Arumi gadis yang sebelumnya sangat bahagia dengan keluarga kecilnya harus menelan pil pahit yang mana ia harus kehilangan suaminya.
Di tambah lagi dia harus menikah dengan pria yang membuat suaminya tiada karena hamil dengan pria itu
Akan kah pernikahan mereka bertahan lama, dan bagaimana kehidupan Arumi setelah menikah dengan kenan Dirgantara
happy reading 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Nawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 26
Kenan dan Jen merasa senang karena memenangkan sidang perebutan tanah yang di beli Kenan. Sekarang tidak ada lagi yang menganggu pembangunan Hotelnya karena dalang dari semuanya sudah tertangkap.
Kedua orang tua paru baya itu sebenarnya sangat sedih melihat sang putra di penjara bukan karena menggagalkan proyek Kenan, tetapi ia terbukti mengancam dokter dan juga mencoba meracuni Kenan.
Akan tetapi, mereka harus ikhlas dan berharap putranya akan lebih baik lagi nantinya dan menyesali perbuatannya.
Saat ini Jen dan Kenan berada di pembangunan, sebenarnya hotel itu sudah hampir 80 persen jadi, tetapi pihak tertentu selalu menghambat dan menyegel tempat itu karena di anggap ilegal dan tak memiliki izin resmi padahal kepala proyek sudah memberikan surat izin tersebut.
Namun tetap saja pihak terkait mengatakan surat izin itu tidak sah. Jen terpesona dengan hotel tersebut yang begitu indah, mewah, tapi tidak begitu glamor untuk disain nya.
"Selera mu bagus juga ya," ucap Jen sembari berjalan mengelilingi hotel tersebut.
"Ya begitulah, aku hampir stres memikirkan dan mencari disain yang benar-benar bagus. Aku mempersiapkan ini jauh sebelum bertemu kembali dengan Arumi," terang Kenan.
"Maksudmu, kau sudah mempersiapkan hotel ini sebelum bertemu dengan Arumi? Jika saat itu tidak bertemu lagi bagaimana?" tanya Jena penasaran dengan pria yang terlihat begitu sayang pada istrinya itu.
"Sesuatu yang sudah jadi milik ku akan tetap menjadi milikku," ucap Kenan penuh percaya diri Jen hanya menggeleng kan kepalanya dan mendekat pada Kenan.
"Dia menjadi milik mu karena paksaan. Hubungan yang di awali dengan paksaan nantinya waktu yang akan memaksamu untuk melepaskannya," bisik Jena.
"Apa maksudmu?!" pekik Kenan.
Kenan marah karena Jen seolah olah mengancamnya dan membuatnya takut. Jen tidak takut dengan kemarahan Kenan ia hanya merasa kasihan karena sebelumnya mencari tau tentang hidup Kenan tanpa pria itu ketahui karena memang Jen ada hati dengan pria itu.
Akan tetapi, Jen bukan orang pemaksa atau perebut ia hanya merasa kasihan dengan Kenan yang seperti nya ia hanya mencintai sendirian sedangkan Arumi entah mengapa Jen melihat wanita itu penuh sandiwara menurutnya tapi semoga saja itu tidak benar.
"Hei, aku hanya bercanda jangan marah, Kenan," teriak Jena sambil berjalan menyusul Kenan yang pergi begitu saja meninggalkan Jen yang sedikit kesusahan karena High heels nya.
"Nona!"
Akhhhhh
Teriakan salah satu tukang membuat langkah Kenan terhenti ia pun berbalik dan terkejut melihat Jen yang terbaring dengan luka di pelipis matanya.
"Jena," Kenan menghampiri Jena lalu ia meminta bantuan para pekerja untuk membantunya menyingkirkan puing bangunan yang menimpa Jena.
"Maafkan kelalaian pekerja kami, Tuan," ungkap kepala proyek yang merasa bersalah.
"Lain kali kau mengecek dengan teliti jangan sampai para pekerja mu itu ikut celaka," peringat Kenan sangat tegas.
"Baik, Tuan sekali lagi saya minta maaf," Kenan menganggukkan kepalanya ia bukan tipe orang memperpanjang masalah dan selalu memaafkan asal tidak di ulangi lagi.
***
Auuuuh
"Bisa pelan-pelan tidak!" ringis Jena yang menatap tajam pada Kenan yang kini sedang mengobatinya.
"Segitu aja merengek terlihat kuat di luar tetap saja wanita itu sama saja selalu manja," balas Kenan.
"Aku gak manja," timpal Jena masih dengan rasa gengsinya, Kenan hanya tersenyum ia meraih ponselnya menatap ponsel itu tak ada satu pun kabar dari sang istri terakhir saat ia baru sampai.
Sebenarnya Kenan merasa khawatir ia berusaha menghubungi keluarganya tapi mereka bilang Arumi dan putrinya baik-baik saja, tetapi saat ia meminta bicara pada Arumi mami nya bilang jika Arumi sedang keluar. Kenan berpikir sejak kapan istrinya itu suka keluar apalagi pada malam hari dan mengapa ia tidak meminta izin padanya.
Jena yang sudah berada di belakang Kenan menepuk bahu pria itu membuat dirinya terkejut,"Kau selalu membuat ku terkejut," seru Kenan kembali duduk di sofa menyandarkan pundaknya yang terasa berat.
"Kenapa Kenan kau seperti orang bingung?" tanya Jen yang mengikuti Kenan duduk sofa tepat di samping Kenan.
"Tidak, hanya lelah saja," jawab singkat Kenan lalu ia memejamkan kedua matanya berusaha untuk tidur karena masih banyak pekerjaannya di Paris selain proyeknya.
Itulah mengapa Kenan memperpanjang masa kerjanya di sana padahal ia ingin memberitahu pada istrinya, tetapi sepertinya Arumi tidak peduli sekali pun Kenan tidak pulang.
Sedangkan Jen bersiap untuk berangkat besok karena pekerjaannya sudah selesai tapi rasanya dia enggan pergi meninggalkan Kenan dengan keadaannya seperti itu.
Namun, sang Daddy yang terus saja menghubunginya untuk segera pulang membuatnya tidak bisa menolak.
"Daddy ... Kenapa sih menganggu saja menyuruh ku pulang pasti ujung-ujungnya aku akan di jodohkan padahal aku tidak mau dia selalu memaksa!" gerutu Jena seraya merapikan pakaiannya serta barang lainnya di dalam koper.
***
Malam sudah larut ketika wanita masuk ke dalam secara perlahan seraya menarik napasnya dalam. Sambil menenteng sepatunya kakinya melangkah sedikit demi sedikit agar tidak terdengar penghuni rumah yang sudah tertidur.
Baru saja ia ingin menaiki anak tangga lampu tiba-tiba menyala.
"Dari mana kamu jam segini baru pulang?" suara itu tegas membuat Wanita itu berbalik dengan mata yang melotot.
"Ma ... Mami," panggil Arumi sedikit gugup.
"Kamu tau ini jam berapa?" tunjuk Tiara pada jam dinding yang terpampang jelas di atas dan Arumi pun melihatnya ia pun menganggukkan kepalanya.
"Aku tadi ada urusan jadi pulang larut malam, maaf mih," terang Arumi ia menggenggam erat bajunya tertunduk takut karena Tiara menatapnya tajam.
"Ada urusan apa rupanya sampai mengharuskan mu pulang jam segini, huh? lihat ponsel mu berapa kali mami menelpon mu untuk datang ke rumah sakit karena putrimu itu demam tinggi tapi satu pun panggilan telepon ku tidak ada yang kau terima!" sentak Tiara yang mana membuat Nina dan Tania terbangun mereka bersembunyi menyaksikan menantu dan mertua itu berdebat.
"Ayumi demam? Baiklah aku akan ke rumah sakit sekarang," ujar Arumi yang ingin pergi.
"Tidak perlu Ayumi saat ini bersama Riana. Ibu macam apa kau yang selalu sibuk dengan urusan di luar apa yang sebenarnya yang kau kerjakan di luar," tanya Tiara.
"Tidak ada," jawab Arumi dengan santainya ia ingin melangkah pergi dengan cepat Tiara menarik tangannya dan menggenggamnya dengan sangat erat membuat Arumi kesakitan.
"Sakit, mih. Lepaskan, aku mau menemui Ayumi," Arumi berusaha melepaskan genggaman itu tapi Tiara yang sudah keburu kesal dengan sikap Arumi ia melepaskan dengan sedikit mendorong tubuh Arumi hingga ia terjatuh.
"Mami apa apaan sih kenapa mendorong ku. Memangnya apa salah ku!" seru Arumi berusaha bangkit.
"Kau masih bertanya apa salahmu! Hei Arumi jangan mentang mentang putra ku tidak di rumah kau seenaknya berbuat sesuka hati mu di rumah ini. Ku ingat kan statusmu di sini hanyalah menantu kalau bukan karena Kenan menikahi mu kau hanyalah gembel dan tidak setara dengan keluarga Dirgantara!"
Air mata Tiara akhirnya luruh ia tidak menyangka pilihan putranya tidak lebih dari seorang wanita munafik. Tiara kira Arumi adalah sosok wanita yang baik karena awal bertemu ia sangatlah ramah dan menghargainya, tetapi selama ini Arumi bersembunyi dibalik topeng yang jika di buka topeng itu terlihat wajah dan sifat aslinya yang sangat jahat.
"CK, terserah mami mau bicara apa tentang ku aku tidak akan peduli!" sekali lagi Arumi melangkah pergi, tetapi baru saja berbalik langkahnya terhenti.
"Jangan kau kira aku tidak tau kau di luar sana selingkuh dan berkencan dengan pria lain, Arumi," pekik Tiara.
*
*
Bersambung.