JUARA 2 KONTES BERTEMA BERBAGI CINTA
NOTE : Ide kisah ini berdasar pengalaman author sendiri yang dikembangkan sebagus mungkin.
Season 1 :
Perjuangan seorang wanita cantik bernama Sena yang berusaha menggapai cinta sang suami, Regan Anggara. Regan merupakan mantan dosen killernya yang harus menikah dengannya akibat perjodohan. Sudah 2 tahun hubungan pernikahan mereka namun Sena tak membuahkan hasil untuk mengambil hati dari sang suami, namun alangkah terkejutnya saat Sena memergoki sang suami yang tengah mesum dengan rekan kerjanya. Hati Sena mendadak sakit, pantas saja selama ini tak mau menyentuhnya, rupanya Regan sudah mempunyai wanita lain dan mengaku sudah menikah sirih dengan Maya dan kini tengah mengandung anak dari Regan. Parahnya, orang tua Regan yang selama ini baik dengan Sena ikut menyembunyikan rahasia itu.
Dan jangan lupakan Devan! Pria duda yang selalu ada untuk Sena bahkan siap menjadi suami baru untuk Sena.
Season 2 :
Ketika semuanya tak bisa ia gapai. Dia hanya bisa berusaha untuk tegar. Lika-liku kehidupan ini membuatnya menjadi sangat kuat.
Sena dan Devan berjuang keras untuk mendapatkan momongan.
Namun...... semuanya tak semudah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria Mariana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 : Oma, Opa
"Jangan dipikirkan, Sena! Apapun ucapan mereka tak akan mempengaruhi kebahagiaanmu sekarang ini. Mereka hanya iri denganmu," ucap Devan.
Devan mengajak Sena untuk makan siang, mereka makan bersama-sama bekal buatan Sena. Lagi-lagi aroma masakannya sendiri membuatnya mual, Devan dengan sigap mengantarnya ke kamar mandi dan memberinya minyak kayu putih. Sebagai pria yang pernah memiliki seorang istri yang hamil, Devan tahu cara-cara untuk menenangkannya namun kali ini terlihat beda karena Devan menemani wanita yang bukan istrinya bahkan bukan hamil anaknya.
Devan dan Sena memiliki umur yang jaraknya hampir 8 tahun, Sena 28 tahun dan Devan 36 tahun.
"Hueeeeek.."
"Kita pesan makanan saja ya?"
"Tapi aku sudah memasaknya, Pak." Sena mengusap mulutnya kasar.
"Biar aku makan semuanya."
Sena mengerutkan dahi, mereka kembali ke sofa, Sena memperhatikan Devan yang memakan semua bekal itu. Sena heran padahal porsinya sangat banyak. Sena melotot tatkala Devan memakan kangkung yang hampir satu wadah sendiri.
"Pak... Pak... Pelan-pelan dong! Jangan dipaksakan, Pak! Jika tidak habis nanti kita bisa kasih makan ayam di rumah," ucap Sena sambil memberikan minum untuk Devan.
"Aku tidak mau berbagi makanan yang dimasak olehmu dengan orang lain termasuk ayam. Titik!"
Devan melanjutkan makannya, ia makan sangat lahap seperti tidak makan satu minggu. Sena tersenyum kecil karena memiliki teman yang baik seperti Devan. Devan juga sangat tampan dan terkadang kocak jika di depan Sena, itulah yang membuat Sena tidak mau putus hubungan dengan Devan.
"Sena, makananmu akan segera datang. Kau makan sampai habis! Aku harus pergi ke suatu tempat setelah ini," ucap Devan.
"Baik, Pak Bos."
**
Sepulang dari kantor, Sena memutuskan untuk pergi ke salon. Rencananya ia akan memberi poni pada jidatnya dan mengubah warna rambut menjadi hitam kembali. Dia merasa terlalu lebay jika rambutnya berwarna ungu. Semua orang tahu dia sudah menjanda jadi tak perlu mendeklarasikan lagi.
"Bebeb..." ucap Sena kepada pemilik salon langganannya.
"Wow... Bu janda semakin menggoda saja nih."
Sena tersenyum kecil. "Pastilah! Biar mantan semakin menyesal."
Sena lalu duduk di depan kaca, ia tersenyum sendiri saat melihat rambut ungunya, warna rambut ungunya menjadi saksi atas musibah yang ditimpanya, namun dia bersyukur karena banyak hal yang bisa dia dapatkan dalam musibah itu.
"Beri poni dong! Biar seperti Lisa Blackpink," pinta Sena.
"Haha... oke, cusss sayang."
Sambil menunggu, Sena bermain ponselnya. Dia memposting dirinya yang sedang di salon. Baru sekian detik sudah banyak yang memberikan like pada postingannya. Sebenarnya Sena sangat terkenal di kampusnya dulu dan banyak yang menyukainya namun Sena sedikit jual mahal.
"Sena?"
Seseorang memanggilnya dan Sena mendongakkan kepalanya.
"Maya?"
Maya memeluknya dengan erat, Sena heran kenapa Maya bisa tahu dia ada di sini.
"Eh pelakor, minggir! Mbak Sena sedang mempercantik diri," ucap Keke.
Maya tak menggubris, Sena lekas mendorongnya pelan.
"Sena, bantu aku supaya Regan tetap mau menerimaku! Katakan jika aku sangat baik untuknya dan hanya aku wanita yang dicintainya." Maya benar-benar tidak tahu malu.
Sena berdecih, ia tak mau menggubris Maya dan menyuruh Keke untuk melanjutkan mewarnai rambutnya.
"Sena, aku minta maaf atas semuanya namun seharusnya kau lebih membenci Zara."
"Kau dan Zara sama saja. Pergi sana! Aku sudah tidak ingin berurusan dengan kalian," ucap Sena.
Keke yang juga merasa terganggu mengusir Maya. Sebenarnya Sena juga tidak tega dengan Maya yang sedang hamil apalagi dia yatim piatu namun hidup Sena sendiri jauh lebih rumit dan dia juga tidak bisa membantu apa-apa.
"Sena, jangan sekali-kali kau membantu Maya!" ucap Keke.
"Tidak akan."
"Baguslah! Wanita seperti itu hanya memanfaatkan keadaan."
Sena kembali fokus pada ponselnya, ia membaca setiap komentar yang tertinggal di postingannya dan dia membaca komentar dari Regan.
Regan.
P*lacur!
Sena sangat kesal dengan komentar itu segera memblokir akun Regan. Sepertinya Regan ingin membalas dendam pada Sena dan sangat sakit hati padanya.
2 jam kemudian, rambut Sena kembali menghitam dengan poni imut di keningnya. Sena juga memasang bulu mata biar jauh lebih lebat.
"Nah, sudah cantik princessku."
"Keke, bagus sekali. Tak menyesal langganan salon di tempatmu."
Sena lekas membayar, ia segera pulang dengan keadaan jauh lebih segar. Dia juga sangat merindukan Kia.
***
Sena membuka pintu rumah dengan kunci yang dia selalu bawa. Sena memanggil nama Kia namun tak ada respon.
"Kia... Tante bawa martabak."
Sena mencari keberadaan Kia namun di tangga dia malah berjumpa dengan wanita tua yang baru dia lihat di rumah ini.
"Siapa kau?" tanya wanita itu.
"Ehm.. maaf, saya Sena, pengasuh Kia saat malam hari."
Wanita itu memandang penampilan Sena dari atas sampai bawah seolah tidak suka.
"Alasan jika menjadi pengasuh Kia, bilang saja pengasuh Devan pada malam hari," ucap wanita itu.
Kening Sena berkerut. Pengasuh Devan saat malam hari? Agak-agaknya wanita itu menganggap Sena seorang wanita malam.
"Mama?" ucap Devan menghampiri mereka. "Sena, kau sudah pulang dari salon? Kenapa rambut unguku kau rubah?" tanya Devan.
Pria tua tiba-tiba datang sepertinya itu Papa dari Devan. "Kau tinggal bersama wanita yang bukan istrimu?"
Devan dan Sena tak menyangka akan menjadi sepelik ini. Devan lalu mengajak mereka mengobrol di ruang keluarga. Antony dan Sofia yang baru saja pulang dari Belanda tak menyangka putranya akan tinggal bersama wanita yang bukan istrinya.
"Setelah kau bercerai dengan Winda membuatmu seenak jidat membawa wanita yang bukan istrimu di rumah ini. Ini bukan Eropa yang bukan pasangan suami istri pun bisa tinggal bersama," ucap Antony.
"Pah, dia hanya pengasuh saja. Tanya saja pada Kia!" jawab Devan.
Sena merasa sangat tidak enak karena tinggal di sini. Sepertinya dia harus segera pindah sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi.
"Oma... Opa..." Kia berlari lalu memeluk kakek neneknya yang sudah lama tidak bertemu.
"Kia, siapa wanita itu?" tanya Oma.
"Oh... dia Tante Sena, dia yang menemani Kia tidur saat malam dan jika pagi mengantar Kia ke sekolah," jawab Kia.
Oma memandang lekat Sena, Sena menjadi canggung sendiri. Devan mencairkan suasana, ia mengajak makan malam bersama. Devan juga menyuruh Sena mandi sekalian namun tiba-tiba...
"Oma, Opa... Kia mau punya dedek bayi," ucap Kia sambil mengelus perut Sena.
DEG!
Sena dan Devan terkejut, ia saling memandang. Antony dan Sofia juga tak kalah terkejut.
"Wanita itu hamil, Devan?" tanya Antony.
"Aku sudah menduga jika kalian kumpul kebo di rumah ini. Mana mungkin seorang pengasuh hanya mengasuh pada malam hari saja," ucap Sofia.
"Kalian harus menikah sebelum orang lain dan kerabat tahu hal ini," sahut Antony.