NovelToon NovelToon
Penjelajah Ghaib [Perkumpulan Pawang Ghaib] ~ [SEASON 2]

Penjelajah Ghaib [Perkumpulan Pawang Ghaib] ~ [SEASON 2]

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Rumahhantu / Matabatin / Misteri / Tumbal / Hantu
Popularitas:22.7k
Nilai: 5
Nama Author: Stanalise

Setelah dokumentasi ekspedisi mereka melesat ke permukaan dan menjadi perbincangan dunia, nama "Gautama Family" bukan lagi sekadar nama keluarga biasa.

Mereka kini menjadi tujuan akhir bagi mereka yang sukmanya tersesat di tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia.

Kelahiran Arka Kumitir Gautama, bayi yang lahir tepat di ambang batas kematian semalam, membawa aura baru sekaligus beban yang lebih berat bagi keluarga ini.

Namun, di balik kebahagiaan itu, sebuah panggilan pahit datang dari benua lain. Ada raga-raga yang terbaring kaku; tubuh mereka masih di sini, namun sukma mereka telah didekap habis oleh kegelapan alam sebelah.

.Kalian akan kembali mendengar suara teriakan, tangisan, dan jeritan dari sudut-sudut bumi yang paling sunyi. Ekspedisi ini akan terus berjalan hingga waktu memaksa mereka untuk berhenti.


[Saya sarankan baca Season 1, supaya lebih mengenal kemampuan dan karakter keluarga Gautama]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 016 : Ciuman di Bawah Rembulan Italia

Suasana kamar hotel mewah di sudut kota Venesia itu terasa begitu kontras dengan kengerian Poveglia yang baru saja mereka tinggalkan.

Wangi aromaterapi lavender yang lembut mencoba mengusir sisa-sisa bau karat, darah, dan busuk yang seolah masih menempel permanen di indra penciuman setiap anggota tim.

Di atas ranjang besar dengan sprei sutra putih yang sejuk, Rachel terbaring pucat, hampir tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan selain naik-turunnya napas yang pendek dan berat.

Adio baru saja selesai mengganti perban di bahu dan perut Rachel. Ia dibantu oleh seorang dokter residen setempat kenalan Aris yang tak henti-hentinya bergumam dalam bahasa Italia, menggelengkan kepala melihat luka-luka yang ia anggap "tidak masuk akal" pada tubuh fisik gadis itu.

Bagaimana mungkin seseorang memiliki luka sayatan bedah yang bersih di kulit, sementara tidak ada satu pun instrumen tajam yang menyentuh raganya secara fisik? Bagi medis, ini kegilaan, tapi bagi Gautama, ini adalah luka sisa pertempuran di alam sebelah.

Aris benar-benar memenuhi janjinya. Sebagai tanda terima kasih karena nyawanya dan jiwanya telah ditarik kembali dari kegelapan abadi, ia menyewa satu lantai penuh hotel mewah untuk tim Gautama.

Bahkan, kabar baik datang dari tanah air melalui pesan singkat yang masuk ke ponsel Adio: Niko, adik Aris, tiba-tiba terbangun dari koma panjangnya dengan kondisi yang sangat stabil.

Dokter menyebutnya mukjizat medis yang tak terjelaskan, namun Rachel tahu, itu adalah harga yang terbayar lurus setelah hancurnya kutukan Plague Link di pulau abu tersebut.

Saat Adio dan dokter itu keluar ruangan untuk mengambil obat tambahan di apotek hotel, keheningan kamar Rachel mendadak riuh oleh kehadiran energi-energi kecil yang melayang perlahan di sekitar ranjang.

Barend, Albert, Anako, dan Gelanda berdiri berjajar di sisi ranjang, sementara Melissa tampak cemas di belakang mereka dengan wajah yang sama pucatnya dengan Rachel.

"Aku takut dia mati!" bisik Barend memulai dengan suara melengking kecilnya yang khas, matanya yang besar menatap Rachel dengan ngeri.

"Lihat, wajahnya sudah putih seperti keju. Kalau dia mati, siapa yang akan memarahi kita lagi kalau kita berisik? Siapa yang akan memberi kita energi?"

"Hus! Mulutmu itu, Barend! Jangan bicara sembarangan!" tegur Anako sambil menyikut lengan Barend dengan keras hingga hantu kecil itu terhuyung.

"Rachel itu kuat. Tapi jujur, auranya tadi sempat meredup seperti lampu minyak yang mau habis. Aku sampai takut mendekat tadi, rasanya seperti mendekati lubang hitam."

Albert menunduk, menatap ujung sepatunya yang transparan dengan raut wajah kecewa yang dalam.

"Aku rasa dia tidak akan mati. Rachel sangat pemberani. Dan, aku sedih karena aku tidak bisa membantunya sama sekali sebab aku terlalu takut dengan pulau hantu itu! Baunya membuat jiwaku mual dan gemetar. Aku hantu yang payah, kan?"

"Sudahlah, Albert. Jangankan kamu yang hantu kecil, setan Italia di sana saja takut dengan dokter gila itu," timpal Gelanda mencoba menghibur, meski ia sendiri masih gemetar jika teringat kengerian di ruang isolasi.

"Kita ini hantu peliharaan, bukan hantu petarung. Tugas kita kan cuma jadi hiasan dan mata-mata."

"Hiasan katamu? Aku ini aset penting!" protes Barend tidak terima, suaranya sedikit meninggi hingga Melissa harus melotot memperingatkan mereka agar tidak terlalu gaduh.

Gelanda mengulurkan tangannya yang transparan ke arah kening Rachel yang berkeringat dingin.

Baru beberapa sentimeter ujung jari ghaib Gelanda hendak bersentuhan dengan kulit Rachel, suara dingin terdengar dari bibir yang pucat itu.

"Jika kalian masih ramai di sini! Aku akan menguliti kalian! Pergilah, aku benar-benar lelah hingga rasanya ingin mati. Biarkan aku tenang dan memulihkan tenaga!"

Suara serak, lemah, namun penuh otoritas dan ancaman itu keluar dari bibir Rachel tanpa ia membuka mata sedikit pun.

Kelopak matanya masih tertutup rapat, namun aura "predator" miliknya tetap menyala meski raganya sedang sekarat. Barend tersentak mundur hingga menabrak lemari jati di pojok kamar dengan bunyi gedubrak ghaib.

"Loh! Dia masih bisa dengar? Padahal aku sudah bicara sepelan mungkin seperti semut berbisik!" seru Barend kaget.

"Kamu bicara pelan, tapi energi ghaibmu itu grasak-grusuk seperti tikus masuk dapur, Barend!" gerutu Gelanda kesal.

Ia menatap Rachel yang masih terpejam namun memancarkan aura 'jangan ganggu' yang sangat pekat.

"Sombong sekali manusia satu ini. Kita ini khawatir, tahu! Dasar manusia tidak tahu terima kasih."

"Sudah ayo pergi! Biar dia berubah jadi batu kalau itu maunya!" Albert cemberut, merasa perhatiannya tidak dihargai.

"Iya, ayo pergi! Nanti kalau dia bangun dan tiba-tiba lapar, bisa-bisa energi ghaib kita yang disedot buat tambah tenaga dia!" ajak Barend sambil menarik-narik jubah Anako.

Kelima sosok ghaib itu pun menghilang perlahan ke dalam bayangan dinding dengan perasaan kesal dan dongkol, membiarkan Rachel tenggelam dalam tidur panjang untuk menjahit kembali sukmanya yang tercabik.

Di sisi lain koridor hotel, sebuah kamar yang jauh lebih tenang ditempati oleh Rara, Bella, dan Marsya.

Marsya sudah tertidur lelap di atas sofa karena kelelahan mental yang luar biasa. Sementara itu, Bella masih duduk di tepi ranjang, memperhatikan Rara yang sejak satu jam lalu hanya diam mematung di balkon sambil memperhatikan suasana negara orang yang cukup tenang itu.

Cahaya bulan Venesia memantul di wajah Rara, memperlihatkan gurat kesedihan sekaligus kelegaan yang aneh.

Bella memutuskan untuk menghampiri. Ia merasa ada yang sangat berbeda dengan Rara malam ini. Ia berjalan pelan, lalu menepuk bahu Rara dengan sangat lembut sehingga menyebabkan gadis itu menoleh.

"Nyapo, Dek?"

(Ada apa, Dek?) tanya Rara lirih, suaranya terdengar sangat akrab dan hangat.

Jawaban itu membuat Bella mematung sejenak, ia sedikit terkejut. Rara baru saja memanggilnya, Dek? Sebuah panggilan yang rasanya sudah terkubur bertahun-tahun sejak kecelakaan tragis itu.

Selama amnesia, Rara selalu memanggilnya dengan sebutan yang terasa formal dan berjarak. Bella mencoba menepis pikirannya, menelan ludah yang terasa pahit karena haru, lalu duduk di samping Rara. Ia menanyakan apa yang sebenarnya sedang mengganggu pikiran kakaknya itu.

Rara pun mulai menceritakannya pada Bella, selaku adik kandung Cak Dika. Ia menceritakan bagaimana seluruh kepingan ingatan senja berdarah di hutan itu kembali padanya saat ia menginjakkan kaki di tanah abu Poveglia.

Ia menceritakan pengorbanan Cak Dika yang selama ini ia lupakan; bagaimana pria itu memohon pada penguasa ghaib agar nyawa Rara dikembalikan meski harus dibayar dengan ingatan cinta mereka.

Setelah mendengar cerita Rara yang begitu emosional, Bella membulatkan kedua matanya. Ia menatap tak percaya ke arah Rara, air mata mulai mengalir di pipinya. Sungguh, dia sangat senang dan lega hingga dadanya terasa sesak.

Bella memeluknya erat, menyembunyikan tangis bahagianya di pundak Rara, lalu berkata,

"Kamu ingat Mas'ud, Deni, dan Rahman, kan? Kameramen pertama kita dulu. Mereka akhirnya memutuskan pensiun karena memilih cintanya. Begitupun dengan kamu, Mbak. Jika kamu sudah ingat siapa Masku... Temui dia sekarang, Mbak Rara! Dia udah lama banget nunggu kamu. Dia nunggu Mbak yang asli kembali."

Rara mengangguk mantap. Dengan langkah yang gemetar namun penuh tekad, ia berjalan menuju kamar bernomor 409. Tangannya terangkat untuk mengetuk pintu kayu yang kokoh itu. Namun, tepat bersamaan dengan itu, pintu mendadak terbuka dari dalam.

Cak Dika berdiri di sana, tampaknya hendak keluar untuk mencari kopi. Keduanya sama-sama terkejut dan mematung. Dalam keheningan koridor hotel yang sunyi, mereka hanya saling menatap satu sama lain. Cak Dika melihat ada sesuatu yang "hidup" kembali di mata Rara.

"Ada apa?" tanya Cak Dika lembut, ada nada cemas dalam suaranya.

Rara menggeleng pelan, ia justru tersenyum sangat lebar ke arah Cak Dika—sebuah senyum yang penuh dengan makna "aku sudah kembali".

"Mas, ada hal yang mau aku bahas. Kita jalan-jalan bentar, boleh?" tanya Rara.

Sebentar, Cak Dika baru saja mendengar panggilan baru dari gadis ini untuknya. Dia baru saja memanggilnya 'Mas'.

Cak Dika memperhatikan wajah Rara dengan seksama mencoba mencari jawaban di antara keraguan dan harapan.

Tetapi, Rara tidak memberinya waktu untuk bertanya; ia langsung menarik pergelangan tangan Cak Dika untuk ikut bersamanya keluar hotel.

Di dalam kamar yang pintunya masih sedikit terbuka, Mas Suhu duduk diam di sofa, memperhatikan adegan itu. Ketika pintu hotel benar-benar tertutup, Mas Suhu tersenyum tipis. Ia tahu, malam ini adalah akhir dari masa "hukuman" sahabatnya.

Mereka berjalan menyusuri trotoar batu di pinggiran kanal Venesia yang cantik. Angin malam bertiup lembut, membawa aroma laut.

Rara mulai membuka pembicaraan, menjelaskan perlahan namun pasti bahwa ia mengingat segalanya—tanpa ada yang terlewat sedikit pun.

Mendengar pengakuan itu, Cak Dika berkali-kali berucap syukur dalam hati. Ia menatap Rara dengan pandangan yang tak lagi harus disembunyikan di balik lawakan.

Ia menghentikan langkahnya, lalu mengusap puncak kepala Rara dengan penuh kasih sayang yang mendalam.

"Aku seneng sampean balik! Maturnuwun, mergo loro atiku pun pean obati bengi iki. Dek Rara!"

(Aku senang kamu kembali! Terima kasih, karena sakit hatiku sudah kamu obati malam ini. Dek Rara!)" ujar Cak Dika dengan suara yang sedikit serak karena emosi.

Ia kembali menjadi dirinya sendiri di depan Rara sekarang. Panggilan kesayangan "Dek Rara" itu pun kembali terdengar, memenuhi udara malam Italia.

Keduanya tertawa kemudian, sebuah tawa lepas yang sempat terenggut waktu. Saat itu ketika tawa mereka mulai meredup, suasana berubah menjadi sangat intim.

Rara dan Cak Dika sudah cukup dewasa di sini untuk satu aksi nekat yang jarang terjadi di usia mereka sebelumnya.

Malam ini, dengan penuh kasih sayang, Rara menarik baju Cak Dika ke arahnya. Tarikan itu membuat tubuh jangkung Cak Dika harus menunduk mengikuti arah tarikannya. Dan secara tiba-tiba, Cupp!, sebuah ciuman lembut di pipi Cak Dika berikan untuknya di bawah sinar rembulan yang cukup cantik.

Cak Dika terpaku, menyentuh pipinya yang hangat. Ia tersenyum, lalu dengan nada bercanda namun penuh perasaan, ia berbisik,

"Jadi... sekarang aku sudah boleh jadi pemeran utama di hidupmu lagi? Bukan cuma penonton bayaran?"

Rara tertawa lepas, matanya berbinar menatap pria di hadapannya.

"Nggak, Mas. Sekarang kamu sutradaranya!" sahut Rara dengan mantap, menegaskan bahwa mulai malam ini, ia menyerahkan seluruh hatinya untuk dipandu oleh pria yang telah mengorbankan segalanya demi dirinya.

Di bawah langit Italia yang indah, dua jiwa yang sempat terpisah oleh tabir lupa itu akhirnya menyatu kembali, lebih kuat dari sebelumnya.

1
Ela Jutek
ternyata kau gak berjodoh dengan Thoriq ya Hel
Ela Jutek: wes gek turu kono wes wengi
total 8 replies
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
luar biasa ceritanya kakak Author. aku sebenarnya kurang suka cerita horor, tapi pas baca ini ternyata beda😁😁, ku kira bakal gentayangan terus hantunya ternyata tidak. malah hantunya ngajak debat juga😁😁, sukses terus kakak karya barunya, semoga berhasil jadi karya yang paling Top 👍👍
Stanalise (Deep)🖌️: 🤣 Maacih kakak, btw di season ini aku lebih fokus ke gerbang sejarah kelam dunia kak. Yang urban legend dan kisah nyata. biar orang2 tahu juga. kalau peristiwa gila di masa lalu itu ada.
total 1 replies
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Wah yang lagi bahagia. Ayo para hantu kalian menepi dulu🤣🤣
Ela Jutek
kerennn sih ini
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Rachel kok diragukan 😁😁. jiwa penyelamat sudah mendarah
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Rachel kok di lawan🤣🤣
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Yang lagi takut kenapa napa dengan Rachel ini🤭
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
apa yang dibilang Rachel sangat benar banget lho
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
cieee Adio berani jujur tidak kamu nantinya 😁😁
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Untung Rachel selamat. semoga nanti bisa bertemu lagi dengan Thoriq kamu
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
tak bisa membayangkan lagi aku, serem banget 🤭🤭
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Rachel kamu sangat luar biasa, jiwamu sangat pemberani 👍👍
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Sabar Marsya, kamu harus kuat supaya misi kalian bisa terselesaikan
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
haduuuh dimakan apa ini maksudnya
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
menyeramkan tapi bikin penasaran ingin tahu 😁
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
uhuk uhuk uhuk .. cie cie cie 🤣🤣
Ela Jutek
ikut petualangan lagi nie
Ela Jutek: ngokeh deh😉
total 4 replies
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Nah baru tahu kan kamu😁
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Semoga Rachel berhasil mengembalikan sukma klaus ini
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Ayo Marsya senangat bermain cantik juga ya😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!