NovelToon NovelToon
Rebirth Of The Duke'S Daughter

Rebirth Of The Duke'S Daughter

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Fantasi / Petualangan / Tamat
Popularitas:2.1M
Nilai: 4.8
Nama Author: Pelangizigzag

Putri bodoh yang satu ini berubah total dalam waktu semalam! Setelah ini dia bertekad untuk membalaskan semua rasa sakitnya satu-persatu. Lalu ditakdirkan hidup sebagai permaisuri? oh, tidak masalah karena ada pria tampan berkuasa yang akan membantunya sampai akhir.

NO PLAGIAT!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelangizigzag, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Celebration

Puluhan menteri, ratusan bangsawan, serta banyak banyak rakyat turut memeriahkan acara kali ini. Tepat di jam delapan malam, peresmian acara peringatan ulang tahun Dataran Aldergo akan dimulai jauh lebih meriah dari tahun-tahun yang lalu. Anak-anak dibiarkan berkeliaran bebas di sudut kota disertai pekikan riangnya tanpa takut terjadi kejahatan karena keadaan kota sangat ramai, sedangkan para orang dewasa sibuk bersiap dengan pakaian terbaik untuk menyemarakkan malam ini.

Suasana riang tak kalah dari pusat kota. Sejak menjelang malam, setiap kedai sudah tutup khusus di malam ini, tidak ada pedagang. Semuanya sepakat untuk merayakan ulang tahun Aldergo bersama-sama. Semua orang tidak takut kelaparan sebab Raja Eliot telah menjamu seluruh rakyatnya untuk makan malam bersama di jalan besar.

Di jalan besar tersebut banyak orang beramai-ramai untuk mempersiapkan meja yang disusun panjang hingga mencapai sudut kota sebelah timur. Bangku-bangku dari kayu juga diarak sebagai tempat duduknya, hari besar Aldergo sama halnya hari raya bagi Rakyat Aldergo itu sendiri.

Begitu juga dengan Aidenloz. Pria itu sudah siap dengan harpa berwarna keemasan, begitu mencolok dengan surainya yang kini berwarna merah. Dengan jubah yang terbuat dari bulu domba yang dilengkapi tudung penutup wajah, ia memutuskan untuk duduk di tempat yang telah disediakan bersama para pemusik lainnya. Hah, bayangkan saja. Apakah ada kaisar lain yang pernah mengalami hal seperti ini?

“Satu kali membuat kesalahan di depan raja, nyawamu tak akan diampuni.”

Aidenloz merasa bahwa wanita itu berbicara padanya. Tanpa menoleh pun, Aidenloz sudah tahu siapa orangnya. Siapa lagi kalau bukan wanita Elf yang selalu mengancam kedatangan Aidenloz sejak hari pertama.

Aidenloz tak bergerak sedikitpun dari posisi awalnya. Ia hanya terkekeh kecil yang menyiratkan ancaman. “Sepertinya Anda sangat meremehkan saya.” Tatapan Aidenloz seketika berubah menjadi dingin, “Kalau begitu mari kita bertaruhlah." Aidenloz tersenyum miring, "Jika raja menyukai permainan musik saya, apa yang akan Anda lakukan?"

Kemarin Aidenloz baru mengetahui siapa nama wanita di hadapannya ini. Elf itu bernama Sheryn, pengelola pemain musik istana. “Jika saya terbukti payah, saya akan mengabdikan diri sebagai bawahan nyonya selamanya."

"Hanya itu?" Nyonya Sheryn mendengus, "Dengar baik-baik, raja tak memiliki selera musik seperti yang kau bayangkan. Jika ia terbukti menyukai permainan musikmu...."

Aidenloz menunggu.

"Aku akan melepas jabatan sebagai ketua di sini."

terdengar suara terkesiap dari pemusik lain saat Nyonya Sheryn mengutarakan taruhannya —yang sangat mengancam— dengan gamblang. Memiliki posisi sebagai ketua bukanlah hal mudah. Jauh lebih sulit ketimbang taruhan yang baru saja ia ucapkan seenak hati. Sebagai pemusik, tak ada yang ingin melewatkan posisi tersebut, namun Nyonya Sheryn sangatlah ... nekat.

"Mari kita lihat hasilnya." Aidenloz merasakan kemenangan akan berada di pihaknya.

.

Sementara itu, di lain tempat seorang pelayan belia yang mungkin masih belasan tahun berlari secepat yang ia bisa. Ia tersengal hebat, namun kakinya berkata bahwa ia harus terus berlari hingga siluet nona mudanya terlihat duduk anggun di atas sofa marun sambil mengipas wajahnya pelan-pelan. Pelayan tersebut menghela nafas penuh kelegaan.

“Nona Magnotta,” ucapnya penuh hormat lalu membungkukkan badan.

“katakan,” sahut Lady Gabriela yang enggan menatap wajah pelayan setianya itu, ia senantiasa menatap lurus ke depan dengan dagu yang diangkat tinggi.

“Saya sudah mendapatkan berita yang Anda inginkan, Milady."

“Benarkah?” Lady Gabriela tersenyum penuh arti. Ia mengamati sekelilingnya yang bisa dikatakan masih cukup lenggang dan ia rasa jaraknya cukup jauh dengan lady lain sehingga tidak ada yang bisa menguping pembicaraannya. “Berita apa yang kau dapatkan?”

Olivia, pelayan kediaman Magnotta itu mendekatkan tubuhnya agar Lady Gabriela dapat mendengarkan ucapan yang ia anggap rahasia. Namun bukan sanjungan yang ia dapatkan dari kerja kerasnya, melainkan bentakan karena tanpa sengaja pakaiannya mengenai gaun sutra sang lady.

“Lancang sekali kau mendekati majikanmu dengan tubuh kotor itu!” bentak Lady Gabriela dengan tatapan memincing. “Pelayan tak berguna sepertimu pantas dihukum!”

Olivia bersujud dengan air mata yang berlinang. Tangannya ditangkup rapat di atas kepala yang tak berani ia dongakkan. “A-ampuni h-hamba, nona muda. Maafkan saya,” isaknya pelan.

“Pengawal, jauhkan pelayan tak berguna ini dari hadapanku!” raung Lady Gabriela penuh murka. Tak berapa lama beberapa pengawal sudah menyeret gadis tak bersalah itu jauh dari tatapan semua orang dengan permohonan ampun yang tak henti-hentinya ia ucapkan.

Para lady maupun nyonya dari kediaman lain memilih bungkam agar terhindar dari permasalahan keluarga Earl, mereka hanya mencemooh lewat gerakan mata satu sama lain.

Lady Gabriela sendiri tentu menyadari tatapan-tatapan menghakimi itu. Hampir seluruh bangsawan tak menyukainya. Lady Gabriela sadae betul, namun ia memutuskan untuk bersabar sampai ia berhasil menjadi ratu dan mendepak semua bangsawan tak berpendidikan itu. Perjalanannya sebagai calon istri raja merupakan hasil dari kerja kerasnya dan juga kakek tanpa bantuan keluarga siapa pun. Raja terdahulu yang mengangkatnya menjadi putri mahkota tanpa campur tangan bangsawan-bangsawan bodoh itu, mereka sama sekali tak membantunya. Sama sekali tak membantu. Tinggal tunggu waktunya saja hingga Lady Gabriela menggulung rata mereka beserta keturunannya. Itu sumpah Lady Gabriela.

Tak terasa, seluruh kursi bangsawan dan para menteri sudah penuh. Semua orang yang berada di dalam aula berusaha membaurkan diri dengan bersikap layaknya teman akrab kepada bangsawan yang berada disebelah mereka, saling menyapa, menanyakan kabar, bahkan berniat menjodohkan putra-putri kediaman masing-masing. Namun dibalik semua itu, sebenarnya politik bangsawan menyimpan pisau berbentuk bunga cantik yang bernama ikatan antar keluarga yang bisa saja menusuk targetnya yang berada di depan mata kapan saja.

Dan karena itulah Lady Gabriela enggan beramah-tamah dengan bangsawan apalagi yang berada di bawah derajatnya. Sejak kecil Earl of Magnotta, kakeknya hanya mengajarkan Lady Gabriela cara menjilat bangsawan kelas atas seperti Putri bungsu dari Duke Romanoe yang sekarang duduk disampingnya. Mungkin ia bisa mendekatkan diri dengan Lady Elatha, pikirnya.

“Selamat malam, Lady Elatha," sapa Lady Gabriela, "Acara hampir dimulai, apa Anda baru saja tiba?"

Putri kelima Duke of Romanoe, Lady Elatha Romanoe menoleh padanya disertai senyuman manis nan anggun, “Anda mengkhawatirkan saya?” perempuan itu terkekeh pelan dan menarik sapu tangannya untuk menutupi mulut dengan sopan. “Anda tidak perlu khawatir. Ketidakhadiran saya seharusnya menguntungkan Anda, kan?” sindirnya halus.

Lady Gabriela meremat sapu tangan yang ia genggam untuk melunturkan sebagian rasa kesalnya. Lagi-lagi, Lady Elatha jelas menyinggung posisi yang ia raih saat ini. Tak dipungkiri, Lady Elatha yang sebenarnya lebih ‘berhak’ atas posisi putri mahkota dibandingkan dirinya yang hanyalah putri Earl. Rakyat Aldergo juga demikian, lebih berpihak pada Lady Elatha. Namun sayang, Lady Gabriela memiliki kartu as yang sangat berharga karena Earl Of Magnotta merupakan tangan kanan ibu suri.

Tak berselang lama, Raja Eliot memasuki ruangan disertai iring-iringannya. Pria bersurai ungu itu menggunakan jubah hitam yang lembut terbuat dari kain beludru pilihan. Di ujung-ujungnya terdapat renda yang terbuat dari wol. Di kepalanya, Raja Eliot menggunakan mahkota emas yang berkilauan saat tertimpa cahaya lampu kristal raksasa. Wajahnya terlihat dingin, bahkan ia tak repot-repot untuk membalas sapaan para menteri yang ia lewati selama berjalan menuju kursi takhta dan lagi setiap langkahnya yang mantap itu seolah memang menunjukkan bahwa ia adalah raja muda yang berkuasa penuh atas Aldergo.

Tak lama, tamu undangan istimewa memasuki Aula. Dimulai dari raja Othanium, putra mahkota Armovin, menteri Vrioral, perwakilan Domania, dan yang terakhir merupakan tamu terhormat, pangeran kekaisaran Claude Edgardo Maxuell.

Untuk menyambut tamu terakhir, Raja Eliot bahkan berdiri untuk menghormati perwakilan Pemerintahan Pusat Benua Erosh diikuti semua abdi dan bangsawan lain menunduk serempak. Kursi kebesaran Eroshvent pun telah disiapkan secara khusus, disamping Raja Eliot sendiri yang dibuat dari kayu terbaik di negeri Erosh dengan bantalan empuk berhiaskan banyak permata.

“Suatu kehormatan bagi Aldergo karena Anda mau bersusah payah untuk menghadiri pesta kecil kami,” ucap Raja Eliot merendah. “Jika saya boleh bertanya, ke manakah Kaisar Agung hingga berhalangan hadir malam ini?”

Claude telah duduk di kursinya yang nyaman. “Terima kasih atas sambutan Aldergo. Saya sungguh terkesan. Pesta yang sudah Anda siapkan bukanlah pesta yang kecil, Raja Eliot. Tidak sama sekali. Saya harap acara Aldergo malam ini sama sekali tak mengecewakan,” sahut Claude tak kalah ramah. Sejak tadi ia hampir saja terkekeh geli karena seseorang.

Lagi, Claude melirik salah satu sudut aula yang diperuntukkan bagi para pemusik yang diantaranya adalah Aidenloz. Tak sulit untuk mencari kakaknya itu, aura kekuasaan Aidenloz sungguh terasa walaupun ia tengah menyamar menggunakan pakaian yang tak dapat Claude pahami. Terbukti dengan pemusik lain yang enggan duduk berdekatan dengan Aidenloz padahal pria itu duduk ditengah-tengah para pemusik.

“Ah, apakah tadi Anda menanyakan kehadiran Kaisar Agung?" ucap Claude tak lama sebelum Aidenloz langsung memandang tepat ke arahnya tajam. "Yang Mulia sedang sibuk dengan beberapa tugas pentingnya. Ia tak dapat ditemui untuk sementara waktu."

1
Murni Murniati
kampret ini lama lama minta dikubur ini, apa tak sadar dia siapa, ini anak dewa dewi dia budak,apa tak sadar dia
Murni Murniati
kan dia udah dikasih dua kebebasan keinginan ini, jd kapan diminta
🌿wing2bo_27
Luar biasa
>AY<
cerita nya rumit, harus mengulang kata"nya supaya paham.
Ayu Mestari
Luar biasa
Yati Haryati
ceritanya terburu buru bgt min
Ayu Sari Murni
manggilnya adiden aja Thor susah q bacanya
ana azizah
bertele2
Hikam Sairi
baca
Dede Mila
/Proud//Joyful//Joyful//Joyful/
Inesya Qinan s
Luar biasa
Inesya Qinan s
Lumayan
Asmi Pandansari
aku mampir
Murni Dewita
sama2 penasaran kita mikayla/Grin/
Murni Dewita
mampir
Dang Antie
Luar biasa
♤avcdssi
suka banget sama cerita, tapi epsonya sedikit heheh
Riska Mustikasari
putri tidur butuh make up baca dimana kak... kok ga ada aku cari
Ni Ketut Patmiari
Luar biasa
Querido🦋
yakin ingin menghukum tahta tertinggi diatas raja hm?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!