Naura "gadis ideal". Ia memiliki senyum cerah yang tampak tulus, suara yang riang, dan kemampuan luar biasa untuk mencairkan suasana. Di SMA Pelita Bangsa, ia dikenal sebagai siswi yang ramah, sedikit ceroboh agar tidak terlihat mengancam, dan sangat mudah disukai.
Di balik binar matanya, Naura adalah seorang pengamat yang sangat dingin.
Arkan adalah sosok yang dijuluki "Cowok Kulkas". Ia pendiam, sinis, dan selalu menjaga jarak dengan siapapun. Ia lebih sering terlihat dengan buku sketsa atau headphone yang melingkar di lehernya. Arkan tidak peduli pada hierarki sosial sekolah dan tidak ragu untuk bersikap kasar jika merasa privasinya terganggu.
Arkan bukan sekadar remaja yang membenci dunia. Ia memiliki kecerdasan arsitektural dan teknis yang melampaui usianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Sesampainya di sekolah, suasana koridor sudah ramai. Namun, perhatian siswa tidak lagi tertuju pada gosip duet Arkan dan Naura. Mereka sedang membicarakan sosok baru yang berdiri di depan ruang kepala sekolah.
Seorang gadis dengan rambut hitam lurus yang jatuh sempurna di bahunya berdiri diam. Ia mengenakan seragam dengan sangat rapi, namun auranya sangat berbeda. Jika Naura adalah matahari yang hangat meski palsu, gadis ini adalah bongkahan es yang membeku.
"Itu Raisa, murid pindahan dari luar negeri katanya," bisik Nadira yang tiba-tiba muncul di samping Naura.
Naura memperhatikan gadis bernama Raisa itu. Insting agennya langsung berteriak. Cara Raisa berdiri, cara matanya memindai sekitar dengan efisien, dan gerakannya yang sangat terkontrol menunjukkan bahwa dia bukan siswi biasa.
Raisa menoleh, matanya bertemu dengan mata Arkan. Tidak ada sapaan, tidak ada senyum. Hanya tatapan dingin yang saling mengunci selama beberapa detik sebelum Raisa membuang muka dan berjalan masuk ke kelas yang ternyata sama dengan mereka, XII-IPA 1.
Suasana Kelas yang Mencekam
Di dalam kelas, Raisa duduk di pojok belakang, tepat di seberang meja Arkan.
Kehadirannya membuat suhu ruangan terasa turun beberapa derajat. Bimo dan Rio yang biasanya berisik mencoba mendekat untuk menyapa, namun langsung mundur teratur setelah mendapat balasan tatapan tajam dari Raisa.
"Gila, itu cewek atau robot? Lebih dingin dari Arkan," bisik Rio pada Bimo.
Naura duduk di bangkunya, masih mempertahankan senyum cerianya, namun tangannya di bawah meja bergerak cepat memeriksa basis data melalui ponsel rahasianya.
"Raisa..." gumam Naura pelan.
Arkan, yang duduk tidak jauh dari sana, membuka buku catatannya. Di sudut halaman, ia menuliskan sesuatu yang hanya bisa dibaca olehnya: [Identitas Baru Terdeteksi: Kode Frost. Awasi pergerakan pukul 12.]
Kehadiran Raisa membawa ketegangan baru
......................
Suasana kelas XII-IPA 1 mendadak terasa seperti medan perang yang sunyi. Naura, dengan segala keramahtamahannya yang sempurna, memutuskan untuk menjalankan misinya mencari tahu siapa Raisa sebenarnya.
Naura berjalan mendekati meja Raisa di pojok kelas. Ia membawa sekotak susu stroberi, memberikan senyum paling manis yang ia miliki senyum yang biasanya sanggup meluluhkan hati guru paling galak sekalipun.
"Hai, Raisa! Kenalin, gue Naura," sapa Naura riang sambil meletakkan susu itu di meja Raisa. "Gue ketua ekskul literasi di sini. Kalau lo butuh bantuan buat keliling sekolah atau mau tahu kantin yang paling enak, tanya gue aja ya!"
Raisa tidak mendongak. Ia tetap fokus membaca sebuah buku tebal tentang kriptografi tanpa sampul. Setelah beberapa detik keheningan yang canggung, Raisa menutup bukunya dengan suara debukan pelan, lalu menatap Naura dengan mata yang sedingin es.
"Lo berisik," ucap Raisa datar. Suaranya rendah namun tajam. "Gue ke sini buat belajar, bukan buat nyari pemandu wisata. Bawa balik susu lo, gue nggak suka manis."
Naura sedikit tersentak. Ia belum pernah ditolak secara mentah-mentah seperti ini di depan umum. Teman-teman sekelas yang memperhatikan mulai berbisik-bisik. Nadira bahkan sudah siap-siap ingin membela Naura, namun Naura memberikan kode tangan agar temannya itu tetap diam.
"Wah, galak juga ya," Naura tertawa kecil, meski matanya memicing tajam. "Oke deh, kalau lo butuh ketenangan, gue nggak bakal ganggu. Tapi kalau lo butuh 'teman' yang tahu cara kerja sekolah ini, lo tahu di mana harus nyari gue."
Naura kembali ke bangkunya dengan perasaan gusar. Di kepalanya, ia mulai menyusun skema: Raisa bukan agen amatir. Dia tahu cara memutus komunikasi sosial dengan cepat.
......................
Saat jam istirahat tiba, kelas mulai kosong. Naura sengaja berlama-lama merapikan bukunya, sementara Arkan masih duduk diam di tempatnya. Raisa berdiri, menyampirkan tasnya di bahu, dan berjalan melewati meja Arkan tanpa berkata apa-apa.
Namun, saat Raisa berada tepat di samping Arkan, ia menjatuhkan sebuah gantungan kunci kecil berbentuk bidak catur knight hitam ke atas meja Arkan.
Arkan mengambilnya, lalu berdiri dan mengikuti Raisa keluar menuju atap sekolah yang sepi. Di balik pintu atap, Raisa berhenti dan berbalik. Wajah dinginnya sedikit melunak, meski tetap terlihat kaku.
"Papamu bilang kau butuh bantuan tambahan, Arkan," ujar Raisa. Kali ini suaranya terdengar lebih akrab, meski tetap formal.
"Aku bisa menanganinya sendiri, Raisa. Dan aku tidak menyangka Paman akan mengirimmu ke sini," balas Arkan sambil bersandar di pagar pembatas.
"Kau terlalu fokus menjaga 'aset' itu sampai kau lupa kalau pertahanan terbaik adalah menyerang," Raisa berjalan mendekat. "Gadis Naura itu... dia sangat ahli dalam akting. Berisik sekali. Aku hampir ingin menyumpal mulutnya tadi."
Arkan menarik sudut bibirnya, membentuk senyum tipis yang langka. "Dia memang menyebalkan, tapi dia kunci dari semua data Black Ledger. Dan ingat, di sekolah ini, kau adalah sepupuku yang pindah dari London. Jangan sampai mereka curiga kalau kau adalah salah satu lulusan terbaik akademi taktis."
"Aku tahu protokolnya, Kak," jawab Raisa pendek.
Ya, Raisa adalah sepupu Arkan anak dari paman Arkan yang memimpin divisi intelijen di luar negeri. Kehadirannya di SMA Pelita Bangsa adalah rencana cadangan keluarga besar mereka untuk memastikan misi Arkan tidak gagal.
Tanpa mereka sadari, di balik pintu tangga yang sedikit terbuka, Naura berdiri mematung. Ia menggunakan alat penyadap jarak pendek yang ia tempelkan di daun pintu.
"Sepupu...?" bisik Naura pada dirinya sendiri. Matanya melebar. "Jadi Raisa bukan musuh, tapi dia 'cadangan' buat Arkan?"
Naura mematikan alat penyadapnya dan bergegas pergi sebelum ketahuan. Informasi ini mengubah segalanya. Arkan tidak hanya menjaganya sendirian sekarang; dia punya kekuatan keluarga yang mendukungnya dari belakang.
"Menarik," gumam Naura sambil berjalan menuju kantin. "Dua kulkas berjalan dalam satu sekolah. Kayaknya gue harus benar-benar hati-hati mulai sekarang."
......................
Suasana kantin yang tadinya riuh mendadak sunyi ketika Ranti, siswi kelas sebelah yang dikenal sebagai "penggemar berat" Arkan, menggebrak meja Naura. Di belakangnya, dua temannya berdiri dengan tangan bersedekap, memberikan tatapan mengintimidasi.
"Heh, Naura!" suara Ranti melengking, membuat beberapa siswa menoleh. "Lo pikir gue nggak tahu? Kemarin lo duet sama Arkan, terus pulang bareng, dan pagi ini lo dijemput lagi sama dia. Lo sengaja banget ya mau tebar pesona?"
Naura yang sedang menyuap mi ayamnya perlahan menghela napas panjang di dalam hati. Ya Tuhan, drama remaja lagi, batinnya muak. Baginya, berurusan dengan agen internasional jauh lebih masuk akal daripada meladeni kecemburuan buta siswi SMA.
Namun, Naura tahu ia harus tetap berada dalam perannya.
"Eh, Ranti... maaf, kayaknya lo salah paham," ucap Naura dengan nada bicara yang lembut dan raut wajah yang tampak bingung sekaligus takut. Ia meletakkan sendoknya perlahan, tangannya sedikit gemetar akting yang sempurna. "Gue sama Arkan cuma urusan tugas kelompok dan pensi aja, kok."
"Halah, nggak usah sok polos!" bentak Ranti, wajahnya memerah. "Satu sekolah juga tahu Arkan itu nggak pernah mau deket sama cewek. Tapi kenapa sama lo dia mau repot-repot jemput? Lo pakai dukun apa, hah?"
Ranti meraih gelas es teh milik Naura dan hendak menyiramkannya ke seragam Naura. Di dalam kepalanya, Naura sudah menghitung setiap sudut: Jika dia menyiram, aku akan sedikit menghindar agar hanya mengenai lengan, lalu aku akan menangis agar semua orang membencinya.
Namun, sebelum gelas itu miring, sebuah tangan yang dingin dan kuat mencengkeram pergelangan tangan Ranti.
"Lepasin!" jerit Ranti. Ia menoleh dan seketika membeku.
Raisa berdiri di sana. Wajahnya datar, namun matanya memancarkan aura yang lebih menakutkan daripada kepala sekolah yang sedang marah. Di sampingnya, Arkan berdiri dengan tangan di saku celana, menatap Ranti seolah-olah gadis itu adalah gangguan yang tidak penting.
"Buang airnya, dan lo bakal menyesal," ucap Raisa pendek namun penuh ancaman.
"Ar-arkan... aku cuma..." Ranti terbata-bata, nyalinya menciut seketika melihat Arkan dan Raisa yang menyeramkan itu.
"Pergi," kata Arkan dingin. Hanya satu kata, tapi cukup untuk membuat Ranti meletakkan gelas itu dengan gemetar dan lari terbirit-birit diikuti teman-temannya.
Naura segera menundukkan kepalanya, pura-pura menyeka air mata yang sebenarnya tidak ada. "Makasih ya, Raisa... Arkan... Gue nggak tahu kenapa Ranti marah banget."
Raisa menatap Naura dengan pandangan tidak percaya. Ia tahu Naura sedang berakting. "Berhenti nangis. Itu menjijikkan," bisik Raisa yang hanya bisa didengar oleh Naura dan Arkan.
Naura sedikit mendongak, memberikan senyum kecil yang sangat tipis, sebuah senyum kemenangan yang hanya ditujukan untuk Raisa dan Arkan, sebelum kembali ke mode "gadis polos" saat teman-temannya yang lain datang menghampiri untuk menenangkannya.
Arkan hanya bisa menghela napas. Ia tahu Naura sedang menikmati momen ini. "Kita balik ke kelas. Sekarang," perintah Arkan.