Demi menyelamatkan nyawa suaminya yang kritis akibat kecelakaan, Melisa harus berhadapan dengan tagihan rumah sakit yang sangat besar. Di tengah keputusasaan, ia bertemu kembali dengan Harvey, dokter bedah yang menangani suaminya sekaligus mantan kekasih yang ia tinggalkan secara tragis saat SMA.
Terdesak biaya, Melisa terpaksa mengambil jalan gelap dengan bekerja di sebuah klub malam melalui bantuan temannya, Laluna. Namun, takdir kembali mempermainkannya: pria kaya yang menawar harganya paling tinggi malam itu adalah Harvey.
Kini, Harvey menggunakan kekuasaannya untuk menjerat Melisa kembali—bukan hanya untuk membalas dendam atas sakit hati masa lalu, tapi juga menuntut bayaran atas nyawa suami Melisa yang ia selamatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KENAPA HANYA TIGA PULUH HARI?
Melisa melirik jam dinding di ruang pemulihan. Pukul setengah lima. Setiap detik yang berdetak terasa seperti lonceng kematian bagi kebebasannya. Ia harus segera pergi sebelum Harvey kehilangan kesabaran dan melakukan hal nekat yang bisa menghancurkan segalanya.
"Bu," Melisa menyentuh bahu ibunya lembut. "Ibu pulanglah dulu. Ibu sudah seharian di sini, wajah Ibu pucat sekali. Kalau Ibu jatuh sakit, siapa yang akan menjaga Mas Rendra nanti?"
Bu Rini tampak ragu. "Tapi, Mel, kalau Rendra bangun dan kamu tidak ada, bagaimana?"
"Ada aku, Bu," sebuah suara tenang memotong pembicaraan mereka.
Arneta masuk ke ruangan dengan seragam perawatnya yang rapi, membawa baki berisi peralatan medis. Senyumnya yang hangat sedikit mengurangi ketegangan di wajah Bu Rini.
"Mbak Melisa benar, Bu. Ibu Rini harus istirahat. Biar saya yang menjaga Mas Rendra malam ini. Kebetulan ini memang jadwal jaga saya, dan Dokter Harvey sudah memberikan instruksi khusus agar saya memantau kondisi Mas Rendra setiap jam tanpa kecuali," jelas Arneta dengan nada profesional namun ramah.
Bu Rini menghela napas lega. "Dokter Harvey benar-benar perhatian ya, Net. Sampai memesan perawat khusus untuk menantu Ibu."
Melisa hanya bisa tertegun mendengar itu. Instruksi khusus. Ia tahu itu bukan sekadar perhatian medis. Itu adalah cara Harvey mengurung Narendra dalam pengawasannya, sekaligus memastikan Melisa tidak punya alasan untuk tetap tinggal di rumah sakit. Harvey telah mengatur bidak-bidaknya dengan sangat sempurna.
"Tuh, kan, Bu. Ada Arneta. Ibu pulang ya? Aku sudah pesankan taksi di depan," ucap Melisa setengah memaksa sambil membimbing ibunya berdiri.
Setelah mengantar ibunya ke lobi dan memastikan taksinya berangkat, Melisa kembali masuk ke dalam rumah sakit hanya untuk bertemu pandang dengan Bayu yang sudah berdiri seperti patung di samping mobil sedan hitam itu.
"Silakan, Mbak Melisa. Tuan sudah menunggu," ucap Bayu datar.
Perjalanan menuju apartemen Harvey terasa seperti menuju tiang gantungan. Begitu pintu unit penthouse itu terbuka, aroma kayu cendana dan kemewahan yang dingin menyambutnya. Harvey tidak lagi mengenakan pakaian bedah. Ia mengenakan kemeja satin abu-abu gelap yang kancing atasnya terbuka, memancarkan aura dominasi yang tak tertahankan.
"Arneta sudah melapor," ucap Harvey tanpa menoleh, matanya menatap kerlip lampu kota dari balik dinding kaca. "Suamimu stabil. Kau bisa tenang sekarang."
Melisa menutup pintu di belakangnya, suaranya bergetar. "Kenapa kau harus memerintah Arneta seperti itu? Kau ingin menunjukkan bahwa kau berkuasa atas hidupnya juga?"
Harvey berbalik, langkah kakinya tidak terdengar di atas karpet mahal. Ia mendekat hingga bayangannya menelan tubuh Melisa yang mungil.
"Aku melakukan itu agar kau tidak punya alasan untuk lari, Melisa," bisik Harvey, jemarinya menyentuh rahang Melisa, memaksa wanita itu mendongak. "Aku memberikan perawatan terbaik untuknya, perawat terbaik, dan nyawa kedua. Sebagai gantinya, aku ingin kau fokus."
"Fokus pada apa?"
"Padaku," Harvey menunduk, napasnya terasa hangat di kulit wajah Melisa. "Lupakan bahwa kau seorang istri. Selama tiga puluh hari ke depan, bayangkan kita kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu. Sebelum pria tidak punya apa-apa itu mencurimu dariku."
"Dia tidak mencuriku, Harvey! Aku yang memilihnya!" seru Melisa berani.
Mata Harvey berkilat marah sekejap, namun ia segera meredamnya dengan senyum tipis yang mengerikan. "Pilihan yang salah biasanya berujung pada penderitaan, bukan? Dan lihat di mana kau sekarang. Membayar 'pilihanmu' itu dengan berada di pelukanku."
Harvey menarik Melisa ke arah meja makan yang sudah tertata mewah. "Makanlah. Kau butuh tenaga. Malam ini akan terasa sangat panjang bagi kita."
Melisa menatap makanan di depannya dengan rasa mual. Di rumah sakit, mungkin Narendra sedang berjuang untuk membuka mata, memanggil namanya. Sementara di sini, ia harus duduk di depan pria yang secara sistematis telah membeli setiap jengkal hidupnya.
"Kenapa hanya tiga puluh hari?" tanya Melisa tiba-tiba, suaranya parau.
Harvey menuangkan anggur merah ke gelasnya, gerakannya sangat tenang. "Karena aku ingin tahu, apakah dalam tiga puluh hari aku bisa membuatmu sadar bahwa pria yang kau cintai itu hanyalah beban, dan aku adalah satu-satunya oksigenmu. Jika setelah tiga puluh hari kau masih ingin kembali padanya... silakan. Aku akan melepaskanmu seperti janjiku."
"Aku akan tetap memilihnya, Harvey. Bahkan jika kau memberiku dunia," tantang Melisa.
Harvey meletakkan gelasnya, matanya menatap Melisa dengan obsesi yang dalam. "Kita lihat saja, Melisa. Waktu baru saja dimulai."
***
bersambung...