Yitno... Ya namanya adalah Suyitno, seorang laki-laki berusia 36 tahun yang tak kunjung menikah. Ia adalah pemuda baik, tetapi hidupnya sangat miskin dan serba kekurangan.
Baik itu kekurangan ekonomi, pendidikan, wajah dan masih banyak hal lainnya yang membuatnya merasa sedikit putus asa dan berkecil hati. Ia tinggal bersama ibunya yang seorang janda.
Ia pemuda yang rajin dan tak malu bekerja apapun. Iman dan mentalnya berubah semenjak ia menghitung usianya, dan melihat teman-teman sekampungnya yang semuanya sudah berkeluarga. Ia malu, ia pun ingin menikah tetapi tak ada seorang gadis pun yang mau dengannya.
Semua gadis seperti menghindarinya, entah karena Ia miskin, atau karena ia tak rupawan, atau mungkin karena keduanya. Hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang kakek yang akan merubah hidupnya.
apakah yang akan dilakukannya? ikuti terus kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celoteh Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maling Perdana
Selepas Maghrib di ruang tengah rumahnya, tampak Yitno berbaring menyamping tepat di depan tv kecil 14 inch. Ia sibuk mengganti channel tv tabung jadul itu dengan cara menekan nekan tombol di tv menggunakan jari kakinya. Gorden kamar tersibak terlihat ibunya keluar dari dalam kamar barus saja selesai sholat Maghrib dan hendak pergi ke warung entah membeli apa.
"Mau kemana Mak?" Tanya Yitno
"Ke warung, Napa?"
"Titip beliin rokok Mak"
"Mana duitnya?"
"Pake duit mamak dulu sih, beliin hehe"
"Gundulmu! Mending mamak beli beras dari pada beliin kamu rokok!" Ujar ibunya sembari melengos pergi
Melihat ibunya pergi ke warung, segera Yitno masuk ke dalam kamarnya dan memakai kain kafan itu yang ia lilitkan ke perutnya menutupi pusarnya. Ya! Ia hendak mengetes ucapan kakek dukun tentang kekuatan kain tersebut yang dapat membuatnya tak kasat mata.
Tak lama ibunya kembali, Yitno duduk di kursi kayu ruang tamu, maklum rumahnya tak mewah hanya kursi dan meja kayu yang ada di ruang tamu. Saat ibunya masuk terlihat ibunya tampak tak melihatnya. Yitno sedikit terkejut, tetapi ia belum puas. Ia harus memastikan jika ia benar-benar tidak terlihat.
"Yit..!! Yitt...!!" Panggil ibunya, Yitno hanya diam tak menjawab.
"Kemana anak itu? Tv gak di matiin, pintu gak di tutup asal pergi aja..!!" gerutu ibunya.
Yitno begitu terkejut dimana dirinya saat ini sedang berdiri tepat di depan ibunya. Dengan langkah pelan ia masuk ke dalam kamarnya ia melihat cermin di lemari jadulnya. ia kaget bayang tubuhnya sama sekali tak nampak di cermin tersebut yang membuatnya begitu terkejut takut sekaligus senang.
Ia pun melepas kain tersebut dari perutnya dan otak kriminalnya pun mulai menari nari indah di kepala dan fikirannya. Ya! Ia berencana mencuri..
"Jangan di desa ini bisa bahaya kalau ketauan, desa sebelah aja. Siapa ya orang kaya di desa sebelah? Hmm.. oh iya aku ingat! Pak Bejo juragan penggilingan gabah itu!"
Yitno pun mulai beraksi, ia langsung memakai kain kafan itu kembali dan keluar rumah hati-hati tanpa alas kaki. Ia berjalan menuju desa sebelah. Jarak yang ia tempuh cukup jauh, ia memang sengaja menargetkan tempat yang agak jauh.
Hampir 40 menit lamanya ia berjalan, sampailah ia di desa yang ia tuju dan langsung menuju rumah pak Bejo juragan gabah yang memiliki pabrik penggilingan padi serta beberapa alat alat berat pertanian seperti mesin panen padi dan mesin bajak sawah.
Beberapa menit kemudian ia sudah tepat berada di depan sebuah rumah dengan halaman sangat luas. Disebelah rumah itu berjejer mesin panen padi dan beberapa truck canter dan traktor. Yitno masuk karena gerbang itu masih terbuka, malam itu belum terlalu larut masih sekitar jam delapan malam.
Keberuntungan mungkin berpihak kepadanya, malam itu pak Bejo sedang kedatangan tamu, terlihat pak Bejo dan istrinya berada di ruang tamu sedang berbincang dengan sesorang. Segera Yitno menuju bagian belakang rumah, tampak seorang wanita paruh baya terlihat sedang mencuci piring, mungkin ia art di rumah itu. Dan pintu belakang terbuka lebar.
Yitno masuk dengan hati-hati. Di dalam rumah itu ia sedikit bingung, itu karna ia tak tau mana kamar pak Bejo, jika ia salah membuka pintu bisa-bisa di dalam kamar itu ada orangnya.
Tiba-tiba Satu pintu kamar terbuka, seorang gadis berusia kira-kira dua puluh tahunan keluar dari dalam kamar.
"Itu kamar anaknya, kamar art biasanya di belakang, apa kamar tengah ini kamarnya pak Bejo...?" Batinnya
Yitno pun mendekati pintu kamar tengah, ia memperhatikan sekitar tidak ada orang sama sekali, ia segera membuka pintu itu. Benar saja kamar itu sepertinya memang kamar pak Bejo dan istrinya. Itu terlihat dari dekorasi kamar yang terlihat seperti orang tua dan kamar itu lebih luas.
Yitno segera membuka lemari yang memang kunci lemarinya masih tercantol di situ, Ia mencari-cari apa saja yang bisa ia ambil. Di dalam lemari itu ia lihat ada sebuah laci.. ia perlahan membukannya. Ya tumpukan uang yang di ikat karet gelang, jumlahnya mungkin ratusan juta.
Mata Yitno terbelalak, ia yang tak pernah melihat uang sebanyak itu pun bergetar hati dan kakinya. Dengan serakahnya ia mengambil semua uang itu. Setelah semua uang ia ambil semuanya segera ia bergegas keluar.
Yitno berhasil mencuri, dengan sedikit berlari ia pulang ke rumah dengan perasaan gugup, khawatir dan bercampur rasa senang yang teramat sangat.
"Aku kaya...aku kaya..." Ucapnya dalam hati
Sesampainya di rumah terlihat ibunya masih menonton tv, perlahan segera ia masuk ke dalam kamarnya.
Kamarnya berada tepat di belakang ibunya yang sedang menonton tv, jadi ia aman ibunya tak melihat gorden kamarnya yang tersibak dengan sendirinya..
Di dalam kamar ia segera melepas kain kafan itu dan menyimpan uang-uang itu di dalam lemarinya dan ia kunci. Malam itu ia tidak bisa tidur karena ia sedang di landa eforia kegembiraan. Ia ingat jika di gardu tadi ada orang-orang pada kumpul. Ia berfikir untuk bergabung di sana, sekedar membuat alibi bahwa ia di sana malam ini.
Yitno segera mengambil uang seratus ribu satu lembar dan keluar dari kamarnya
"lho Yit? Kami ada di kamar? Tadi mamak liat gak ada kami di kamar?" ibunya terheran
"eh? Anu.. Mamak aja yang gak ngeliat mungkin. Dari tadi aku di kamar kok.."
"mosok iya? Udah pikun apa ya mamak?" ibunya garuk garuk kepala "Mau kemana kamu, Yit?" Tanya ibunya
"Keluar Mak, ke pos ronda gaplean.." jawabnya bergegas keluar rumah.
"itu tadi mamak beliin kamu rokok Surya dua batang, di hemat buat dua hari..!!"
"Eehh??"