Bagaimana jika ginjal yang ada di tubuhmu ternyata milik adik seorang mafia, dan sejak saat itu hidupmu berada dalam ancamannya?
Bahkan setelah berhasil lolos dari kematian, kamu masih harus menghadapi bayang-bayang maut dari mafia kejam yang tak pernah berhenti memburumu.
Itulah yang dirasakan Quinn ketika ia mengetahui bahwa keberhasilan operasi transplantasi ginjalnya telah merenggut nyawa orang lain demi kelangsungan hidupnya.
Apakah Quinn mampu bertahan hidup?
Ataukah nyawanya harus menjadi harga yang dibayar atas kehidupan yang pernah ia ambil?
୨ৎ MARUNDA SEASON III ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
III. Apa Salahku?
Sejuta pertanyaan menghantam kepalaku, tapi aku enggak punya nyali buat mengeluarkan satu kata pun.
Lututku nyeri dan tubuhku lemas. Aku kembali terhuyung, dan itu langsung membuat perhatian Braun kembali tertuju kepadaku. "Karena kamu masih dalam masa pemulihan pasca transplantasi, ini pasti kasih dampak ke tubuh kamu,” katanya dengan nada sinis.
“Dia enggak bersalah!” Papa tiba-tiba teriak.
Tatapan Braun langsung mengarah ke cowok yang memegang pistol. Sepertinya dia pengawalnya. Tanpa bicara apa-apa, cowok itu jalan mendekat ke Papa dan mengetuk pistolnya ke sisi kepala Papa.
"Jangaan!" teriakku putus asa.
“Diam,” desis pengawal itu ke aku.
Sambil terisak, aku berusaha mendekat ke Papa, tapi pengawal itu langsung mengarahkan pistolnya ke aku. Seketika tubuhku pun membeku.
“Engaaak, kumohon,” mohon Papa sambil bergerak cepat, berdiri di antara pistol dan aku.
Air mataku tumpah deras, isak tangis meledak dari dadaku yang rasanya terbakar.
"Cukup!" pekik Braun.
Aku menatap Braun dengan tatapan memohon, bibirku rapat-rapat menahan tangis.
Enggak ada sedikit pun rasa iba di wajahnya saat dia melihatku menangis. Di saat itu aku sadar, kalau kita semua akan mati.
Setelah semua yang sudah aku lewati, aku tetap saja bakal mati.
Enggak seperti sebelumnya, waktu aku harus menghadapi kematian, sekarang aku bahkan enggak punya waktu buat memprosesnya. Enggak ada cara untuk berdamai dengan sesuatu yang enggak bisa dihindari.
Dering telepon membuatku terkejut. Braun mengangkat panggilan itu.
“Udah dapat informasinya?” Dia dengarkan sebentar, lalu bilang, “Kabari aku kalau kamu tahu di mana bajingan itu.”
Begitu telepon ditutup, tatapan penuh amarahnya beralih ke Dr. Nolan.
“Ceritain semua yang kamu tahu soal kelompok yang menyebut diri mereka Imperium Vitae.”
Dr. Nolan bergeser posisi berlututnya, lalu menjawab dengan tergesa-gesa, "Mereka beroperasi di seluruh dunia. Beberapa kali aku butuh organ, aku hubungi Borris. Itu aja yang aku tahu."
“Kamu pernah ketemu dia langsung?” tanya Braun.
Dr. Nolan mengangguk. “Dua kali.”
"Bisa kamu atur pertemuannya?" tanya Braun lagi.
“Dia bakal curiga kalau aku tiba-tiba ngajak ketemu,” katanya.
“Apalagi tepat setelah transplantasi ginjal.”
Braun menatap Dr. Nolan lama banget, sampai ketegangan di ruangan itu jadi mencekik, hampir membuatku sesak napas.
"Kalau gitu, aku enggak punya alasan buat biarin dia hidup!"
Ancaman itu bergetar di dalam diriku. Air mataku mengering, diganti rasa takut yang terus mencekik tenggorokanku.
Braun mengangguk.
Saat pengawalnya mendekati Dr. Nolan, dokter itu langsung bicara enggak karuan, “Enggak! Tunggu! Aku bakal hubungi dia. Aku bakal cari cara buat atur pertemuan.”
Braun enggak menghentikan pengawal itu saat gagang senjata berulang kali menghantam wajah Dr. Nolan.
Kekerasan itu membuatku ambruk ke samping, pusing, mencoba mengusir bayangan mengerikan itu dari kepalaku.
Tetesan darah mengalir ke kakiku, dan pandanganku mulai berkunang-kunang.
Baru, di saat Dr. Nolan kehilangan kesadaran lalu siuman lagi, sisi kiri wajahnya bengkak dan berdarah, Braun akhirnya bilang, “Cukup.”
Pengawal itu langsung mundur selangkah dan kembali ke posisinya di dekat dinding.
Astaga.
Kita akan mati.
Kita benar-benar bakal mati.
Aku merasa mual waktu Braun berdiri dan memerintah, “Bawa cewek itu!”
Dia berbalik dan pergi, sementara pengawal itu mencekal lenganku dan memaksaku berdiri.
“Enggak! Kumohon!” teriak Papa sambil berusaha bangun.
“Dia enggak bersalah. Bawa aku!”
Aku sempat menatap mata Papa yang panik, sebelum pengawal itu mendorong dia keras-keras sampai jatuh ke lantai.
Aku diseret keluar ruangan. Cowok lain menutup pintu dan menguncinya.
“Enggak! Kumohon!” Aku masih bisa dengar teriakan Papa.
Suara itu meredup begitu aku didorong masuk ke ruangan lain.
Sekejap, mataku langsung tertuju ke meja yang penuh perkakas dan pisau berserakan.
Ya Tuhan.
Enggak.
"Enggak, enggak, enggak!" Aku tersentak, berusaha kabur. Aku melawan sekuat tenaga, tapi pengawal itu membantingku ke lantai.
Aku dengar pintu dibanting. Waktu aku menoleh ke arah sana, aku melihat pengawal berdiri di depan pintu dengan pistol masih di tangan kanannya.
Kepalaku memutar ke arah Braun yang sedang memilih pisau dari deretan yang ada. Mulutku langsung tergagap,
"To—tolong … Ja—jangan bunuh aku!"
Saat dia mendekat, otakku seperti bergetar.
Aku mencoba berdiri, tapi begitu jari-jari Braun mencengkeram lenganku dan mengangkatku, yang bisa aku lakukan cuma mengeluarkan suara melengking.
Aku sudah siap jika harus merasakan rasa sakit yang luar biasa karena ditusuk sampai mati. Tapi aku malah terkejut setengah mati, waktu borgolku dipotong dan pergelangan tanganku dibebaskan, dia melepaskanku.
Aku berputar, rambutku tertiup, lalu aku mendongak dan menatap cowok yang sudah menanamkan rasa takut ke dalam diriku.
Satu-satunya ekspresi di matanya cuma amarah.
Perlahan dia memiringkan kepalanya, tatapannya menyempit ke arahku.
Entah bagaimana, aku berhasil menemukan suaraku sendiri dan bertanya, “Siapa kamu? Kenapa kamu ngelakuin ini?”
Kilatan amarah di wajahnya amat brutal, sampai aku merasa kekuatannya menyebar ke tulang-tulangku. Dia bergerak, dan kakiku langsung terangkat dari lantai.
Saat aku terjatuh ke belakang, aku melihat Braun mengejarku. Begitu tubuhku menghantam lantai, dia sudah ada di atasku seperti binatang buas.
Pisau itu menekan kulit di bawah daguku, memaksa aku menengadah.
Tanganku refleks naik, aku cekal pergelangan tangannya, mencoba tarik pisau itu dari tenggorokanku. Tapi dia kuat banget, dan yang bisa aku lakukan ... cuma bertahan.