*KHUSUS PEMBACA UMUR 17+*
Pertemuan mereka berdua membuat roda takdir berputar.
Hari – hari indahnya bermula saat Dion bersama dengannya, mengawali dan menutup hari dengan mengucap namanya yang sudah terukir didalam hati. Tak ada yang bisa memisahkan mereka berdua dari kebahagian itu, hingga suatu saat....
“Lebih baik aku tidak pernah bertemu denganmu.” Gumam Dion
Di malam hari, gelap, tanpa cahaya aku berdiri dan kembali menyesali perbuatanku. Awan besar menutupi rembulan, aku tak dapat berkata – kata lagi tanpa kusadari air mata telah mengalir.
“maafkan aku teman – teman....”
Disini, dikelas ini, diantara jasad seluruh sahabat2ku, aku menangis.
Dengan tatapan kosong dan tubuh bermandikan darah.
“anak iblis”
“Pembunuh”
“Penjahat”
Satu persatu sebutan itu terdengar ditelingaku hingga sampai membuatku lupa akan identitasku sendiri. 1 minggu kemudian Aku terbangun disebuah rumah sakit jiwa tanpa mengingat apapun dan langsung pindah ke kota Lando dan berseklah di SMA Violet
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahroni nurhafid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25 - Awal dari Kehancuran
Sebuah Laba –
laba raksasa berjalan menuju kearah gedung sekolah, kaki – kainya yang tajam,
matanya yang bersinar merah sudah pasti dia bukan makhluk baik – baik.
“Tenang saja kita
akan aman jika terus bersembunyi disini.” Kata ketua
“hmm....’kami’?”
Tiba – tiba aku
teringat kak Jay dan Kak Rui yang kutinggal diluar gedung seketika aku langsung
berlari keluar.
“Tunggu, Lina!”
Diana memegang tanganku
“Ada apa? Kenapa kau
tiba – tiba panik seperti itu? tenang saja kita aman disini.” Diana berfikir
aku berlari karena tekut
“Aku baru
teringat kalau aku kesini bersama orang lain dan aku baru teringat sekarang.”
Setelah menjelaskannya
Diana tetap tak melepaskan pegangannya,
“Ketua bagaimana ini?”
Diana yang kebingungan kemudian bertanya kepada ketua
“Biarkan saja.”
“Tapi ketua...”
Diana menolak untuk membiarkanku keluar
“Lina, dengarkan
aku. Jika kau keluar dari ruangan ini nyawamu akan dalam bahaya digedung ini
ada Shadow yang menantimu, dan
kemungkinan terburuk lain kau akan ditemukan oleh ‘Got, kami juga takkan
membantumu. walaupun kau sudah tau semua itu apakah kau tetap akan pergi?”
tanya ketua padaku
‘Got’ yang
dimaksud ketua pasti laba – laba itu, entahlah aku tak tau harus bagaimana jika
melawan makhluk sebesar itu sendirian dan jangankan melawan Got melawan Shadow
saja aku tidak bisa. Namun....
“Memang benar,
jika aku keluar dari sini kemungkinan besar aku akan mati, tapi aku harus
melakukannya jika aku membiarkan mereka terbunuh disini maka aku takkan berani
bertemu dengan Kak Dion!” Kulepas pegangan tangan Diana dan langsung keluar
dari ruang Osis
Sementara itu di
Ruang Osis,
“Ketua... tadi
dia menyebut Dion kan?” tanya Diana
dengan kaget
Namun mereka
berdua tak menjawab pertanyaan dari Diana.
Diana terus
menekan Ketua dan Tiana agar mereka membantu Lina. Saat Diana berbicara tiba – tiba
terdengar suara kaca yang pecah dari lantai 1.
Tiana yang sedari
tadi mengawasi keadaan dari jendela melihat dua orang yang sedang dikejar oleh
Shadow.
Sedangkan Lina,
*Cetar!!!
Suara kaca pecah
dari lantai 1,
“Suara itu? itu
berasa dari lantai 1, itu pasti Kak Rui dan Kak Jay.” Ku berlari dengan sekuat
tenaga menuju kearah suara
Sementara itu Rui
dan Jay,
“APA – APAAN INI!!
MAKHLUK MACAM APA ITU?! KENAPA DIA MENGEJAR KITA?!” teriak Jay sambil terus
berlari bersama Rui
“Mungkin itu ‘sosok’
yang dilihat Lina tadi, yang jelas kita tidak boleh sampai tertangkap olehnya!”
jawab Rui sambil melirik kebelakang dan melihat Shadow terus mengejar mereka.
“TRUSS GIMANA?
AKU SUDAH MENGHAJARNYA TAPI PERCUMA TIDAK MUNGKIN KITA BERLARI SEPERTI INI
TERUS JUGA!”
“Hmm...” Rui
mencoba berfikir
“HEY! RUI
BRENGSEK KALAU ADA IDE CEPAT BERITAU AKU!”
“Hei, menurutmu
kenapa dia membawa cutter?” tanya Rui
dengan nada datar
“MANA KU TAU!
LAGIAN KALAU ENGGK PENTING ENGGK USAH DITANYA!”
“Sepertinya aku
punya ide yang patut dicoba.”
“APA ITU?!”
“Tapi enggk ada
jaminan....hmmm... enggk jadi deh.”
“WOY! BERITAU
SAJA AKAN KULAKUKAN APA SAJA! STAMINAKU SUDAH MULAI HABIS!”
“Baiklah –
baiklah, jadi gini.....” Rui membisikkan sesuatu ke Jay sambil terus berlari
disekitar lapangan dibelakang gedung sekolah.
“Gimana?”
“KAU INGIN AKU
MATI YA?!”
“Hahaha, lebih
cepat lebih baik.” Rui hanya tertawa mendengar Jay protes
“Tapi aku percaya
padamu.” Jay mengepalkan tangannya kearah Rui
“Hahaha, kau akan
mati hari ini.” jawab Rui dan mengepalkan tangannya lalu melakukan Tos tinju
“Tenang saja,
kalau aku mati kau akan jadi orang pertama yang kuhantui.” Saat tos mereka
selesai mereka langsung berpencar.
Rui berlari ke
arah aula olahraga sedangkan Rui berlari masuk ke gedung sekolah dan Shadow
mengikuti Jay masuk ke gedung sekolah.
“Bagus, sesuai
rencana.”
Jay membawanya
masuk ke dalam gedung dan mengulur waktu membawa Shadow berputar – putar dari
kelas ke kelas lain.
Namun, saat Jay
berlari ke lorong lantai 1 ia langsung masuk ke ruang guru untuk bersembunyi
dan disana ia melihat sesuatu..
Sebuah lemari
kayu tempat penyimpanan alat kebersihan tertancap dengan banyak sekali tongkat
sapu bagaikan kotak sulap dengan puluhan pedang yang menancap tapi lemari itu,
bagaian bawahnya menggenang darah yang cukup banyak.
Dengan
memberanikan diri Jay mendekati lemari itu dan mengintipnya.
“Ap – Apa ini?!”
Jay sangat terkejut melihat orang yang berada didalam sana
Gara – gara Jay
berbicara membuat Shadow mendatanginya.
*Grak!
Suara pintu ruang
guru terbuka dengan makhluk itu menatap lurus ke arah Jay.
“Jadi ini ulahmu
ya, SIALAN!!” Teriak Jay sambil berlari ke arah Shadow begitu juga dengan
shadow yang terbang ke arah Jay dan mengarahkan cutter itu pada kepala Jay.
(aku percaya
padamu, sahabatku.)
*Cetar!
Suara pecahan
kaca dari belakang Jay dan diikuti teriakan dari Rui.
“Pass!”
Jay langsung
menundukkan kepalanya dan melintaslah sebuah bola basket dari atas kepala Jay.
Sesuai tebakan Rui
bola itu tepat mengenai Cutter Shadow dan dengan cepat Jay langsung merebut
bola yang tertancap cutter itu dan langsung menendangnya kembali kearah Rui
dengan mulus Rui menangkap bola itu dengan kedua tangannya.
“KENAPA BOLA
BASKET!!”
“Mau gimana lagi,
aku kan sekarang anggota ekskul basket bukan ekskul sepak bola seperti mu!” jawab
Rui sambil melempar bola itu jauh sampai keluar zona sekolah.
(Sekarang adalah
penentunya, jika tebakan Rui benar maka makhluk ini tidak akan melawan lagi.)
Shadow itu hanya
terdiam saat senjatanya tidak ada dan kemudian pergi tanpa melakukan apa – apa.
*Duar!
Jay melempar buku
ke arah Shadow namun tembus dan mengenai tembok dan tak dihiraukan oleh Shadow.
“MAU KEMANA KAU,
BRENGSEK!” Jay terus melempar segala benda disekitarnya
“Hei,tung-“ Rui
berlari masuk ke ruang guru lewat jendela dan menghentikan Jay
“Jay! Berhenti apa
yang kau lakukan! Tenang lah!” Rui berusaha menenangkan Jay yang terlihat
sangat marah namun Jay tak berhenti bahkan sampai melempar sebuah kursi tapi
tetap tembus dan memecahkan kaca, Rui langsung memegang kedua tangannya.
“Tenanglah! Kenapa
kau tiba – tiba jadi terbawa emosi seperti ini? lagi pula kau tidak akan bisa
menyakiti makhluk itu!”
Jay bertekuk
lutut dan memukul – mukul lantai dengan kesal,
“SIALAN!!”
Air mata menetes
dari wajah Jay.
“GARA – GARA DIA!!!
Dion.....jadi....”
“Ada apa dengan
Kak Dion?” tiba – tiba Lina muncul dan mendengar perkataan Jay
“Hei, jawab aku. Kenapa
dengan kak Dion?”
Jay hanya terdiam
dan menangis tanpa menjawab pertanyaan Lina.
“HEY! JAWAB AKU!!”
Rui menyadari
bahwa di sepatunya ada darah, ia pun mencari tau asal darah itu dan melihat
lemari kayu disampingnya. Rui mengintip isi dari lemari kayu tersebut dan
terkejut.
Saat melihat
ekspresi Rui yang kaget Lina berjalan ke arah lemari itu juga namun kakinya
dihentikan oleh Jay.
“LEPASKAN AKU!!”
Rui langsung
menutup mata Lina dan memukul bagian belakang lehernya sampai ia pingsan.
“”Terima kasih.” Ucap
Jay
“Untuk apa kau
berterima kasih, aku melakukan ini untuk Ibo. aku tak ingin adiknya syok melihat
mayat Dion dengan wajahnya yang tersisa setengah itu.” jawab Rui sambil
menggendong Lina
“Ngomong –
ngomong Ibo dimana?” Tanya Jay
“Entahlah, aku
sudah tak melihatnya sejak dunia menjadi gelap seperti ini.”
ISTRI MUDAKU MAFIA
kalo seru saya supor
kalo enda seru saya like
kalo seru saya supor
kalo enda saya like