NovelToon NovelToon
JANDA-JANDA UNDERCOVER

JANDA-JANDA UNDERCOVER

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan
Popularitas:952
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Arsila

siapa sangka tiga janda dari latar belakang berbeda seorang Bella damayanti 28(mantan polwan) ,Siska Paramita 30(mantan koki) , dan Maya Adinda 29(mantan guru TK) tanpa sengaja membentuk tim detektif amatir. Mereka awalnya hanya ingin menyelidiki siapa yang sering mencuri jemuran di lingkungan apartemen mereka.

​Namun, penyelidikan itu malah membawa mereka ke jaringan mafia kelas teri yang dipimpin oleh seorang bos yang takut dengan istrinya. Dengan senjata sutil, semprotan merica, dan omelan maut, ketiga wanita ini membuktikan bahwa status janda bukanlah halangan untuk menjadi pahlawan (yang sangat berisik).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Arsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Operasi Penjara Sutra dan Diplomasi Nasi Cadong

​Pagi itu, langit di atas Bandung tampak mendung, seolah-olah ikut merasakan kegalauan hati Maya Adinda. Di depan gerbang besi raksasa Lapas Wanita Kelas II-A, Maya berdiri dengan koper kecil berwarna rose gold dan wajah yang ditekuk habis-habisan.

​"Bella, aku nggak mau. Seragam penjara itu warnanya oranye! Itu warna paling anti-kulit aku. Aku bakal kelihatan kayak jeruk mandarin raksasa!" keluh Maya dengan bibir mengerucut.

​Bella Damayanti, yang kini mengenakan seragam sipir penjara lengkap dengan baret miring dan tatapan dingin, hanya mendesah. "May, ini misi. Lo masuk ke sana sebagai narapidana kasus penipuan skincare bodong. Itu peran paling cocok buat lo. Siska masuk sebagai narapidana kasus penganiayaan dengan senjata tumpul alias sutil. Gue di sini jadi orang dalam yang bakal mantau kalian."

​Siska Paramita berdiri di samping Maya, sudah mengenakan kaos oranye dengan nomor tahanan di dada. Ia tampak jauh lebih tenang, bahkan cenderung bersemangat. "Nggak apa-apa, May. Anggap saja ini detox dari kehidupan sosialita apartemen. Dan lagi, aku penasaran sama kualitas dapur di sini. Katanya nasi cadongnya keras banget, bisa buat nimpuk kucing."

​"Target kalian jelas," Bella merendahkan suaranya sambil pura-pura memeriksa dokumen penahanan. "Cari Mami Daster Berdarah. Nama aslinya adalah Rosa Delima. Dia penguasa blok mawar. Menurut intelijen, dia punya daster macan ketiga—daster 'Permaisuri Hitam'. Ambil informasi di mana dia menyembunyikannya, atau ambil dasternya kalau dia memakainya. Gue bakal buka akses komunikasi lewat lubang ventilasi di sel nomor 13."

​BRAKK!

​Gerbang besi terbuka. Maya dan Siska didorong masuk oleh sipir lain yang tidak tahu rencana ini. Maya hampir saja terjatuh jika Siska tidak sigap menangkapnya.

​"Selamat datang di neraka, Janda-Janda Manis," bisik sipir itu dengan tawa kecil yang mengerikan.

​Suasana di dalam penjara ternyata jauh lebih intimidatif daripada yang dibayangkan. Bau karbol, keringat, dan keputusasaan memenuhi udara. Maya berjalan dengan langkah gemetar, memeluk bantal tipisnya seolah itu adalah benda paling berharga di dunia.

​"Siska, lihat mereka... kenapa mereka semua natap kita kayak singa mau makan daging?" bisik Maya.

​"Karena kita 'anak baru', May. Di sini, status sosial lo nggak dilihat dari jumlah followers, tapi dari berapa banyak gigi yang bisa lo rontokkan dalam satu pukulan," jawab Siska tenang.

​Mereka tiba di Blok Mawar, area paling eksklusif namun paling berbahaya. Di ujung koridor, duduk seorang wanita tua dengan rambut perak yang disanggul rapi. Ia duduk di atas kursi plastik yang dimodifikasi menyerupai singgasana, mengenakan sebuah daster batik motif macan yang warnanya sudah memudar namun tampak sangat anggun.

​Itulah Mami Rosa. Di sekelilingnya, ada lima wanita berbadan besar yang berfungsi sebagai pengawal.

​"Mami Rosa," salah satu sipir menyapa dengan hormat yang berlebihan. "Ini ada dua mainan baru. Yang satu mantan koki, yang satu lagi... katanya ahli kecantikan."

​Mami Rosa mengangkat wajahnya. Matanya yang tajam menatap Maya dan Siska secara bergantian. "Koki? Bagus. Saya sudah bosan makan nasi yang rasanya kayak kertas semen. Dan kamu... ahli kecantikan? Lihat wajah saya, sudah banyak keriput. Bisa kamu hilangkan dalam semalam?"

​Maya mencoba memberanikan diri. Ia teringat latihan dari Kolonel Lastri. "Tentu, Mami. Tapi saya butuh alat. Tanpa alat, tangan saya cuma bisa mijat. Tapi kalau ada bahan yang pas, saya bisa bikin Mami kelihatan sepuluh tahun lebih muda."

​Mami Rosa tersenyum tipis. "Besok pagi, kalian berdua akan diuji. Koki, buatkan saya sarapan yang bikin saya merasa tidak sedang dipenjara. Dan kamu, tukang bedak, pastikan wajah saya segar. Kalau gagal... kalian akan jadi tukang cuci kakus selama setahun."

​Pukul lima pagi, Siska sudah berada di dapur umum penjara. Kondisinya mengenaskan. Panci berkarat, pisau yang tumpulnya minta ampun, dan bahan makanan yang hanya terdiri dari beras kualitas rendah, kangkung layu, dan tempe yang sudah hampir jadi fosil.

​"Ini penghinaan bagi profesi koki," gumam Siska sambil mengasah pisau tumpulnya di pinggiran meja semen.

​Bella muncul dari balik gudang makanan, menyelinap dengan seragam sipirnya. "Sis, gimana? Ada perkembangan?"

​"Bel, ini dapurnya lebih parah dari medan perang. Tapi gue punya ide. Gue bakal bikin 'Nasi Goreng Penjara VVIP'. Gue butuh rempah-rempah tambahan. Lo bisa selundupin bawang merah sama terasi udang nggak?"

​Bella mengeluarkan sebuah kantong plastik kecil dari balik topinya. "Gue selalu siap. Ini terasi paling bau dari pasar kemarin. Dan ini, ada pesan dari Maya. Dia butuh putih telur buat masker Mami Rosa."

​"Putih telur? Bilang sama dia, ambil dari jatah telur rebus sarapan tahanan lain kalau dia berani," canda Siska.

​Siska mulai beraksi. Dengan teknik memotong yang sangat cepat bahkan narapidana lain berhenti bekerja hanya untuk menontonnya Siska mengubah tempe keras itu menjadi potongan dadu kecil yang renyah. Ia menggoreng nasi cadong dengan bumbu rahasia yang ia racik dari campuran terasi selundupan Bella dan sedikit cabai sisa dapur.

​Aroma harum mulai menyeruak, menutupi bau karbol yang biasanya mendominasi. Para tahanan mulai menelan ludah.

​Sementara itu, di sel Mami Rosa, Maya sedang melakukan "keajaiban". Tanpa peralatan mahal, ia menggunakan campuran putih telur, sisa timun dari dapur, dan bubuk kopi yang ia minta dari penjaga.

​"Mami harus relaks," bisik Maya sambil mengoleskan masker ke wajah sang ratu penjara. "Stress itu musuh utama kolagen. Mami tahu nggak, daster yang Mami pakai ini... motifnya indah sekali. Saya punya yang mirip, tapi punya saya ada sulaman emasnya sedikit di leher."

​Mami Rosa yang matanya tertutup irisan timun tertegun. "Kamu tahu soal sulaman emas?"

​"Hanya sedikit, Mami. Kata orang, itu daster pembawa rezeki," pancing Maya.

​Mami Rosa menghela napas panjang. "Rezeki atau kutukan, saya nggak tahu. Daster ini saya dapat dari kakak perempuan saya, Fatma. Dia bilang ini adalah pelindung. Tapi lihat saya sekarang? Membusuk di sini."

​Maya terlonjak. "Fatma? Bu Fatma katering?!"

​Mami Rosa membuka satu matanya, menjatuhkan irisan timun. "Kamu kenal Fatma?"

​"S-saya... saya pelanggan setianya, Mami! Rendangnya juara!" jawab Maya cepat, hampir saja membocorkan penyamarannya.

​Mami Rosa kembali menutup mata. "Fatma itu bodoh. Dia pikir dia bisa menyimpan rahasia besar dengan suaminya yang pecundang itu. Dia tidak tahu kalau daster ketiga yang asli sebenarnya tidak ada pada saya. Saya hanya memegang 'peta' yang dijahit di dalam kain ini. Daster yang asli... daster Permaisuri Hitam itu... masih ada di rumah tua kami di pesisir utara."

​Maya menahan napas. Ia mendengar suara Bella lewat earpiece tersembunyi di balik sanggulnya: "Maya, bagus! Terus gali lokasinya!"

​Tiba-tiba, suara alarm penjara berbunyi nyaring.

WIIIIUUUUU—WIIIIUUUUU!

​"Kerusuhan! Kerusuhan di blok barat!" teriak sipir dari luar.

​Pintu sel Mami Rosa ditendang terbuka. Namun, itu bukan petugas keamanan. Itu adalah sekelompok narapidana dari blok lain yang dipimpin oleh seorang wanita bertato naga di lehernya. Mereka membawa sikat gigi yang diruncingkan dan besi beton.

​"Rosa! Serahkan daster itu, atau hari ini kamu mati!" teriak si Tato Naga.

​Rupanya, Sindikat Benang Hitam sudah punya agen di dalam penjara ini. Mereka memicu kerusuhan sebagai kedok untuk mengambil daster Mami Rosa.

​"Maya, lari ke belakang Mami!" perintah Siska yang tiba-tiba muncul dari koridor, masih membawa sutil besar yang entah bagaimana bisa ia bawa keluar dari dapur.

​"Siska! Kamu bawa senjata apa itu?!" tanya Maya panik.

​"Ini sutil baja anti-lengket, May! Dan gue sudah panasin di kompor tadi!" jawab Siska sambil memasang kuda-kuda bertarung.

​Pertempuran pecah di ruang sempit tersebut. Siska bergerak seperti penari balet yang mematikan. Setiap kali sutil panasnya mengenai kulit lawan, terdengar suara cesss dan teriakan kesakitan.

​"Jangan berani-berani mengganggu pelanggan kateringku!" teriak Siska sambil menghantam pergelangan tangan si Tato Naga hingga senjatanya terlepas.

​Bella muncul dari kerumunan sipir yang panik, mencoba mengendalikan situasi tanpa membocorkan identitasnya. Ia menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa, namun ia melihat dua orang pria berpakaian sipir yang ia tahu bukan sipir asli sedang mencoba menyeret Mami Rosa.

​"Woy! Berhenti!" Bella melakukan lompatan harimau, menendang salah satu penyusup hingga terjerembap ke dinding.

​"Siska, Maya! Bawa Mami Rosa ke ruang medis! Gue bakal tahan mereka di sini!" perintah Bella.

​Maya dan Siska memapah Mami Rosa melewati lorong-lorong yang dipenuhi asap gas air mata. Maya menggunakan daster macan milik Mami Rosa untuk menutupi hidung mereka agar tidak sesak napas.

​"Mami, cepat! Kita harus keluar lewat jalur evakuasi!" seru Maya.

​Mereka sampai di ruang medis yang sepi. Mami Rosa tampak kelelahan. Ia menatap Maya dan Siska dengan pandangan tak percaya. "Kalian... kalian bukan narapidana biasa, kan?"

​Siska meletakkan sutilnya di meja medis. "Kami janda, Mami. Dan kami sedang mencoba menyelamatkan dunia dari orang-orang yang ingin menyalahgunakan daster Mami."

​Mami Rosa tertawa kecil, meski batuk karena asap. "Janda ya? Pantas kalian galak. Baiklah, dengar. Daster ini... ambillah. Di balik kerahnya, ada koordinat rumah tua itu. Tapi kalian harus hati-hati. Di sana bukan cuma ada harta, tapi ada penjaga yang jauh lebih mengerikan dari para preman ini."

​Mami Rosa melepas dasternya menyisakan kaos dalam dan memberikannya kepada Maya. "Pergilah. Sebelum sipir asli datang dan mengunci tempat ini."

​Bella muncul di pintu dengan napas terengah-engah. "Helikopter jemputan dari Kapten Adrian sudah di atap! Kita punya waktu tiga menit sebelum pasukan Brimob datang melakukan sterilisasi!"

​Mereka berlari menuju atap penjara. Angin kencang dari baling-baling helikopter menyambut mereka. Satu per satu mereka naik, meninggalkan kegaduhan penjara di bawah sana.

​Di dalam helikopter, Maya memegang daster pudar milik Mami Rosa dengan perasaan campur aduk.

​"Jadi... kita dapet dasternya?" tanya Maya.

​"Kita dapet koordinatnya," koreksi Bella sambil memeriksa jahitan di kerah daster tersebut menggunakan alat pemindai kecil. "Rumah tua di Pesisir Utara. Desa Nelayan Karang Hantu."

​Siska bersandar di kursi helikopter, memejamkan mata. "Karang Hantu? Namanya saja sudah nggak enak didengar. Pasti banyak ikan asin di sana."

​"Satu hal yang pasti," Bella menatap kedua sahabatnya. "Sindikat Benang Hitam gagal di penjara, tapi mereka pasti akan menunggu kita di Karang Hantu. Kita harus bersiap untuk pertempuran final."

​Maya melihat ke arah luar jendela, ke arah lampu-lampu kota yang mulai terlihat. "Aku cuma berharap di Karang Hantu nanti, aku bisa dapet daster yang baru. Daster ini beneran bau nasi cadong dan terasi, Bel."

​Siska tertawa, diikuti oleh Bella. Di tengah misi berbahaya yang mengancam nyawa, ketiga janda muda ini tetap punya cara untuk menertawakan keadaan. Karena bagi mereka, tidak ada yang lebih menakutkan daripada kehilangan harga diri... dan daster kesayangan.

1
yumin kwan
baru nemu, langsung marathon....
seru kocak... walau ga masuk akal 🤣🤣🤣
yumin kwan
astaga.... kok bisa kepikiran ide begini.... salut....
yumin kwan
astaga.... seru bgt ini 3 janda.... 😄
yumin kwan
kayaknya kocak ini cerita..... save ah...
Marley
🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!