
Anya merasa kakinya mulai lemas, tapi cengkeraman tangan Marco di lengannya seolah memberinya energi tambahan.
Pria ini tidak akan membiarkannya jatuh, pria ini tidak akan membiarkannya terluka.
Saat mereka sampai di balkon, Marco segera mengunci pintu besi yang memisahkan sayap timur dengan bagian utama mansion.
Di luar, hujan mulai turun, seolah-olah langit ingin mengulang kembali suasana malam saat mereka pertama kali bertemu.
"Dengar," Marco memegang kedua pipi Anya, memaksa gadis itu untuk menatapnya di bawah guyuran air hujan.
"Kamu harus turun lewat tangga darurat di luar ini. Di bawah sana ada mobil lapis baja yang sudah menunggu. Bram ada di sana." serunya.
"Lalu kamu?" tanya Anya, air mata mulai bercampur dengan air hujan di pipinya.
"Aku akan menahan mereka di sini. Aku tidak bisa membiarkan mereka mengejarmu," jawab Marco.
"Tidak! Aku tidak mau meninggalkan kamu sendiri! Kamu masih terluka, Marco! Jahitanmu bisa lepas!" Anya berteriak di tengah suara gemuruh hujan dan tembakan.
Marco tertegun sejenak, mendengar Anya mencemaskannya di tengah situasi hidup dan mati seperti ini memicu sesuatu yang liar di dalam dadanya.
Ia menarik Anya ke dalam pelukan singkat yang sangat erat, seolah ingin menyatukan tubuh gadis itu dengan tubuhnya sendiri.
"Ini bukan permintaan, Anya. Ini perintah," bisik Marco di telinganya.
"Jika terjadi sesuatu padaku, semua asetku sudah diatasnamakan padamu. Tapi aku berjanji, aku tidak akan mati. Aku tidak akan membiarkan siapa pun memilikimu selain aku." ucapnya.
"Marco, tolong..."
"Pergi!" Marco mendorong Anya menuju tangga besi.
Anya mulai menuruni tangga dengan terisak, setiap langkah terasa sangat berat.
Saat ia sampai di tengah tangga, ia menoleh ke atas, ia melihat Marco berdiri di tepi balkon, membelakangi hujan, menembaki pintu yang mulai didobrak dari dalam oleh musuh-musuh mereka.
Marco terlihat seperti dewa kematian yang sedang menjaga gerbang neraka.
Saat Anya mencapai dasar, seorang pria berjas hitam tapi bukan Bram, melainkan salah satu anak buah Marco yang lain langsung menariknya masuk ke dalam mobil SUV hitam besar yang sudah menyala.
"Jalan! Jalan sekarang!" teriak Anya pada sopir begitu pintu tertutup.
"Kita tidak bisa jalan tanpa Tuan Marco, Nona!" jawab sopir itu.
"Tadi dia bilang..."
Tiba-tiba, suara ledakan yang jauh lebih besar terdengar dari arah balkon tempat Marco berada tadi.
Bagian atas bangunan itu hancur, puing-puing berjatuhan ke arah taman.
"MARCO!!!" teriak Anya, suaranya hilang ditelan suara ledakan.
Mobil itu terpaksa melaju kencang karena serangan peluru mulai menghujani badan mobil yang anti peluru tersebut.
Anya menempelkan wajahnya ke kaca belakang, menatap mansion yang mulai terbakar, hatinya terasa hancur berkeping-keping.
Selama ini ia merasa bahwa mansion itu adalah penjara namun saat ia melihat tempat itu hancur dan Marco tertinggal di sana, ia baru menyadari satu hal yang mengerikan.
Penjara itu bukan bangunannya, melainkan pria itu sendiri, dan tanpa pria itu Anya merasa dunia di luar sana terasa jauh lebih menakutkan dan kosong.
Obsesi Marco telah berhasil, dia tidak hanya mengurung raga Anya, tapi di tengah bahaya ini, dia berhasil menanamkan rasa ketergantungan yang dalam di hati gadis itu.
"Tolong, kembalilah... kamu jangan mati," isak Anya sambil memeluk lututnya di dalam mobil yang melaju membelah kegelapan.
Sementara itu, di reruntuhan balkon, seorang pria keluar dari asap dengan napas memburu.
Kemejanya compang-camping, wajahnya berlumuran darah dan debu, tapi matanya tetap tajam dan penuh kebencian.
Marco Valerius berdiri di atas tumpukan puing, menatap mobil yang membawa Anya menjauh.
"Siapa pun yang menyentuh milikku," gumam Marco sambil mengisi ulang peluru pistolnya,
"akan kuhancurkan sampai ke akar-akarnya." serunya tidak main-main.
Pertempuran malam itu baru saja dimulai, dan Marco tidak akan berhenti sampai setiap pengkhianat membayar harga untuk ketakutan yang mereka berikan pada Anya.
Mobil SUV hitam itu melaju membelah jalanan pinggiran kota yang sepi dengan kecepatan tinggi.
Di dalam kabin yang kedap suara, Anya hanya bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu liar.
Ia menoleh ke belakang, menatap melalui kaca kecil yang gelap, melihat sisa-sisa api yang melahap bagian atas mansion di perbukitan itu.
Cahaya oranye itu perlahan mengecil, tertutup oleh pepohonan dan tikungan jalan, sampai akhirnya hilang sama sekali dari pandangan.
Anya merosot di kursi kulit yang empuk, gaun merah mewahnya kini sudah kotor oleh abu dan noda air hujan.
Ia memeluk tubuhnya sendiri yang gemetar hebat, dinginnya AC mobil terasa seperti tusukan jarum di kulitnya yang basah.
"Nona Anya, Anda baik-baik saja?" tanya sopir itu tanpa menoleh.
Suaranya datar, namun ada nada kecemasan yang tertahan.
Anya tidak menjawab lidahnya terasa kelu karena di kepalanya hanya ada satu bayangan yaitu Marco yang berdiri tegak di tengah hujan peluru, mendorongnya pergi sementara pria itu sendiri menghadapi maut.
Selama ini Anya merasa Marco adalah monster yang merampas kebebasannya, tapi melihat monster itu mengorbankan diri demi dirinya... ada sesuatu yang patah di dalam hati Anya.
"Kemana kita akan pergi?" tanya Anya akhirnya.
Suaranya kecil dan serak, nyaris tenggelam oleh deru mesin mobil.
"Ke sebuah apartemen penthouse di pusat kota Nona, itu adalah properti cadangan yang tidak terdaftar atas nama keluarga Valerius. Tuan Marco sudah merencanakan ini jika terjadi keadaan darurat," jawab pria di kursi depan, seorang pengawal bernama Rio yang baru Anya sadari keberadaannya.
"Tapi Marco... dia masih di sana. Kita harus kembali! Dia terluka, Rio!" Anya tiba-tiba berteriak, kepanikan mulai mengambil alih logikanya.
Ia mencoba meraih gagang pintu mobil, namun Rio dengan cepat menguncinya secara sentral.
"Mohon tenang Nona, perintah Tuan Marco sangat jelas yaitu selamatkan Anda lebih dulu. Tuan adalah orang yang sangat sulit untuk dibunuh. Jika kita kembali, kita hanya akan menjadi beban dan target empuk bagi musuh," jelas Rio dengan nada tegas namun penuh hormat.
Anya terdiam. Kata "beban" itu menghantamnya dengan keras.
Ia menyadari betapa tidak berdayanya ia di dunia ini, ia hanyalah seorang gadis yang hanya bisa berlari sementara orang lain bertaruh nyawa untuknya.
Ia menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, membiarkan air mata jatuh perlahan.
"Kenapa kamu melakukan ini, Marco?" bisiknya pelan, menggunakan panggilan "kamu" yang kini terasa jauh lebih berat maknanya.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
tapi di sini yg bikin aku kesel Anya ngk mau dengerin omongan Marco
ceritanyabagus
ibu kasih bunga wes Thor 🌹lanjut lg seru nih salam👍💪