"Gila ... ini sungguh gila, bagaimana bisa jantung ini selalu berdebar kencang hanya karena tatapan matanya, senyumnya bahkan sentuhan yang tanpa sengaja itu."
~Sephia~
"Rasa ini salah, tapi gue suka ... dia selalu membuat jantung ini berdebar-debar ... damn! kenapa datang di waktu yang salah sih."
~Danar~
Pertemuan itu, membuat mereka ada dalam posisi yang sangat sulit. Terlebih lelaki itu sudah mempunyai seorang kekasih. Sementara hatinya memilih gadis lain.
Entah waktu yang salah ... atau takdir yang mempermainkan mereka. Apakah akan berakhir dengan indah atau sama-sama saling melepaskan ... meski CINTA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rindu
Cumbuan itu berakhir dengan pelukan hangat dari Danar. Danar masih bisa menahan dirinya untuk tak melakukan kesalahan pada gadis itu. Sephia mengeratkan pelukannya, nyaman itu yang selalu Sephia rasakan. Rasanya tak ingin ia cepat-cepat mengakhiri malam ini.
Keputusan Danar untuk tidur bersama malam ini bukan hanya di dukung oleh suasana yang terjadi di kamar sebelah. Tetapi karena dia di minta segera untuk pulang ke Jakarta.
"Phi ...."
"Hhmm," jawab Sephia yang masih membenamkan wajahnya di dada Danar.
"Besok sore, aku berangkat ke Jakarta," ujar lelaki itu membelai lembut punggung Sephia.
"Kamu bilang minggu depan kan?" tanya Sephia mendongak melihat Danar.
"Siang tadi Mama telpon, aku dibutuhin di kantor pusat untuk mengecek dan tanda tangan beberapa berkas."
"Kakak kamu?"
"Sudah seminggu di Singapura, aku gak tau ngapain ... sudah hampir satu tahun ini dia sering sekali mendadak keluar negeri, jadi kalo perusahaan butuh tanda tangan atau masalah serius pasti melalui aku," jelas Danar.
"Papa kamu?"
"Mana bisa Papa menjalankan perusahaan lagi, setelah stroke yang dia derita ... bisa saja melalui Mama, namun ada hal-hal besar perusahaan yang tidak Mama mengerti."
Sephia mencoba mengerti. Itu berarti mungkin akan lebih dari satu minggu dia akan berpisah dengan Danar.
"Gak papa kan?"
"Apa?"
"Aku pulang ke Jakarta."
"Ya mau gimana lagi."
"Apa kamu mau ikut? sekalian pulang ke Bogor?"
Sephia menggeleng, "aku baru kerja di sini udah mau cuti," kata Sephia menolak.
"Gak masalah, jangan lupakan pacar kamu pimpinan perusahaan," Danar meremas bokong gadis itu.
"Ish, sombong."
"Jangan rindu ya," Danar memberikan kecupan di pucuk kepala Sephia.
"Pasti rindu," ujar Sephia lalu bangkit dari tidurnya, memberikan ciuman sekilas pada bibir Danar. "Jangan lama-lama di sana."
"Seminggu paling lama, atau bisa lebih cepat tergantung Mas Agung kembalinya kapan."
Danar merengkuh kembali tubuh Sephia, sesak di dadanya mulai terasa jika melihat gadis itu tulus mencintainya. Perkaranya dengan Wulan pun belum selesai dia bahas, wanita itu kembali menghilang. Harusnya bisa saja Danar terlihat cuek atas apa yang terjadi antara dia dan Wulan, tapi ketika wanita itu menghubunginya dan merongrong meminta pertanggungjawaban Danar tak dapat menolak karena dia sudah berjanji.
Entah apa yang akan terjadi pada hubungannya dengan Sephia, gadis itu terlalu baik untuknya. Menyakiti hatinya saja Danar tak tega seperti mengutuk dirinya sendiri. Namun melepaskan Sephia dia tak mampu. Cinta begitu rumit di kala waktu tak berpihak pada kita.
...----------------...
Sudah empat hari Danar berada di Jakarta, kesibukkannya menjalankan dua perusahaan sekaligus membuatnya cukup pusing. Waktunya untuk menghubungi Sephia pun terkadang hanya sebentar.
"Masih sibuk?" tanya Sephia siang itu saat menghubungi Danar.
"Masih ... kamu udah makan?"
"Sudah, kan beda satu jam ... kamu sudah makan? jangan telat makan ya ... Danar, rokoknya dikurangi, kamu kalo lagi banyak kerjaan pasti gak berenti ngerokok kayak kereta," seloroh Sephia.
"Iya, tapi sebenernya aku gak butuh rokok," ujar Danar terkekeh di seberang sana.
"Butuh apa?" tanya Sephia berjalan ke arah pantry dan meninggalkan Ni Luh yang sudah pasang telinga sedari tadi.
"Aku butuhnya kamu, Phi ... kangen banget," Danar tersenyum membayangkan kejadian beberapa hari lalu, mereka benar hampir saja kebablasan jika Sephia tidak menarik tangan Danar dari sela pahanya.
"Sama ... cepet pulang makanya." Wajah Sephia berubah murung, rindu itu ternyata tak mengasyikkan.
"Malam ini Mas Agung pulang dari Singapura, kalo gak besok sore atau lusa aku baru bisa pulang."
"Jangan lama-lama," lirih suara Sephia.
"Kangen banget ya?"
"Banget," jawab Sephia tersenyum malu rasanya seperti ABG yang baru mulai jatuh cinta.
" Nanti jangan pulang malam-malam ya, aku telpon lagi kalo kerjaan aku udah beres semua," ujar Danar pada kekasihnya.
"Iya, kamu hati-hati di sana."
"I miss you, Phi."
Wajah Sephia merona, "i miss you too ... cepet pulang."
Malam hari baru saja Danar memasuki rumah besar, ia mendapati kedua orangtuanya serta Agung, kakaknya duduk di meja makan. Danar melemparkan senyuman untuk keluarga yang sudah sangat baik padanya.
"Capek banget Dan," sang Mama bergerak mengambilkan beberapa menu untuk anak bungsunya itu.
"Pusing juga ngurusin dua perusahaan Ma," kata Danar melirik Agung.
"Besok udah gak kok, kan gue dah balik," Agung berseloroh.
"Iya, gue juga gak betah lama-lama di Jakarta, ribet ... lebih asik di Bali," Danar menyunggingkan senyumnya.
"Papa, gimana hari ini?" tanya Danar pada lelaki paruh baya itu yang sedang menyendokkan perlahan sendok ke dalam mulutnya.
Bapak Hermawan Wicaksana itu hanya mengangguk menandakan jika dia baik-baik saja. Sudah banyak kemajuan yang dicapai oleh sang Papa, walaupun berbicara masih terbata-bata. Secara tidak langsung pun Bapak Hermawan melihat banyak kemajuan dari Danar, anak dari istri keduanya itu tidak pernah membuat masalah sedari kecil. Dari segi pendidikan Danar memang lebih unggul dari Agung, yang jarak umur mereka hanya terpaut tiga tahun.
Sedangkan Agung sendiri, tipe lelaki yang pendiam tak banyak bicara, jika di tanya kapan akan menikah dia tak akan menanggapi, baginya menikah hanya akan menghalanginya mencapai karier dan kebebasannya. Seorang lelaki yang tak percaya cinta, mungkin bisa jadi karena trauma masa lalu yang ia pendam saat mengetahui perselingkuhan ayahnya.
Beruntungnya keluarga ini memiliki bidadari tanpa sayap yang berusaha menerima dan tegar serta berusaha menyatukan semuanya. Siapa lagi kalau bukan Mama Diana yang selalu mengajarkan anak-anaknya untuk saling mengasihi.
Penyesalan terdalam Bapak Hermawan yang seakan sadar dia memiliki istri yang luar biasa, dan sakitnya ini dia anggap sebagai balasan dari apa yang ia perbuat terhadap istrinya dulu, meskipun Mama Diana sudah menyimpan masa lalu itu dalam-dalam.
"Mama dengar kamu sudah punya calon, Gung," kata Mama Diana pada Agung.
"Calon apa Ma?" tanya Danar.
"Calon istri lah masa calon yang lain,"
Danar terbatuk-batuk mendengar perkataan Mama Diana.
"Serius? Beneran Mas? jangan bilang lo ke Singapura nemuin itu calon, iya?"
Agung hanya diam, asyik dengan makanan di atas meja.
"Mas ... bener?"
"Orangnya gak mau sama gue," jawab Agung santai.
"Lah gimana ceritanya? tapi lo belom ...." Danar membuat tanda kutip dengan kedua jari tangannya.
Pukulan di punggung Danar yang diberikan Mama Diana membuatnya mengaduh.
"Sakit Ma."
"Kamu suka sembarangan kalo ngomong."
"Ya kan kali Ma."
"Denger ya, Mama pesan pada kalian berdua ... Mama gak ngelarang kalian berpacaran atau suka sama wanita asal kalian jaga kelakuan kalian, kehormatan wanita itu segalanya," ujar Mama Diana.
Danar dan Agung tersedak bersamaan, perkataan itu sangat menohok, keluarganya memang sangat menjaga nama baik jauh dari kesalahan yang Pak Hermawan lakukan dulu, Mama Diana menerapkan pesan itu kepada kedua anak laki-lakinya.
"Danar udah selesai ... Papa mau ke kamar? Danar antar ya?" Danar bangkit membantu sang papa berdiri dengan tongkat penyangga.
Setelah berbincang sebentar dengan Pak Hermawan, Danar menuju ke kamarnya melewati kamar Agung yang sedikit terbuka. Sayup terdengar suara Agung yang sedang menggeram kesal pada seseorang di seberang sana. Karena merasa bukan urusannya Danar pun berlalu.
Membaringkan tubuhnya lalu meraih ponselnya, Danar mengusap layar ponsel dan mencari nama kekasihnya. Dengan mode vidoe call lelaki yang masih mengenakan pakaian kantornya itu menyandarkan tubuhnya pada sandaran tempat tidur. Nada sambung baru saja terhubung, nampak wajah cantik Sephia di sana.
"Lagi apa?" tanya Danar mengamati gadis itu.
"Gak lagi apa-apa, cuma nonton tivi," jawabnya.
"Gak ada suara aneh kan?" Danar tersenyum.
"Gak ada ... aman," kekeh Sephia.
"Aku besok pulang, Phi."
"Serius?" Sephia merasa senang.
"Iya ... tapi mungkin penerbangan malam, aku masih mau nemenin Papa kontrol, kantor udah ada Mas Agung ... kasian Mama kalo ke rumah sakit sendiri ngurusin Papa."
"Anak yang baik."
"Kok belum tidur sih, udah jam 10 kan di sana."
"Nungguin kamu dari tadi." Sephia memiringkan posisinya.
"Aku kangen Phi ... mau peluk," ujar Danar merubah posisi yang sama.
"Cepet pulang."
Percakapan itu butuh sampai dua jam hingga selesai, entah siapa yang mengakhiri duluan karena sepertinya pasangan kekasih itu sama-sama tertidur.