Alina Grace tumbuh sebagai putri keluarga Kalingga. Hidup dalam kemewahan, pendidikan terbaik, dan masa depan yang tampak sempurna.
Namun semua itu runtuh seketika begitu kebenaran terungkap.
Ia bukanlah anak kandung keluarga Kalingga
Tanpa belas kasihan, Alina dikembalikan ke desa asalnya, sebuah tempat yang seharusnya menjadi rumah, tetapi justru menyisakan kehampaan karena kedua orang tua kandungnya telah lama meninggal dunia.
Dari istana menuju ladang, dari kemewahan menuju kesunyian, Alina dipaksa memulai hidup dari nol.
Di tengah keterpurukan, sebuah Sistem Perdagangan Dunia Pararel terbangun dalam dirinya.
Sistem misterius yang menghubungkan berbagai dunia, membuka peluang dagang yang tak pernah dibayangkan manusia biasa.
Dengan kecerdasan, kerja keras, dan tekad yang ditempa penderitaan, Alina perlahan bangkit, mengubah hasil bumi desa menjadi komoditas bernilai luar biasa.
Dari gadis yang dibuang, ia menjelma menjadi pemain kunci dalam perdagangan lintas dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SiPemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membeli Motor Bekas
Siang hari setelah selesai dengan urusan ladang, Alina bermaksud pergi ke kecamatan untuk melihat-lihat tempat yang menjual motor bekas
Tetapi baru juga istirahat, tiba-tiba~
[Ding!]
[Pesan Dari Dunia Sylva-03.]
“Pedagang Dunia Biru, kami membutuhkan benih tanaman yang bernama jagung juga gandum.
Kalau kamu memilikinya, kami akan membelinya setiap paket dengan nilai 100 Poin!”
“Kebetulan aku memilikinya, tapi untuk benih jagung, dikarenakan jumlahnya saat ini sangat terbatas, aku hanya bisa menjual dua paket.”
Dengan bantuan Sistem, transaksi segera dilakukan, dimana Alina menjual 2 paket benih jagung dan 4 paket benih gandum.
[Ding!]
[Proses perdagangan terlah terselesaikan.]
[Uang dari Dunia Sylva-03 dirubah menjadi 600 Poin Sistem.]
[Poin Sistem telah ditambahkan.]
[Menampilkan Status]
Nama: Alina Grace (Pedagang Dunia Biru)
Usia: 18 Tahun
Kekuatan Fisik: 20/100
Daya Tahan Tubuh: 30/100
Kecepatan: 30/100
Kelincahan: 35/100
Kondisi Tubuh: 100/100
Kecerdasan: 70/100
Kecantikan: 50/100
Keberuntungan: 85/100
Poin Sistem: 1.200
Uang Dunia Asal: Rp15.450.000
Aset:
~ Mansion Di Kota
~ Rumah Kayu
~ Ladang 1 Hektar
~ Tanah Kosong 50 Hektar
~ Sebuah Gudang (Misterius)
Ruang Penyimpanan:
~ 2 Kotak Kayu Ukuran Sama
~ Surat-surat penting
~ 5 Kilogram Emas
~ Kunci Gudang
~ Peta Gudang
Kontrak Kerjasama:
~ Dunia Sylva-03 (Nama Dunia Bisa Diganti)
Toko Sistem: Terbuka
Level Sistem: 4 (10/5.000)
Melihat layar hologram yang muncul di depannya, Alina merasa semuanya jauh lebih mudah dimengerti, tapi ia penasaran dengan angka di belakang Level Sistem.
Seolah mengerti apa yang membuat Pemiliknya penasaran, cepat Sistem memberi penjelasan.
[Ding!]
[Angka itu adalah Poin Pengalaman, dan poin pengalaman akan bertambah secara acak setiap Nona menyelesaikan perdagangan.]
Mendengarnya Alina mengangguk mengerti, dan cepat ia menghilangkan layar hologram di depannya saat di kejauhan sana Raka jalan mendekat.
“Sedang istirahat setel bekerja?” tanya Raka.
“Iya, cuaca hari ini cukup terik, membuat tubuh lebih cepat lelah,” jawab Alina.
“Cuaca seperti ini biasanya mendatangkan hujan di sore hari. Kalau kamu ada urusan di luar sebaiknya diselesaikan sebelum datang hujan!” ucap Raka.
“Sebenarnya aku ingin pergi ke kecamatan, ada barang yang ingin aku beli,” ungkap Alina.
“Oh, mau pergi berdama? Kebetulan aku ingin membeli pupuk ke kecamatan, tapi kita akan pergi dengan mobil bak terbuka, sedikit tidak nyaman karena mobil tua,” ucap Raka apa adanya.
“Itu jauh lebih baik daripada harus jalan kaki, ke jalan besar, lalu naik angkutan umum,” balas Alina.
“Kalau mau pergi bersama, sebaiknya kamu cepat bersiap karena ini sebentar lagi aku mau berangkat!” ucap Raka.
“Oh, oke~,” balas Alina dan cepat ia pergi bersiap.
Mumpung ada tumpangan, ia ingin memanfaatkan tumpangan itu dengan sebaik-baiknya.
Beberapa menit kemudian, mobil bak terbuka yang dikemudikan Raka berhenti di depan rumah kayu Alina.
Saat ini Alina sudah siap pergi, jadi ia langsung saja masuk ke dalam mobil, kebetulan hari ini Raka pergi ke kecamatan sendirian, dikarenakan ayah dan ibunya kemarin pergi ke kota, dan kapan mereka kembali Raka sendiri tidak yakin kapan mereka kembali ke Desa.
Dari Desa Lembah Aruna ke kecamatan memakan waktu hampir satu setengah jam. Memang jauh, dikarenakan Desa itu cukup di pelosok, tapi listrik maupun sinyal alat komunikasi sudah masuk ke Desa, membuat penduduk di desa tidak tertinggal oleh kemajuan zaman.
“Benda apa yang ingin kamu beli? Kalau kamu mengatakannya, mungkin aku bisa membantu memberitahu tempat terbaik untuk mendapatkan benda itu!” ujar Raka.
“Aku ingin membeli sebuah sepeda motor bekas,” ucap Alina.
“Kalau punya uang, beli motor memang bagus. Dengan begitu kamu bisa mudah pergi kemana-mana, termasuk jika suatu hari ingin pergi ke kota. Kebetulan juga aku punya kenalan yang menjual motor bekas dengan kualitas baik di kecamatan ini. Mau aku antar ke tempat itu?” tawar Raka.
“Kalau tidak merepotkan, tolong antar aku ke tempat itu!” pinta Alina.
“Sama sekali tidak merepotkan! Lagipula tempat itu tepat berasa di sebelah tempat tujuanku!” balas Raka.
Beberapa saat kemudian mobil bak terbuka yang dikemudikan Raka berhenti di depan toko pupuk terbesar di kecamatan.
“Tunggu sebentar saja! Aku selesaikan dulu urusanku, baru aku akan membantu memilihkan motor untukmu!” ucap Raka.
Alina mengangguk, setuju menunggu Raka menyelesaikan urusannya.
Kurang dari lima menit seluruh urusan Raka terselesaikan, dan sekarang ia membawa Alina ke toko sebelah, toko yang khusus menjual motor bekas keluaran terbaru.
Orang yang dikenali Raka segera menyambut kedatangan mereka, dan setelah tau alasan mereka datang, cepat ia mengarahkan Alina dan Raka ke tempat motor matic, sangat sesuai jika yang menggunakannya adalah wanita seperti Alina.
Membeli motor bekas walau keadaan luarnya masih sangat mulus, yang perlu menjadi perhatian utama sebelum membeli adalah keadaan mesin.
Disini peran Raka sangatlah besar, sebab ia sangat ahli dalam permesinan motor, dan begitu Alina menunjukkan padanya motor yang diinginkannya, hal pertama yang dilakukan Raka adalah memastikan mesin motor dalam keadaan baik.
Pengecekan dilakukan dengan cepat, dan didapati kondisi mesin dan yang lainnya dalam keadaan baik, membuat Alina tersenyum senang karena tidak lama lagi ia akan memiliki motornya sendiri, bukan sebuah fasilitas yang sekedar dipinjamkan kepadanya.
Penjual menawarkan proses balik nama, jadi sekalian saja Alina menjadikan motornya 100 persen miliknya.
Kurang dari satu jam seluruh proses selesai, bahkan kini motor itu memiliki surat-surat atas nama Alina.
Ia tidak tau apa yang dilakukan oleh Raka yang tadi izin pergi setel proses jual beli dilakukan, tau-tau saat kembali ia menyerahkan surat-surat motor yang sudah berganti nama.
Bukan hanya itu, tapi plat nomor kendaraan juga sudah ada yang baru, dimana saat itu juga Raka langsung memasangkan plat baru ke motor Alina.
“Sudah selesai. Sekarang motor ini sepenuhnya adalah milikmu!” ucap Raka, setelah ia selesai memasang plat motor baru ke motor Alina.
“Ini~, bagaimana bisa Kak Raka menyelesaikan semua ini kurang dari satu jam?” tanya Alina penasaran.
“Aku memiliki kenalan di kepolisian, dan ia bersedia membantuku menyelesaikan semua ini,” jawab Raka.
Jarak dari kecamatan ke kota kabupaten sangatlah jauh, jadi di kecamatan juga tersedia tempat untuk mengurus berkas-berkas kendaraan, bahkan untuk mengurus surat izin mengemudi juga ada di kecamatan.
Alina tidak bertanya lebih jauh, tapi karena Raka sudah berbaik hati membantunya, ia pun berinisiatif mentraktir Raka makan, apalagi mereka tadi belum sempat makan siang.
Raka tidak menolak, dan mereka memilih menu makanan pinggir jalan untuk mengisi perut di siang hari yang mulai mendung.