Di alam semesta, eksistensi terbagi menjadi tiga: Alam Langit (Tempat para Dewa), Alam Manusia, dan Alam Bawah (Tempat Iblis dan Roh). Selama jutaan tahun, ketiga alam ini dipisahkan oleh segel kuno yang kini mulai retak.
Jiangzhu, seorang yatim piatu di desa kecil Alam Manusia, lahir dengan "Nadi Spiritual yang Lumpuh". Namun, ia tidak tahu bahwa di dalam jiwanya tersimpan Segel Tiga Dunia, artefak yang mampu menyerap energi dari ketiga alam sekaligus. Ketika desanya dihancurkan oleh sekte jahat yang mencari artefak tersebut, Jiangzhu bangkit dari kematian dan memulai perjalanan untuk menaklukkan langit, menguasai bumi, dan memimpin neraka. Ia bukan sekadar penguasa; ia adalah jembatan—atau penghancur—tiga dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Sisa-Sisa Kemanusiaan di Balik Sisik
Kesadaran Jiangzhu datang seperti hantaman ombak yang dipenuhi pecahan kaca. Hal pertama yang ia rasakan bukanlah cahaya, melainkan rasa haus yang begitu hebat hingga kerongkongannya terasa seperti terbakar bara api. Ia mencoba menggerakkan jari-jarinya, namun yang ia dengar adalah bunyi gesekan logam yang kaku.
Srak... srak...
Jiangzhu membuka matanya dengan susah payah. Pandangannya tidak lagi normal; mata kirinya kini melihat dunia dalam spektrum merah darah, menangkap aliran energi panas dari makhluk hidup di sekitarnya. Ia menatap lengan kirinya yang tergeletak di atas tikus hutan yang malang lengan itu kini tidak lagi menyerupai anggota tubuh manusia. Sisik hitamnya lebih kasar, taji-taji tulang menonjol di sepanjang siku, dan kuku-kukunya masih menyisakan kerak darah kering dari pertempuran konvoi semalam.
"Kau sudah bangun?" suara Yue terdengar dari arah pintu gua yang disamarkan oleh akar pohon.
Wanita itu mendekat dengan langkah ragu. Ada ketakutan yang tidak bisa ia sembunyikan di matanya, meskipun ia mencoba bersikap profesional sebagai seorang pembunuh dari Bayangan Senja. Di tangannya, ia memegang mangkuk berisi air dan sepotong kain bersih.
"Berapa lama aku pingsan?" tanya Jiangzhu. Suaranya bukan lagi suaranya yang dulu. Ada nada ganda yang berat, seolah-olah Li'er sedang berbicara melalui kerongkongannya.
"Dua hari," jawab Yue pendek. "Racun hukuman langit yang kau serap dari ibumu bereaksi dengan esensi Iblis yang kau hisap dari ksatria cahaya. Jika bukan karena Awan yang terus-menerus menyalurkan energinya, kau mungkin sudah meledak menjadi kabut ungu."
Jiangzhu menoleh ke sudut gua. Di sana, Awan tertidur lelap dengan wajah yang sangat pucat. Gadis kecil itu tampak kelelahan, napasnya pendek dan cepat. Di sampingnya, Dewi Ling'er duduk bersila, wajahnya sudah jauh lebih segar setelah meminum Pil Embun Surga hasil rampasan semalam.
"Zhu-er..." Ling'er mendekat, namun ia berhenti dua langkah dari ranjang batu Jiangzhu. Matanya yang jernih menatap lengan hitam putranya dengan kesedihan yang tak tertahankan. "Apa yang telah kau lakukan pada dirimu sendiri?"
Jiangzhu menarik lengannya, menyembunyikannya di bawah kain kumal yang menjadi selimutnya. Ia merasa kotor. Ia merasa seperti monster yang baru saja masuk ke dalam kuil suci.
"Aku melakukan apa yang perlu dilakukan agar Ibu tetap hidup," jawab Jiangzhu pahit. "Jangan menatapku seperti itu. Aku lebih suka Ibu membenciku daripada mengasihaniku."
"Ibu tidak pernah bisa membencimu, Nak," Ling'er berlutut, mencoba meraih tangan kanan Jiangzhu yang masih normal. "Tapi kekuatan ini... dia memakan jiwamu. Kau tidak menyadarinya, tapi setiap kali kau menggunakan lengan itu, Jiangzhu yang kukenal sedikit demi sedikit menghilang."
Bocah, ibumu benar, suara Penatua Mo merayap di benak Jiangzhu. Nadi spiritualmu kini bukan lagi jalur energi, melainkan jalur pembusukan. Jika kau tidak menemukan 'Jantung Es Abadi' di wilayah utara untuk menekan panas Iblis ini, dalam tiga bulan kau akan kehilangan kesadaran manusiamu sepenuhnya.
Jiangzhu mengabaikan Mo. Ia memaksakan dirinya untuk berdiri. Setiap sendinya berderak, mengeluarkan bunyi yang menyakitkan. Ia berjalan menuju mulut gua, menatap ke arah Hutan Mati yang kini diselimuti kabut kelabu.
"Yue, apa yang terjadi dengan Baron Tua?"
"Dia melarikan diri ke perbatasan dengan emasnya. Tapi dia meninggalkan pesan," Yue memberikan selembar kertas kulit yang berlumuran lumpur. "Dia bilang, Sekte Cahaya Suci telah mengeluarkan 'Perintah Perburuan Darah'. Kepalamu kini dihargai sepuluh ribu keping emas dan posisi sebagai Penatua Luar sekte bagi siapa pun yang bisa membawanya hidup atau mati."
Jiangzhu menyeringai, sebuah seringai yang memperlihatkan taringnya yang tajam. "Sepuluh ribu emas? Mereka terlalu pelit untuk kepalaku."
Tiba-tiba, telinga Jiangzhu bergetar. Ia mendengar sesuatu yang sangat halus dari kejauhan suara kepakan sayap mekanik. Ia menatap ke langit. Sebuah burung perkutut logam kecil dengan mata permata merah sedang berputar-putar di atas hutan.
"Burung Pengintai..." desis Yue. "Mereka sudah menemukan lokasi umum kita!"
"Bawa Ibu dan Awan lewat terowongan belakang. Sekarang!" perintah Jiangzhu.
"Lalu kau?"
"Aku akan memberikan mereka alasan kenapa kepalaku dihargai begitu mahal," Jiangzhu menghunus pedang hitamnya. Bilahnya kini memiliki urat merah yang berdenyut, seolah-olah pedang itu juga ikut bermutasi bersama lengannya.
Ia melangkah keluar dari gua. Udara Hutan Mati yang asam terasa segar bagi paru-parunya yang kini haus akan konflik. Di depannya, dari balik kabut, muncul lima sosok berjubah perak yang membawa busur silang mekanik. Mereka adalah Pemburu Bayangan dari Sekte Cahaya Suci, unit khusus yang dilatih untuk menghabisi pelarian di medan sulit.
"Target ditemukan. Eksekusi atau tangkap?" salah satu pemburu bertanya melalui perangkat komunikasi di pundaknya.
"Eksekusi. Dia terlalu berbahaya untuk dibiarkan hidup," sebuah suara dingin menjawab dari kejauhan.
Jiangzhu menarik kain penutup lengannya. Lengan hitamnya berkilat di bawah cahaya redup hutan. Ia merasakan kemarahan yang dingin mulai membeku di ulu hatinya, mengusir rasa sakit dan kelelahan.
"Kalian datang di waktu yang salah," gumam Jiangzhu.
Ia tidak lagi lari. Ia justru menerjang ke arah mereka. Gerakannya bukan lagi gerakan manusia, melainkan lompatan predator yang lapar. Dengan satu ayunan lengan kirinya, ia menciptakan gelombang udara yang begitu tajam hingga memotong dahan-dahan pohon di sekitarnya.
Pertempuran di Hutan Mati kembali pecah. Bukan sebagai pelarian yang terpojok, melainkan sebagai monster yang sedang mempertahankan wilayahnya. Jiangzhu menyadari satu hal: di dunia ini, kau tidak bisa memiliki cinta dan kekuatan sekaligus. Dan dia telah memilih kekuatannya agar cinta yang ia miliki bisa tetap bernapas.
Jiangzhu mencengkeram dadanya yang terasa seperti dihantam palu godam setiap kali ia mencoba menarik napas. Udara di dalam gua yang tadinya dingin kini tercemar oleh bau belerang dan uap panas yang menguar dari pori-pori lengan kirinya. Ia bisa merasakan darah hitamnya sendiri mulai mengental di bulu matanya, membuat pandangannya sedikit merah dan buram seolah ia melihat dunia melalui lapisan tipis kematian yang tak kunjung hilang. Setiap kali ia menggerakkan jemarinya yang kini lebih mirip cakar, suara gemeretak dari balik sisik hitam itu terdengar seperti tulang yang sedang digiling perlahan oleh roda gigi raksasa yang berkarat.
"Berhenti menatapku seolah aku adalah barang pecah belah yang gagal, Yue," desis Jiangzhu, suaranya parau dan mengandung nada ganda yang menjijikkan suara kemanusiaannya yang serak bertarung dengan geraman Li’er yang tak henti-hentinya menuntut darah segar. Ia mencoba mengepalkan tangan kirinya yang kini memiliki taji-taji tajam di bagian siku, namun yang ia dapatkan hanyalah bunyi gemeretak logam yang memuakkan dari sendi-sendinya yang telah berubah menjadi senjata biologis.
Yue tidak menjawab, namun ia memalingkan wajahnya, menyembunyikan getaran di tangannya saat ia melihat bekas luka di leher Jiangzhu yang mulai ditumbuhi sisik halus. Di bawah cahaya remang gua, lengan kiri Jiangzhu tampak berdenyut urat-urat ungu di balik sisik hitam itu bergerak-gerak seperti parasit yang sedang berpesta pora di atas daging inangnya. Jiangzhu bisa merasakan kesadarannya sendiri mulai menipis, digantikan oleh rasa lapar yang asing, sebuah dorongan primitif untuk kembali keluar dan merobek leher para pemburu yang sedang mengintai di luar.
Bocah, jangan biarkan kebencian itu meracuni jiwamu lebih dalam, bisik Penatua Mo, suaranya kini terdengar sangat letih, seolah ia baru saja ikut menanggung beban fisik Jiangzhu yang hancur. Kau baru saja menelan kekuatan yang melampaui batas kewajaran manusia. Jika kau tidak segera menekan insting itu, fajar besok tidak akan melihat Jiangzhu, melainkan melihat iblis yang mengenakan kulitmu sebagai topeng.
Jiangzhu memejamkan mata, mencoba membayangkan wajah ibunya agar tetap waras, namun yang muncul hanyalah gambaran darah yang memercik di atas pasir abu-abu. Ia mencengkeram tangan kanannya yang masih normal hingga kukunya menusuk telapak tangan, mencoba merasakan sisa rasa sakit manusia sebagai jangkar terakhirnya. Di atas tanah hutan yang berlumuran sisa pertempuran ini, Jiangzhu menyadari satu hal yang pahit: ia telah menjadi pelindung bagi keluarganya, namun ia melakukannya dengan menjadi hantu yang paling mereka takuti.