Arka, detektif yang di pindah tugaskan di desa terpencil karena skandalnya, harus menyelesaikan teka-teki tentang pembunuhan berantai dan seikat mawar kuning yang di letakkan pelaku di dekat tubuh korbannya. Di bantu dengan Kirana, seorang dokter forensik yang mengungkap kematian korban. Akankah Arka dan Kirana menangkap pelaku pembunuhan berantai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faustina Maretta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka yang tertinggal
Arka duduk di depan meja kayu di apartemennya yang sempit, menatap laporan-laporan yang berserakan. Foto-foto korban Kirana tertata rapi di salah satu sudut, dengan coretan-coretan di sticky notes yang menunjukkan petunjuk. Ia tak bisa mengabaikan pola yang mulai terlihat jelas, semua korban Kirana memiliki satu kesamaan, pengkhianatan.
Setiap orang yang dibunuh Kirana pernah mengkhianati seseorang di masa lalu. Ada yang mengkhianati pasangan mereka, rekan kerja, bahkan keluarga sendiri. Arka memijit pelipisnya, merasa ada sesuatu yang ia lewatkan. Kirana mengaku bahwa perbuatannya didasarkan pada keadilan. Tapi, apakah keadilan itu hanya alasan untuk membenarkan perbuatannya?
Ia menyalakan laptopnya, mencari informasi lebih jauh tentang masa lalu Kirana. Sebuah artikel lama muncul, dengan foto seorang pria, ayah Kirana, Harun Pratama. Artikel itu membahas kasus kekerasan dalam rumah tangga yang menimpa seorang wanita dan anak perempuannya, tetapi kasus itu ditutup karena kurangnya bukti.
Jantung Arka berdegup kencang. Ia membaca setiap detail dengan saksama. Sang ibu, Maya, dilaporkan mengalami luka berat akibat ulah suaminya, tetapi menarik laporannya sebelum kasus berkembang. Di catatan lain, tertulis bahwa Kirana pernah dirawat di rumah sakit akibat luka di kepala, yang diduga akibat tindakan sang ayah.
Arka menghela napas panjang, merasakan campuran kemarahan dan simpati. "Jadi, kau juga korban," gumamnya pelan, menatap foto Kirana di layar laptopnya.
--- flashback ---
Di rumah besar yang kini kosong dan terlupakan, Kirana kecil pernah bersembunyi di bawah meja makan. Tubuh mungilnya gemetar, mendengar suara-suara teriakan di ruangan lain. Piring pecah, kursi terguling.
“Kirana! Keluar dari sana!” teriak suara berat ayahnya.
Kirana tetap diam, memeluk lututnya erat-erat. Maya, ibunya, berlari masuk, mencoba melindunginya. Tapi itu hanya memperburuk keadaan. Harun mengamuk, menarik rambut Maya dan menyeretnya keluar dari ruangan.
Dari bawah meja, Kirana melihat semuanya, kekerasan, air mata, darah. Dan di balik air mata itu, tumbuh kebencian. Bukan hanya pada ayahnya, tapi juga pada dunia yang membiarkan hal itu terjadi.
Arka kembali ke kantor polisi dengan kepala penuh pertanyaan. Ia meminta izin untuk berbicara dengan Kirana lagi, kali ini bukan sebagai detektif, tapi sebagai seseorang yang ingin memahami.
"Kirana," panggil Arka saat mereka duduk berhadapan di ruang interogasi.
Kirana menatapnya dengan ekspresi datar. "Apa lagi yang ingin kau tahu, Arka? Bukankah semua sudah jelas?"
"Tidak, belum jelas," jawab Arka tegas. "Aku tahu tentang ayahmu, tentang masa lalu yang kau coba lupakan. Tapi aku tidak mengerti kenapa kau memilih jalan ini. Kenapa kau mengakhiri hidup orang lain?"
Untuk pertama kalinya, wajah Kirana menunjukkan sedikit emosi. Matanya berkaca-kaca, tetapi ia menahan diri untuk tidak menangis. "Kau tidak akan mengerti, Arka. Mereka semua sama seperti dia. Para pengkhianat. Mereka menghancurkan hidup orang lain tanpa berpikir dua kali. Mereka layak mati."
"Tapi kau juga menghancurkan hidup orang lain, Kirana!" suara Arka meninggi. "Kau mungkin berpikir ini keadilan, tapi kau hanya mengulang siklus kebencian."
Kirana tersenyum tipis, penuh kepahitan. "Apa yang kau tahu tentang keadilan, Arka? Dunia ini tidak adil. Tidak pernah. Orang seperti ayahku selalu lolos, sementara korban seperti ibuku dibiarkan menderita. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan sistem yang gagal itu."
Arka terdiam. Kata-kata Kirana seperti pisau yang menusuk ke dalam. Ia tahu ada kebenaran dalam ucapannya, tetapi ia tidak bisa membiarkan itu menjadi pembenaran untuk pembunuhan.
"Aku ingin membantumu, Kirana," kata Arka akhirnya. "Tapi kau harus membiarkan aku masuk ke dalam duniamu. Kau harus berhenti melawan dan menerima bahwa kau tidak sendiri."
Kirana menatapnya lama, lalu berkata pelan, "Kau tahu, Arka, aku ingin percaya padamu. Tapi aku sudah terlalu jauh masuk ke dalam kegelapan. Tidak ada jalan keluar untukku."
Arka merasakan hatinya mencelos. Wanita di depannya adalah korban sekaligus pelaku, seseorang yang terjebak di antara kebenaran dan kebencian. Dan untuk pertama kalinya dalam karirnya, ia merasa benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
Di satu sisi, ia tahu Kirana harus bertanggung jawab atas kejahatannya. Di sisi lain, ia tidak bisa mengabaikan fakta bahwa Kirana adalah korban dari sistem yang gagal, dari masa lalu kelam yang mencetaknya menjadi apa yang ia sebut sebagai pembawa keadilan.
Keesokan harinya, Arka melakukan interogasi dengan Kirana. Dia membawa laptop dan beberapa dokumen untuk mendukung sebagai bukti kejahatan Kirana.
Ruang interogasi dingin seperti biasanya. Kirana duduk dengan sikap tenang, tetapi ada sesuatu yang berbeda. Ia terlihat lebih rapuh dari sebelumnya.
Arka meletakkan beberapa dokumen di atas meja, termasuk artikel tentang Jaya Santoso dan laporan masa lalu Maya. Ia menatap Kirana dengan tajam.
"Kirana, aku tahu ini lebih dari sekadar memburu pengkhianat. Ini tentang balas dendam, bukan?"
Kirana memutar matanya. "Jadi kau akhirnya mengerti. Selamat, Arka. Kau tidak sebodoh yang kukira."
"Tapi itu tidak membenarkan apa yang kau lakukan. Kau tidak hanya menghukum mereka, kau juga menghancurkan hidup keluarga mereka, sama seperti hidupmu dulu dihancurkan."
Kirana tersenyum pahit. "Kau tahu apa bedanya aku dengan mereka? Mereka melakukan semua itu untuk keuntungan pribadi. Aku melakukan ini untuk menegakkan keadilan."
"Keberanianmu mungkin terlihat seperti keadilan di matamu, tapi itu hanya kebencian, Kirana," ujar Arka, suaranya melunak. "Aku tahu kau menderita. Aku tahu apa yang Harun lakukan padamu dan ibumu. Tapi kau tidak harus menjadi seperti dia. Kau bisa berhenti."
Kirana menunduk. Untuk pertama kalinya, ia terlihat ragu. "Berhenti? Kau pikir semudah itu, Arka? Semua yang kulakukan ... semua orang yang sudah kubunuh ... apa yang tersisa untukku setelah ini? Hidupku sudah selesai."
Arka bersandar di kursinya. "Hidupmu belum selesai, Kirana. Kau masih punya kesempatan untuk berubah, untuk memperbaiki apa yang bisa diperbaiki."
Kirana tertawa kecil, tetapi ada air mata di matanya. "Kau terlalu optimis, Arka. Dunia ini tidak memberikan kesempatan kedua."
Arka tahu ia harus bertindak cepat. Ia mengajukan permohonan agar Kirana mendapatkan penanganan psikologis selama penahanannya.
Kirana masih menjalani hukuman, tetapi kini ia aktif mengikuti sesi terapi dan bahkan membantu narapidana lain yang memiliki trauma serupa. Ia mulai menulis diari tentang hidupnya, berharap suatu hari ceritanya bisa menjadi pelajaran bagi orang lain.
Arka, meskipun masih dihantui kasus ini, merasa lega melihat perubahan Kirana. Ia tahu jalan Kirana menuju penebusan masih panjang, tetapi setidaknya wanita itu kini berjalan di jalur yang benar.
Kirana pernah berkata bahwa dunia tidak memberikan kesempatan kedua, tetapi Arka membuktikan bahwa itu tidak selalu benar. Dengan usaha, pengampunan, dan dukungan, bahkan orang yang paling hancur pun masih bisa menemukan jalan keluar dari kegelapan.