Terlahir dengan kutukan yang memakan usia, Boqin Tianzun terpaksa menempuh jalan berdarah demi melawan waktu yang kian menipis. Di tengah pengkhianatan keluarga dan dunia yang memuja kekuatan, ia merajut rencana keji untuk merangkak ke puncak tertinggi.
Bagi sang iblis berbakat, nyawa hanyalah pion catur dan cinta hanyalah teknik manipulasi, kecuali untuk satu jiwa yang tersisa. Di ambang batas kematian, ia bersumpah akan menaklukkan takdir dan menghancurkan siapa pun yang menghalangi langkahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Tarian Tiga Serangga
Langit di sekitar Istana Langit Abadi tiba-tiba berguncang. Tiga gumpalan cahaya abu-abu mendarat di pelataran marmer putih istana dengan dentuman yang memekakkan telinga. Tiga Tetua Pelindung Benua berdiri dengan angkuh, memancarkan aura Jiwa Sejati Level 5 yang membuat udara di sekitar mereka terdistorsi.
"Boqin Tianzun! Keluar kau! Lancang sekali kau membangun singgasana di atas tanah Kekaisaran!" suara Tetua tertua, Tetua Kuang, menggelegar hingga ke ruang dalam istana.
Boqin sedang menyuapi Sua Mei sepotong buah spiritual saat suara itu mengganggu ketenangan mereka. Ia meletakkan piring gioknya dengan perlahan. Matanya mendingin.
"Mei, sepertinya ada beberapa burung gagak yang berisik di halaman," ucap Boqin sambil tersenyum lembut. "Tetaplah di sini, aku akan meminta mereka untuk pergi dengan sopan."
Boqin melangkah keluar. Ia menutup pintu aula besar di belakangnya, memastikan Sua Mei tidak bisa melihat apa yang akan terjadi.
Saat ia berdiri di depan ketiga Tetua, Boqin tidak melepaskan aura Jiwa Sejati Level 1 miliknya. Sebaliknya, ia justru menekan energinya hingga terlihat seperti orang biasa.
"Level 1?" Tetua kedua tertawa mengejek. "Hanya karena kau memiliki teknik manipulasi ruang, kau pikir kau bisa menantang kami? Kau hanyalah semut yang beruntung mendapatkan harta karun kuno!"
Boqin tetap diam. Ia hanya melirik ke arah marmer putih yang baru saja ia buat. "Kalian mengotori lantainya dengan debu dari kaki kalian. Itu tidak sopan."
"Mati kau, bocah!" Tetua ketiga melesat maju, telapak tangannya memancarkan energi penghancur gunung.
Manipulasi Realitas: Labirin Cermin Jiwa
Saat serangan itu hampir menyentuh Boqin, ia tidak menghindar. Ia hanya menjentikkan jarinya sekali.
KLING!
Tiba-tiba, dunia di sekitar ketiga Tetua berubah. Pelataran istana menghilang, digantikan oleh ribuan cermin raksasa yang melayang di ruang hampa. Inilah Labirin Cermin Jiwa, sebuah teknik tingkat tinggi yang diciptakan Boqin dengan menggabungkan energi Inti Api Matahari dan esensi Jiwa Sejati miliknya.
Ketiga Tetua terpisah. Di depan mereka muncul bayangan diri mereka sendiri. Namun, bayangan itu bukan sekadar pantulan; itu adalah manifestasi dari ketakutan terdalam dan dosa-dosa mereka.
"Apa ini?! Keluar kau, pengecut!" teriak Tetua Kuang.
Boqin muncul di atas salah satu cermin, duduk bersila dengan santai. "Di sini, level kalian tidak ada artinya. Jiwa kalianlah yang bertarung. Dan sejauh yang kulihat, jiwa kalian sangatlah busuk."
Dalam labirin itu, ketiga Tetua mulai menjadi gila. Karena manipulasi ruang Boqin, mereka saling melihat satu sama lain sebagai monster yang menyerang.
Tetua Kuang menyerang monster di depannya dengan kekuatan penuh, tidak menyadari bahwa yang ia hancurkan adalah jantung adiknya sendiri, Tetua kedua.
"K-kakak... kenapa..." gumam Tetua kedua sebelum tubuhnya hancur menjadi debu.
Tetua Kuang terbelalak, namun sebelum ia bisa sadar, Boqin sudah berdiri di belakangnya. Boqin memegang leher Tetua Kuang dan mulai menghisap esensi kultivasinya secara langsung.
"Terima kasih atas energinya. Level 5 memang terasa sangat murni." bisik Boqin.
Dalam hitungan menit, dua Tetua tewas di tangan satu sama lain, dan Tetua tertua kini berlutut lemas di depan Boqin, tubuhnya kering kerontang seperti mumi karena energinya telah habis dihisap.
Boqin tidak membunuh Tetua Kuang. Ia mengeluarkan botol giok berisi jiwa Han Ruoli yang masih meronta.
"Kau ingin melayani kekaisaran? Sekarang, kau akan melayaniku." ucap Boqin. Ia menyatukan jiwa Han Ruoli dan sisa kesadaran Tetua Kuang ke dalam sebuah boneka batu kecil.
Seketika, boneka itu berubah menjadi seorang pelayan pria bisu dengan kekuatan fisik yang besar namun tanpa kehendak bebas. Boneka itu segera mengambil sapu dan mulai membersihkan debu di pelataran istana.
Boqin merapikan jubahnya, memastikan tidak ada setetes darah pun yang menempel. Ia membuka pintu aula kembali.
"Sudah selesai, Mei. Burung-burungnya sudah pergi. Salah satu dari mereka bahkan bersedia tinggal untuk membantu membersihkan taman kita." ucap Boqin sambil kembali duduk di samping Sua Mei.
Sua Mei melihat ke luar jendela dan melihat pelayan baru itu sedang menyapu dengan rajin. "Oh, dia terlihat sangat patuh. Kau baik sekali, Boqin."
Boqin tersenyum tipis sambil menyesap tehnya. Di bawah sana, di daratan kekaisaran, semua orang akan segera menyadari bahwa tiga kultivator terkuat mereka telah lenyap tanpa jejak. Dan Boqin Tianzun kini baru saja melompat dari Jiwa Sejati Level 1 ke Level 4 setelah menyerap energi mereka.