NovelToon NovelToon
Gema Syahadat Aisyah

Gema Syahadat Aisyah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Keluarga / Romansa
Popularitas:69.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mirna Samsiyah

Hidayah itu milik Allah, jika Dia telah berkehendak memberikan hidayah pada seseorang maka siapapun tidak dapat mencegahnya.

Termasuk pada Atalie—gadis chindo tersebut tidak pernah mengira bahwa berawal dari iseng ikut kajian Ustadz Umar dapat membawanya menemukan hidayah untuk memeluk Islam.

"Mas Umar, bantu aku, selama ini kamu udah banyak bantu aku tanpa diminta."

"Bantu apa?"

"Bantu aku bersyahadat."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirna Samsiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Umar yang Membingungkan

Aisyah memegang dua salep dengan merek sama persis, itu adalah salep khusus luka bakar miliknya dan pemberian Umar kemarin. Aisyah tidak menyangka jika Umar akan membelikannya salep tersebut padahal sebenarnya ia sudah punya dan saat itu Umar terlihat tidak peduli. Namun ternyata Umar menitipkan salep tersebut pada Khawla sebelum sampai ke tangan Aisyah. Aisyah memilih menggunakan salep pemberian Umar untuk lukanya yang menggelembung dan menyimpan salep miliknya.

"Kenapa hari ini harus ada kuliah." Aisyah mengeluh, ia belum siap pergi kuliah dengan luka bakar di punggung tangannya. "Mau nggak mau deh." Akhirnya ia beranjak dari kursi, meraih jilbab dan tas kuliahnya. Kini jilbab menjadi atribut wajib baginya saat hendak keluar kamar. Awalnya Aisyah merasa akan kegerahan saat mengenakan jilbab tapi ternyata sangat nyaman hingga ia enggan melepasnya.

"Aisyah pergi naik apa?" Tanya Maryam melihat Aisyah keluar dari kamarnya.

"Daniel akan menjemput saya Ummi." Jawab Aisyah, "saya berangkat dulu." Ia mencium punggung tangan Maryam seperti yang Khawla lakukan saat akan pergi. Aisyah hanya mencontoh apa yang Khawla lakukan selama Maryam tidak melarangnya. Tidak lupa Aisyah mengucapkan salam sebelum keluar.

Di depan rumah Aisyah mendapati Umar tengah mengelap motornya, sepertinya Umar juga bersiap-siap pergi. Percayalah Umar sangat tampan saat melakukan itu, Aisyah melirik ke kanan dan kiri, apakah hanya dirinya yang diberi kesempatan menyaksikan pemandangan indah tersebut.

"Mas Umar mau ke kampus juga?"

Umar menoleh sesaat, sejak kapan Aisyah berdiri disitu? Dengan penampilan barunya, kecantikan Aisyah bertambah dua kali lipat yang membuat Umar semakin tidak berani melihatnya lama-lama. Tiba-tiba otak Umar mencaritahu bagaimana caranya agar ia bisa melihat kecantikan Aisyah lama-lama.

"Iya, kampus Ibrahimy."

Aisyah manggut-manggut, ia pikir Umar ada jadwal mengajar di kampusnya. Aisyah bukannya berharap mendapat tumpangan, lagi pula Umar tak akan menawarkan tumpangan meski ia bilang akan jalan kaki ke kampus.

"Terimakasih salep nya." Akhirnya Aisyah bisa mengucapkan terimakasih langsung pada Umar.

"Sama-sama, gimana lukanya?"

"Udah kempes." Aisyah menunjukkan punggung tangannya pada Umar seperti seorang anak yang mengadu pada ibunya.

Umar bisa tenang jika luka Aisyah sudah sembuh. Umar tahu Aisyah tidak bisa memasak tapi gadis itu mahir melakukan hal lain. Meski Umar belum tahu keahlian yang Aisyah miliki tapi ia tak mau memandang rendah pada gadis yang tidak bisa memasak.

Umar sadar betul bahwa ia menaruh hati pada Aisyah bahkan sebelum gadis keturunan Chinese itu memeluk Islam. Dulu Umar menepis perasaan tersebut jauh-jauh karena ada dinding besar yang menghalangi mereka. Sekarang Aisyah telah merobohkan dinding kokoh tersebut dengan syahadat. Namun Umar sudah telanjur mengikuti alur yang Zaid atur untuknya. Umar tidak mungkin membatalkan itu dan mengecewakan banyak orang terutama orangtuanya. Zaid begitu menginginkan Umar menikah dengan Hilya.

"Aisyah, apa kamu memiliki rencana untuk menikah?"

"Hm?" Aisyah terkejut, mengapa Umar tiba-tiba bertanya seperti itu. Apakah Umar akan menjodohkan Aisyah dengan seorang lelaki karena ia sendiri hendak menikah dengan gadis yang katanya berasal dari keluarga pemilik pondok pesantren juga. Apakah Umar tahu jika Aisyah menyukainya. Aisyah gelagapan, apakah begitu kentara jika ia memiliki perasaan terhadap Umar.

"Tidak usah dijawab, anggap saja saya tidak pernah bertanya seperti itu." Umar ingin sekali membungkam mulutnya sendiri karena pertanyaan itu tiba-tiba keluar begitu saja.

"Itu mobil Daniel, aku pergi dulu." Aisyah setengah berlari menuju gerbang sekalian kabur dari suasana canggung antara dirinya dan Umar.

Umar melihat punggung Aisyah semakin menjauh dan tak terlihat di balik gerbang.

"Selama ini Kakak tinggal disini?" Daniel melihat kakak nya yang baru masuk ke dalam mobil. Matanya membulat melihat penampilan Aisyah yang serba tertutup, meski semalam Aisyah sempat mengirim foto pada Daniel tapi saat melihatnya secara langsung Daniel tetap kaget. "Kak Atalie beneran udah jadi orang Islam?"

"Iya untuk kedua pertanyaan kamu, eh selamat ya kamu udah dapat SIM." Aisyah melompat memeluk Daniel, sebenarnya pelukan itu bukan karena Daniel berhasil mendapatkan SIM tapi ia merindukan sang adik hanya saja Aisyah terlalu gengsi untuk mengatakannya. Daniel bisa meledek Aisyah jika mengatakan rindu. "Ya ampun adik aku udah dewasa sekarang." Aisyah menepuk-nepuk pipi Daniel yang tidak lagi tembam. Saat kecil Daniel termasuk anak yang gemuk jadi Aisyah sering meledeknya. Namun sekarang Aisyah tidak dapat melihat adiknya yang gemuk lagi. Daniel tumbuh menjadi lelaki tinggi yang tampan.

"Kakak ubah nama jadi Aisyah?"

"Iya." Aisyah kembali ke kursinya dan memasang seatbelt.

"Kapan Kakak pulang, nggak mungkin Kak Atalie selamanya disini."

"Memang nggak mungkin kecuali diangkat jadi mantu."

Daniel menjalankan mobilnya dengan kecepatan rendah melewati jalan sempit yang hanya cukup untuk satu mobil.

"Papa sama Mama gimana?"

"Mama lebih banyak diam sejak Kak Atalie pergi, aku yakin mereka berharap Kakak pulang."

"Aku pasti pulang." Hanya saja Aisyah belum tahu kapan ia akan pulang dan kembali berusaha mendapatkan maaf dari orangtuanya. Aisyah akan melakukan apapun untuk mendapatkan maaf mereka kecuali keislamannya.

"Kakak harus minta maaf sama mereka."

"Tentu saja, aku jamin kita akan foto bersama waktu wisuda ku."

"Aku juga sebentar lagi lulus."

Aisyah menghela napas berat menyandarkan tubuhnya pada kursi, ia berharap semua berjalan lancar.

"Semoga Allah memudahkan urusan kita." Gumam Aisyah.

Setelahnya mereka membicarakan tentang kuliah Daniel. Mulai dari universitas hingga jurusan yang Daniel inginkan. Jaya sudah menentukan Daniel akan mengambil manajemen sama seperti Aisyah tapi Daniel ingin jurusan lain. Daniel ingin mencoba hal lain, tak melulu soal bisnis dan manajemen.

"Aku ingin ambil jurusan kedokteran hewan."

"Serius, kamu aja nggak suka sama binatang."

"Siapa bilang, aku suka binatang tapi Mama nggak kasih izin buat kita pelihara binatang apapun di rumah kecuali ikan."

"Apapun cita-cita kamu, Kakak akan dukung selama itu baik." Aisyah mengusap puncak kepala Daniel. Mereka memang sering bertengkar dan saling ejek tapi pada suatu momen keduanya akan saling mendukung. Seperti Daniel mendukung keputusan kakak nya untuk memeluk Islam.

Mobil Daniel berhenti di depan kampus Aisyah yang sudah ramai oleh mahasiswa lain.

"Ini barang yang Kakak minta." Daniel mengambil paper bag di jok belakang yang berisi buku-buku milik Aisyah.

"Makasih ya, aku pergi dulu." Aisyah mengusap lengan Daniel sesaat sebelum turun dari mobil menenteng paper bag di tangannya.

Kedatangan Aisyah dengan penampilan barunya mencuri perhatian mahasiswa lain yang berkumpul di depan kampus.

Aisyah tidak suka menjadi pusat perhatian tapi pakaian yang serba tertutup itu seolah melindunginya. Aisyah merasa lebih percaya diri, ia mengangkat wajah dan menebarkan senyum.

Ketika melihat Khanza dan Ayana di ujung koridor, Aisyah melambaikan tangan pada mereka. Khanza dan Ayana tidak segera mengenali Aisyah, baru setelah jarak mereka cukup dekat mereka berseru heboh menyadari bahwa gadis berjilbab itu adalah Aisyah.

"Kamu beneran Atalie?" Ayana membuka mata lebar-lebar dan mengguncang tubuh Aisyah.

"Perkenalkan," Aisyah mengulurkan tangan, "aku adalah Atalie yang baru, panggil Aku Aisyah."

"Demi apa?" Khanza masih tidak percaya jika sahabat mereka tiba-tiba memeluk Islam. Selama ini Aisyah tidak pernah membicarakan soal rencananya tersebut. Meski sudah berteman lama, Aisyah memang tidak menceritakan semua hal. Menurut Aisyah ini adalah hubungan pribadinya dan Tuhan jadi ia tak banyak ingin orang tahu, setelah mantap memeluk Islam baru ia berani menunjukkan diri.

"Kok bisa sih?" Ayana memeluk Aisyah, ia terharu dan bahagia atas keputusan besar Aisyah dalam kehidupannya.

"Ini berkat kalian." Aisyah tidak mungkin lupa bahwa Ayana dan Khanza lah yang mengenalkannya pada Islam. Mereka amat berjasa dalam hidup Aisyah. "Terimakasih kalian udah kenalin aku sama agama yang bener-bener luar biasa."

"Aku nggak nyangka kamu bisa secepat ini jadi Muslim." Giliran Khanza memberi pelukan pada Aisyah.

Aisyah mengedikkan bahu, ia sendiri tak percaya karena kekuatan hidayah itu benar-benar nyata. Aisyah tiba-tiba punya kekuatan untuk meminta izin pada papa dan mama nya meskipun mereka tidak memberi izin. Kekuatan besar yang keluar dari dalam diri Aisyah seperti sebuah keajaiban.

"Maksudku, aku nggak pernah berpikir kamu akan pindah keyakinan." Saat iseng mengajak Aisyah ke masjid, Khanza sama sekali tidak berpikir Aisyah akan berjalan sejauh itu.

"Untuk waktu yang belum ditentukan, aku tinggal di rumah Mas Umar."

Ayana dan Khanza dibuat terkejut untuk kedua kalinya, bagaimana mungkin Aisyah tinggal di rumah ustadz yang mereka kagumi dan sering menjadi bahan pembicaraan antara ketiganya.

Aisyah menceritakan secara singkat mengapa ia bisa tinggal disana, tentu dengan melewatkan cerita sedihnya bertengkar dengan papa dan mama nya. Mereka tidak harus tahu cerita sedih Aisyah.

"Jadi kamu tahu keseharian Ustadz Umar dong?" Ayana paling bersemangat, biasanya ia yang paling update tentang kabar terbaru Umar tapi kali ini ia benar-benar tidak tahu jika Aisyah tinggal disana.

"Untuk garis besarnya tahu tapi rumahnya luas jadi kami jarang ketemu juga dan kayaknya Mas Umar emang menghindar sih." Aisyah sadar akan hal itu, mungkin Umar tidak mau menyakiti calon istrinya yang walaupun jauh dari sana. Kesedihan Aisyah tentang fakta bahwa Umar akan menikah tergeser oleh kebahagiannya sebagai muslim yang baru.

"Ya ampun kamu beruntung banget." Khanza mengguncang tubuh Aisyah, ia sangat antusias mendengar cerita sahabatnya itu.

"Mereka disana baik kan sama kamu?"

"Semuanya baik kok."

"Kalau ada yang jahat sama kamu, tinggal aja di rumah ku tapi rumah aku nggak sebagus rumah kamu."

"Apa sih Ayana, aku bisa tinggal dimana aja tapi untuk sekarang aku harus banyak belajar dan tinggal disana."

1
Lina Siti
Luar biasa
Rahmi Ami
bagus
Bundanya Abhipraya
udh baca sampe cerita anaknya daniel br tau cerita ini pokoke capcus baca maraton
Nina
kalo baca cerita yang pasangan suami istri belum di kasih keturunan,kadang tuh suka inget ke diri sendiri
Nina
di balik itu semua pasti ada hikmah nya
☝ℕ𝕦𝕟𝕦𝕥𒈒⃟ʟʙᴄ
semoga aisyah cepat hamil, jadi ikutan sedihh dehh
Immha Gadlys
alhmdulilah akhirnya yg di tggu2
✿⃝⭕🌼Ohti
ikut sedih
Nina
enak loh jantung pisang kalo di olah,bisa di sayur sama santan,di bikin bakwan,bisa di pepes,enak deh pokoknya
Nina
seharus nya Nelly bicara dulu baik baik jangan asal ngambil aja,belum tentu kan orang yg kita ambil uang nya orang yg gak punya kesulitan
Nina
ujian dalam kehidupan itu gak pernah gak ada,pasti selalu ada,itu lah cara Allah supaya kita bisa sabar, ikhlas,kuat,Allah tau yg terbaik buat kita
Nina
semangat terus Aisyah dalam segala hal apapun
૦ 𝚎 ɏ ꄲ 𝙚 ռ
aku banget ini kaak mirna.. 😭
૦ 𝚎 ɏ ꄲ 𝙚 ռ: Aaamiin Ya Allah.. 🤲🤲
total 2 replies
Anis Hasan
lanjut semoga aisyah selalu bahagia dan istikomah
Nina
rutinitas kehidupan sehari2
Nina
dalam rumah tangga harus ada yggg saling mengalah,Yang satu api yg satunya jadi air
Nina
selalu banyak cobaan di rumah tangga,entah itu dari saudara,orang tua,kerabat,teman
Nina
semangat Aisyah,jangan sedih
૦ 𝚎 ɏ ꄲ 𝙚 ռ
salah satu obat mujarab ketika jadi istri itu, bagaimanapun rasanya sakit hati, sesesak apapun dadamu ketika dikecewakan.. harus bisa dan wajib diutarakan. biar g mengakibatkan penyakit datang bermunculan..
semangat terus kak Atali🥰
༄⃞⃟⚡Kᵝ⃟ᴸ𒈒⃟ʟʙᴄ
kasian aisyahh, jd ikutan nyesek berada diposisi aisyah🥲
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!