"Dia mencintaiku sampai mati, tapi justru membunuhku perlahan setiap hari."
Di balik kemewahan gaun sutra dan rumah bak istana, Yati hanyalah seorang tawanan yang jiwanya diremukkan oleh suaminya sendiri, Stevanus. Bagi dunia, Stevanus adalah pahlawan; bagi Yati, dia adalah iblis berwajah malaikat.
Puncak pengkhianatan terjadi saat Stevanus membuangnya dalam keadaan hancur demi kekuasaan dan wanita lain. Mereka mengira Yati sudah tidak berdaya dan terkubur bersama rahasia gelap mereka.
Namun, rasa sakit tidak mematikan Yati—ia justru melahirkan sosok baru yang kuat dan tangguh. Kini Yati kembali dengan identitas berbeda, menyusup ke jantung kehidupan Stevanus untuk merebut kembali hidup dan harga dirinya.
Ini adalah kisah tentang perjuangan Yati membuktikan bahwa dari kehancuran, ia bisa bangkit lebih kuat.
Bersiaplah, karena kisah ini akan membawamu pada perjalanan emosional yang penuh liku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB:14 JEBAKAN DALAM KEPANIKAN
Bau tajam bahan kimia dan aroma kematian mendadak memenuhi kamar yang tadinya mewah itu. Di depanku, Maya menggelepar seperti ikan yang ditarik paksa dari air. Matanya yang melotot seolah ingin keluar dari rongganya, menatapku dengan sisa-sisa kemarahan yang kini berganti menjadi ketakutan yang absolut.
"Maya! Apa yang terjadi?!" Stevanus berteriak, namun dia tidak mendekat. Pria itu pengecut. Dia selalu takut pada hal-hal yang tidak bisa dia kendalikan dengan uang atau tinjunya.
Jantungku berdegup kencang, nyaris meledak. Otakku bekerja secepat kilat. Jika Maya mati sekarang dan aku berdiri di sini sebagai satu-satunya saksi, Stevanus akan dengan senang hati melempar kesalahan padaku untuk membersihkan namanya dari rekaman suara yang bocor tadi.
Aku harus bertindak. Bukan untuk menyelamatkan Maya, tapi untuk menyelamatkan diriku dan bayiku.
"Stevanus, jangan diam saja! Panggil ambulans!" teriakku sambil menjatuhkan diri ke samping Maya. Aku pura-pura panik, tanganku gemetar saat menyentuh nadinya.
"Dia... dia sepertinya meminum sesuatu dari botol itu!" aku menunjuk botol air mineral di meja nakas yang isinya tinggal sedikit.
Stevanus mendekat dengan ragu. Wajahnya pucat pasi. "Tapi... kenapa dia melakukan itu di kamarmu?"
"Dia menuduhku macam-macam, Stev! Dia histeris karena rekaman suara itu! Dia bilang jika dia hancur, semua orang harus hancur!" Aku mulai terisak, sebuah tangisan sandiwara yang sangat meyakinkan. "Tiba-tiba dia mengambil botol itu dan meminumnya dengan cepat. Aku mencoba mencegahnya, itulah kenapa kami bergulat di lantai tadi!"
Maya mencoba menggapai kerah bajuku, jari-jarinya yang kaku mencengkeram kain gaunku. Mulutnya bergerak-gerak, berusaha mengeluarkan suara, namun hanya buih dan suara parau yang keluar. Dia ingin mengatakan bahwa aku berbohong, dia ingin mengatakan tentang botol vitamin itu.
Aku mendekatkan wajahku ke telinganya, seolah-olah sedang membisikkan doa, namun sebenarnya aku menekan titik saraf di bahunya untuk membuatnya semakin lemas. "Pergilah dengan tenang, Maya. Kau sudah kalah," bisikku sangat lirih, tertutup oleh suara sirine ambulans yang mulai terdengar di kejauhan rupanya Mbok Nah atau sistem rumah pintar sudah memanggil bantuan.
Stevanus memegang kepalanya, frustrasi. "Sial! Jika dia mati di sini, polisi akan menggeledah semuanya! Rekaman itu... hubungan kami... semuanya akan terbongkar!"
"Maka kau harus bertindak sebagai tunangan yang terpukul, Stev!" aku berdiri dan mencengkeram lengannya, menatap matanya dalam-dalam. "Biarkan aku yang bicara pada polisi. Aku hanya tamu di sini, aku tidak punya motif untuk menyakitinya. Tapi kau... kau punya motif besar setelah rekaman itu bocor. Jadi, percayalah padaku. Aku akan melindungimu."
Di tengah ketakutannya, Stevanus menatapku seolah aku adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra. "Kau akan melakukannya? Kau akan membelaku?"
"Selalu," jawabku dengan senyum pahit yang dia artikan sebagai kesetiaan.
Petugas medis masuk dengan tandu, diikuti oleh dua orang petugas polisi. Maya yang sudah tidak sadarkan diri dilarikan ke rumah sakit. Polisi mulai memasang garis kuning di kamarku.
Aku duduk di sofa ruang tamu, dibungkus selimut oleh Mbok Nah yang terus menatapku dengan mata penuh tanya. Stevanus duduk di sampingku, tangannya menggenggam tanganku dengan erat bukan karena cinta, tapi karena dia butuh pegangan agar tidak jatuh pingsan.
"Nona Widya, bisa Anda jelaskan apa yang terjadi?" tanya Inspektur polisi muda yang baru tiba.
Aku menarik napas panjang, membiarkan setetes air mata jatuh. "Nona Maya masuk ke kamar saya dalam keadaan sangat tidak stabil. Dia marah karena... ada masalah pribadi dengan Tuan Stevanus. Kami sempat beradu argumen, lalu dia mengambil botol minumnya sendiri yang dia bawa dan meminumnya. Semuanya terjadi begitu cepat."
"Botol minumnya sendiri?" Inspektur itu mencatat.
"Ya. Saya rasa dia sudah menyiapkannya. Dia bilang dia lebih baik mati daripada melihat Tuan Stevanus berpaling pada orang lain," aku menambahkan bumbu drama yang sempurna. Aku tahu Maya sangat terobsesi pada Stevanus, polisi akan dengan mudah mempercayai motif bunuh diri karena cinta dan cemburu.
Tiba-tiba, seorang petugas polisi lain keluar dari kamarku membawa sebuah kantong plastik transparan berisi bukti.
"Inspektur, kami menemukan ini di bawah lemari di kamar Nona Widya," ucap petugas itu.
Jantungku berhenti berdetak. Itu botol vitamin penguat kandunganku! Aku lupa mengambilnya saat kekacauan tadi!
Stevanus menoleh ke arah botol itu, matanya membelalak. Dia mengenali botol itu bukan sebagai vitamin, tapi sebagai sesuatu yang dia lihat di tas Maya beberapa hari lalu.
"Itu... itu botol obat milik Maya," sahut Stevanus cepat, mencoba membantuku (atau sebenarnya membantu dirinya sendiri).
Namun, Inspektur itu tidak bodoh. Dia membuka botol itu dan mengendus isinya. "Ini bukan racun. Ini tampak seperti suplemen. Tapi tunggu..." Dia mengeluarkan sebuah label kecil yang menempel di bagian bawah botol yang sempat terkelupas.
"Ini label dari apotek pusat kota. Atas nama pasien... Yati Stevanus?"
Seluruh ruangan mendadak hening. Stevanus membeku. Aku merasa seolah lantai yang kupijak runtuh.
"Yati? Itu nama mendiang istri Anda, bukan, Tuan Stevanus?" tanya Inspektur itu dengan nada curiga yang tajam. "Kenapa obat atas nama orang yang sudah meninggal ada di kamar tamu Anda dan diperebutkan oleh tunangan Anda?"
Stevanus menatapku dengan tatapan yang mengerikan. Kecurigaan yang selama ini dia pendam mulai meluap. Namun, sebelum dia bisa bicara, ponsel sang Inspektur berdering. Dia mengangkatnya, wajahnya berubah serius.
"Apa? Nona Maya baru saja sadar di ambulans dan dia memberikan satu pernyataan sebelum koma kembali?" Inspektur itu menatapku dengan pandangan yang mengunci.
"Tuan Stevanus, Nona Widya... Nona Maya bilang, wanita di depan saya ini bukan Widya, melainkan istri Anda yang bangkit dari kubur untuk membunuh kalian berdua."
Stevanus langsung berdiri, tangannya bergerak cepat menuju laci meja di sampingnya tempat dia menyimpan senjata api cadangan.
JANGAN LUPA UNTUK SELALU BAHAGIA🫰
Like Setiap Bab Kalau selesai 👍
Rate Bintang 5 🌟
Vote setiap hari Senin 🙏
Kalau Ada Poin Boleh Mawar sebiji🌹
Tinggalkan komentar, penyemangat, kritik & Saran, 🎖️
Makaseh banya samua 🙇🙏😇
tapi ini kisah sat set beres. gak bertele tele. langsung pada inti nya...
semoga mati ny tdk mudah.
gila stevanus.
biar ad sensasi buih buih ny tuh lakik
sakit jiwa nih lakik...