NovelToon NovelToon
LEGENDA DEWI KEMATIAN

LEGENDA DEWI KEMATIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Iblis
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: adicipto

Dunia persilatan dipenuhi kepalsuan. Yang kuat menindas, yang lemah hanya bisa menunggu mati.

Dari kegelapan, muncul seorang gadis bermata merah darah, membawa kipas hitam yang memanen nyawa. Ia dikenal sebagai Dewi Kematian. Bukan pahlawan, bukan pula iblis, melainkan hukuman bagi mereka yang kejam.

Setiap langkahnya menebar darah, setiap musuhnya lenyap tanpa jejak. Namun di balik kekuatan terlarang itu, tersembunyi luka masa lalu dan takdir kelam yang tak bisa dihindari.

Ini bukan kisah penyelamatan.
Ini adalah legenda tentang kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS 16

Kota Yibei berdiri dengan megah sebagai kota terbesar sekaligus jantung utama di seluruh wilayah Kerajaan Liungyi. Kota ini bukan sekadar pusat pemerintahan yang kaku, melainkan nadi kehidupan yang memompa semangat ke seluruh negeri. Sejak fajar menyingsing hingga larut malam, jalan-jalan utamanya tak pernah sepi dari hiruk-pikuk manusia.

Banyak pedagang dari berbagai penjuru negeri membuka lapak di setiap sudut strategis, memajang kain sutra warna-warni, rempah-rempah yang aromanya menusuk hidung, hingga barang-barang antik yang berkilau di bawah sinar matahari.

Kereta kuda lalu-lalang dengan suara roda kayu yang beradu dengan jalanan batu, membawa barang dagangan dan pejabat yang terburu-buru, sementara suara tawar-menawar yang sengit bercampur dengan teriakan lantang para penjaja makanan kaki lima menciptakan orkestra kehidupan yang nyaris tak pernah berhenti barang sedetik pun.

Pemukiman penduduk di Yibei membentang rapat dan teratur, memperlihatkan kontras yang menarik antara rumah-rumah kayu sederhana milik rakyat jelata hingga bangunan megah dengan atap melengkung yang dihiasi ukiran naga dan awan milik para bangsawan serta pejabat tinggi kerajaan.

Aktivitas yang sangat padat ini membuat Kota Yibei tampak sangat hidup dan makmur, namun di balik denyut kemajuan itu, bayangan gelap tetap mengintai di lorong-lorong sempit yang lembap. Kasus pencurian kecil yang dilakukan oleh mereka yang terdesak kebutuhan, perkelahian antar kelompok pemuda, hingga isu penculikan yang dilakukan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab masih kerap terjadi di sudut-sudut kota yang kurang terawasi.

Hal itu membuat para pejabat kerajaan dan pasukan keamanan sering kali dibuat pusing, terutama karena Yibei adalah wajah utama Kerajaan Liungyi di mata dunia luar yang harus selalu terlihat sempurna dan tenteram.

Tak jauh dari kemegahan Istana Kerajaan yang dikelilingi parit besar, berdiri sebuah kompleks bangunan luas dengan arsitektur yang sangat sederhana namun memancarkan kewibawaan yang kuat. Tempat itu adalah pusat pendidikan elite sekaligus akademi bagi anak-anak dan remaja dari berbagai latar belakang status sosial yang memiliki potensi besar.

Di sanalah mereka ditempa untuk belajar membaca dan menulis dengan indah, mempelajari seni kaligrafi yang melatih kesabaran, membedah puisi-puisi kuno yang mengandung filosofi hidup, serta menyerap berbagai pengetahuan strategi dan kenegaraan yang kelak diharapkan dapat menjadi bekal untuk mengabdi pada kejayaan kerajaan.

Cao Qiang, adik laki-laki kesayangan Cao Yi, juga menuntut ilmu di tempat tersebut. Di antara kerumunan murid lainnya, Cao Qiang dikenal sebagai anak yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata dan ketekunan yang luar biasa. Ia mampu menguasai teknik membaca dan menulis jauh lebih cepat dibandingkan teman-teman sebayanya yang terkadang masih kesulitan mengeja.

Setiap pelajaran yang disampaikan oleh para guru seolah-olah mudah melekat di kepalanya seperti tinta pada kertas kering. Para pengajar seringkali memberikan pujian tulus atas ketajaman berpikirnya, bahkan beberapa di antaranya meyakini dengan teguh bahwa bocah dari keluarga Cao ini kelak akan menjadi sosok penting, mungkin seorang penasihat agung, bagi Kerajaan Liungyi di masa depan.

Siang itu, di bawah naungan pohon rindang yang bunganya mulai bermekaran, Cao Yi duduk dengan tenang tidak jauh dari pintu masuk bangunan sekolah tersebut. Ia datang lebih awal untuk menjemput adiknya setelah jam pelajaran selesai, namun kali ini ia tidak sendirian. Cao Xiang, sang ayah yang biasanya sibuk dengan urusan militer, duduk di sampingnya.

Pria perkasa itu memandang ke arah halaman sekolah dengan ekspresi yang sulit dibaca, ada campuran antara kerinduan akan masa muda dan harapan besar yang terpancar dari matanya.

Dari kejauhan, mereka bisa melihat Cao Qiang duduk dengan posisi sangat rapi bersama murid-murid lainnya di dalam aula terbuka. Ia tampak mendengarkan gurunya membacakan puisi klasik dengan penuh perhatian, punggungnya tegak dan wajahnya menunjukkan keseriusan yang dewasa bagi anak seusianya. Seolah-olah setiap kata dan bait yang ia dengar sedang disimpan dengan sangat hati-hati di dalam lumbung ingatannya.

“Adikmu benar-benar sangat cerdas,” kata Cao Xiang tiba-tiba, memecah keheningan di antara mereka. Suaranya terdengar pelan dan berat, namun sarat dengan kebanggaan yang tak bisa disembunyikan. “Sebenarnya, dalam lubuk hati yang paling dalam, ayah sangat berharap dia kelak bisa menjadi seorang penasihat kerajaan yang bijak atau pejabat sipil yang adil. Sebuah jabatan terhormat yang memungkinkannya mengabdi pada negeri tanpa perlu terjun ke medan perang yang penuh dengan bau darah dan kematian.”

Ia terdiam sejenak, menatap dahan pohon di atasnya, lalu melanjutkan dengan nada sedikit menghela nafas panjang. “Namun kau tahu sendiri, cita-citanya malah ingin menjadi seorang Jenderal besar sepertiku. Padahal bakat intelektualnya bisa membawanya melampaui sekadar posisi Jenderal yang bertaruh nyawa di garis depan.”

Cao Yi menoleh ke arah ayahnya, senyum tipis yang tulus mengembang di bibirnya yang biasanya kaku. “Bagaimanapun juga, Ayah, di dalam tubuhnya mengalir darah keluarga Cao yang kental. Sifat dan semangatnya hampir sama persis denganmu. Jadi jangan merasa heran kalau pada akhirnya dia ingin mengikuti jejak kepahlawananmu di medan laga.”

“Hmp?” Cao Xiang mendengus pelan dengan nada bercanda, lalu ia mengangkat jarinya dan menunjuk hidung Cao Yi dengan gemas. “Bukankah yang benar-benar memiliki watak keras dan mirip denganku itu sebenarnya adalah kamu? Kau itu keras kepala, selalu bertindak sendiri tanpa pamit, dan jika sudah memutuskan sesuatu, sangat sulit untuk dihentikan! Kau adalah cerminan diriku di masa muda, Yi'er.”

Cao Yi cekikikan kecil, segera menutup mulutnya dengan telapak tangan untuk meredam suaranya agar tidak mengganggu kelas. Tawa itu terdengar sangat ringan dan tulus, sebuah pemandangan yang jarang sekali muncul di wajahnya sejak ia mulai memikul beban sebagai Dewi Kematian. “Iya juga, Ayah benar,” katanya sambil tersenyum lebar. “Aku kan anak tertua di keluarga Cao. Orang-orang tua sering bilang kalau anak pertama, apalagi perempuan, biasanya memang lebih banyak mewarisi sifat ayahnya daripada ibunya. Sepertinya pepatah itu benar adanya.”

“Kau masih saja bisa menjawab ,” gumam Cao Xiang dengan nada yang pura-pura kesal, namun sudut bibirnya terangkat samar membentuk senyum bangga. Ia merasa hatinya sangat tenang melihat putrinya bisa tertawa lepas seperti itu, sebuah momen manusiawi yang sangat ia syukuri setelah segala ketegangan yang menyelimuti keluarga mereka selama ini.

Tak lama kemudian, suasana di aula sekolah menjadi tenang saat guru di depan memanggil nama Cao Qiang untuk tampil. Bocah itu bangkit dari duduknya tanpa ragu dan melangkah maju dengan sikap percaya diri yang tenang. Ia berdiri tegak menghadap teman-temannya yang duduk bersila di lantai kayu, lalu memberikan hormat kecil yang sopan kepada gurunya sebelum memulai.

Cao Yi dan Cao Xiang secara refleks menajamkan indra pendengaran mereka. Meskipun jarak mereka duduk cukup jauh dari aula, namun sebagai pendekar tingkat tinggi, keduanya mampu menangkap getaran suara dan mendengar dengan sangat jelas setiap kata yang terucap dari bibir kecil Cao Qiang.

“Teman-teman dan Guruku yang terhormat,” suara Cao Qiang terdengar jernih dan mantap, bergema dengan penuh wibawa di seluruh ruangan, “izinkan aku membacakan sebuah puisi ciptaanku sendiri yang baru saja kuselesaikan pagi ini. Aku memberinya judul ‘Harmoni Langit dan Singgasana’.”

Ia menarik nafas dalam-dalam sejenak, memejamkan mata untuk meresapi bait-baitnya, lalu mulai melantunkan puisinya dengan penuh keyakinan yang memukau setiap pendengarnya.

“Gunung berselimut kabut pagi,

sungai membentang bagai naga perak.

Angin musim semi menyentuh daun giok,

langit biru memeluk bumi tanpa cela.

Mentari bangkit dari timur emas,

membasuh negeri dengan cahaya suci.

Sepuluh ribu makhluk bernafas serempak,

dunia bergetar dalam irama abadi.

Di tengah alam yang tunduk sunyi,

berdirilah Raja di singgasana langit.

Tatapannya setenang danau terdalam,

wibawanya lebih tua dari waktu.

Satu titah, negeri pun tenteram,

satu langkah, sejarah pun bergerak.

Ia bukan sekadar pemilik mahkota,

melainkan poros antara bumi dan surga.

Selama gunung tetap tegak,

selama sungai tak berhenti mengalir,

nama Sang Raja akan terpatri,

bersama keindahan dunia yang tak lekang.”

Begitu bait terakhir selesai diucapkan, keheningan sesaat menyelimuti ruangan sebelum akhirnya tepuk tangan riuh menggema di seluruh penjuru kompleks sekolah. Beberapa murid tampak terkesima dengan pemilihan kata yang begitu indah, sementara sang guru tersenyum sangat lebar, matanya berbinar jelas menunjukkan rasa puas dan bangga terhadap hasil karya murid kesayangannya itu.

“Benar-benar sangat pandai menyusun kata,” kata Cao Xiang pelan, matanya sedikit berkaca-kaca melihat pencapaian putranya. “Dia tidak hanya mampu melukiskan keindahan alam Kerajaan Liungyi, tapi dia juga mampu menggambarkan esensi kewibawaan seorang Raja dengan cara yang sangat elegan. Anak ini memiliki jiwa yang besar.”

Cao Yi mengangguk setuju dengan mantap. Ia sudah lama menyadari bakat terpendam adiknya yang multifaset, bukan hanya dalam hal merangkai puisi, tetapi juga dalam seni kaligrafi yang halus dan pemahaman makna-makna filosofis mendalam yang sering kali tersembunyi di balik kata-kata sederhana. Cao Qiang adalah permata keluarga mereka yang harus dijaga.

Saat keduanya tengah menikmati suasana tenang dan bangga tersebut, seorang prajurit istana dengan seragam resmi tiba-tiba mendekat dan memberikan hormat militer yang sempurna di hadapan mereka.

“Mohon maaf mengganggu waktu Anda, Jenderal Cao. Ada pesan mendesak untuk Nona Muda Cao Yi,” kata prajurit itu dengan sikap yang sangat hormat. “Pesan ini datang langsung dari Yang Mulia Permaisuri. Beliau meminta Nona Muda untuk segera menemuinya di Taman Permaisuri di dalam istana.”

Cao Yi sedikit terkejut mendengar panggilan yang tiba-tiba itu, namun dalam sekejap ekspresi wajahnya kembali tenang dan datar seperti permukaan air yang tak beriak. “Baik. Aku mengerti. Sampaikan kepada Yang Mulia bahwa aku akan segera kesana setelah ini. Kamu boleh kembali ke posmu.”

Prajurit itu membungkuk sekali lagi dengan sopan, lalu berbalik dan pergi dengan langkah cepat yang teratur. Cao Yi menghela nafas pelan, matanya menatap tajam ke arah menara istana yang menjulang tinggi di kejauhan, seolah-olah mencoba menebak apa yang ada di balik dinding-dinding kokoh tersebut.

“Mau apa Kakak Permaisuri memanggilku siang seperti ini?” gumamnya lirih pada dirinya sendiri, rasa penasaran mulai tumbuh di hatinya.

“Mungkin ada urusan penting atau sekadar pembicaraan antar wanita yang mendesak,” jawab Cao Xiang sambil melirik putrinya dengan tatapan yang penuh dukungan. “Pergilah, Yi'er. Jangan biarkan Yang Mulia menunggu terlalu lama. Biar ayah yang tetap di sini menunggu adikmu keluar dari sekolah dan membawanya pulang dengan selamat.”

Cao Yi mengangguk pelan, menyetujui saran ayahnya. Ia bangkit berdiri dan melangkah pergi menuju gerbang istana. Gaun putih yang ia pakai untuk menutupi identitas gelapnya, berkibar ringan tertiup angin siang yang sejuk, memberikan kesan anggun yang sangat bertolak belakang dengan kengerian yang ia sebarkan di dunia persilatan.

Sementara itu, Cao Xiang tetap duduk setia di tempatnya, menunggu Cao Qiang keluar dengan perasaan bangga yang membuncah di dalam dadanya.

1
algore
tumben cuma sedikit babnya hehe
Mujib
/Good//Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Mujib
/Casual//Casual//Casual//Casual/
Mujib
/Frown//Frown//Frown//Frown/
Mujib
/Smile//Smile//Smile//Smile/
Mujib
😅😅😅😅
Mujib
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Mujib
🤣🤣🤣🤣
Mujib
👀👀👀👀
Mujib
🤔🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕🖕
Mujib
💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!