Leticha gadis 22 tahun harus terjebak dalam pernikahan yang dijodohkan oleh ayahnya demi menyelamatkan perusahaan. Seharusnya saudaranya yang dijodohkan, tetapi karena menurut sang ayah Leticha membutuhkan seorang pemimpin dalam keluarga, membuat sang ayah memilih untuk menjodohkannya.
Leticha berusaha dengan semampunya untuk membatalkan perjodohan dengan pria berusia 36 tahun. Pria agamis dengan segala ilmu pengetahuan, tetapi usahanya tidak berhasil yang akhirnya membuatnya menikah dengan pria tersebut.
Tidak sampai di sana, Leticha masih terus mencari cara agar bisa berpisah dari tingkah lakunya agar tidak disukai, tetapi suaminya memiliki hati dan sifat yang benar-benar sabar.
Jangan lupa terus ikuti cerita saya.
Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9 Fitnah
Letisha saat ini sudah berada di ruang tamu di rumah sang ayah bersama dengan Liana dan juga Vanila berada di sana seperti mengintimidasi Letisha.
"Awas saja atas apa yang kamu lakukan barusan membuat Rakash marah pada Papa dan juga menghentikan kerjasama karena ulah kamu!" tegas Ricard.
"Selalu menuduh tanpa mencari tahu apa yang benar, aku jelas-jelas tidak mabuk," batin Letisha melihat ke arah Vanila yang saat ini tersenyum kepadanya.
"Assalamualaikum!" Rakash tiba-tiba saja sudah berada di rumah tersebut.
"Walaikumsalam," sahut semuanya kecuali Letisha tidak memiliki semangat untuk menjawab apapun dan dari wajahnya terlihat marah tetapi tidak bisa diungkapkan.
"Rakash!" Richard berdiri menghampiri menantunya itu.
"Saya benar-benar minta maaf atas sikap Letisha kepada kamu, tidak seharusnya dia melakukan hal ini di hari pertama pernikahan kalian. Saya benar-benar gagal mendidik Letisha," ucap Ricard.
"Untuk pertama kalinya meminta maaf atas diriku bukan karena merasa bersalah atas apa yang terjadi, tetapi karena takut perusahaannya tidak akan dibantu," batin Letisha.
"Mungkin jika aku dan Papa tidak bertemu Letisha di jalan, sudah pasti akan melanjutkan minum-minum di tempat lain. Kami benar-benar minta maaf atas ketidak sopanan dan tidak pantas dilakukan Letisha," sahut Vanila ikut-ikutan cari perhatian di depan suaminya dan ujung-ujungnya juga memojokkan dirinya.
"Tidak perlu minta maaf. Kalau begitu saya akan membawa Letisha pulang kembali. Terima kasih sudah mengabari saya," ucap Rakash selalu saja santai menghadapi apapun.
"Saya yang berterima kasih kepada kamu Rakash, saya sangat berharap kedepannya kamu bisa menggantikan saya untuk mendidik putri saya menjadi jauh lebih baik. Saya sebagai orang tua benar-benar malu," sahut Ricard.
"Kami sudah tidak sanggup melakukan semua itu kepada Letisha, jadi karena itu kami menyerahkan semua kepada kamu dan kamu harus banyak bersabar untuk menghadapi anak seperti ini," sahut Liana.
Orang-orang yang ada di ruang tamu itu terlihat memojokkannya membuat Letisha tidak dapat berkata apapun dan hanya diam saja. Rakash juga tidak banyak berkomentar.
****
Letisha dan Rakash sudah kembali ke Apartemen mereka.
"Apa yang dikatakan Papa tadi merupakan tuduhan, dia tidak tahu apa-apa. Aku memang party bersama dengan temanku Winona tetapi kami tidak minum. Aku tidak pernah minum alkohol," ucap Letisha tiba-tiba saja ingin menjelaskan kepada Rakash.
Rakash sama sekali tidak menanggapi membuat Letisha dengan cepat sudah berdiri di hadapannya dengan jarak yang begitu dekat.
"Aku tidak minum alkohol dan bahkan tidak mabuk, tadi tidak sengaja seorang pria membawa alkohol menabrak ku, lalu mengenai bajuku sehingga tercium bau alkohol," ucapnya lagi menjelaskan sembari memegang bajunya itu untuk meyakinkan pada suaminya.
"Nih kamu cium, bau tidak!" Letisha juga mendekatkan baju tersebut kepada hidung suaminya sampai membuatnya berjinjit karena tinggi pria tersebut cukup tinggi dibandingkan dirinya.
"Yang di alkohol itu bajuku dan bukan mulutku, kalau kamu tidak percaya cium saja!" Letisha juga begitu lancang mendekatkan mulutnya sembari menyergah nafasnya agar tercium oleh Rakash.
"Ayo pastikan, jika aku benar-benar tidak minum alkohol!" tegas Letisha mendesak suaminya itu dengan semakin mendekatkan mulutnya dengan kepalanya sedikit terangkat.
"Tidak perlu," sahut Rakash berlalu dari hadapan Letisha.
"Jadi kamu percaya apa tidak?" tanya Letisha.
"Memang kamu butuhkan kepercayaan saya atau tidak? Bukankah di saat sebelum kita menikah kamu seakan-akan ingin mencerminkan diri kamu seorang yang suka minum-minum," ucap Rakash.
"Benar juga, kenapa juga aku harus menjelaskan kepadanya bahwa aku memang tidak minum dan hanya bajuku yang terkena tumpahan alkohol, bukankah aku ingin dia ilfil dan tidak menyukaiku dan menyerah dalam pernikahan ini," batin Letisha.
"Kamu istirahatlah dan sebelum tidur kompres pipi kamu," ucap Rakash melihat pipi istrinya itu merah dan sudah jelas itu bekas tamparan dari Ricard. Rakash langsung pergi.
"Isss, pria itu benar-benar tidak ada nafsu-nafsunya sama sekali, lihatlah aku sudah mendekatkan diri dan bahkan memajukan bibirku, dia tidak tertarik begitu untuk menciumnya sedikit saja," batin Letisha tampak begitu kesal.
*****
Letisha pagi ini memasuki butik dengan seorang wanita yang duduk di meja tak lain adalah Vanila. Vanila menyadari keberadaan seseorang dihadapannya membuatnya mengangkat kepala.
"Ada apa?" tanya Vanila.
"Kau yang membawa Papa ke tempat itu kemarin?" tanya Letisha sudah pasti sang ayah tiba-tiba berada di sana pasti ada turut campur dari saudaranya itu.
"Untuk apa juga aku harus melakukan hal itu, kami tidak sengaja jalan-jalan di malam hari untuk mencari udara segar dan siap sangka melihatmu," jawab Vanila.
"Alah, jangan kau pikir aku tidak tahu isi kepalamu, sudah pasti kau dengan sengaja melakukan hal itu. Kau memang paling senang membuat Papa salah paham kepadaku," ucap Letisha benar-benar sangat kesal dengan saudaranya itu.
"Jika datang ke tempat ini untuk marah-marah sebaiknya kamu pergi saja, aku memiliki pekerjaan dan bukan seperti kamu wanita pemalas yang tidak memiliki pekerjaan apapun," ucap Vanila.
"Oh, jadi kamu punya pekerjaan, aku pikir pekerjaan kamu hanya mencampuri urusan pribadi orang lain, syukurlah jika kamu menyibukkan diri dengan pekerjaan kamu yang tidak seberapa ini daripada kamu mengurusi kehidupanku!" tegas Letisha.
"Kau dengarkan aku Vanila, kau sudah menjebak ku dalam pernikahan ini dan bukan berarti aku akan diam saja. batas kesabaranku juga ada dan jika kau sudah melewati batasmu, maka kau akan tahu siapa aku sebenarnya!" tegas Letisha tidak segan-segan memberi ancaman.
"Aku jadi takut mendengarnya, lagi pula mau seperti apapun kamu berbuat, aku tidak perlu ekstra untuk melakukan apapun, karena kedua orang tuaku untuk berpihak kepadaku," ucap Vanila merasa begitu bangga di saat kedua orang tuanya memang selalu membela dirinya dibandingkan Letisha.
"Wanita menyebalkan, semoga saja kau akan terus hidup seperti ini dan tidak akan pernah bahagia!" tegas Letisha langsung pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Huh! dia mengatakan aku tidak bahagia, jelas-jelas dia yang sudah tidak bahagia," ucap Vanila.
Letisha terlihat berjalan di pinggir trotoar dengan suara klakson mobil di tengah-tengah macet Kota Jakarta, terik matahari cukup begitu panas.
"Aku tidak tahu hati wanita itu sebenarnya terbuat dari apa, dia selalu berpenampilan wanita yang paling suci dan sementara kelakuannya seperti Dajjal. Aku tidak tahu sampai kapan dia akan terus mencampuri urusanku, aku sudah menikah saja dan dia tetap saja ingin membuat Papa semakin marah kepadaku," ucap Letisha tidak henti-hentinya mengoceh.
Tin-tin-tin-tin.
Letisha kaget mendengar suara klakson yang cukup dekat tempatnya menoleh ke belakang dengan mengerutkan dahi saat mengenali mobil tersebut.
"Dia ada di sini!" ucap Letisha kemudian langsung memasuki mobil itu dan memang itu adalah mobil suaminya.
"Hahhhhh, di luar benar-benar sangat panas," ucapnya dengan mengipas-ngipas wajahnya tampak begitu kegerahan.
"Hmmm, Kamu dari mana aku jangan-jangan kamu mengikutiku sejak tadi?" tanya Letisha.
"Saya laki-laki yang memiliki pekerjaan dan tidak mungkin juga aku mengikuti kamu," jawab Rakash.
"Iya-iya, kenapa orang-orang begitu sangat menyombongkan dirinya di saat memiliki pekerjaan," ucap Letisha.
"Hmmmm, perutku lapar aku belum makan siang," ucap Letisha tidak jaim meminta makan kepada suaminya itu dengan mengusap-usap perutnya.
"Baiklah! Kita akan cari makan," sahut Rakash. Membuat Letisha menganggukkan kepala.
Bersambung......