NovelToon NovelToon
Maira, Maduku

Maira, Maduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Poligami / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Nikah Kontrak / Konflik etika
Popularitas:591
Nilai: 5
Nama Author: Tika Despita

Maira yang terbiasa hidup di dunia malam dan bekerja sebagai perempuan malam, harus menerima tawaran menjadi madu oleh seorang pemuda bernama Hazel Dinata, pengusaha ternama di kota tersebut.

Awalnya Maira menolak, karena baginya menjadi perempuan yang kedua dalam sebuah hubungan akan hanya saling menyakiti sesama hati perempuan. Tetapi karena alasan mendesak, Maira akhirnya menerima tawaran tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

"Gak usah dimasukin ke hati ucapan Nadia. Dia mungkin cuma terlalu cemas," ujar Devin sambil tetap menatap jalan. Tangannya fokus memegang kemudi, sesekali matanya melirik Maira yang sejak tadi terdiam.

Maira hanya menatap ke luar jendela. Lampu-lampu jalan berkelebat, tapi pikirannya jauh melayang.

"Soal tamparan tadi pasti sakit ya?" tanya Devin lagi, suaranya sedikit melunak.

"Biasa saja. Saya sudah sering ngalamin hal kayak gitu," jawab Maira pelan. Jemarinya saling bertaut di pangkuan.

"Yang ada di pikiran saya sekarang, saya ngerasa bersalah sama Pak Hazel."

"Kamu tenang aja. Hazel gak bakal kenapa-kenapa. Lagian kejadian kayak gini juga bukan sekali dua kali," Devin mencoba menenangkan.

 "Buktinya sampai sekarang dia masih sehat walafiat."

"Oh begitu..." Maira menghela napas lega, meski rasa bersalah itu belum sepenuhnya pergi.

Mobil kembali melaju dalam keheningan beberapa detik, sampai akhirnya Maira memberanikan diri bertanya.

"Oh ya, Pak Devin. Anda sudah lama ya kenal Pak Hazel?" Maira menoleh, tatapannya penuh rasa ingin tahu.

"Betul," jawab Devin.

"Bisa dibilang aku, Hazel, sama Nadia udah kenal sejak SMP. Kami dekat banget, udah kayak saudara sendiri."

Devin melirik sekilas ke arah Maira, lalu tersenyum kecil.

"Kenapa emangnya? Kamu kepo ya soal gimana Hazel dan Nadia bisa menikah?"

"Enggaklah," sahut Maira cepat.

"Saya bukan orang kayak gitu. Saya cuma penasaran aja, apa sih yang Pak Hazel suka dan apa yang dia benci."

"Ooh begitu..." Devin

mengangguk-angguk, seolah memahami maksud Maira.

"Apa kamu gak sesabar gitu?" godanya sambil tertawa kecil.

"Bukan gitu," Maira mendengus pelan.

"Saya cuma capek ditanya terus sama Mbak Nadia kapan bunting anak suaminya. Dia kan gak tau gimana perjuangan saya buat godain suaminya sendiri. Suaminya aja lempem dan gak nafsuan. Malah saya curiga, jangan-jangan dia sebenarnya layu."

Devin spontan menyemburkan tawa. Bahunya sampai sedikit berguncang.

"Kamu ini bisa-bisanya ngomong kayak gitu."

Maira hanya mendengus kesal, lalu kembali menyandarkan punggungnya.

"Ya udah," ujar Devin setelah tawanya mereda.

"Aku kasih tau apa aja yang Hazel suka dan yang paling dia benci."

Maira langsung memasang telinga.

"Dia itu suka anak-anak," kata Devin.

"Makanya dia punya yayasan buat nampung anak-anak terlantar."

Maira mengangguk pelan. Ada sesuatu yang terasa hangat di dadanya saat mendengar itu.

"Hal yang paling dia benci itu hujan."

"Hujan?" Maira menatap Devin heran.

 "Kok bisa? Bukannya hujan itu indah?"

Devin menarik napas dalam sebelum menjawab.

 "Karena dia kehilangan mamanya pas lagi hujan."

"Apa?" Maira terkejut.

 "Mamanya? Terus Tante Naina itu siapa?"

"Tante Naina itu adik kandung mamanya Hazel," jelas Devin.

 "Dia yang menggantikan posisi mama kandung Hazel buat ngerawat dia. Bahkan dia memilih menikah sama papanya Hazel dan memutuskan gak punya anak demi fokus ngebesarin Hazel."

"Wah..." Maira terdiam sejenak.

 "Terus mamanya Pak Hazel meninggal karena apa?"

"Kecelakaan mobil waktu hujan. Waktu itu mamanya bareng Hazel," jawab Devin dengan nada prihatin.

 "Kecelakaan itu yang ngerenggut nyawa mamanya."

"Oh begitu..." Maira bergumam pelan.

"Pantes aja dia dingin dan kaku."

"Makanya kamu harus sabar buat deketin Hazel," lanjut Devin.

 "Dia emang setutup itu sama orang baru."

"Hmmm..." Maira mengangguk pelan. Kali ini bukan sekadar paham, tapi juga merasa semakin mengerti sosok Hazel yang selama ini sulit ia tembus.

***

Seminggu ini Maira memang tidak bertemu Hazel. Ia juga tidak pernah bertanya bagaimana kabar Hazel, apakah sudah benar-benar pulih atau belum. Maira sengaja menjaga jarak karena malas harus berurusan dengan Nadia. Minggu ini memang jatah Hazel bersama Nadia, dan Maira tak ingin memancing masalah.

Meski begitu, di kepalanya sudah tersusun rencana-rencana kecil untuk membuat Hazel mulai menyukainya.

Siang ini Maira sudah berganti pakaian santai. Tas selempang melintang di bahunya. Ia melangkah cepat keluar dari gedung apartemen. Maira tahu, di dalam apartemen ada kamera CCTV yang mengawasi setiap sudut. Ia yakin itu ulah Hazel, atau setidaknya perintahnya.

Baru beberapa langkah meninggalkan gedung, perasaan tidak nyaman langsung menyergapnya. Entah cuma firasat atau bukan, Maira merasa ada seseorang yang mengawasinya dari jauh. Sesekali ia melihat bayangan orang yang seperti mengikuti, ponsel di tangan seolah sedang merekam setiap gerak-geriknya.

"Siapa yang nyuruh orang itu ngikutin aku?" gumam Maira dalam hati sambil mempercepat langkah.

Ia terus berjalan tanpa menoleh. Jantungnya berdegup semakin cepat. Padahal rencananya hari ini ia ingin ke kantor Hazel, lalu mengajaknya pergi ke suatu tempat. Namun keberadaan penguntit itu membuat Maira harus pandai mengatur waktu dan langkah.

Maira sengaja berjalan ke arah yang lebih ramai. Ia berharap si penguntit kehilangan jejak. Baru saja ia sedikit merasa lega, tiba-tiba sebuah mobil berhenti mendadak di sampingnya. Tangan seseorang menariknya masuk ke dalam mobil.

"Kamu mau ke mana, kok kelihatan tergesa-gesa begitu?"

Maira menoleh. Jantungnya yang nyaris copot karena kaget perlahan kembali tenang. Sosok yang menariknya ternyata Hazel.

"Anda mengagetkan saya saja," ucap Maira lirih sambil mengatur napas.

"Ada apa?" tanya Hazel menatapnya penuh selidik.

"Ada seseorang yang ngikutin saya. Dari tadi dia sengaja merekam saya," jawab Maira sambil menoleh ke kanan dan kiri lewat kaca mobil.

Hazel ikut menoleh, tapi tak menemukan siapa pun yang mencurigakan.

"Mungkin cuma perasaan kamu," ujarnya.

"Tidak, Pak Hazel. Saya serius," sahut Maira dengan nada yakin.

Hazel terdiam sejenak, lalu berkata, "Nanti saya suruh orang buat ngawasin kamu."

Maira mengangguk, sedikit lega mendengarnya.

"Mumpung Anda sudah di sini, saya boleh minta tolong?" ucap Maira sambil menatap Hazel penuh harap.

"Minta tolong apa?"

"Anterin saya ke suatu tempat."

Hazel menghela napas singkat, lalu mengangguk.

"Baiklah."

Sebelum menuju tempat yang dimaksud Maira, ia meminta Hazel singgah sebentar di sebuah rumah makan Padang. Maira turun dan memesan beberapa bungkus nasi. Hazel hanya menunggu di dalam mobil, memperhatikan dari kejauhan dengan raut bingung.

Tak lama kemudian Maira kembali dengan kresek besar berisi nasi bungkus.

"Untuk apa nasi sebanyak itu?" tanya Hazel heran.

"Ada deh," jawab Maira santai sambil tersenyum kecil.

Setelah itu Maira meminta Hazel mengantarkannya ke sebuah jembatan besar di kota itu. Begitu mobil berhenti, Maira segera turun. Ia berjalan ke arah bawah jembatan tanpa ragu. Hazel mengikutinya dari belakang, rasa penasaran semakin besar.

Namun langkah Hazel melambat. Tatapan matanya mendadak berubah teduh ketika melihat apa yang dilakukan Maira. Dengan wajah cerah dan ramah, Maira membagikan nasi bungkus kepada anak-anak kecil yang tinggal di kolong jembatan. Ia berjongkok, mengajak mereka berbincang, tertawa, bahkan sesekali mengelus kepala mereka dengan penuh kasih.

Tanpa sadar, senyum kecil muncul di bibir Hazel. Ia menatap Maira cukup lama, seolah baru kali ini benar-benar melihat sisi lain perempuan tersebut. Ketulusan yang terpancar dari sikap Maira membuat dadanya terasa hangat, sesuatu yang jarang ia rasakan kepada siapapun selama ini.

1
Qhaqha
Jangan lupa bintang dan ulasannya ya... 😊😊🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!