Novel mau bahagia denganku? sayang? Izin masuk ya, hallo kembali ke apel cantik!
Ayahnya berinvestasi hingga berhutang sampai 10 milliar, karena tak sanggup membayar pria itu malah menjual Aluna ke anak buah penagih hutang. Malam harinya pintu tanpa diketok, masuk nyelonong begitu saja, seorang pria melemparkan koper didepan meja yang berisi uang 10 milliar.
Kontrak pernikahan tak boleh dilanggar.
1. Tak ada kontak fisik
2. Dilarang jatuh cinta
3. Dilarang mengintip kehidupan pribadi masing-masing.
Durasi kontrak: 1 Tahun
Setelah masa kontrak selesai akan dibayar 1 Triliun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apelcantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Dijual oleh ayah sendiri
HAPPY READING!!
😍🤏🥺
"Aluna! Cepat layani pelanggan! Jangan malas-malasan!! " seru seniornya yang lebih tua darinya dibelakang dapur, wanita cantik dengan ikat kuda dibelakang rambutnya segera menutup rak kasir setelah menghitung uang siang ini. Ia segera melangkah secepatnya sambil membawa buku menu ditangan kanannya.
Ia menundukan bahu sopan didepan seorang vlogger cantik yang asyik memotret dirinya sendiri. "oh akhirnya datang juga, i need special menu—do you know? " tanya wanita vlogger itu, dengan lembut Aluna menyarankan menu yang akhir-akhir ini digemari beberapa orang yang mengeluarkan banyak uang.
"Saya menyarankan menu truffle pasta, "
"Oke, akan aku coba. "
Aluna menundukkan kepala kembali, dan berjalan ke belakang kafe. Setelah menekan bel di jendela dapur, akhirnya Aluna bisa meregangkan kepalanya setelah larut dalam pekerjaan.
Ia dipanggil seniornya lagi, namun kali ini ia diberitahu akan sesuatu yang mengejutkan hatinya.
"Gajimu bakal dipotong. " tiga kata terpatri dari bibir seniornya, jantung Aluna langsung berdebar kencang—jelas ia menutup kedua mata merasa kerja kerasnya selama ini selalu saja sia-sia.
Dibalik meja dirinya melihat ke rekening bank miliknya, ia mendesah berat kala dirinya tak menemukan uang lebih dari 5 juta untuk mencukupi kehidupannya. 'Ya Tuhan... Apa kesalahanku hingga gaji harus dipotong tanpa alasan yang jelas... Kalau aku resign, malah tambah sulit diriku untuk mendapatkan kerja lagi. ' pikirnya cemberut.
Pintu dibelakang punggung Aluna diketok seseorang, ia menampakkan wajahnya dan memanggil dirinya untuk pergi kebelakang kafe.
"Kenapa? " tanya Aluna pada teman karyawannya. Si karyawan tak menjawab, menggeretnya jauh dari keberadaan kafe. Temannya menunjuk seseorang yang menunggu di tengah tiang listrik, Aluna menyipitkan mata—ia sadar bahwa itu adalah ayahnya.
Rasa curiga dan tak enak dada langsung menyeruak dalam hatinya. Ia berterimakasih pada orang itu karena telah membawanya kemari, dia pergi ke ayahnya yang merokok sendirian.
"Kenapa Ayah? Apa ayah tak tau kalau di rumah aku sudah buatkan sarapan? "
Ayahnya tak menjawab sama sekali, justru pria itu fokus mengepulkan asap rokok. "Cepat izin pulang sana Aluna, "
Keheranan langsung ia rasakan, saat ingin bertanya dirinya gengsi—seperti anak penurut pada umumnya ia mengikuti apa yang dikatakan sang ayah.
...****************...
Aluna kini bergidik ngeri melihat sekelompok pria berjas hitam ada didepan rumah wanita itu, ia meneguk ludah—tidak mengetahui kenapa banyak sekali para pria tak dikenal dengan berbagai macam ciri wajah berada didepan gerbangnya, ia sendiri sudah berkeringat basah saat salah satu mata tak sengaja menatap Aluna.
Ia berbisik kecil dari belakang telinga ayahnya, "mereka siapa ayah? Apa kenalan ayah kebetulan datang kesini? " saat ditanyai pria itu malah kembali merokok, setelah rokoknya habis akhirnya pria itu menginjak rokoknya sendiri sampai membaur dengan tanah.
Ayahnya menatap kebelakang, memegang kedua pundak sang anak dengan tatapan tak dapat putrinya sangka. "Aluna, dengar ini. Setelah ini kau harus menerima semuanya, apapun yang akan menimpamu—kau harus ikhlas... "
Dirinya langsung terdiam, tak berkata apa-apa. Anaknya menunggu apa yang coba pria itu ingin sampaikan, akhirnya tersampaikan juga—dengan satu tarikan nafas barulah ayahnya berkata sejujurnya.
"Sebenarnya ayah... "
"Ayah... Kenapa? "
"Ayah, berhutang dan kalah judi. "
"Aku sudah tau. " jawab anaknya, tanpa ia terkejut sama sekali. Dari dulu ayahnya tak pernah berubah, selalu sama aja.
Ayahnya geleng kepala, menatap tajam. "Tapi ini berbeda Aluna! Ayah berinvestasi dan berhutang 10 milliar! Itu tak membawa hasil sama sekali padaku!!! "
Mendengar jumlah uang yang sangat banyak, kini barulah Aluna langsung tertekan. Matanya menatap wajah ayahnya mengira kalau pria itu bercanda, namun selanjutnya salah satu pria berjas hitam itu menghampiri.
"Jadi itu anakmu pak Kel? "
Ayah Aluna sering dipanggil Keldo, setelah namanya disebut dia menggosok kedua tangannya sambil nyengar-nyengir gak jelas. "Eh pak Don, iya Pak... Bagaimana cantik kan? Kalau dijual pasti sangat mahal! Untung besar deh pokoknya! "
"Iya kau betul juga pak Kel. "
Aluna bergidik ngeri, bulu kuduknya meremang semua. Apa yang dimaksud mereka berdua? Siapa yang akan dijual?
"Pak Kel, pastikan anakmu masih perawan dan tidak ada kerusakan sama sekali didalam. Kau mengerti? "
"Saya mengerti pak Don!! "
Aluna geleng kepala, dia memegang tangan ayahnya—berharap apa yang dia dengar tidak jadi nyata. "Ayah! Ayah! Kamu bercanda kan, siapa yang mau ayah jual? Bu—bukan aku kan? "
Plak!
"Dasar anak bodoh! Diam saja kau kalau tak bisa mengurusnya, ini demi kekayaan keluarga kita. Sekali-kali, korbankan dirimu!! " seru Keldo.
...****************...
"Kau harus menikah Arkan! Secepatnya!! " seru seorang pria sudah akan jatuh tempo masanya menunjuk-nunjuk cucunya, pria yang berdiri di ujung pot bunga matahari, tubuh tegap nan tingginya bahkan tak mampu membendung keegoisan sang kakek yang harus segera dituruti.
Arkan memejamkan mata, dia sedikit menolak. "Maafkan saya, tapi saya tidak bisa melakukannya... "
"KENAPA?! " kakek Seo langsung marah-marah, bahkan memecahkan gelas disampingnya.
Tak berhenti dari situ, kakek juga mengancamnya tidak akan mendapatkan bagian dari warisan—tentu saja segera kedua mata emas Arkan langsung melotot.
"Dalam 48 jam! Kau harus menikah! "
"48 jam?! Wah saya tak percaya harus dikawini secepat itu. " seru Arkan, dia geleng kepala sendiri.
Arkana Seo Dirgantara menerima profil seseorang yang akan dijadikan istrinya.
Dion sang asisten menunduk setelah memberikan ipad kepada pria itu. Sebelah alis tebal Arkan lantas terangkat, "Aluna... Siapa wanita ini?! "
Kakek sedikit terbatuk, maklum sudah tua. "Dia calon istrimu bodoh! "
"Hah?! "
"Masih belum jelas? Dia akan jadi istri kontrakmu, walau dia bukan dari keluarga terpandang—tetap sesuai kodrat, jaga dia. " ucap kakek Seo pelan.
****************
Air mata terus bercucuran tak berhenti dari sela kedua kelopak matanya. Ia menangis sendirian, tak ada orang yang tau bahwa sekarang dia sedang memendam hati yang akan susah dijemur dibawah terik panas matahari.
Wanita itu menatap sekitar, masih membekas air mata dikedua pipinya. Ia berdiri membuka daun pintu kayu agar kesedihannya tidak terlalu berlarut dalam. Matanya mengedip pelan kala melihat mobil mewah terparkir didepan rumahnya, 'apa mereka akan menjemputku malam ini? Untuk dijual? Secepat itu... Sial... Padahal aku masih ingin terus menangis, ' batinnya sakit sendiri.
Nampak seorang pria memakai black Executive Suit yang nampaknya brand termahal keluar dari mobil. Mata Aluna juga tak luput dari sepatu pentofel kulit hitam Oxford. Ia mengusap air matanya cepat, penasaran siapakah pria dengan rambut slick back natural itu?
'Malam hari pakai kacamata? ' pikir Aluna, dia pura-pura mengintip dari lubang pintu kayu.
Diluar suasana yang ramai oleh pesta kekanakan yang diawali oleh Keldo bersama para anak buah penagih hutan langsung mencekam tanpa sebab, aura kedatangan seorang pria misterius seolah lebih mendominasi daripada kehadiran mereka semua disini.
Melihat siapa yang ada dibalik kacamata, para penagih hutan langsung berdiri dan menundukkan tubuh mereka serentak. "Siapa kau! Berani sekali nyelonong masuk ke dalam!! "
"Bangke! Berani sekali, kau juga nunduk cepat!! " seru si anak buah disamping Keldo, memaksa kepalanya ikut tertunduk.
Arkan tanpa senyuman sama sekali tertampil diwajahnya, mengagetkan semua orang dengan koper terlempar disebelah kaleng bir. Mata mereka mencuri pandang, termasuk ayahnya Aluna yang kini tanpa izin langsung membuka koper hitam itu.
Matanya melotot lebar, "i—ini uang yang banyak sekali!!! Kau pasti orang kaya kan! " seru Keldo menunjuk tak sopan. Jari pria itu langsung dipelintir orang yang tepat di sampingnya, "sial! Jangan berani menunjuk! Kau mau hidupmu tamat hah?! "
Keldo merintih kesakitan, setelah dilepaskan pria itu meniup jarinya yang berubah keunguan.
"Dengan begini hutang 10 milliar lunas kan? " tanya Arkan dingin. Para penagih hutang angguk kepala, tanpa menghitung jumlah tunai uang di tangan mereka sama sekali malah langsung diterima.
Aluna yang mengintip disadari oleh pria itu, segera Arkan menghampiri dan membuka pintu kamar Aluna tanpa izin. "Dirimu... " ia menilai penampilan wanita itu dari atas sampai bawah, 'baju ketat murahan, logo giccu kw lalu... Sial, bahkan ingin sekali ku rombak dia agar lebih mengimbangi untuk berdiri disampingku. '
'Ini yang kakek sebut layak? ' batinnya sekali lagi.
Dengan cepat tangan Aluna dipegang tangannya, ia yang ditarik langsung melepaskan diri. "Si—siapa kamu?! Kenapa kamu mau membawaku?! "
"Jangan banyak tanya, bisa? "
"Hei Aluna! Anaknya pak Kel! Turuti saja pria itu! Kau mau mati dipenggal lehermu! " seru salah satu anak buah penagih hutang, ia merasa perkataannya sudah benar—namun bagi Arkan terasa sindiran, jelas langsung pria itu tatap orang yang berani membicarakannya dari belakang.
"Bicara lagi, atau kau yang malah ku penggal. "
"A—ampun!! "
Aluna meneguk ludah, semengerikan apa pria didepannya ini? Ia mendongak ke atas karena Arkan jauh lebih besar dari jalan masuk kamarnya.
"Aku tidak mau ikut kamu!—"
"Kenapa murahan? Kau jalang, tapi banyak sekali tingkah. " perkataan pedas pria itu langsung menembus dada sampai kulit belakang Aluna, ia mengedip mata tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Maaf, aku masih suci kalau kamu tau—"
Arkan mendekat tanpa sebab, mata lentiknya seolah menyatu dengan bulu mata wanita itu. Kedekatan keduanya serasa dianggap sedang ciuman oleh orang-orang dibelakang.
"Syukurlah kalau begitu, saya tak mau calon istriku adalah seorang pelacur. "
Tangan wanita itu dipegang, akan dibawa pergi. Aluna mencoba meminta tolong pada ayahnya, tapi pria itu seolah tak peduli dengan kepergian anaknya dan malah menyelamatkan telunjuknya dahulu.
"Ayah! Ayah! "
"AYAH!! "
"Kau—" Arkan terlalu ceroboh melepaskan genggaman yang dia kencangkan di pergelangan tangan wanita itu.
"Jangan mendekat!! Atau kalau tidak, kubunuh ayahmu ditempat! Kau mau?! "
"To—tolong lepaskan ayah ku... "
Walau ayahnya adalah orang brengsek dan lebih mementingkan dirinya sendiri, hanya dia lah satu-satunya anggota keluarga yang ia miliki disini. Para anak buah penagih hutang tak akan membiarkan uang di koper itu diambil kembali.
Arkan kesal, dia berdecak. Terpaksa pria itu sedikit berjongkok dan memanggul tubuh Aluna di atas bahunya. Aluna terkejut, ia malu mendapat perlakuan seperti ini. Ia minta diturunkan tapi tidak didengar sama sekali.
"Tolong lepaskan aku! Pria aneh—"
Brak!
Aluna dibanting begitu saja di dalam jok kulit premium tebal warna krem, mobil mewah Rolls-Royce atau Phantom/Ghost itu ditutup kasar. Sebelum Arkan masuk ke bagian sopir, ia menarik rambutnya sampai kebelakang saking lelahnya mengurus satu perempuan.
"Siapa kamu—lepaskan a—"
"DIAM! "
Kini wanita itu tak berisik lagi, telinga pria itu sedikit tenang sekarang—untuk sejenak dia menyalakan AC mobil dan mencoba tetap sabar.
Keduanya canggung selama perjalanan, Aluna membenarkan posisi duduknya. Ia lesu sendiri, melihat ekspresi wajahnya dari kaca spion—sungguh membuat Arkan tak tahan.
"Baca itu! "
Sebuah map cokelat terlempar kebelakang, walau Aluna tak bisa menangkap dengan sempurna ia tetap bersikap teguh. 'Apa ini... '
"Kontrak pernikahan? Se—sejak kapan? Apa ayah tau! "
Pertanyaannya sama sekali tak dijawab, kini matanya turun kebawah dengan poin-poin yang sangat singkat.
Kontrak pernikahan tak boleh dilanggar.
1. Tak ada kontak fisik
2. Dilarang jatuh cinta
3. Dilarang mengintip kehidupan pribadi masing-masing.
Durasi kontrak: 1 Tahun
Setelah masa kontrak selesai akan dibayar 1 Triliun.
Aluna membekap mulut tak percaya, ia menatap kembali belakang kepala pria itu berkali-kali—sebelum memastikan kebenarannya.
"Ini tidak adil... "
Mendengar kiriman kecil dari wanita itu, dia malah tertawa. "Tidak adil? Dimana poin ketidakadilan yang sudah kamu baca itu? Apa bayaran itu masih belum cukup untukmu? "
Ia terdiam, memejamkan mata erat. Ini bukanlah akhir yang ia mau, ia tak ingin menikah dengan pria didepannya—karena baginya menikah adalah suatu yang sangat sakral, dan tak boleh dipermainkan.
"Cepat tandatangani. "
Tanpa belas kasih pria itu melempar bolpoint kebelakang, matanya yang hampir mengenai ujung tumpul pulpen hanya mengelus matanya pelan.
"Apa yang kamu pikirkan? Cepat! "
"Kau mau hutang ayahmu menumpuk dan dia dibunuh oleh orang-orang tadi? "
"Kau mau itu terjadi? "
Aluna geleng kepala, tangannya yang gemetaran hampir saja tak berhasil menandatangani kontrak. Setelah selesai mencantumkan nama lengkapnya, ia menangis sambil menutup kedua matanya enggan.
Pasti Arkan tau kalau wanita itu menangis, umumnya sebagai seorang pria pasti akan menawarkan tisu—berbeda dengan orang ini yang malah mengejek.
"Dasar cengeng, dikit-dikit nangis. "
Bersambung...
Aluna Inatura Kaleo
Arkana Seo Dirgantara
All pics i take from pinterest 🙌😺