Syal merah yang dikenakan saat melamar pekerjaan membuat Rara menjadi sasaran balas dendam CEO nya sendiri, alih-alih ingin mendapatkan kebahagiaan namun Rara malah mendapatkan siksaan yang pedih dari Sean suaminya serta atasannya di kantor.
Alasan apa Sean melakukan hal itu? ikuti ceritanya yuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meminta Rara Untuk Menemui Sean
Bug
Bug
Bug
Entah berapa pukulan Sean layangkan ke wajah David, dia sangat marah dan tidak terima jika David mencintai istrinya.
"Brengsek kamu David, beraninya mencintai istriku," kata Sean.
"Tapi anda selama ini tidak pernah menganggapnya sebagai istri," sahut David.
Sakit dipukuli Sean tidak sesakit ketika dirinya melihat Sean mengajar Rara, sakitnya tidak sebanding ketika dirinya melihat Rara kesakitan namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Tak ingin lepas kendali, Sian memutuskan pergi dari ruangan David bagaimanapun juga David adalah orang kepercayaannya.
David yang kesalahan mencoba bangun, dengan wajah yang babak belur dia memutuskan untuk pergi toh dia juga tidak mungkin bisa bekerja dengan wajah yang seperti ini.
Ingin meluruskan semuanya, David datang ke rumah Rara. Setibanya di rumah Rara, David berkali-kali mengetuk pintu namun tak ada jawaban hingga Albert yang kebetulan pergi ke dapur melihat David dari jendela lalu membukakan pintu.
"Uncle," kata Albert.
"Mana mommy kamu?" tanya David.
"Di kamar Albert uncle," jawab Albert.
David segera berlari menuju kamar Albert, dia melihat Rara yang menangis di depan jendela kamar Albert.
"Ra," panggil David.
David berlari ke arah Rara lalu memeluknya, dalam pelukan David tangis Rara pecah, dia sungguh tidak menyangka kalau Sean ternyata sudah sangat akrab dengan anaknya sendiri.
"Bagaiamana ini mas?" tanya Rara.
"Saran aku mending kita temui Sean," jawab David.
Rara melepas pelukannya, saat melihat wajah David betapa terkejutnya dia.
"Mas wajah kamu kenapa?" tanya Rara.
"Biasa," jawab David.
Rara segera mengambil kapas dan obat untuk mengobati luka David, dia sungguh tak menyangka semua akan seperti ini. Rara mengira semua akan baik-baik saja tapi kini Sean datang kembali.
"Saranku temui dia, kalau memang kamu ingin memulai hidup baru dengan Daffa putuskan ikatan kalian Ra, tapi kalau aku boleh meminta tetap biarkan dia menemui anaknya," pesan David.
"Tapi mas...." belum sempat melanjutkan kata-katanya David sudah meletakkan telunjuknya di bibir Rara.
"Aku tidak akan memaksa kamu Ra," sahut David lalu dia pamit untuk pulang.
Rara sengaja tidak menceritakan semua ini pada Daffa, dia takut kalau Daffa malah kepikiran akan dirinya.
Keeoskannya Sean menunggu Albert di depan gerbang sekolahnya, dia ingin menemui Albert namun lama menunggu tapi Albert tak kunjung datang.
Semua murid sudah masuk bahkan security sudah menutup pagar sekolah.
"Apa dia tidak masuk ya," batin Sean.
Sebenarnya Sean ingin pergi ke rumah Rara namun dia takut kalau Rara tidak mau menemuinya dan malah menyembunyikan Albert.
"Aku harap kamu tidak menyembunyikan Albert Ra." Sean bermonolog dengan dirinya sendiri.
Saat ingin masuk ke dalam mobil, Rara dan Albert muncul di seberang jalan, Sean nampak senang lalu dia berlari ke arah istri dan anaknya tersebut.
"Ra," panggil Sean.
Ingin sekali Sean memeluk Rara namun dia harus bisa mengendalikan dirinya.
"Tuan Sean," balas Rara.
Kenangan-kenangan dulu merasuk masuk ke dalam otak Rara, membuat mata Rara membasah dia berusaha menahan diri akan trauma masa lalu.
"Kamu kenapa Ra?" tanya Sean yang nampak khawatir dengan keadaan Rara.
"Mommy." Albert juga nampak khawatir.
Dengan segala kekuatannya, Rara mencoba untuk melawan rasa trauma yang terus membuatnya tersiksa.
"Maafkan saya Tuan," kata Rara lalu dirinya menatap Sean.
Sekuat tenaga Rara melawan rasa trauma yang terus membelenggu dirinya.
"Jangan panggil aku Tuan Ra, please," pinta Sean.
"Baiklah," timpal Rara.
Rara mengajak Sean untuk bicara, dia mencoba mengikuti saran dari David untuk bicara empat mata dengan Sean.
"Kita ke taman saja mas," kata Rara.
Sean ijin untuk mengajak Albert bareng dengannya karena Rara membawa mobil sendiri.
"Iya silahkan mas," sahut Rara.
Sean segera menggendong Albert dan mengajaknya menuju mobilnya.
"Aku ini papa kamu sayang," batin Sean.
Setibanya di taman, mereka duduk di sebuah bangku, namun sebelumnya Albert diminta untuk main agak jauh dari mereka.
Lama tidak berdua seperti ini membuat Rara maupun Sean nampak canggung sehingga mereka hanya diam.
"Ra," Sean mencoba menguraikan keheningan diantara mereka.
Rara nampak tersenyum kemudian dia menghela nafas.
"Mas, aku ingin kita bercerai,"
ya ampun aqu sampek nanges
gk sanggup baca nya
yg bikin cerita yg di salah kan jngn rara