Seorang gadis bernama Vanya Audelia, kini usianya menginjak 18 tahun, yang mana dirinya harus menerima takdir yang tak terduga dari sang aunty nya. apakah itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sherda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis desa cantik
Pukul 06:50 wib.
Via menghampiri ke dapur untuk menanyakan kepada Bi Uti mengenai kabar Celva sekaligus aunty nya yang masih belum muncul di rumah itu.
"Ohh, nyonya Larenz semalam udah balek non, tapi jam 4 subuh tadi nyonya Larenz bersiap-siap berangkat" sembari mengelap meja lantai di dekat kompor.
"Hah, mau pergi kemana Onty Larenz, Bi?" menyandar di tepi meja kompor.
"Anu non... katanya sih pergi ke luar kota, cuman itu nyonya bilang"
Via pun mengangguk sembari termenung. mengapa aunty nya pergi tanpa di beri kabar oleh anak-anak asuh nya.
"Oh iya Bi, kalau Celva dia masih belum balik?"
Bi Uti terdiam, ia sudah menanyai itu kepada nyonya nya bahwa Celva ada urusan.
Via pun tidak ada berpikiran negatif tentang Celva, memang biasanya ia sering telat pulang atau bahkan sering jarang ada di rumah.
***
Semua yang ada disitu terasa tegang melihat reaksi bos nya begitu mengamuk seperti benteng merah.
Si bos nya pun berfokus kepada Randa, yang tadinya tengah bermain brutal di antara yang lainnya. ia pun menghampiri nya dan menarik kerah baju nya langsung dengan kasar.
"Maksud lu apa, hah? main kek gini di belakang gua! lu tau cewek tu siapa" tegas nya, membuat Randa semakin grogi bertatapan langsung dengan bos nya.
"Maaf, bos! kami kan cuman main sama cewek tu" Randa berusaha tenang dan santai, tetapi membuat bos nya semakin marah.
Brugghh..
Bos nya sudah di luar kendali, ia menonjok si pemimpin nya yang sudah ia amanahkan ketika jarang di markas.
Lalu, bos nya langsung menarik kembali kerah baju Randa hingga terangkat berdiri.
"DIA CEWEK GUA" Lagi-lagi bos nya menonjok pria itu kembali, lalu bersegera mendekati wanita yang ia sukai.
Dia adalah David alias partner Celva sebelumnya. dan juga ketua geng motor liar yang sudah lama terlibat. walaupun tak terkenal di kota itu, tetapi ia terkenal hebat menjadi pembalap di malam hari. tetapi, sejak berlangganan dengan satu wanita malam, ia sudah jarang mengikuti pembalap malam dan bahkan jarang ada di markas nya.
David merasa bersalah dengan wanita itu, ia merasa ada yang janggal dengan perasaan nya ketika berdekatan dengan wanita itu.
Dengan cepat, jaket yang ia pakai dilepaskan untuk menutupi bugil wanita itu dan menggendong nya segera.
Sebelum pergi dari ruangan itu, David menatap tajam satu per satu.
"Lu semua, berurusan sama gua!" tatapan bunuh dengan pria di sekelilingnya.
•••
"Lu abis darimana?" Vanya baru aja keluar dari kamar nya dan tak sengaja mendengar perbincangan pagi bersama kedua pria itu tanpa melihat orang nya.
"Itu, dari di luar abis ketemu sama orang" ucap Harel setelah duduk di ruangan tengah.
"Trus kok kedengaran nya spontan gitu, dari saudara ya?" ikut duduk di dekat pria itu, jarak di antara nya tak begitu dekat.
"Kepo ya? gak usah kepo lah" cengir nya lalu meminum kopi nya yang sudah dingin diletakkan di meja itu.
"Hisss, kebiasaan! orang nanya jawab nya bikin orang kesel" gemerutu Vanya dengan melipat kedua tangan nya lalu bersandar ke kursi sofa yang tak terlalu empuk.
"Iya iya, aku kasih tau, dia paman ku" setelah menyeruput kopi nya.
"Ohh. eh, gue mau balik, kapan lu anter gue ke rumah" mengalihkan pembicaraan nya. seketika Vanya merasa rindu dengan kakak-kakak nya dan juga aunty nya. walaupun Larenz berbuat tidak benar dengan nya, tetapi Vanya masih ada rasa sayang dengan aunty nya.
"Hah, balik? lu gak salah?" menatap serius ke arah Vanya.
"Lah, terus lu siapa gue? gue kan mau balik" cerotos Vanya.
"Enak aja balik-balik, lu sebentar lagi bakal jadi istri gue" dengan santai.
Sontak Vanya tercengang mendengar perkataan pria itu.
"Hah? istri?" tertawa sinis. " Lu jangan ngayal deh" dengan tatapan sinis.
"Ngapain gue bohong? ngapain gue ngayal? kalau bisa nyata kenapa enggak?"
Setelah kopi nya habis, Harel beranjak dari sana menuju ke dapur. sementara Vanya masih memikirkan apakah perkataan nya yang begitu tak terduga dengan itu.
"Jangan-jangan dia mau nikahin gue kayak di novel-novel itu, haisss... kok jadi dramatis gini sih" mengaruk kepalanya sedikit gatal.
Setiba nya di rumah sakit, David mendesak kepada para perawat untuk menangani Celva yang sudah tidak tersadarkan diri. tubuh nya tampak melemas dan terasa dingin.
David cukup amatir dengan kondisinya, maka dari itu lah membawakan nya ke rumah sakit.
Setelah di konfirmasi, David terpojok diri di tempat penunggu. ia merasa sedih melihat wanita nya sudah di rusak dari teman-teman nya sendiri, tak terduga kejadian ini begitu luar biasa yang ia dapati.
"Apa gua kualat karna main belakang sama dia, tapi gua hampir bermain sama Dania..." mengusap matanya yang penuh tangisan.
"Apa gue ada rasa sama dia" gumamnya.
Anda sudah memasuki kawasan desa penanggulan tinggi, belok kanan setelah seratus meter.
Larenz mengamati peta yang sudah terkoneksi dengan benar. beliau mencari diam-diam keberadaan Vany, sampai ia rela pergi jauh dari lokasi tinggal nya.
"Sejauh ini Vanya kesini, apa benar informasi dari mereka ini" batin nya.
Sudah menunjukkan pukul 11:00 wib. hari pun cukup cerah dan panas, lokasi dari pertunjukan arah akan sampai 1 jam lagi.
Larenz tak akan putus asa sebelum berhasil menemukan aset penting nya di tangan nya.
Banyak tanjakan yang harus di lewati, tiba-tiba mobil milik nya mati mendadak di tengah jalan.
"Ck, mati lagi" gemurutu kesal.
Di kawasan desa itu sangat jarang adanya perbengkelan. Larenz terpaksa keluar dari mobil nya di hari yang cukup panas itu. tak lupa dirinya memakai sunblock dan juga kacamata.
Tampak di jalan itu banyak sekali lobang-lobang dan sangat tidak bagus. jarang ada nya orang lewat-lewat dan bahkan beberapa motor lewat sesekali.
Larenz mencoba menelpon seseorang dari telponan biasa. untung nya sinyal yang ada di sana terhubung walaupun sedikit putus-putus.
"Eh, nak gadis, baru kunjung kampung nya ya di sini?" seorang nenek-nenek yang masih kuat berjalan, beliau berjalan-jalan dan bertemu seorang gadis cantik yakni Vanya, ia tengah menjemur pakaian nya walaupun awalnya ia menolak mencuci baju nya dan di tambah berat dirinya menjemur pakaian di luar rumah. tetapi berkat paksaan Harel, Vanya terpaksa menampakkan diri di luar rumah.
"Iya, nek" balas Vanya, sedikit canggung dengan senyuman ramah.
"Wah, jarang-jarang loh gadis desa disini seumur kamu" masih berdiri jauh berbincang dengan Vanya.
"Makasih, Nek" dirinya masih belum bisa berbaur dengan orang sekitar, apalagi sudah lebih tua dari nya.
Tak lama itu, nenek itu pun berlanjut pergi dari sana. dan Vanya sedikit lega, padahal hanya sebatas berinteraksi sesama tetangga.
Dosenku Adalah Suamiku
Assalamu'alaikum Suamiku
My Handsome Husband
Perjuangan Cinta Aurelia
dan masih ada yang lainnya 😁🤗