Sekar Wening hidup sebagai gadis desa terbuang yang kelaparan di gubuk bocor dilereng bukit Menoreh. Ia dianggap pembawa sial, tak berguna, tak diinginkan.
Tak ada yang tahu, jiwanya adalah seorang profesor biohayati jenius yang mati dalam ledakan laboratorium.
Saat tanda lahir di jari manisnya bersinar, sebuah ruang ajaib terbuka. Tanah surga, air kehidupan, dan takdir baru menantinya. Dari gadis hina menjadi wanita yang mengguncang desa hingga Keraton, Sekar bersiap membalikkan nasib, dan tanpa ia sadari, di tengah kebangkitannya, hati seorang Pangeran Yogyakarta mulai terpikat padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kontrak Eksklusif Keraton
Sebuah mobil sedan hitam mengkilap dengan bendera kecil berwarna kuning-emas di kap depannya meluncur pelan membelah jalanan berbatu menuju gubuk Sekar.
Plat nomornya bukan sembarangan. AB 1, dengan kode belakang khusus yang hanya dimiliki oleh abdi dalem inti Kesultanan Yogyakarta.
Warga desa yang sedang menjemur gabah atau merumput langsung berhenti. Leher mereka memanjang, mata mereka membelalak tak percaya.
Mobil itu berhenti tepat di depan pagar bambu gubuk Sekar yang kini sudah mulai dirambati tanaman sirih merah yang rimbun.
Pak Man, yang sedang menyapu halaman, sampai mematung dengan sapu lidi di tangan. Mulutnya terbuka, namun tak ada suara yang keluar.
Seorang sopir berseragam batik parang barong dan blangkon rapi turun, lalu dengan gestur penuh hormat berjalan menuju pintu gubuk.
"Nuwun sewu," ucap sopir itu dengan suara bariton yang sopan namun berwibawa. "Apakah benar ini kediaman Nimas Sekar Wening?"
Sekar keluar dari balik tirai pintu. Ia mengenakan kemeja putih sederhana dan celana kain hitam, pakaian terbaik yang ia miliki saat ini.
Wajahnya tenang, kontras dengan kegugupan Pak Man.
"Saya sendiri, Pak," jawab Sekar.
"Saya diutus oleh Kanjeng Pangeran untuk menjemput Nimas. Gusti Bendara Koki Utama sudah menunggu di Pawon Ageng untuk uji sampel."
Sekar mengangguk pelan. Ia sudah diberitahu Arya lewat pesan singkat pagi tadi. Tapi ia tidak menyangka jemputannya akan se-mencolok ini.
Di balik jendela rumah tembok sebelah, tirai tersibak sedikit. Mata Bibi Mirna mengintip dengan nanar. Tangannya meremas kain gorden hingga kusut.
"Mobil Keraton..." desis Mirna, suaranya tercekat rasa iri yang membakar kerongkongan. "Kenapa mobil Keraton jemput anak pembawa sial itu?"
Mirna ingin keluar dan melabrak, ingin berteriak bahwa itu pasti kesalahan.
Tapi aura kewibawaan mobil hitam itu membuatnya kerdil. Ia hanya bisa melihat, memakan hatinya sendiri yang kian busuk oleh dengki.
Perjalanan menuju pusat kota Yogyakarta terasa seperti melintasi lorong waktu.
Dari jalanan berbatu yang gersang, masuk ke jalan aspal mulus, hingga akhirnya melewati gerbang tebal benteng keraton yang berwarna putih gading.
Sekar tidak dibawa lewat gerbang utama yang penuh wisatawan. Mobil itu berbelok ke gerbang samping yang dijaga prajurit Bregada, area khusus logistik dan dapur istana.
Aryasatya sudah menunggu di sana..Pemuda itu tidak mengenakan kemeja lapangan seperti biasa. Ia mengenakan kemeja batik lengan panjang dengan motif yang rumit, membuatnya terlihat jauh lebih... ningrat.
"Selamat datang, Bu Profesor," sapa Arya dengan senyum tipis yang hangat.
Sekar turun dari mobil, membawa keranjang anyaman bambu berisi sampel produknya. "Tolong jangan panggil begitu di sini, Mas Arya. Saya cuma petani."
"Petani yang menanam emas," koreksi Arya. "Mari, Romo Joyo sudah tidak sabar."
Mereka berjalan menyusuri koridor panjang berlantai tegel kunci kuno yang dingin.
Aroma melati dan dupa samar-samar tercium, bercampur dengan aroma masakan yang menggugah selera.
Mereka tiba di sebuah pendopo semi-terbuka yang berfungsi sebagai area uji rasa dapur istana.
Di tengah pendopo, duduk seorang pria tua dengan pranakan biru tua, baju adat abdi dalem. Rambutnya putih semua, tapi sorot matanya tajam seperti elang yang sedang mengincar mangsa.
Itu adalah Romo Joyo, Kepala Koki Istana yang lidahnya konon diasuransikan miliaran rupiah.
"Ini gadisnya, Dimas Arya?" tanya Romo Joyo tanpa berbasa-basi.
"Leres, Romo," jawab Arya santun, menggunakan krama inggil halus.
Sekar meletakkan keranjangnya di atas meja kayu jati yang mengkilap.
Dengan gerakan efisien, ia mengeluarkan tiga komoditas andalannya: Seikat bayam hijau dengan daun lebar dan tebal, satu kantong beras mentik emas yang butirannya bening seperti kristal, dan primadona hari itu, sebuah Melon Crown. Melon itu bulat sempurna. Jaring-jaring di kulitnya timbul dengan pola artistik yang rumit.
"Silakan, Romo," ucap Sekar.
Romo Joyo tidak langsung memakan. Ia mengambil selembar daun bayam, meremasnya sedikit, lalu mencium aromanya.
"Baunya... tanah basah. Segar. Tidak ada bau logam pupuk kimia," gumam Romo Joyo.
Kemudian ia beralih ke beras. Ia mengambil sejumput, mengamatinya di bawah sinar matahari yang menerobos masuk lewat pilar pendopo.
"Utuh. Tidak ada yang patah. Warnanya alami."
Terakhir, asisten dapur memotong melon itu.
Krak.
Suara renyah saat pisau membelah kulit melon terdengar jelas di pendopo yang sunyi itu.
Aroma manis yang creamy dan floral langsung menyeruak, memenuhi udara.
Romo Joyo mengambil sepotong melon berwarna hijau pucat itu. Menggigitnya.
Semua orang menahan napas. Termasuk Arya yang biasanya tenang. Romo Joyo memejamkan mata. Kunyahan di mulutnya pelan, meresapi setiap tekstur dan ledakan rasa di lidahnya.
Manis. Tapi bukan manis yang menyakitkan tenggorokan. Manis yang segar, dengan tekstur daging buah yang lumer di mulut namun tetap renyah saat digigit.
"Brix level berapa ini?" tanya Romo Joyo tiba-tiba membuka mata.
"Delapan belas, Romo," jawab Sekar cepat dan presisi. "Standar melon pasar hanya dua belas. Melon impor Jepang biasanya enam belas."
Romo Joyo menatap Sekar lekat-lekat. Tatapan meremehkan yang tadi sempat ada, kini lenyap tak berbekas. Berganti dengan rasa hormat sesama maestro.
"Tanahmu di mana, Nduk?"
"Di bukit kapur Menoreh, Romo. Lahan kritis."
Romo Joyo tertawa kecil, menggelengkan kepala.
"Mustahil. Tapi lidahku tidak pernah bohong."
Pria tua itu menoleh pada asistennya yang memegang papan jalan.
"Siapkan kontrak. Kategori A Plus. Kita ambil semua panennya. Berapapun harganya."
Jantung Sekar berdesir hebat.
Kategori A Plus adalah tingkatan tertinggi suplai logistik keraton, biasanya hanya diisi oleh importir daging premium atau petani hidroponik senior yang sudah puluhan tahun berpengalaman.
"Tapi ada syaratnya," tambah Romo Joyo.
Sekar menegakkan punggung. "Apa itu, Romo?"
"Konsistensi. Sekali saja kualitasmu turun, kontrak putus. Lidah Sultan tidak bisa ditipu."
"Saya jamin, Romo. Sains tidak pernah berbohong," jawab Sekar mantap.
Arya tersenyum lebar di sampingnya. Ia melihat binar kemenangan di mata Sekar.
Bukan kemenangan yang sombong, tapi kepuasan seorang ilmuwan yang hipotesisnya terbukti valid.
Sesaat kemudian, dokumen kontrak disodorkan.
Sekar membaca klausulnya dengan teliti. Angka yang tertera di sana membuatnya harus menahan napas agar tidak terkejut.
Nilai kontrak eksklusif selama satu tahun ini bukan hanya cukup untuk membayar utang Paman Rudi, tapi cukup untuk merubuhkan gubuk reyotnya dan membangun rumah bata yang layak, bahkan membeli traktor tangan.
Tangan Sekar sedikit gemetar saat membubuhkan tanda tangan di atas materai. Ini bukan sekadar kertas. Ini adalah tiket kebebasan ibunya.
"Selamat, Sekar," bisik Arya saat mereka berjalan keluar dari pendopo.
"Terima kasih, Mas Arya. Tanpa Mas..."
"Tanpa kamu, aku cuma makan melon hambar," potong Arya terkekeh.
Mereka berdiri di teras samping, menunggu mobil. Matahari sore menyinari wajah Sekar yang berbinar.
Arya menatap gadis di sampingnya itu. Kulitnya yang kecokelatan terbakar matahari, tangannya yang kasar karena tanah, namun otaknya yang berlian.
Ada dorongan kuat di hati sang Pangeran untuk memberitahu siapa dirinya sebenarnya saat itu juga. Bahwa ia bukan sekadar konsultan. Bahwa ia memiliki kekuasaan untuk melindunginya lebih dari ini.
Namun, ia menahannya. Biarlah Sekar bersinar karena karyanya sendiri dulu, bukan karena siapa pria di sebelahnya.
Sore harinya, mobil sedan hitam mewah itu kembali memasuki pelataran gubuk di lereng bukit.
Kali ini, kehebohannya lebih parah. Bukan hanya Mirna, tapi Paman Rudi, Bi Ratna, Eyang Marsinah dan bahkan tetangga-tetangga yang biasanya mencibir, kini berkumpul di jalanan dengan jarak aman, menonton seperti sedang melihat sirkus.
Sopir berseragam keraton itu turun, membukakan pintu untuk Sekar, dan bahkan membantu menurunkan keranjang kosong.
"Matur nuwun, Nimas," ucap sopir itu keras-keras, sengaja agar didengar warga. "Minggu depan kami akan datang lagi mengambil pasokan untuk kothekan Sultan."
Sekar mengangguk hormat. "Hati-hati di jalan, Pak."
Mobil itu berlalu, meninggalkan debu yang kini terasa mahal.
Sekar berdiri di halaman gubuknya. Di tangannya ada map cokelat berisi salinan kontrak.
Ia menoleh ke arah rumah tembok di sebelah.
Di sana, ia melihat wajah-wajah Adhiwijaya.
Wajah Mirna yang masih miring karena lehernya kaku, wajah Paman Rudi yang pucat ketakutan karena utangnya, dan wajah Bi Ratna yang merah padam karena iri hati.
Mereka berdiri mematung, menatap Sekar seolah melihat hantu yang baru saja dinobatkan jadi ratu.
Sekar tidak tersenyum sinis. Ia tidak melambaikan kontrak itu untuk pamer.
Ia hanya menatap mereka datar, lalu berbalik badan.
Di ambang pintu, Rahayu menyambutnya dengan mata sembab karena haru.
"Nduk..."
"Ibu," kata Sekar lembut, menyerahkan map itu. "Mulai besok, kita cari tukang. Kita bangun rumah ini."
Rahayu memeluk anaknya erat-erat, menangis sejadi-jadinya. Tangis pelepasan dari belenggu kemiskinan dan penghinaan yang selama ini mencekik leher mereka.