NovelToon NovelToon
Second Wife

Second Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / CEO / Janda / Selingkuh / Aliansi Pernikahan / Ibu Mertua Kejam
Popularitas:248
Nilai: 5
Nama Author: yulia puspitaningrum

Pernikahan yang bahagia selalu menjadi dambaan bagi setiap wanita didunia ini, namun terkadang takdir tidak berjalan sesuai apa yang kita harapkan.

Begitupun dengan apa yang dialami Alyssa, wanita cantik berusia 26 tahun itu harus menerima kenyataan pahit. Bahwa pernikahan yang selalu ia jaga hancur oleh penghianatan sang suami.

Rasa kecewa dan sakit yang ia rasakan membuat ia trauma dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menjadi duri dalam rumah tangga orang lain. ia menutup dirinya rapat rapat namun semua itu tidak lantas mengubah prasangka buruk orang orang karena statusnya sebagai seorang janda.

Namun bagaimana jadinya jika takdir memintanya untuk menjadi istri kedua... akankah ia menolaknya mengingat janjinya. atau ia akan menerimanya karena keadaan yang begitu memaksa dirinya...
lalu sanggupkah ia menjalani kehidupannya.

penasaran intip kisahnya disini jangan lupa berikan kritik dan saran yang membangun...
terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yulia puspitaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Menemui calon menantu.

Bunyi beep… beep… dari monitor jantung menggema pelan di ruangan ICU yang sunyi dan dingin.

Lampu putih menggantung di langit-langit, memantulkan bayangan pucat pada wajah ibu Alyssa yang terbaring lemah di atas ranjang.

Alyssa berdiri kaku di sisi tempat tidur, kedua tangannya gemetar menahan rasa takut yang sejak tadi menggerogoti dadanya.

“Ibu…” suaranya nyaris tak terdengar, seolah takut memecah ketenangan rapuh di ruangan itu.

Ia menatap wajah wanita yang telah melahirkannya, wajah yang dulu selalu hangat dan penuh senyum, kini pucat, terpasang selang oksigen di hidungnya.

Dada ibunya naik turun pelan, seperti sedang berjuang melawan sesuatu yang tak kasatmata.

Alyssa menggenggam tangan ibunya yang dingin.

"Ibu tau hari ini hari yang sangat berat untuk Alyssa, dokter memberikan dua pilihan sulit dan Alyssa bingung harus memilih yang mana, Alyssa sangat ingin ibu sembuh dan menjalani operasi itu tapi Alyssa tidak sanggup membayar biayanya."

Tes...

Air mata jatuh membasahi tangan ibunya.

Ia merasa gagal menjadi seorang anak, ibunya telah memberi banyak cinta dan pengorbanan untuknya sedangkan dia, apa yang sudah ia berikan bahkan sampai saat ini ia pun masih menyusahkan.

"Andai aku bisa mendapatkan uang itu mungkin ibu tidak akan sampai seperti ini." Lirih Alyssa merasa hancur, dadanya sesak sementara air mata tidak kunjung berhenti.

"Maaf..." Berat rasanya Alyssa mengucapkan kata itu, namun ia tidak punya pilihan lain. Ia yakin ibunya akan mengerti keputusan yang akan diambilnya.

"Aku tidak bisa lagi memenuhi janjiku pada ibu, dari pada aku kehilangan ibu lebih baik aku kehilangan harga diriku. Bertahanlah Bu, aku akan mendapatkan uang itu untuk ibu." Ucap Alyssa sudah memantapkan dirinya, ia bukan lupa pada janjinya hanya saja ia tidak punya pilihan lain selain merelakan tubuhnya.

Namun saat ia ingin melangkah pergi tiba tiba saja bunyi monitor disamping ibunya berbunyi dengan nyaring, satu garis lurus yang ada disana membuat dunia Alyssa terhenti.

"Ibu...." Teriak Alyssa menghampiri ranjang ibunya, namun tubuh itu hanya diam dan tidak bisa menjawabnya.

"Dokter tolong dok..." Teriak Alyssa sebelum akhirnya dokter datang menangani ibunya.

"Mbak keluar dulu ya, dokter akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan ibu mbak." Ucap salah seorang suster menariknya keluar dari kamar itu kini Alyssa hanya bisa menangis tersedu didepan pintu kamar Icu.

...

...

"Kamu ini lama sekali bela, cepat sedikit mama sudah tidak sabar ingin bertemu calon menantu mama." Kesal lita berjalan lebih dulu dari pada anaknya, langkahnya begitu cepat sampai Bela kuwalahan untuk mengimbanginya.

"Pela pelan dong ma, siapa suruh mama menyuruhku membawa barang barang sebanyak ini. Bela jadi kesusahan membawanya kan." Gerutu bela sedikit kesal kepada ibunya, bagaimana tidak.

Sebelum pergi ibunya menyuruh membawa makanan dan buah buahan yang banyak bukan itu saja ia juga membawa beberapa setel baju yang sebenarnya tidak dibutuhkan untuk mengunjungi orang sakit.

Namun ia tidak bisa protes bisa bisa ibunya marah jika ia melakukan itu.

"Kamu saja yang lambat."

"Ya sudah mama duluan saja kalau begitu." Putus Bela pada ibunya.

"Kalau mama tahu jalannya sudah dari tadi mama tinggalin kamu." Bela berdecak kemudian ia sedikit mempercepat langkahnya agar segera sampai ketempat dimana Alyssa berada.

Namun sesampainya ia disana Bela berhenti.

Matanya menatap nyalang kearah Alyssa yang saat ini tengah menangis.

Langsung saja ia berikan semua barang yang dibawanya kepada Lita dan berlari menghampiri wanita itu.

"Kamu mau kemana Bela kenapa memberikan ini semua kepada mama." Teriak Lita kesal, ia hanya bisa menatap anaknya yang kini sudah duduk disamping Alyssa dan menenangkan wanita itu.

"Siapa dia, kenapa bela begitu perhatian dengannya?" Tanya Lita bingung karena baru kali ini ia melihat anaknya seperti itu kepada orang lain bahkan ia rela menghapus air mata wanita yang tidak dikenalnya.

"Jangan jangan dia calon menantuku." Ucap Lita dengan mata melebar tanpa menunggu lama lagi ia juga ikut menghampiri Alyssa.

"Kakak yang sabar ya, pasti Bu Manda baik baik saja."

"Ini semua gara gara aku, mungkin ibu marah mendengar aku mau mengingkari janji yang telah kami buat oleh sebab itu ia memilih pergi..." Lirih Alyssa menyalahkan dirinya sendiri, ia tidak akan memaafkan dirinya jika ibunya benar benar pergi meninggalkannya.

Bela merasa sedih melihatnya, ia bingung harus mengatakan apa. Berbeda dengan anaknya Lita hanya diam, ia terpesona melihat wajah Alyssa.

Wanita dihadapannya itu benar benar cantik, alisnya yang tebal wajahnya yang putih bersih tanpa polesan bedak tebal sungguh berbeda dengan wanita wanita yang ia jumpai di luaran sana.

"Keluarga ibu Manda." Panggil dokter yang baru saja keluar dari balik pintu kamar dihadapan mereka.

Alyssa bergegas berdiri dan menghampiri dokter tersebut.

"Bagaimana keadaan ibu saya dok?"

Dokter menghela nafasnya ia melihat wajah Alyssa sejenak sebelum akhirnya menyunggingkan senyum lega.

"Denyut jantung ibu Manda telah kembali, namun kita tidak bisa menunda operasinya lagi mbak. Saya ingin mbak membuat keputusan sekarang jika tidak mbak benar benar akan kehilangan ibu mbak."

Wajah Alyssa berubah suram. Kebimbangan kembali melanda dirinya.

"Kalau begitu lakukan saja operasinya dok saya yang akan tanggung semua biayanya." Mata Alyssa melebar, ia segera mengangkat wajahnya menatap seorang wanita yang sedari tadi berdiri disamping Bela.

"Baik kalau begitu saya akan segera menjalankan operasinya, mohon mbak tanda tangan disini." Ucap dokter dihadapan mereka menyerahkan sebuah berkas kepada Alyssa. Alyssa yang masih bingung dan bertanya tanya siapa wanita yang sudah membantunya pun hanya diam.

"Tunggu apa lagi kak, ayo cepat tanda tangani." Perintah bela menyadarkan dirinya, tak menunggu lama lagi ia segera menandatangani berkas itu dan menyerahkannya kepada suster.

Setelah mendapatkan persetujuan dari Alyssa dokter pun bergegas mempersiapkan semuanya dan melakukan tindakan operasi. Kini Alyssa hanya duduk terdiam, sekali kali ia menatap lampu dihadapannya nanar beharap lampu itu segera berubah dan operasi ibunya segera berakhir dengan lancar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!