Alyssa hidup dalam pernikahan yang hancur bersama Junior, pria yang dulu sangat mencintainya, kini menolaknya dengan kebencian. Puncak luka terjadi ketika Junior secara terang-terangan menolak Niko, putra mereka, dan bersikeras bahwa anak itu bukan darah dagingnya. Di bawah satu atap, Alyssa dan Niko dipaksa berbagi ruang dengan Maureen, wanita yang dicintai Junior dan ibu dari Kairo, satu-satunya anak yang diakui Junior.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melon Milk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Seakan hanya satu kedipan mata, lima tahun telah berlalu sejak Alyssa berangkat ke Amerika bersama Edgar dan anak-anaknya. Baginya, keputusan hidup di sana adalah pilihan terbaik yang pernah ia ambil, karena untuk pertama kalinya ia benar-benar melihat senyumnya sendiri dan senyum anak-anaknyaz tanpa bayang-bayang rasa sakit.
Ia akhirnya menemukan kembali dirinya yang sempat hilang sejak Maureen dan Junior memiliki anak.
Bagaimana mungkin ia tidak bahagia? Alyssa kini adalah salah satu fashion designer di sebuah fashion house ternama. Impiannya yang dulu terhenti karena pernikahannya dengan Junior akhirnya terwujud.
Ia juga telah memiliki aset yang bisa ia gunakan kapan pun dibutuhkan. Bukan berarti ia sangat kaya, tetapi ia memiliki simpanan yang cukup untuk menjamin kehidupan anak-anaknya.
Ia menjadi jauh lebih bijak dalam mengelola keuangan, mengingat saat pertama kali tiba di Amerika, ia benar-benar tidak punya apa-apa. Semua bantuan Edgar padanya sangat berarti dan tidak sia-sia.
Nama Alyssa kini dikenal luas di Amerika. Ia adalah fashion designer yang diperhitungkan banyak creative director dan head designer yang ingin merekrutnya karena desain-desainnya yang unik dan tidak pernah terasa monoton.
Suara lembut mesin pesawat terdengar seperti melodi yang menenangkan telinganya saat Alyssa menyandarkan tubuh di kursi. Dari balik jendela, hamparan awan terlihat luas. Mereka akan segera mendarat. Setelah lima tahun, ia kembali ke negara yang pernah ia tinggalkan, tempat ia terluka, jatuh, dan kehilangan arah masa depan. Ternyata, ia memang harus pergi jauh dari tanah kelahirannya untuk menemukan kembali dirinya.
Kini, Alyssa yang kembali bukan lagi Alyssa yang dulu. Ia masih lembut, baik hati, dan rendah hati, tetapi kini ia jauh lebih berani. Ia tak akan lagi membiarkan dirinya diinjak-injak, dibohongi, atau dimanfaatkan.
Tangannya mengusap dahi putri bungsunya, Cecil Asveil, yang tertidur di sampingnya. Ia berhasil. Ia membesarkan anak-anaknya dengan baik, terutama bayi perempuan kecil itu. Tak ada satu hari pun ia lalui tanpa memeluk Cecil.
"Oh, maaf, sayang. Mommy membangunkanmu?" bisiknya lembut.
"Mommy…" Cecil menjawab pelan sambil memeluk tubuh ibunya. Sejak tadi, anak itu memang tidur nyenyak.
Seperti ayahnya.
Alyssa menggeleng pelan, menepis pikiran itu. Ia tak boleh lagi memikirkan pria bernama Junior.
"Kamu siap bertemu mereka lagi?" tanya Edgar sambil memutar gelas minum di antara jari-jarinya. Di sampingnya, Niko, anak sulung Alyssa terlihat sibuk mendengarkan musik melalui headphone.
Nada suara Edgar sedikit ragu, seolah mencoba membaca reaksi Alyssa.
"Betul," sela Briana yang duduk bersandar di kursi dekat Alyssa. "Siap, sis?"
Briana Visenya adalah desainer Indonesia yang Alyssa kenal di Amerika. Karena sama-sama berasal dari Indonesia, hubungan mereka cepat akrab. Briana yang ceria dan humoris sering membuat Alyssa tertawa.
"Setelah lima tahun, akhirnya kamu bakal ketemu lagi sama Maureen yang menyebalkan itu dan Junior," kata Briana sambil mengedipkan mata. "Ini bakal jadi tontonan seru."
Namun, alih-alih terlihat gugup, Alyssa justru tersenyum kecil, senyum penuh percaya diri. Itu bukan senyum perempuan yang masih terluka, melainkan senyum seseorang yang sudah tak lagi peduli.
"Jujur?" Alyssa mengangkat alis. "Aku nggak peduli ketemu mereka atau tidak. Fokusku sekarang cuma anak-anakku, karierku, dan kalian."
Edgar dan Briana saling pandang. Mereka tahu, sesekali Alyssa masih melamun, mungkin memikirkan masa lalu. Namun kata-katanya kini terdengar nyata.
"Serius nih?" Briana mendekat. "Nggak ada dendam? Nggak mau balas sakit hati?"
Alyssa tertawa kecil. "Kalau hidupmu sudah bahagia, kamu sadar kalau sebagian orang memang nggak penting. Mereka nggak punya kontribusi apa pun dalam hidupmu."
Namun ada satu hal yang masih menggores hatinya...
Orang tuanya.
Mereka mengusirnya, menghancurkan perasaan Niko, dan lebih mementingkan reputasi daripada anak kandung mereka sendiri.
Sejak hari itu, Alyssa tak lagi menganggap mereka sebagai orang tuanya.
"Wow," Edgar terkekeh. "Kamu benar-benar berubah."
"Bukan berubah," Alyssa tersenyum tipis. "Aku cuma nggak peduli lagi."
Ia kembali menatap keluar jendela, mengusap lengan Cecil yang tertidur di dadanya. Pesawat kian mendekat ke landasan.
Jantungnya berdebar pelan. Wajar, kan? Pulang setelah sekian lama.
"Welcome to Indonesia," suara pilot terdengar.
"Kita pulang," ujar Briana bersemangat.
Edgar tersenyum. Ia akan segera bertemu tunangannya, Ashley Evelyn. Mereka bertunangan tahun lalu dan akan menikah tahun ini.
Alyssa tersenyum melihat kedua anaknya.
"I feel free," bisiknya.
Namun wajah Niko terlihat muram. Sejak di Amerika, ia menolak pulang ke Indonesia. Ia ikut hanya karena terpaksa.
"Mom, kenapa kita harus ke sini?" Niko mendengus. "Lebih enak di Amerika."
"Ini rumah kita," jawab Alyssa sabar.
"Apa Mommy masih berharap sama dia?" suara Niko meninggi. "Dia bukan ayahku. Ayahku sudah mati."
Hati Alyssa bergetar.
"Kita bicara nanti di Apartement" katanya tegas.
Bukan marah yang ia rasakan, melainkan sedih dan iba. Putranya berubah karena luka lama.
"Kamu yang mengubah anakku, Junior," batinnya.
"Kaka, Daddy ada di sini?" tanya Cecil polos.
"Ayah kita sudah mati," jawab Niko dingin.
"NIKO!" tegur Alyssa.
Cecil menangis. Alyssa segera menggendongnya.
"Ayahmu masih hidup, sayang," bisiknya lembut.