Sebuah tragedi memilukan menghancurkan hidup gadis ini. Pernikahan impiannya hancur dalam waktu yang teramat singkat. Ia dicerai di malam pertama karena sudah tidak suci lagi.
Tidak hanya sampai di situ, Keluarga mantan suaminya pun dengan tega menyebarkan aibnya ke seluruh warga desa. Puncak dari tragedi itu, ia hamil kemudian diusir oleh kakak iparnya.
Bagaimana kisah hidup gadis itu selanjutnya?
Ikuti terus ceritanya, ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aysha Siti Akmal Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
"150 juta! Hhh, yang benar saja!" pekik Susi dengan mata membesar.
Susi bergegas menghampiri Herman yang sedang duduk di meja makan. Wanita itu duduk tepat di samping Herman kemudian menyerahkan selembar kertas yang sejak tadi ia pegang kepada suaminya itu.
"Coba kamu lihat ini, Mas! Mereka minta ganti rugi sebanyak 150 juta kepada kita. Tidak masuk akal, mereka pasti sedang mengada-ada." Susi mendengus kesal. Sementara Herman masih memperhatikan berbagai rincian yang tertulis di selembar kertas tersebut.
Dea yang saat itu sedang asik mencuci peralatan makan kotor di westafel, segera menghentikan pekerjaannya. Perlahan ia berbalik kemudian menatap kakak dan kakak iparnya tersebut.
Susi yang kembali dikuasai oleh rasa emosi, segera bangkit dari posisinya. Ia merebut kembali kertas rincian yang ada di tangan Herman kemudian membawanya kepada Dea.
"Lihat ini!" Susi melemparkan kertas itu ke hadapan wajah Dea dengan kasar.
"Dan perhatikan tulisannya dengan benar! Kamu masih bisa membaca 'kan? Sekarang lihat baik-baik angka yang tertera di sana dan pikirkan bagaimana cara mendapatkan uang sebanyak itu," kesal Susi sambil bertolak pinggang.
Dea meraih kertas itu dengan tertatih-tatih. Ia memperhatikan jejeran angka yang tertulis dengan tangan di kertas tersebut. Dan ya, 150 juta rupiah, itu lah nominal yang harus keluarganya keluarkan untuk mengganti uang milik Julian dan keluarga besarnya.
"Dari mana kita mendapatkan uang sebanyak ini dalam kurun waktu satu bulan?" gumam Dea dengan wajah sedih. Ia melirik Herman yang masih duduk di meja makan dan wajah kakak lelakinya itu pun tampak kusut.
"Jangan hanya bertanya dari mana, dari mana! Kerja, Dea! Kerja! Kalau perlu kamu tawarkan saja dirimu kepada lelaki hidung belang. Lagi pula kamu 'kan sudah tidak perawan," ketus Susi.
"Kakak!" pekik Dea tidak terima.
"Cukup, Susi! Jaga mulutmu! Jangan hina adikku seperti itu lagi." Herman yang sejak tadi hanya diam mendengarkan ocehan Susi, akhirnya membuka suara. Ia sudah tidak tahan mendengar hinaan demi hinaan yang dilemparkan Susi kepada adik perempuannya tersebut.
Susi sontak terdiam setelah mendengar gertakan dari lelaki itu. Ini pertama kalinya Herman berani melawannya. Herman yang sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya, segera pergi dari ruangan itu.
Sepeninggal Herman.
"Kamu lihat itu, Dea! Bahkan Kakakmu pun sudah berani membantah ucapanku. Itu semua gara-gara kamu! Kamu memang gadis pembawa sial! Selama kamu hidup bersama kami, keluarga kami akan terus kena sial!" geram Susi.
Susi pun turut melenggang pergi dari ruangan itu. Ia kembali ke kamarnya dan memilih berbaring di sana untuk menenangkan pikirannya yang sedang kusut.
Sementara Dea masih terdiam di tempatnya berdiri dengan kertas rincian yang masih melekat di tangannya. "Apa aku harus menemui Julian dan mengajaknya bicara empat mata?" gumam Dea.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Dea pun bergegas keluar. Gadis itu berniat ingin menemui Julian dan mengajaknya bicara soal uang ganti rugi tersebut. Dea berharap Julian bisa mengerti dan memberikan sedikit keringanan.
Dengan langkah tergesa-gesa, Dea berjalan menuju kediaman kedua orang tua Julian. Ketika di perjalanan, Dea berpapasan dengan salah satu sahabat Julian.
"Mas!" panggil Dea.
Namun, lelaki itu tampak enggan. Ia ingin meneruskan langkahnya, tetapi lagi-lagi Dea memanggilnya.
"Mas, apa Mas Julian ada di rumahnya?" tanya Dea.
"Dia sedang berada di pantai bersama yang lain untuk memperbaiki kapal kami," jawab lelaki itu.
"Oh, terima kasih, Mas. Aku akan segera ke sana," sahut Dea.
Dea pun segera menuju tempat yang dimaksud oleh lelaki itu. Di mana Julian dan teman-teman biasanya membersihkan serta memperbaiki kapal mereka.
Tidak berselang lama, Dea pun tiba di tempat itu. Netra indahnya langsung tertuju pada sosok bertubuh tinggi besar yang kini sedang menarik sebuah tambang pengikat kapal. Tersungging sebuah senyuman tipis di bibir Dea. Biar bagaimana pun, ia masih sangat mencintai lelaki itu. Satu-satunya lelaki yang mampu meluluhkan hatinya.
Dea memberanikan diri untuk mendekat dan kehadirannya di tempat itu, menjadi pusat perhatian seluruh lelaki yang ada di sana. Sementara Julian masih tidak menyadari kedatangan gadis itu. Ia masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Hei, Julian. Jandamu datang," goda salah satu sahabat Julian sembari menunjuk ke arah Dea yang sedang berjalan ke arah mereka.
Julian sontak menoleh dan ekspresi wajah lelaki itu langsung berubah saat menyadari keberadaan Dea di sana. "Mau apa lagi dia ke sini," gumam Julian dengan nada kesal.
"Sudahlah, temui saja. Mungkin ada hal penting yang ingin ia bicarakan padamu." Lelaki itu menepuk pelan pundak Julian.
"Ah, aku malas!" Julian membalikkan badan kemudian berjalan menjauh.
...***...