NovelToon NovelToon
Sumpah Di Atas Luka

Sumpah Di Atas Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Slice of Life / Teen Angst / Penyesalan Suami / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Romantis
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Peachy

Bagi Brixton, pernikahan ini bukanlah awal dari sebuah kebahagiaan, melainkan lonceng kematian bagi kebebasannya. Di bawah sumpah yang dipaksakan oleh ambisi keluarga, ia harus merelakan wanita yang ia cintai menjadi kenangan pahit, demi bersanding dengan seseorang yang dianggapnya sebagai kutukan hidup: dirimu. Brixton tidak pernah mencoba menyembunyikan kebenciannya. Baginya, setiap inci wajahmu adalah pengingat akan masa depan yang dirampas darinya. Di dalam rumah yang seharusnya menjadi surga, ia membangun tembok tinggi yang terbuat dari hinaan, penolakan, dan tatapan tajam yang menusuk. Puncaknya terjadi saat Brixton jatuh sakit dalam kesendiriannya. Di tengah demam yang membakar tubuh dan harga dirinya, ia tetap memilih untuk menderita daripada menerima uluran tanganmu. Baginya, sentuhanmu lebih panas dari demamnya, dan perhatianmu lebih menjijikkan daripada kematian itu sendiri. "Aku lebih baik merangkak menuju kematian daripada disentuh olehmu." Di antara benci yang mendarah daging dan luka yang tak kunjung kering, akankah sumpah di atas altar itu tetap menjadi penjara? Ataukah di balik rintihan sakitnya, tersimpan sebuah rahasia yang bahkan Brixton sendiri takut untuk mengakuinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecemasan

Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah tirai sutra di kamar Alana, menciptakan garis-garis emas yang menari di atas seprai. Alana mengerjap, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang masih tertinggal di alam mimpi. Hal pertama yang ia rasakan adalah gerakan aktif dari bayi dalam kandungannya, seolah sang buah hati sedang menyapa pagi dengan semangat.

Alana perlahan mengubah posisinya menjadi duduk bersandar. Saat ia menoleh ke arah nakas untuk mengambil air minum, matanya tertuju pada sebuah benda yang tidak ada di sana semalam. Sebuah kotak cokelat artisan berwarna cokelat tua yang elegan, lengkap dengan pita emas yang terikat rapi. Di sampingnya, terdapat selembar nota kecil dengan tulisan tangan yang sangat ia kenal—tulisan yang tegas namun kali ini tampak ditulis dengan terburu-buru.

“Maafkan aku untuk semalam. Pekerjaan benar-benar tidak bisa kutinggalkan. Aku harap cokelat ini bisa sedikit menggantikan rasa kecewamu. Aku akan menunggumu bangun.” — B.

Alana tersenyum kecil. Rasa kecewa yang sempat ia tekan semalam kini benar-benar menguap, berganti dengan perasaan hangat yang menggelitik dadanya. Ia tidak menyangka Brixton akan memperhatikan detail sekecil itu, bahkan membelikannya cokelat di tengah malam yang larut.

Tepat saat ia hendak menyentuh kotak cokelat itu, pintu kamarnya diketuk pelan.

"Masuk," ucap Alana lembut.

Pintu terbuka, dan yang muncul bukan Bibi Martha, melainkan Brixton. Pria itu tampak sudah segar, mengenakan kemeja santai berwarna biru langit yang lengannya digulung hingga siku. Di tangannya, ia membawa sebuah nampan besar berisi sarapan yang tampak sangat menggugah selera: pancake gandum dengan taburan beri segar, telur orak-arik, dan segelas jus jeruk dingin.

"Selamat pagi," sapa Brixton. Suaranya terdengar jauh lebih lembut dari biasanya. Ada rona canggung di wajahnya saat ia mendekati tempat tidur. "Aku... aku meminta koki untuk menyiapkan ini, tapi aku yang memilihkan menu sehatnya untukmu."

Alana tertegun, matanya membelalak tidak percaya. "Brixton? Kau tidak ke kantor?"

"Aku mengambil cuti setengah hari," jawab Brixton sambil meletakkan nampan itu dengan hati-hati di atas pangkuan Alana yang terhalang bantal. "Aku ingin menebus kesalahan semalam. Maafkan aku, Alana. Aku benar-benar merasa seperti bajingan karena membiarkanmu menunggu dengan gaun secantik itu."

Alana menatap suaminya, lalu menatap nampan sarapan itu. Ia merasakan matanya sedikit memanas, bukan karena sedih, tapi karena merasa dihargai. "Terima kasih, Brixton. Cokelatnya... aku sangat menyukainya. Dan kau tidak perlu berlebihan seperti ini."

"Aku perlu melakukannya," Brixton duduk di tepi tempat tidur, memperhatikan Alana yang mulai mencicipi sarapannya. "Aku ingin memulai segalanya dengan benar. Aku ingin kau tahu bahwa kau dan anak kita adalah prioritas utamaku sekarang."

Suasana di kamar itu mendadak menjadi sangat romantis dan tenang. Mereka berbincang kecil—hal-hal ringan tentang gerakan bayi yang semakin kuat dan rencana untuk mengecat kamar bayi. Brixton bahkan sesekali membantu menyuapkan potongan buah ke mulut Alana, sebuah tindakan yang membuat jantung Alana berdebar kencang. Untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka, kedamaian yang nyata terasa begitu dekat di tangan mereka.

Namun, kedamaian itu hanya bertahan sekejap.

Drrrtt... Drrrtt...

Ponsel Alana yang tergeletak di atas nakas bergetar hebat. Nama 'Ibu' muncul di layar. Alana segera meraihnya, perasaan tenang tadi seketika menguap digantikan oleh firasat buruk. Ibunya jarang menelepon sepagi ini kecuali ada hal yang sangat mendesak.

"Halo, Ibu?" sapa Alana.

"Alana..." suara ibunya terdengar pecah oleh isak tangis di seberang sana. Suasana latar belakang yang bising oleh suara sirine dan langkah kaki yang terburu-buru terdengar jelas. "Alana, kau harus segera ke Rumah Sakit Pusat sekarang juga. Ayahmu... ayahmu tiba-tiba jatuh pingsan di ruang tamu tadi pagi."

Wajah Alana seketika memucat. Ia meletakkan garpunya dengan tangan yang gemetar. "Apa? Pingsan? Bagaimana bisa, Bu?"

"Ibu tidak tahu, Sayang. Sejak semalam dia terus mengeluh sakit yang luar biasa di bagian perut bawahnya. Dia bilang rasanya seperti ditusuk-tusuk. Tadi pagi saat mau minum obat, dia tiba-tiba berteriak kesakitan lalu tak sadarkan diri. Sekarang dia ada di ruang gawat darurat. Dokter masih melakukan pemeriksaan intensif karena mereka belum menemukan penyebab pastinya."

"Aku akan segera ke sana, Bu! Tunggu aku!" Alana mematikan teleponnya dengan napas yang memburu.

Brixton yang sejak tadi memperhatikan, segera menangkap bahu Alana yang bergetar. "Apa yang terjadi? Kenapa kau pucat sekali?"

"Ayah... ayah masuk rumah sakit, Brixton," suara Alana terdengar parau. "Beliau pingsan dan mengeluh sakit perut bawah yang sangat hebat. Aku harus ke sana sekarang!"

Melihat kepanikan Alana, Brixton tidak membuang waktu. Segala rencana kencan atau istirahat di rumah hilang seketika. "Tenangkan dirimu. Aku akan mengantarmu. Pakai pakaian yang nyaman, aku akan menyiapkan mobil."

Perjalanan menuju rumah sakit terasa seperti keabadian bagi Alana. Ia terus memilin ujung bajunya, bibirnya tak henti membisikkan doa. Perutnya yang besar terasa sedikit kram karena stres yang tiba-tiba melanda, namun ia mencoba mengabaikannya demi fokus pada ayahnya.

Sesampainya di rumah sakit, Alana langsung berlari menuju ruang tunggu Instalasi Gawat Darurat (IGD). Di sana, ia melihat ibunya sedang duduk sendirian, tampak sangat rapuh dan putus asa.

"Ibu!" teriak Alana sambil menghampiri dan memeluk ibunya erat.

"Alana, syukurlah kau datang," ibunya terisak di bahu Alana. Ia melirik ke arah Brixton yang berdiri di belakang Alana dengan ekspresi serius namun protektif. "Terima kasih sudah membawanya ke sini, Brixton."

Brixton mengangguk singkat. "Apa kata dokter, Bu?"

"Dokter masih bingung," jawab Ibu Alana sambil menyeka air matanya dengan tisu yang sudah basah. "Mereka sudah melakukan USG dan CT-scan awal, tapi tidak terlihat ada usus buntu atau batu ginjal yang biasanya menyebabkan sakit di perut bawah sehebat itu. Tekanan darah Ayahmu juga sempat turun sangat rendah. Mereka sedang melakukan tes darah lanjutan untuk mencari tahu apakah ada infeksi tersembunyi atau sesuatu yang lebih serius."

Alana merasakan kakinya lemas. Ia duduk di kursi tunggu, tangannya mengusap perutnya sendiri. "Ayah tidak pernah mengeluh sakit sebelumnya, Bu. Kenapa tiba-tiba seperti ini?"

"Ibu juga tidak tahu, Sayang. Ayahmu itu keras kepala, kau tahu sendiri. Dia selalu menyembunyikan rasa sakitnya agar kita tidak khawatir. Tapi tadi pagi... dia benar-benar terlihat sangat menderita."

Beberapa menit kemudian, seorang dokter keluar dari ruang pemeriksaan. Wajahnya tampak lelah dan penuh keraguan. Alana, ibunya, dan Brixton segera berdiri menghampiri.

"Dokter, bagaimana kondisi ayah saya?" tanya Alana dengan nada mendesak.

"Kondisi Tuan Hendrawan saat ini sudah stabil secara tanda-tanda vital, namun beliau belum sadar sepenuhnya. Mengenai penyebab sakit perut bawahnya yang ekstrem, jujur saja kami belum bisa memberikan jawaban pasti," jelas sang dokter. "Hasil pemindaian organ tidak menunjukkan adanya kelainan struktural yang jelas. Namun, ada indikasi peradangan yang tidak biasa di area pelvis. Kami perlu melakukan observasi selama 24 jam ke depan dan mungkin akan berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam dan urologi."

Ketegangan di koridor rumah sakit itu semakin terasa. Alana menatap pintu ruang perawatan dengan pandangan yang kosong. Ia merasa sangat tidak berdaya. Di saat hidupnya mulai sedikit membaik dengan Brixton, cobaan lain datang menghantam keluarganya.

Brixton yang melihat Alana mulai goyah, segera merangkul pinggang istrinya, memberikan topangan fisik yang sangat dibutuhkan Alana. "Kita akan mencari dokter terbaik, Alana. Aku akan menghubungi rekan-rekanku di luar negeri jika perlu. Ayahmu akan baik-baik saja."

Alana mendongak menatap Brixton. Di tengah kekacauan ini, ia merasa bersyukur Brixton ada di sana. Pria yang dulunya menjadi sumber penderitaannya, kini menjadi satu-satunya batu karang tempatnya bersandar.

"Boleh aku melihatnya, Dok?" tanya Alana pelan.

"Hanya sebentar, Nyonya. Beliau butuh istirahat total. Dan mengingat kondisi Anda yang sedang hamil besar, tolong jangan terlalu emosional karena itu bisa berdampak pada janin Anda," pesan dokter itu sebelum mengizinkan mereka masuk.

Di dalam kamar perawatan yang sunyi, aroma obat-obatan menyengat indra penciuman. Ayah Alana terbaring lemah dengan berbagai kabel monitor menempel di dadanya dan selang infus di tangannya. Wajah pria paruh baya yang biasanya tegas itu kini tampak sangat tua dan rapuh.

Alana mendekat, menggenggam tangan ayahnya yang terasa dingin. "Ayah... ini Alana. Ayah harus bangun. Cucu Ayah ingin segera bertemu dengan kakeknya," bisik Alana, air matanya jatuh menetes ke tangan sang ayah.

Brixton berdiri di sudut ruangan, memperhatikan pemandangan itu dengan hati yang berat. Ia teringat bagaimana ia dulu membenci keluarga ini tanpa alasan yang benar. Ia teringat bagaimana ia menyalahkan ayah Alana atas perjodohan ini. Sekarang, melihat pria itu berjuang antara hidup dan mati, Brixton merasa sangat kecil. Ia menyadari bahwa kekayaan dan kekuasaannya tidak bisa membeli kesehatan seseorang secara instan.

Malam mulai turun, namun Alana menolak untuk pulang. Ia bersikeras ingin menunggu ayahnya sadar. Ibunya juga sudah tertidur karena kelelahan di sofa kecil di sudut ruangan.

"Alana, kau harus makan sesuatu. Kau belum makan sejak sarapan tadi pagi yang kucuri," bujuk Brixton dengan lembut sambil membawa bungkusan makanan dari kantin rumah sakit.

"Aku tidak lapar, Brixton. Aku hanya ingin Ayah membuka matanya."

"Anak kita butuh makan, Alana. Kau tidak boleh jatuh sakit sekarang. Jika kau sakit, siapa yang akan menguatkan Ibumu dan menjaga Ayahmu?"

Alana menatap suaminya, lalu perlahan mengangguk. Ia mulai memakan makanannya dengan terpaksa, sementara Brixton duduk di sampingnya, mengusap punggungnya dengan penuh perhatian.

Suasana tegang masih menyelimuti mereka. Di satu sisi, ada kebahagiaan baru yang sedang tumbuh di dalam rahim Alana, namun di sisi lain, ada bayang-bayang kehilangan yang mengancam orang yang paling ia cintai. Misteri penyakit ayahnya yang belum terpecahkan menjadi beban baru yang harus ia pikul.

Sumpah di atas luka itu kini sedang diuji dengan cara yang berbeda. Kali ini, bukan Brixton yang menjadi penyebab luka, melainkan takdir yang sedang bermain-main dengan nyawa. Dan di koridor rumah sakit yang dingin itu, Brixton bersumpah dalam hati bahwa ia akan melakukan apa pun untuk menjaga keluarga ini tetap utuh, untuk membayar semua rasa sakit yang pernah ia berikan di masa lalu.

"Kita akan melewati ini, Alana," bisik Brixton di tengah keheningan malam. "Aku janji."

Alana menyandarkan kepalanya di bahu Brixton, menatap garis datar di monitor jantung ayahnya yang sesekali berdenyut, menandakan kehidupan yang masih berjuang di sana. Hari yang dimulai dengan manisnya cokelat kini berakhir dengan pahitnya ketidakpastian, namun setidaknya, mereka menghadapinya bersama-sama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!