Linggar adalah seorang sekretaris cerdas dan berhati emas, namun ia selalu merasa rendah diri karena tubuhnya yang gemuk. Karena desakan adiknya, Nadya, Linggar akhirnya mencoba peruntungan di aplikasi kencan. Takut ditolak karena fisiknya, ia nekat menggunakan foto cantik adiknya sebagai profil.
Di dunia maya, ia bertemu dengan Rangga, pria tampan dan karismatik yang jatuh cinta pada kepribadian Linggar. Namun, Rangga mengira ia sedang jatuh cinta pada wanita di foto tersebut.
Dunia Linggar runtuh saat ia menyadari bahwa Rangga adalah CEO baru di kantornya—bos besarnya sendiri. Kini, Linggar terjebak dalam dilema besar: tetap bersembunyi di balik identitas palsu atau mempertaruhkan segalanya untuk menunjukkan bahwa yang patut dicintai adalah hatinya, bukan sekadar wajah di foto itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Perjalanan menuju hotel terasa seperti perjalanan menuju tempat eksekusi.
Di dalam mobil, kesunyian menyelimuti seperti kabut tebal yang mencekik.
Rangga fokus pada jalanan dengan wajah mengeras, sementara Linggar meremas jemarinya di pangkuan, mencoba menahan air mata yang terus mendesak keluar.
Tak ada lagi lagu favorit, tak ada lagi obrolan hangat.
Hanya suara deru mesin dan detak jantung Linggar yang penuh kecemasan.
Begitu mobil berhenti di depan lobi hotel mewah, Rangga langsung turun tanpa membukakan pintu untuk Linggar seperti yang biasa ia lakukan.
Linggar tertatih mengikutinya, berusaha menyamakan langkah meski kakinya sudah sangat lemas.
Di sudut restoran mewah itu, seorang wanita cantik dengan gaun merah yang berani sudah menunggu.
Laura, investor sekaligus teman lama Rangga yang baru kembali dari luar negeri.
"Rangga!" seru Laura dengan suara manja sambil berdiri.
Rangga tersenyum dan mendekat serta mencium pipi Laura dengan mesra di depan mata Linggar.
Hati Linggar rasanya seperti diremas hingga hancur berkeping-keping.
Laura melirik ke arah Linggar yang berdiri kaku di belakang Rangga dengan membawa tas dokumen.
"Siapa dia, Rangga? Asisten barumu?" tanya Laura dengan nada meremehkan.
Rangga menyesap segelas wine yang baru saja dituangkan, matanya menatap Linggar dengan dingin sejenak sebelum beralih kembali ke Laura.
"Bukan siapa-siapa, Laura. Hanya sekretaris yang sedang menebus kesalahannya. Abaikan saja dia." jawab Rangga.
Kalimat itu terasa lebih tajam daripada belati bagi Linggar.
'Bukan siapa-siapa.' gumam Linggar.
"Duduklah di meja sebelah sana, Linggar. Catat poin-poin penting pembicaraanku dengan Laura. Jangan berani-berani menyentuh makanan sebelum pekerjaan mu selesai," perintah Rangga menunjuk sebuah meja kecil yang terpisah cukup jauh dari meja utama mereka.
Linggar menganggukkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca.
Ia duduk sendirian, membuka buku catatannya, sementara di meja utama, Rangga dan Laura mulai bersenda gurau.
"Kamu semakin cantik, Laura. Sepertinya udara London sangat cocok untukmu," puji Rangga sambil tertawa kecil, suara tawa yang dulu sangat disukai Linggar namun kini terdengar menyakitkan.
Laura tersipu malu dan menyentuh lengan Rangga dengan manja.
Linggar dipaksa menonton pria yang ia cintai bersikap manis pada wanita lain.
Perutnya yang kosong mulai melilit, dan pandangannya sesekali kabur karena air mata yang terus ia tahan agar tidak jatuh di depan umum.
Ia terus mencatat setiap kata yang keluar dari mulut Rangga, meski jemarinya sudah sangat gemetar.
Rangga benar-benar sedang menghukum jiwanya dengan cara yang paling kejam: menunjukkan bahwa ia bisa dengan mudah mengganti posisi Linggar dengan siapa pun yang lebih "nyata" di matanya.
Malam itu seolah menjadi puncak penderitaan bagi Linggar.
Di meja kecil yang terpisah, ia harus menyaksikan pria yang dicintainya tertawa lepas bersama wanita lain.
Laura, yang sejak tadi menyadari tatapan sedih dan mata sembap Linggar, merasa terganggu.
Ia ingin menunjukkan siapa yang lebih berkuasa di mata Rangga malam ini.
Dengan gerakan yang disengaja saat hendak berdiri, Laura menyenggol gelas berisi red wine pekat hingga isinya tumpah tepat ke atas gaun hitam Linggar.
"Oh! Astaga, aku tidak sengaja," ucap Laura dengan nada bicara yang dibuat-buat, namun matanya memancarkan kepuasan.
Linggar tersentak, cairan merah itu meresap ke gaunnya, membuatnya terlihat berantakan.
Ia menatap Rangga, berharap ada sedikit pembelaan, namun Rangga hanya meliriknya dingin.
"Bersihkan itu. Kamu terlihat sangat kotor," ucap Rangga tanpa empati sedikit pun.
Hati Linggar hancur saat mendengar perkataan dari Rangga.
Dengan napas sesak, ia berdiri dan bergegas menuju toilet.
Begitu pintu toilet tertutup, pertahanannya runtuh.
Ia menangis sejadi-jadinya, menutup wajahnya dengan tangan yang gemetar. Namun, ketenangannya tak bertahan lama.
Saat ia hendak membasuh wajah, pintu toilet terbuka dan sosok yang paling ia hindari muncul.
"Wah, wah, lihat siapa yang sedang menangis di sini. Si babi yang malang sedang patah hati?" ejek Riko dengan senyum menyeringai.
"Pergi, Riko! Jangan ganggu aku!" teriak Linggar.
Riko yang sedang dalam pengaruh alkohol dan menyimpan dendam karena dipermalukan di Bandung, justru melangkah maju.
Dengan gerakan kilat, ia membekap mulut Linggar dan mengunci pintu toilet dari dalam.
"Diam! Kamu harus melayani aku sekarang, sayang. Anggap saja ini bayaran karena sudah mempermalukanku di depan bosmu!" desis Riko.
Linggar menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba berontak. Namun, Riko yang sudah gelap mata melayangkan pukulan keras ke wajah Linggar.
Brak!
Linggar terjerembap ke lantai, sudut bibirnya pecah dan darah mulai mengalir.
Belum sempat ia berteriak, Riko menjambak rambutnya dengan kasar, memaksa Linggar mendongak.
"Dasar wanita pembawa sial! Gara-gara kamu, harga diriku hancur!" teriak Riko.
Ia menarik paksa pakaian Linggar hingga robek, mengabaikan tangis dan rintihan kesakitan wanita itu.
Setelah melampiaskan amarahnya secara fisik, Riko menyeret tubuh Linggar yang sudah lemas tak berdaya dan menguncinya ke dalam salah satu bilik kamar mandi paling ujung.
Ia mengambil papan penanda dari luar dan menuliskan 'RUSAK' di atasnya agar tidak ada yang masuk.
Riko keluar dari toilet dengan santai, merapikan jasnya seolah tak terjadi apa-apa.
Kemudian ia mendekat ke arah pelayan dan memintanya untuk memberitahukan kepada Rangga kalau Linggar sudah pulang terlebih dahulu.
Riko memberikan beberapa lembar uang kepada pelayan hotel tersebut.
"Permisi, Pak Rangga. Tadi saya melihat sekretaris Anda di depan. Dia menitipkan pesan kalau dia merasa kurang sehat dan memutuskan untuk pulang duluan dengan taksi," ucap pelayan hotel dengan wajah polos yang menipu.
Rangga mengernyitkan dahi. Rasa kesal muncul di hatinya.
'Berani-beraninya dia pergi tanpa izin setelah semua yang terjadi?'
"Begitu ya? Baiklah. Terima kasih informasinya," jawab Rangga singkat, kembali fokus pada Laura, sementara di ujung lorong yang gelap, Linggar tergeletak bersimbah darah di lantai toilet yang dingin, mencoba menggapai pintu yang terkunci rapat.
Suasana di meja makan yang tadinya penuh tawa manja Laura mendadak berubah tegang.
Meski Rangga sedang berusaha membenci Linggar, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
Linggar bukan tipe orang yang akan meninggalkan tugas begitu saja, apalagi meninggalkan tas dokumen pentingnya di bawah meja.
"Rangga, mau ke mana? Makanan penutupnya baru saja dipesan," ucap Laura sambil mencoba meraih lengan Rangga.
Rangga berdiri dan merapikan jasnya dengan gerakan kaku.
"Aku harus pergi, Laura. Ada urusan mendadak yang harus kupastikan."
Laura cemberut, ia berdiri dan mengikuti Rangga dengan langkah terburu-buru.
"Kalau begitu, antarkan aku pulang, ya? Sudah larut malam, tidak aman untuk wanita sepertiku sendirian."
Rangga berhenti sejenak, matanya menatap Laura dengan dingin—tatapan yang sama sekali tidak menunjukkan kehangatan yang ia pamerkan tadi.
"Pulanglah sendirian, Laura. Kamu punya supir dan pengawal yang menunggumu di lobi. Jangan manja."
Tanpa menunggu balasan dari Laura yang terpaku karena penolakan pedas itu, Rangga melangkah lebar menuju area lobi. Namun, langkahnya terhenti saat melewati lorong menuju toilet.
Ia melihat tas kecil milik Linggar tergeletak di lantai lorong, bukan di bawah meja makan seperti yang ia kira.
"Kenapa tasnya ada di sini?" gumam Rangga.
Kecemasan yang sejak tadi ia tekan kini meledak menjadi rasa takut yang nyata.
Sementara itu, di dalam bilik kamar mandi yang gelap dan terkunci, waktu seolah berjalan sangat lambat bagi Linggar.
Dinginnya lantai marmer meresap ke dalam kulitnya yang terluka.
Darah terus merembes dari luka di kepalanya yang menghantam dinding, bercampur dengan darah dari bibirnya yang pecah akibat pukulan Riko.
Linggar mencoba menggerakkan jemarinya, namun tubuhnya terasa sangat berat.
Napasnya terasa sesak dengan pandangannya mulai kabur, langit-langit kamar mandi di atasnya seolah berputar.
"Tolong..." bisiknya lirih, namun suaranya hanya terdengar seperti hembusan angin.
Pakaiannya yang robek membuatnya semakin menggigil kedinginan.
Ia memejamkan mata, membayangkan wajah Rangga.
Ia tidak ingin mati di tempat yang kotor dan terhina seperti ini.
Ia berharap ada satu kesempatan lagi untuk mengatakan pada Rangga bahwa ia benar-benar minta maaf, bukan sebagai 'Nadya', tapi sebagai Linggar yang tulus mencintainya.
"Rangga, maafkan aku," isaknya tanpa suara.
Setetes air mata jatuh dan menyatu dengan genangan darah di lantai, tepat saat kesadarannya mulai menghilang ke dalam kegelapan yang pekat.