NovelToon NovelToon
Twins Revenge War

Twins Revenge War

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Supernatural / Balas Dendam / Anak Genius / Tamat
Popularitas:508.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nagi Sanzenin

Kaoru menghabiskan malam panas dengan CEO Organisasi tempat Sang Kakak menjualnya. Tanpa diduga peristiwa di malam tersebut memberikan Kaoru anak kembar yang sangat genius.

Sakaki Akira, CEO dingin dengan tatapan mata rajawali. Pria tampan yang menguasai alam semesta, menundukkan siapa saja yang berani menatapnya, menyibak habis semua status dan menjadikan mereka rakyat jelata.

Terjadi kesalahpahaman tentang peristiwa 8 tahun lalu diantara Si Kembar dan Sang Ayah...

Si kembar akan membalas dendam Kaoru. Hancurkan Organisasi Sakaki Akira, beri hukuman terberat pada Sang Kakak yang berani menjual ibu mereka.

Perang yang sebenarnya menanti, kita hidup dalam different world, tak ada yang tak mungkin dalam dunia Paralel. Petualangan balas dendam Twins menjadi kunci penghubung antar dunia.

Dimulailah perjalanan mereka melakukan pembalasan dan mencari kebenaran...


Novel ini adalah karya pertama dan masih dalam tahap pengembangan.

Genre: Action, Adventure, Comedy, Drama, Fantasy, Romance, School, Slice of Life, Thriller, Supernatural, Super power.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nagi Sanzenin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Keluarga Sakaki (Part 2)

"Jangan sembarangan menyentuh kami." Ucap Rei dengan sombong, menyisir rambut merahnya ke belakang.

"Kalau kalian menolak mama, kami mau pulang." Sambung Rin, menepis debu dan merapikan rok pendeknya.

Suasana rumah keluarga Sakaki kembali sunyi, kemunculan Rei dan Rin sangat spektakuler... Hikiko dan Kirihito bangkit berdiri dari lantai.

"Anak Akira tenaganya kuat sekali." Kata Hikiko, mengikuti gerakan Rin menepis debu di bajunya.

"Anak kucing yang manis ini sangat kuat." Kata Kirihito sambil mengelus perutnya yang di tendang Rin dengan jurus karate.

"Akira, kau sudah punya anak sebesar ini?" Tanya Emilia sambil menutup mulutnya dengan tangannya, tidak percaya, "Bagaimana bisa? Kapan dan dimana kau melakukannya? Itu atas keinginan kalian, atau..."

"Kita memiliki 2 cucu baru yang sangat tampan dan cantik." Potong Ichimaru, terlihat sangat senang.

"Yeah... Mungkin saja..." Sahut Presdir Akira dengan datar, "Jadi, aku harus menikahinya, tidak boleh?"

"Boleh sekali..." Sahut Ichimaru dan Kirihito.

"Tidak boleh!" Seru Emilia dan Hikiko.

"Ya ampun," Presdir Akira memutar bola matanya, tak habis pikir, "Apapun jawaban kalian, aku tetap ingin menikahinya."

Presdir Akira mempersilahkan Rei dan Rin duduk di sofa bersama Kaoru.

"Kenapa kau terobsesi padanya? Karena ada anak-anak itu?" Tanya Hikiko, menunjuk Rei dan Rin, "Kalau begitu ambil saja anaknya, Akira tak perlu menikah."

Rei dan Rin memberikan tatapan tajam rajawali pada Hikiko.

"Aku mencintainya, Kak Hiki." Presdir Akira menjawab singkat.

"Apa yang istimewa darinya? Akira 'kan pandai, jago beladiri, tampan, dan seorang CEO! Pasti banyak yang mau! Pilih yang benar dong!"

Hikiko menunjuk Kaoru dan menatapnya dengan ekspresi menghina, Kaoru balas menatap jijik.

"Apa? Bukankah Kaoru terlihat sangat cantik?" Presdir Akira balas bertanya, kembali menarik Kaoru ke dalam dekapannya.

"Percuma cantik kalau bego! Dia bisanya tebar-tebar pesona saja!"

"Tidak, dia beda dengan gadis lain..." Sela Presdir Akira... Mereka mulai berdebat, Presdir Akira memberikan tatapan peringatan, jangan coba-coba menghina Kaoru-ku.

"Maaf saja, ya... Kau yang lebih pantas mendapat kata-kata itu." Sambung Kaoru sembari menutup mata, pelukan Presdir Akira hangat sekali... Rasanya mengantuk...

"Apa!? Berani sekali kau!" Teriak Hikiko pada Kaoru, "Tak akan kubiarkan kalian menikah!"

"Hmm, aku tak masalah apapun keputusan kalian, tapi anak-anakku menginginkan Akira... Jadi aku harus mendapatkannya."

Gyut!

Kaoru memeluk Presdir Akira dengan lebih erat, pamer pada Hikiko.

Wajah Presdir Akira sedikit memerah, dia menutup mulut dengan sebelah tangan, menyembunyikan senyum. Baru kali ini Kaoru berinisiatif memeluknya...

"Benarkah?! Coba saja!" Kata Hikiko.

"Baik, mari kita coba... Bisa tidak jangan berteriak-teriak? Aku tidak tuli." Sahut Kaoru, sedikit banyak merasa tidak senang pada Hikiko.

"Ahh~ kalian jangan berdebat deh, tidak ada yang salah diantara kita... Mari coba mengenal lebih dekat dulu satu sama lain." Sela Kirihito.

Rei dan Rin mengerutkan kening, keluarga macam apa ini? Karakteristik sifatnya benar-benar tidak mirip... Pelangi–pelangi...

"Cobalah menginap... Benar kata Kirihito, mari kita saling mengenal dulu." Ujar Ichimaru.

"Menginap? Tidak perlu, papa dan mama kawin lari saja, yuk pulang." Ucap Rin, berpura-pura manja, berdiri dan menarik tangan Kaoru dan Presdir Akira.

"Tunggu dulu kucing manis." Celetuk Kirihito, menghentikan gerakan Rin dengan menarik kerah bajunya.

"Jangan sentuh adikku." Seru Rei, langsung menendang Kirihito dari belakang.

Kirihito nyungsep dan melakukan rol depan beberapa kali...

GUBRAK!

Lalu menabrak sofa yang ada di depannya...

"Anak sialan..." Kirihito memegang dahinya, "Jangan merusak wajah tampanku..."

Rin berjalan mendekati Rei, "Mereka sangat sayang pada papa, kita harus atur siasat agar mereka menyukai mama." Bisik Rin dengan suara yang sangat pelan.

"Baiklah, acting, kita bersikeras ingin pulang." Balas Rei, berbisik tak kalah pelannya.

"Kami mau pulang!" Seru Rei dan Rin bersamaan.

"Mengapa kalian tak mau menginap?" Tanya Ichimaru pada Si Twins, menatap mereka dengan ekspresi lembut.

"Karena, di sini banyak bajingan." Jawab Rei dan Rin, asal saja ceplas-ceplos.

Ichimaru, Emilia, Hikiko, dan Kirihito terdiam mendengar jawaban Rei dan Rin.

"Puff..." Presdir Akira dan Kaoru menahan tawa, lucu sekali melihat Rei dan Rin berkata begitu, "Rei, Rin, itu tidak boleh..." Ujar Kaoru.

"Kurang ajar..." Ucap Hikiko dengan nada marah, pertama kali ada yang mengatakan mereka bajingan.

"Diajarin-lah." Celetuk Rei dan Rin serempak, benar-benar bertingkah seperti anak nakal.

"Oke, akan ku-ajar! Menginap disini 2 hari!" Bentar Hikiko pada Rei dan Rin.

"Tidak mau! Tante ini seram!" Seru Rei dan Rin, berlari ke pelukan Presdir Akira dan Kaoru, "Ayo kita pulang..." Rei dan Rin mengedipkan mata, tanda isyarat.

"Baiklah, ayo pulang." Kaoru tersenyum pada anak-anaknya, dia berdiri dari sofa, Presdir Akira mengikuti.

"Tunggu! Anak-anak itu harus tinggal di rumah ini karena mereka anak keluarga Sakaki!"

Hikiko menghadang jalan Kaoru Presdir Akira, Rei dan Rin pergi.

"Kami tidak mau! Kalau tidak ada mama, kami tidak mau!" Sahut Rin, memalingkan wajahnya sambil menggembungkan pipi.

"Hah... Baik, baik! Dia juga boleh tinggal disini beberapa hari, setelah itu pergi!"

"Papa dan mama tidur sekamar?" Tanya Rei dengan polos, menatap Presdir Akira penuh arti.

"Mereka belum menikah, tidak boleh tidur bersama... Namamu Rei, 'kan nak?" Tanya Emilia.

Rei menjawab dengan anggukan...

"Kenapa tidak boleh tidur bersama?" Protes Rin pada Emilia.

"Kalau tidur bersama mungkin mereka akan melakukan hal yang macam-macam, sayang." Jawab Emilia penuh rasa sayang.

"Hal macam-macam apa? Bukankah papa dan mama sudah melakukannya?" Tanya Rei, mengedipkan matanya dengan polos.

Presdir Akira tersenyum simpul, "Kami sudah sering melakukannya... Setiap hari, hasilnya adalah Rei dan Rin." Ujarnya seraya menarik kembali Kaoru dan memeluknya.

Wajah Kaoru memerah, "Bodoh, kenapa mereka bikin kebohongan yang memalukan begini?" Bisik Kaoru dengan ekspresi tidak senang bercampur malu.

"Hebat, aku juga ingin mencobanya sekali dengan dia." Sambung Kirihito, sekarang sudah duduk di atas sofa yang ditabraknya tadi.

"Tidak boleh." Ujar Presdir Akira dengan tegas, "Sekali lagi Kak Hito ngelantur, aku akan memberikan pelajaran..."

"Baiklah, kita sudah setuju..." Sela Ichimaru, "Kalian akan menginap di rumah ini selama 2 hari."

Ichimaru berdiri dari sofa, "Pelayan akan mengantarkan barang-barang kalian ke kamar. Barang Kaoru taruh saja dikamar Akira, siapkan sebuah kamar tamu untuk malaikat kecil ini."

Ichimaru berjalan ke arah Rei dan Rin lalu mengelus kepala mereka. Hikiko bersungut-sungut. Emilia tampak tidak terlalu senang. Dan Kirihito menatap iri Presdir Akira sambil tersenyum jahil.

Mereka diantar ke kamar masing-masing...

Kaoru masuk kedalam kamar Presdir Akira, "Keluargamu benar-benar buruk." Ujar Kaoru sembari merebahkan dirinya di kasur Presdir Akira.

Rei dan Rin ada dikamar sebelah...

"Yeah..." Presdir Akira mengambil alat penyadap dari saku jasnya lalu mematikannya.

"Ahh! Papa sialan, dia tidak membiarkan kita mengetahui apa yang terjadi di dalam sana." Gerutu Rei ketika alat penyadap itu dimatikan.

Rei dan Rin tadi sedang menguping lewat alat penyadap yang diberikan Presdir Akira...

"Hmm..." Gumam Rin, mengamati seisi ruangan kamar itu, "Sepertinya seluruh kamar di sini kedap suara, suara sekeras apapun tak akan terdengar keluar."

Rin naik ke atas kasurnya, kasur Rei dan Rin dipisah... Ada dua kasur dikamar itu.

"Biar, deh." Rei merebahkan dirinya, merasa bosan, dia gagal lagi mengetahui bagaimana caranya mendapatkan adik.

"Umm... Kau benar mencintaiku?" Tanya Kaoru pada Presdir Akira.

"Ya, sangat mencintaimu." Jawab Presdir Akira, duduk di kasur tempat Kaoru merebahkan diri.

"... Apa yang akan kita lakukan kalau kita menikah?" Kaoru kembali bertanya.

"Mungkin, kita akan melakukan itu sekali lagi, aku benar-benar tidak ingat apa-apa... Bagaimana kalau kita melakukannya sekarang agar aku ingat rasanya?" Presdir Akira menjawab dengan senyum binatang buas, dia tampak sangat mirip Kirihito saat tersenyum seperti itu...

"Aku tidak mau." Ujar Kaoru, segera bangun dari kasur, merasa ini akan bahaya.

Terlambat, Presdir Akira menariknya kembali ke kasur dan menahan kedua tangannya.

"Bisa beri aku hadiah sedikit?" Tanya Presdir Akira.

"Hadiah apa... Umm!"

Presdir Akira mengecup Kaoru, melakukan ciuman dengan sangat lembut. Kaoru dengan terpaksa membuka mulutnya, membiarkan lidah Presdir Akira masuk dalam mulutnya.

"U–umm..."

Kaoru mulai kehabisan nafas, Presdir Akira menikmatinya cukup lama, tentu saja ingin menelan habis Kaoru.

Brakk!

Pintu kamar Presdir Akira dibanting terbuka oleh Hikiko, rupanya dia punya kunci duplikatnya...

"Akira! Apa yang kalian lakukan!?" Seru Hikiko dengan marah, berhasil memergoki ciuman mesra Akira dan Kaoru, "Baru sebentar saja sudah begitu, apa lagi kalau tidur bersama!"

"Kak Hiki, ketuk pintu dulu kalau mau masuk... Kau punya kunci duplikatnya? Itu melanggar privasi-ku, ayo kembalikan."

Presdir Akira segera berhenti mencium Kaoru, mengancingkan kancing kemejanya yang sempat dibuka tadi.

"Dia calon istriku, jadi tidak apa-apa..." Lanjutnya, bangun dan duduk dipinggir tempat tidur.

"Itu tidak boleh! Kau punya kakak perempuan yang amat manis disini."

Hikiko berjalan ke dalam kamar Presdir Akira dan merebahkan dirinya dalam pelukan Presdir Akira. Hal itu membuat Presdir Akira sangat risih, dia mengerutkan alis.

"Ayo lakukan denganku kalau kau sedang menginginkannya sekarang. Datanglah ke kamarku, ya?"

Hikiko mendekatkan wajahnya ke wajah Presdir Akira, hendak menciumnya.

"Kak Hiki, ini tidak boleh." Presdir Akira mendorong Hikiko menjauh darinya, "Karena aku menghormati-mu, demi kehormatan itu aku katakan 'tidak boleh', hubungan kita adalah kakak-adik."

Hikiko merajuk, dia langsung berlari pergi meninggalkan kamar Presdir Akira.

"Apa dia selalu begitu?" Tanya Kaoru dengan ekspresi kesal, mengerutkan kening.

Dia bangun dan duduk dipinggir kasur, tepat di samping Presdir Akira. Tadi dia merasa malu sekali kepergok melakukan ciuman.

"Ya... Selalu begitu... Brother complex memang berbahaya." Jawab Presdir Akira, "Sebaiknya kita jalan-jalan keliling saja, dia akan memikirkan hal yang macam-macam kalau kita berada dalam ruangan tertutup untuk waktu yang lama..." Lanjutnya, berdiri sambil menghela napas.

Kaoru dan Presdir Akira berkeliling melihat rumah keluarga Sakaki. Presdir Akira membawanya ke setiap sudut rumah, dan menunjukkan ruangan yang ingin dilihat Kaoru.

Rumahnya benar-benar sangat luas, disana serasa seperti berjalan-jalan dalam pulau pribadi, hanya ada mereka dan para pelayan disana.

"Apa Amerika sesunyi ini?" Tanya Kaoru pada Akira saat mereka berjalan-jalan keluar rumah dan melewati taman bunga, disana terdapat berbagai macam jenis bunga.

"Tidak, keluarga Sakaki suka ketenangan, mereka membangun rumah diluar area kesibukan kota," Jawab Presdir Akira, "Yah... Ini seperti berada dalam gunung yang terisolasi dari dunia luar."

Presdir Akira berhenti pada taman bunga mawar, mencabut setangkai bunga itu dan memberikannya pada Kaoru.

"Kau bahkan lebih cantik dari bunga-bunga ini." Presdir Akira tersenyum menatap Kaoru yang memegang bunga mawar darinya.

Kaoru kembali tersipu, "Ayolah, aku tidak boleh terpengaruh gombalan seperti ini..." Batin Kaoru, sedikit terbatuk untuk menghilangkan senyum di wajahnya.

Pip! Pip! Pip!

Handphone Presdir Akira berbunyi, dia mengangkat dan mulai berbicara sedikit...

"Maaf Kaoru, aku mungkin akan agak lama... Jadi kau bisa berjalan-jalan disekitar sini dulu." Ucap Presdir Akira pada Kaoru.

"Iya..." Sahut Kaoru, kemudian berjalan mengelilingi taman bunga itu, meninggalkan Presdir Akira yang sedang serius menelepon.

Saat sedang melihat bunga lavender ditaman yang jaraknya sudah cukup jauh dari Presdir Akira, tiba-tiba Kaoru disekap seseorang dari belakang dengan sebuah kain.

"Umm! Umm!"

Kaoru melawan, segera berbalik dan menendang orang yang menyekapnya dengan jurus karate.

Duakk!

Orang itu terjatuh, masker yang dipakainya terlepas.

"Kak Kirihito..." Ucap Kaoru terkejut. Sedikit demi sedikit Kaoru kehilangan kesadaran, kain itu diberi obat bius.

"Yup, dan tendangan-mu sangat sakit... Aku pinjam kau sebentar dari Akira, ya... Kucing yang manis..." Sahut Kirihito.

Kaoru kehilangan kesadarannya...

To be continued...

[*Tunggu, tunggu, dimohon untuk stop, bab di bawah belum kena revisi, jadi author sendiri malu kalau kalian baca ( —▽— ), bersabarlah untuk beberapa hari lagi.]

1
mellamello
gantung🥺
Kita_Yama
kalo adik lu dijual, siapa yang bakal nafkahin ente
Kita_Yama
Tiba-tiba keinget lagu LaoNeis
Kita_Yama
jangan bilang situ kalo dah nikah istrinya yang disuruh kerja
Gissa_Chieko
bagus
@Ay_k02
👍👍👍👍👍👍👍👍
Tara
Pengen dech punya anak jenis seperti ini.. Uhuy🤭😉🌹😱🥰🙏
Tara
Untung cuman 1 nyawa. Anyway, turut berduka cita. Sore sore gini enaknya ngopi Cantiq.. Here gift 4 ur kak.. Semangat🎁👍🥰🤭😱🙏💐🌹💕
Tara
Ingat jurit malam waktu itu ada ploncoan😅😱🤭
Tara
Ya lah.. Sing lish dipake.. Ini yg bloon siapa. Bujug bune😤
Gubrak!
Tara
Hadeuh.. Pusying aku Baca ini.. Huibat idenya.. Tapi bisa bisa kutintut guru nya Buat soal ancur Kaya gitu.. Hadeuh.. Gilingan😤😱🙈🤭😉😡🥺🤯
Tara
Gila. Soal apaan tuch.. Yg Buat soal lagi mabuk yach.. Ada Ada aja.. Hadeuh🙈😱😤🤭😉🤔🤯
Tara
Katanya Sultan. Kalo aku mah uda Buat gelang atau kalung dengan GPS didalamnya.. With money u can make it all.. 🤔🙈🤗😉👌
Tara
Betul.. Hajar Bozz...
Tara
Keren
Tara
Wah jadi selebriti terkenal dach🤭😱😉
kak, itu cover nya Soraru sama Mafu ya?
Aisyah Suyuti
seru juga
(◕ᴗ◕✿) CH
Ayo, kapan diupdate?
(◕ᴗ◕✿) CH
Ehem, apaan tuh? Aku aku benci dengan pikiranku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!