NovelToon NovelToon
HATI YANG DITULIS DENDAM & CINTA

HATI YANG DITULIS DENDAM & CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Ketika usia tujuh tahun, Qinara kehilangan segalanya. Ayahnya, pengusaha pertambangan yang penuh cinta, meninggal dalam kecelakaan yang mencurigakan. Tak lama setelah itu, ibunya yang sudah lama dia curigai berselingkuh, dengan terang-terangan membawa pria cinta pertamanya dan anak hasil hubungan lama ke rumah—dan menguasai semua harta ayahnya.

Perlakuan tidak adil menjadi bagian sehari-hari. Ibunya lebih membela anak tiri daripada dia, dan ketika Qinara mencoba membicarakan kecurigaan bahwa ayahnya dibunuh, dia diusir dengan kasar. Hanya membawa pakaian di tubuh dan kotak kecil yang diberikan ayahnya, dia meninggalkan rumah dengan hati hancur dan janji terukir dalam benak: aku akan mengambil kembali hak ayah dan aku.

Melalui perjalanan yang penuh kesusahan, Qinara bertahan di panti asuhan, menemukan bakatnya di bidang hukum, dan berjuang untuk pendidikan. Setiap langkahnya dipacu oleh dendam—butuh waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan bukti, menghadapi ancaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BUKTI YANG TERSEMBUNYI

Mentari pagi menyinari jendela kamar kecil Qinara, menerangi surat wasiat yang dia pegang di tangan. Sudah seminggu sejak dia menemukan surat ayahnya, dan setiap malam dia membacanya berulang-ulang, seolah kata-katanya bisa memberinya kekuatan tambahan. Hari ini, dia akan melakukan hal pertama yang dia rencanakan: mencari lebih banyak bukti tentang kematian ayahnya.

Dia bangun dengan hati-hati, takut mengganggu ibunya dan Arman yang masih tidur. Mereka telah tinggal di rumah selama seminggu, dan kehidupan Qinara semakin menyakitkan. Arman selalu menemukan alasan untuk memarahi dia—entah karena dia makan terlalu banyak, terlalu banyak bicara, atau hanya karena dia ada di sana. Rizky juga sering mengganggunya, mencuri mainan-mainan yang tersisa dari ayahnya dan memecahkannya.

Qinara menggosok giginya dan membasuh wajahnya dengan air dingin. Dia mengenakan baju yang paling tidak mencolok—kemeja abu-abu dan celana panjang hitam. Dia ingin keluar rumah tanpa disadari oleh ibunya dan Arman. Pak Santoso, sopir ayahnya, telah menjanjikan untuk membantunya. "Nak, ayahmu adalah sahabatku. Aku akan membantu kamu apa yang bisa, selama kamu berhati-hati," katanya semalam ketika dia bertemu dia di garasi.

Dia keluar dari kamar dan menyelinap ke lantai dasar. Dapur masih sunyi—ibunya dan Arman biasanya bangun larut pagi. Dia pergi ke garasi dan melihat Pak Santoso sedang membersihkan mobil ayahnya. Pak Santoso melihatnya dan menyenyum lemah. "Siap, Nak? Kita harus cepat," bisiknya.

Qinara mengangguk. "Aku siap, Pak. Terima kasih sudah mau membantu."

Mereka naik mobil dan pergi dari rumah. Pak Santoso mengemudi dengan perlahan, menghindari jalan yang ramai. "Kamu ingin pergi kemana, Nak?" tanya dia.

"Ke lokasi kecelakaan ayahmu, Pak. Aku ingin melihatnya sendiri," jawab Qinara.

Pak Santoso mengangguk dengan wajah serius. "Baiklah, Nak. Tapi kita harus berhati-hati. Tempat itu jauh di luar kota, dan kita tidak boleh terlalu lama di sana."

Perjalanan ke lokasi kecelakaan di jalan raya Jakarta-Bandung terasa begitu panjang. Qinara melihat pemandangan luar jendela dengan mata yang penuh rasa ingin tahu. Dia memikirkan bagaimana ayahnya bisa mengalami kecelakaan di jalan yang dia lewati setiap hari untuk bekerja. Pak Santoso pernah mengatakan bahwa mobil ayahnya hancur berkeping-keping, dan truk yang menabraknya telah hilang tanpa jejak.

"Pak, apa yang sebenarnya terjadi pada hari itu?" tanya Qinara dengan suara lirih.

Pak Santoso menghela napas. "Aku tidak tahu, Nak. Aku hanya tahu bahwa ayahmu keluar rumah pukul enam pagi. Jam sembilan, aku mendapatkan telepon dari polisi mengatakan bahwa dia mengalami kecelakaan. Ketika aku tiba di tempat kejadian, mobilnya sudah hancur, dan ayahmu sudah tidak ada lagi."

"Apakah polisi menemukan siapa yang mengemudi truk?"

"Belum, Nak. Truk itu tidak memiliki nomor plat yang jelas, dan tidak ada saksi yang melihat apa yang terjadi. Polisi katakan itu kecelakaan akibat kesalahan pengemudi, tapi aku juga curiga. Ayahmu adalah pengemudi yang sangat hati-hati."

Qinara mengangguk. Ini semakin memperkuat kecurigaan dia bahwa kematian ayahnya bukanlah kebetulan.

Ketika tiba di lokasi kecelakaan, Qinara terkejut melihat bahwa tempat itu sudah kembali normal. Jalan raya ramai dengan mobil yang lewat, dan tidak ada tanda-tanda kecelakaan yang pernah terjadi di sana. Dia turun dari mobil dan berjalan ke tepi jalan, memandang sekelilingnya.

Ada semacam rasa yang tidak jelas di hatinya—seolah ayahnya masih ada di sana, menunggu dia. Dia berjalan ke sisi jalan yang dimana mobil ayahnya tertabrak, dan melihat sepotong logam kecil yang tergeletak di semak. Dia membawanya dan melihat bahwa itu adalah bagian dari lampu depan mobil ayahnya.

Dia menyimpan sepotong logam itu di tasnya. Ini adalah bukti kecil, tapi itu sesuatu. Dia terus mencari dan menemukan lagi beberapa potongan kecil dari mobil ayahnya—sepotong kaca, sepotong plastik, dan sepotong logam yang memiliki tulisan "Hadian" di atasnya.

Tiba-tiba, dia melihat seorang pria tua berdiri di kejauhan, memandangnya. Pria itu mengenakan baju kerja dan topi, seolah dia bekerja di sekitar sana. Qinara mendekatinya dengan hati-hati. "Pak, maaf mengganggu. Apakah Pak tahu apa yang terjadi di sini seminggu yang lalu? Ada kecelakaan mobil."

Pria itu mengangguk. "Ya, aku tahu. Aku melihatnya."

Qinara merasa jantungnya berdebar kencang. "Pak melihat apa yang terjadi?"

Pria itu menghela napas. "Aku sedang bekerja di sawah di sana, di balik tebing. Aku melihat mobil hitam sedang mengemudi dengan cepat. Tiba-tiba, truk besar keluar dari jalan buntu dan menabraknya dengan keras. Mobil hitam terbalik dan terjatuh ke tebing. Truk itu berhenti sebentar, lalu melarikan diri."

"Apakah Pak melihat siapa yang mengemudi truk?" tanya Qinara dengan harapan.

"Tidak, tapi aku melihat bahwa pengemudi truk itu laki-laki, berambut hitam dan tinggi. Dan ada seorang wanita di dalam truk itu, dengan rambut pirang."

Qinara merasa darahnya beku. Laki-laki tinggi berambut hitam—itu Arman. Wanita dengan rambut pirang—itu siapa? Mungkin teman Arman? Atau ada orang lain yang terlibat?

"Apakah Pak sudah memberitahu ini ke polisi?"

"Sudah, tapi mereka tidak memperdulikan aku. Mereka bilang aku orang tua yang lupa. Tapi aku yakin apa yang aku lihat adalah benar."

Qinara mengucapkan terima kasih kepada pria itu. Ini adalah bukti yang besar—ada saksi yang melihat bahwa kecelakaan itu disengaja. Dia menuliskan nama dan nomor telepon pria itu, Pak Slamet, di buku catatan kecil yang dia bawa.

Mereka kembali ke mobil dan pulang ke Jakarta. Qinara merasa lega dan semangat. Dia telah menemukan saksi, dan itu berarti dia tidak sendirian dalam perjuangannya.

Ketika tiba di rumah, mereka melihat ibunya dan Arman berdiri di depan pintu, wajah mereka marah membara. "Kamu ke mana saja, Qinara? Kamu membuat kita khawatir!" teriak Bu Laras.

"Aku hanya keluar berjalan-jalan dengan Pak Santoso," jawab Qinara dengan tenang.

Arman mendekati mereka dengan tatapan kejam. "Berjalan-jalan? Di pagi hari? Jangan bohong! Aku tahu kamu sedang mencari sesuatu. Apa yang kamu cari?"

Qinara merasa takut, tapi dia tetap tegas. "Aku tidak mencari apa-apa. Aku hanya ingin keluar rumah sebentar."

Arman menangkap lengan dia dengan kasar. "Jangan bohong padaku! Jika kamu tidak mau memberitahu aku, aku akan menyakitimu!"

Tiba-tiba, Pak Santoso berdiri di depan Arman. "Jangan sentuh dia! Dia hanya anak kecil!" katanya dengan suara tegas.

Arman melihat Pak Santoso dengan marah. "Ini urusan keluarga kita! Jangan campur tangan!"

"Qinara adalah anak Hadian, dan Hadian adalah sahabatku. Aku akan melindunginya apa yang bisa!"

Arman ingin menyerang Pak Santoso, tapi Bu Laras menarik lengan dia. "Cukup, Arman. Jangan buat kerusuhan. Kita akan menangani dia nanti."

Arman melepaskan tangannya dari Qinara dan pergi ke dalam rumah. Bu Laras melihat Qinara dengan mata yang kejam. "Kamu akan membayar untuk ini, Qinara. Aku akan membuatmu menyesal telah mengkhianati aku."

Qinara mengangguk, tapi dia tidak takut. Dia telah menemukan bukti yang dia butuhkan, dan dia akan terus mencari lebih banyak. Dia tahu bahwa perjuangannya sulit, tapi dia juga tahu bahwa ayahnya selalu menyertainya.

Malam itu, Qinara menyimpan bukti-buktilah di dalam kotak pemberian ayahnya—sepotong logam dari mobil ayahnya, nomor telepon Pak Slamet, dan surat wasiat. Dia membaca surat ayahnya lagi dan berdoa. "Ayah, aku sudah menemukan saksi. Aku akan membuat orang-orang yang bersalah membayar. Jangan khawatir, aku akan kuat."

Di ruang tamu, Arman dan Bu Laras sedang berbicara dengan suara rendah. "Kita harus menangkap dia sebelum dia menemukan lebih banyak bukti," kata Arman.

"Bagaimana? Dia selalu bersama Pak Santoso," jawab Bu Laras.

"Aku akan menangani Pak Santoso. Dia tidak akan membahayakan kita lagi. Dan untuk Qinara... kita akan mengusirkannya dari rumah. Dia tidak akan mendapatkan apa-apa dari kita."

Qinara mendengar semua itu, tapi dia tidak takut. Dia tahu bahwa mereka akan mencoba menyakitinya, tapi dia telah siap. Dia adalah anak yang kuat, dan dia akan melindungi warisan ayahnya dengan sekuat tenaga.

Mentari esok akan muncul, dan dengan itu, tantangan baru yang harus dia hadapi. Tapi Qinara tidak takut. Dia telah menemukan jalan yang benar, dan dia akan terus melangkah maju, tidak peduli apa yang akan terjadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!