Aku tidak peduli meski kini usiaku sudah menginjak angka 27 tahun. Yang katanya jika perempuan sudah berumur 27 tahun artinya Tuhan sudah angkat tangan dalam mengurusi jodohku. Aku juga tidak terlalu pusing dengan cibiran tetangga maupun Ibuku sendiri yang mengatakan diriku sudah terlalu tua, hanya untuk menjalani hubungan layaknya anak SMA yang masih saja pacaran.
Ibu bilang, alasanku tidak segera menikah karena aku yang tidak serius menjalin hubungan dengan Kenzo, pacarku. Padahal itu tidak benar. Aku serius, sangat serius malah menjalin hubungan dengannya.
Aku hanya belum siap. Ya, hanya belum siap, kami hanya butuh waktu untuk membuat kami yakin untuk naik ke pelaminan.
Menikah itu tentang kesiapan mental. Aku jelas tidak ingin menikah di saat mentalku belum siap. Aku tidak ingin ketidaksiapan mentalku mempengaruhi keluarga kecilku kelak. Tidak perduli jika usiaku sudah masuk kategori telat menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lin_iin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecewa
###
"Hai," sapaku kepada Reynand, yang kini masih menatapku aneh.
Iya, aneh. Padahal beberapa detik yang lalu tatapannya seperti orang yang sedang khawatir. Tapi sekarang tatapannya sudah berubah, seperti ingin mengomeliku habis-habisan. Aneh banget kan. Ck. Nggak konsisten banget sih jadi laki, jadi nyesel aku ninggalin Kenzo dan milih dia. Eh?
Reynand berdecih samar, lalu menghela nafas sejenak. Kemudian duduk di sampingku.
"Sakit?"
"Eh?"
Aku menerjap bingung. Kok nada bicaranya kayak nyindir sih. Kan kita sudah lama tidak bertemu. Masa nada bicaranya gitu? Nyebelin.
"Muka kamu pucat. Sepertinya tidak mungkin jika kamu sedang menunggu teman kamu seperti tempo hari," ujar Reynand.
Aku ber'oh'ria dalam hati. Kemudian mengangguk samar.
"Cuma nggak enak badan."
Reynand mengangguk. "Apa kata dokter?"
"Nggak papa, cuma kecapekan."
"Ke sini sama siapa?"
"Sandra."
"Sandra?" ulang Reynand. "Oh, karyawan kamu itu, ya? Sekarang di mana, kok kamu sendirian?"
"Di luar, soalnya dia nggak terlalu suka dengan rumah sakit. Mau nganterin aku ke sini aja juga karena disuruh Mbak Husna."
Reynand mendelik. "Kamu berencana ke sini sendirian?" tanyanya seperti tidak percaya.
Aku mengangguk.
"Kamu apa kabar?" tanyaku kemudian. Mencoba untuk berbasa-basi.
Reynand menatapku sebentar, beberapa detik kemudian ia mengangguk.
"Alhamdulillah, sehat."
Aku mengangguk. "Mau nebus obat Tante Linda?"
Reynand menggeleng, wajahnya berubah sedih.
"Tante Linda drop lagi?" tebakku yang lansung dijawab dengan anggukan kepala oleh Reynand.
"Kemarin malah sempet masuk HCU, tapi sekarang udah dirawat di ruang inap biasa sih," kata Reynand bercerita. "Tapi tetap saja aku khawatir." Ia kemudian menoleh ke arahku. Menatapku dengan wajah sayu.
Astaga, aku baru sadar kalau wajahnya sayu. Lingkaran matanya pun juga terlihat mengerikan. Meski masih tetap tampan, ya.
"Aqilla," panggilnya lembut.
Duh, kok aku jadi deg-degan, ya?
"Iya?"
"Boleh saya minta satu permintaan?"
"Hah?"
"Saya minta satu permintaan," ulang Reynand, yang kali ini sambil tersenyum.
"Apa?"
Serius, jantungku rasanya seperti mau loncat dari tempatnya. Terdengar lebay sih, memang. Tapi serius aku deg-degan parah kali ini. Padahal dulu pas Kenzo nembak aku, aku biasa aja tuh. Nggak deg-degan sama sekali. Eh, mati dong kalau nggak deg-degan. Maksudku ya, deg-degan, tapi berdetaknya normal.
"Tolong jaga kesehatan kamu ya, Aqilla. Cepat sembuh dan jangan sakit lagi. Saya tidak mau wanita yang saya cintai sakit semua, cukup Bunda saja. Kamu jangan."
Aku melongo. Dia barusan ngegombal atau apa? Astaga. Satu permintaan katanya, aku tidak yakin. Minta aku jaga kesehatan, nyuruh biar aku cepet sembuh dan ngelarang aku agar tidak sakit. Itu tiga loh, bukan satu.
Aku meringis kemudian mengangguk canggung. "Kamu juga jangan lupa tidur. Sepertinya kamu sangat kekurangan tidur."
Aku sudah deg-degan setengah ******, eh dia cuma ngomong begituan.
Reynand tersenyum sambil mengangguk.
Tak berapa lama, namaku dipanggil. Aku langsung beranjak berdiri dan berpamitan dengannya.
****
"Widihhh, perasaan mukanya cerahan. Abis ketemu dokter ganteng, Mbak?" sambut Sandra saat aku memasuki mobil.
Secara reflek aku memegang pipiku. Ah, masa iya mukaku yang tadi katanya pucet langsung segeran cuma gara-gara ketemu Reynand.
"Eh, bukan deh kayaknya. Abis dapet yang baru ini pasti," goda Sandra sambil menusuk-nusuk lenganku.
Aku mendengkus. "Apaan sih? Udah jalan!" gertakku, sambil memasang sabuk pengaman.
Sandra cemberut. "Iiih, pelit banget," gerutunya kemudian.
"Oh, pelit. Berarti bonus nggak usah cair, ya?" godaku jahil.
Sandra langsung menegakkan tubuhnya sambil menggeleng tegas.
"Astagfirullah, Mbak! Cuma bercanda kenapa bawa-bawa gaji?" gerutu Sandra kesal.
"Makanya, buruan nyalain mobil terus pulang," decakku jengkel.
Bibir Sandra langsung manyun, namun tetap menuruti perintahku. Menyalakan mesin mobil dan membawanya keluar dari area rumah sakit.
*****
Aku melenguh panjang saat mendengar suara dering ponselku berbunyi. Sambil mengacak rambutku secara asal-asalan aku bangun, mengumpulkan nyawa dan meraih ponselku yang ada di atas meja rias, samping ranjangku. Suara dering ponsel itu sudah mati saat aku menyentuhnya. Ada 3 panggilan suara tak terjawab. Aku tidak langsung membukanya, sudut bibirku tiba-tiba tersenyum.
Mungkin Reynand yang menelfonku, karena tadi siang kami sempat bertemu. Ah, sayang sekali. Desahku kecewa. Tak berapa lama ponselku kembali berdering. Aku tersentak kaget sampai menjatuhkan ponselku, yang untungnya masih jatuh di pangkuanku. Aku menghela nafas lega, kemudian mengangkat ponselku dan mengitip siapa si penelfon.
Sepertinya, aku tidak seberuntung itu sampai harus mendapatkan nama Reynand tertampang di layar ponselku. Dengan sedikit tidak rela, karena kecewa aku menggeser tombol hijau sebelum menempelkannya pada telingaku.
"Ya, hallo, Ken. Assalamualikum," sapaku begitu sambungan terhubung.
Ya, yang menelfonku saat ini ternyata Kenzo, mantan pacarku. Jujur aku cukup merasa bersalah karena kecewa mendapat telfon darinya. Maafkan aku mantan pacar!
"Ya. Wallaikumsalam. Kamu ke mana aja, La, kok susah banget ditelfon. Aku khawatir. Jangan mentang-mentang kita udah putus kamu jadi nggak mau angkat telfon dariku."
Aku tertawa kecil, meski sebenarnya aku ingin ketawa ngakak. Saat mendengar gerutuannya. Fix. Kalau boleh aku tebak, pasti Sandra kasih tahu kalau aku sedang sakit.
"Malah ketawa. Aku denger dari Sandra kamu sakit, terus tadi sampai masuk UGD, bener?"
Tuh, kan!
Emang dasar ya, si Sandra itu. Tukang ngadu. Mana ngarang bebas gitu lagi.
"Apaan sih, Ken. Nggak usah lebay deh. Aku tadi nggak angkat telfon kamu itu gara-garanya tidur dan ini baru bangun, itu pun gara-gara kamu telfon. Nggak ada hubungannya sama status kita yang udah jadi mantan. Lagian aku nggak sampai masuk UGD segala, aku periksa sendiri di poli klinik umum. Ngurus admimistrasi sama obat juga sendiri, Sandra nggak nemenin. Itu kamu dikibulin sama Sandra."
Kenzo tertawa. "Maaf, aku lupa kalau kita sudah putus," candanya di sela tawanya.
Aku mendengkus. "Cerita apa aja si Sandra?"
"Enggak banyak kok. Bilang kamu sakit trs masuk RS, terus..."
"Terus?" desakku tak sabaran.
"Katanya kamu sakit gara-gara aku putusin. Ya, aku tahu yang itu nggak mungkin sih. Jadi, kamu sakit apa?"
"Masuk angin biasa kok," jawabku singkat.
Dapat kudengar di seberang Kenzo sedang berdecak. "La, mentang-mentang kita putus bukan berarti hubungan pertemanan kita ikut putus kan? Aku serius nanya ini, kamu sakit apa? Aku nggak lagi modusin kamu biar mau balikan sama aku. Kamu tenang aja, aku beneran cuma pengen tahu keadaan kamu. Sebagai 'teman'. Teman, La."
Aku tersenyum miris mendengar penekanan kata teman yang Kenzo ucapkan.
"Hallo, La, kamu masih di sana?"
Aku mengangguk meski tau Kenzo tak bisa melihatku. "Ya, aku masih di sini."
Helaan nafas putus asa mulai terdengar. "Kamu masih nganggep aku temankan?"
"Tentu, Ken. Bahkan kamu nggak cuma teman untukku, aku nganggep kamu lebih dari itu."
"Kamu nganggep aku temen lebih? Kamu mau baperin aku, La? Pengen aku gagal move on nih ceritanya?"
"Eh? Enggak, enggak gitu, Ken. Astaga!"
Di seberang terdengar suara Kenzo tertawa. "Iya, iya, aku cuma bercanda kok. Jadi gimana sekarang keadaan kamu?"
"Sudah lebih baik."
"Bener?"
"Iya, Ken. Astaga! Serius aku udah segeran kok, ya, meski masih agak pusing dikit, tapi ya, wajar kan. Namanya juga aku minumnya obat, bukan ramuan sihir."
Terdengar suara Kenzo yang kembali tertawa. "Ya, oke, oke. Kayaknya aku udah agak percaya sekarang. Ya udah, kalau gitu selamat beristirahat kembali. Cepat sembuh dan kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk hubungi aku. Oke?"
"Iya. Beres."
"Oke. Aku tutup. Assalamualaikum!"
"Ya, wallaikumsalam."
Aku menghela nafas setelah menutup sambungan telfon dari Kenzo. Benar, sesuai dugaanku di awal, kalau si penelfon yang tidak sempat aku angkat tadi adalah Kenzo. Astaga, apa yang aku harapkan?
Reynand menelfonku?
Mimpi saja kau, Aqilla!
Tbc,
sayangnya baru nemu di penghujung tahun ini..
gemes banget sama Qila.cowok sebaik sesabar itu kok ditolak nikah.
Kenzo juga,kayak nggak ada cewek lain aja yg mau dinikahin
Di profil ya namanya?
atau apalah namanya🤔pokoknya intinya tau novel ini karena liat mom Shanti yg promosiin.
maciw mom Shanti