Follow sosmed author
IG:Mia novita23
Tiktok:Miss Mia Novita
Perceraian antara kedua orangtuanya membuat Argantara tidak memiliki hubungan baik dengan ayahnya. bagaikan air dan minyak yang tidak akan pernah bisa bersatu. Ikuti kisahnya ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa takut Arga
Kesunyian di dalam mobil yang sepinya terasa lebih mematikan dari pada badai. Arga menatap wajah Kinara yang semakin pucat di bawah temaram lampu kabin yang mulai meredup. Napas Kinara pendek-pendek, seolah setiap helakannya adalah perjuangan terakhir.
"Aku tidak akan membiarkanmu mati di sini, Kin. Tidak di tempat terkutuk ini," desis Arga.
Arga keluar dari mobil, angin malam Lembang yang beringas langsung menyambar kulitnya yang hanya terbalut kaos tipis. Ia membuka pintu penumpang, menyampirkan tas berisi dokumen medis Kinara di bahunya, lalu dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia menggendong Kinara di punggungnya.
Arga mulai berjalan, lalu berlari kecil menuruni aspal yang licin dan berlumut. Jalan nya menurun tajam, memberikan tekanan luar biasa pada lutut dan pergelangan kaki. Setiap kali kakinya menghantam aspal, rasa sakit menjalar hingga ke pinggang, namun ia tidak peduli.
"Bicara padaku, Kin... kumohon, bicara," bisik Arga, suaranya parau karena menghirup udara dingin yang membekukan paru-parunya.
Kinara tidak menjawab. Hanya kepalanya yang terkulai lemas di bahu Arga, dan tetesan darah yang mulai mengering di leher Arga menjadi pengingat betapa tipisnya batas antara hidup dan mati saat ini.
"Ingat...ingatkah saat kamu berjanji untuk memberikan aku jadian jika nilai ujianku bagus?" Arga terus mengoceh, berusaha menjaga kesadarannya sendiri agar tidak pingsan karena kelelahan. "Kita belum melakukannya. Kamu tidak boleh pergi dulu."
Tiba-tiba, kaki Arga terangkut lubang di jalanan yang gelap. Ia jatuh tersungkur. Lututnya menghantam aspal dengan keras, membuat kulitnya robek. Namun, Arga berusaha memastikan tidak mengerang sakit, melainkan kepala Kinara tidak terbentur tanah. Ia mendekap Kinara dalam pelukannya di atas aspal yang dingin.
Arga mengerang, mencoba bangkit kembali. Kakinya bergetar hebat. Rasa sakit di lututnya terasa seperti ditusuk ribuan jarum. Ia menatap ke depan, jalanannya masih tertutup kabut tebal, tidak ada tanda-tanda pemukiman.
"Bangun, Arga! Bangun!" teriakannya pada diri sendiri.
Dengan suara gemuruh kecewa yang memecah kesunyian hutan, Arga kembali berdiri. Ia menggendong Kinara kembali. Setiap langkah kini direndam. Keringat dingin bercampur dengan embun di keningnya. Paru-parunya terasa terbakar, berjuang mencari oksigen di ketinggian Lembang yang tipis.
"Sedikit lagi...sedikit lagi..."
Pandangan Arga mulai berkunang-kunang. Titik-titik hitam menari di matanya. Namun, di kejauhan, dia melihat sesuatu. Bukan lampu rumah, melainkan sorot lampu senter yang bergerak-gerak dari arah bawah, disertai suara teriakan yang samar.
"ARGA! KINARA!"
Itu suara Daren.
Arga ingin menyyahut, tapi suaranya hilang di tenggorokan. Ia hanya bisa terus melangkah, menyeret kakinya yang sudah mati rasa. Saat sosok Daren muncul dari balik kabut dengan wajah pucat pasi, Arga merasakan dunianya miring.
"Daren...selamatkan dia..." suara Arga hanya berupa bisikan sebelum lututnya benar-benar menyerah.
Ia jatuh terduduk, tetap mendekap Kinara dengan sisa kekuatan, menolak melepaskan wanita itu bahkan saat kesadarannya sendiri mulai menghilang ditelan kegelapan malam Lembang.
Daren berlari mendekat, namun sebelum ia sempat mengambil alih tubuh Kinara, sebuah gerakan kecil menghentikan segalanya. Di bawah sinar lampu senter yang berpendar pembohong, jemari Kinara yang dingin menyentuh punggung tangan Arga yang memeluknya erat.
"A... ga..."
Suara itu sangat lemah, hampir tenggelam oleh suara daun pinus, namun bagi Arga, terdengar seperti ledakan di tengah kenyamanan. Arga tersentak, ia menundukkan wajahnya, mendekatkan telinganya ke bibir Kinara yang membiru.
"Kin? Aku di sini. Jangan bicara dulu, simpan tenagamu," bisik Arga, air matanya jatuh tepat di pipi Kinara.
Kinara membuka matanya perlahan. Pandangannya kosong, sulit fokus di tengah kegelapan, namun ia mengenali aroma jaket Arga dan dekapan hangat yang selama ini menjadi rumahnya. Dengan sisa tenaga yang ada, ia meremas perlahan kaus Arga yang basah oleh keringat dan darah.
"Jangan...jangan marah lagi," lirih Kinara. Setetes air mata baru keluar dari sudut matanya yang sayu. "Aku... aku takut kalau itu kata-kata terakhir yang aku dengar darimu."
Hati Arga serasa diremas. Rasa debarannya lebih keras daripada benturan apa pun. Ia mengeratkan pelukannya, menyandarkan keningnya ke kening Kinara yang sedingin es.
"Maafkan aku, Kin. Aku yang salah. Aku yang bodoh," isak Arga. "Aku sudah tahu semuanya. Tentang adikmu, tentang uang itu... aku sudah tahu. Kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi. Hanya bertahanlah, kumohon. Sebentar lagi kita sampai."
Kinara tersenyum sangat tipis, sebuah senyuman yang terlihat begitu menyakitkan di tengah luka-lukanya. "Terima kasih... sudah percaya."
Napas Kinara kembali memberat. Kesadarannya mulai naik turun. Ia seolah ingin mengatakan sesuatu lagi, namun kelopak matanya terasa sangat berat.
"Arga... kalau aku tidak bangun lagi..."
"Jangan bicara begitu!" potong Arga cepat, suaranya naik satu oktav karena panik. "Kita akan ke Tebing Keraton, Kin. Kita akan melihat matahari terbit. Kamu sudah janji!"
Kinara tidak menjawab lagi. Genggaman tangan di kaos Arga perlahan melonggar, jatuh terkulai di sisi tubuhnya. Matanya tertutup kembali, meninggalkan Arga dalam ketakutan paling dalam yang pernah ia alami seumur hidupnya.
"Kin! Kinara! Buka matamu!" Arga mengguncang tubuhnya perlahan, namun tak ada reaksi.
Daren segera berlari ke samping mereka sambil memegang bahu Arga. "Ga, kita harus bergerak sekarang! Mobilku ada di bawah tikungan ini. Ayo!"
Dengan sisa kekuatan yang seolah diperas dari tulang-tulangnya, Arga mengangkat kembali tubuh Kinara. Ia berlari mengikuti Daren menembus kabut, melompati rasa sakit di lututnya, hanya didorong oleh satu keinginan. ia tidak akan membiarkan percakapan di ambang maut tadi menjadi kata-kata terakhir mereka.