Dyon Syahputra, anak yatim piatu yang hidup dari kerja serabutan, harus menghadapi perundungan sadis di SMA Negeri 7. Ketika ia jatuh cinta pada Ismi Nur Anisah—gadis dari keluarga kaya—cinta mereka ditolak mentah-mentah. Keluarga Ismi menganggap Dyon sampah yang tidak pantas untuk putri mereka. Di tengah penolakan brutal, pengkhianatan sahabat, dan kekerasan tanpa henti dari Arman, Edward, dan Sulaiman, Dyon harus memilih: menyerah pada takdir kejam atau bangkit dari nol membuktikan cinta sejati bisa mengalahkan segalanya.
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: KOMPETISI MATEMATIKA
#
Seminggu setelah dapet beasiswa, Dyon dipanggil ke ruang guru matematika. Bu Ratna, guru matematika yang galak tapi sebenarnya baik hati, lagi nunggu.
"Dyon, duduk," katanya sambil nunjuk kursi.
Dyon duduk, bingung. "Ada apa, Bu?"
Bu Ratna ngeluarin kertas dari map. "Ini formulir pendaftaran Olimpiade Matematika tingkat provinsi. Bulan depan. Aku mau kamu ikut."
Dyon kaget. "Olimpiade? Tapi Bu, saya... saya baru belajar serius beberapa bulan. Saya nggak yakin bisa..."
"Justru karena itu aku pilih kamu," Bu Ratna potong. "Dyon, nilai matematika kamu naik paling drastis di sekolah ini. Dari 40 jadi 90 dalam dua bulan. Itu... itu luar biasa. Aku lihat potensi di kamu. Potensi yang... yang jarang aku lihat di siswa lain."
"Tapi Bu, olimpiade itu kan isinya anak anak pinter dari sekolah elite. Mereka udah latihan dari SD. Sementara saya..."
"Sementara kamu punya sesuatu yang mereka nggak punya," Bu Ratna senyum. "Kamu punya semangat. Kamu punya alasan kuat buat menang. Dan itu... itu lebih penting dari sekedar pinter."
Dyon diam, mikir.
"Lagipula," Bu Ratna nambah, "kalau kamu masuk 10 besar tingkat provinsi, kamu otomatis dapet beasiswa penuh ke universitas negeri manapun yang kamu mau. Teknik. Arsitektur. Apapun."
Jantung Dyon berdegup keras.
Arsitektur.
Mimpinya.
"Oke, Bu," kata Dyon akhirnya. "Saya... saya akan coba."
Bu Ratna senyum lebar. "Bagus. Mulai besok, kamu latihan sama saya setiap pulang sekolah. Dua jam sehari. Sampai hari kompetisi."
***
Latihan dimulai.
Setiap hari, pulang sekolah, Dyon ke ruang matematika. Bu Ratna udah siapin soal soal olimpiade. Soal soal gila yang bikin otak kayak mau meledak.
"Ini soal olimpiade tahun lalu," kata Bu Ratna sambil kasih kertas. "Waktu 30 menit. Lima soal. Kerjakan."
Dyon mulai ngerjain.
Soal pertama... susah. Tapi dia inget rumusnya yang diajarkan Leonardo. Coba hitung... bisa!
Soal kedua... lebih susah. Dia stuck. Nggak tau harus mulai dari mana.
"Stuck?" tanya Bu Ratna.
"Iya, Bu."
"Oke, lihat lagi soalnya. Cari pola. Matematika itu tentang pola, Dyon. Nggak semua harus dihafal. Kadang... kadang kamu harus lihat dari sudut pandang berbeda."
Dyon nyoba lagi. Lihat soal dari berbagai sudut. Terus... dia nemu polanya!
Kerjain. Selesai.
"Bagus!" Bu Ratna senyum. "Kamu belajar cepat."
Tapi soal soal berikutnya makin susah. Soal tiga, empat, lima... semuanya level tinggi banget.
Dyon nggak bisa selesaiin semua dalam 30 menit.
"Nggak apa apa," kata Bu Ratna. "Ini baru latihan pertama. Kamu akan lebih cepat nanti."
Latihan terus berlanjut. Setiap hari. Dua jam. Kadang sampe tiga jam kalau Dyon belum ngerti.
Ismi sering nunggu di luar ruang matematika. Bawa kotak bekal isi makanan ringan sama kopi sachet.
"Ini," kata Ismi sambil kasih kotak bekal waktu Dyon istirahat sebentar. "Kamu harus makan. Jangan lupa jaga kesehatan."
"Makasih," Dyon senyum, ambil roti isi dari kotak. Makan sambil baca buku matematika.
"Kamu... kamu nggak capek?" tanya Ismi pelan, duduk di samping Dyon.
"Capek sih," Dyon jujur. "Tapi... tapi ini penting. Ini kesempatan buat gue dapet beasiswa kuliah penuh. Buat... buat masa depan kita."
Ismi senyum, pegang tangan Dyon. "Aku... aku bangga sama kamu. Aku akan selalu support kamu."
Dyon cium kening Ismi. "Terima kasih udah selalu ada."
***
Dua minggu sebelum kompetisi.
Dyon mulai belajar makin gila gilaan. Pulang sekolah latihan sama Bu Ratna. Malem belajar sendiri di gubuk sampe jam dua pagi. Bangun jam lima pagi, belajar lagi sebelum sekolah.
Tidur cuma tiga jam sehari.
Badannya mulai kurus lagi. Mata cekung. Tapi dia nggak peduli.
*Gue harus menang. Gue harus masuk 10 besar.*
Andra sama Leonardo khawatir.
"Yon, lo harus istirahat," kata Andra suatu hari waktu liat Dyon hampir ketiduran di kelas. "Lo kayak zombie, Bro."
"Gue nggak apa apa," Dyon maksa senyum.
"Lo nggak apa apa?! Lo keliatan mau mati, Tolol!" Andra kesal. "Kompetisi masih dua minggu! Kalau lo sakit sekarang, gimana lo mau ikut kompetisi?!"
Leonardo nambah, "Andra bener, Yon. Lo butuh istirahat. Otak lo nggak bisa kerja optimal kalau badan lo kelelahan."
Dyon diam. Mereka bener. Tapi...
"Gue... gue nggak punya waktu buat istirahat," bisik Dyon. "Gue harus belajar sebanyak mungkin. Pesaing gue... pesaing gue anak anak yang udah latihan bertahun tahun. Sementara gue... gue baru beberapa bulan."
"Tapi kualitas lebih penting dari kuantitas," Leonardo bilang. "Daripada lo belajar 20 jam tapi nggak masuk ke otak, lebih baik lo belajar 10 jam tapi fokus dan istirahat cukup."
Dyon mikir. Mungkin mereka ada benernya.
"Oke," kata Dyon akhirnya. "Gue akan coba istirahat lebih banyak."
"Bagus," Andra senyum. "Dan kalau lo butuh bantuan, bilang aja. Gue sama Leo akan bantu apapun."
"Makasih, Bro," Dyon senyum tulus.
***
Hari kompetisi tiba.
Sabtu pagi. Dyon bangun jam enam. Mandi. Pakai seragam sekolah yang udah dicuci bersih. Sarapan nasi goreng sisa kemarin yang dia panasin.
Deg degan.
Ini hari yang menentukan.
Kompetisi diadakan di Universitas Negeri, gedung besar megah di tengah kota. Dyon naik bus, turun di depan kampus.
Astaga.
Anak anak peserta pada datang dengan mobil pribadi. Seragam rapi, tas branded, bawa kalkulator canggih.
Sementara Dyon... naik bus, seragam biasa, tas ransel compang camping, cuma bawa pensil sama penghapus.
Dia ngerasa... kecil.
Tapi inget kata kata Bu Ratna: "Kamu punya semangat. Kamu punya alasan kuat buat menang."
Napas dalam.
*Gue bisa. Gue... gue harus bisa.*
Masuk gedung. Ruangan besar kayak auditorium. Kursi kursi berjajar rapi. Udah ada sekitar 200 peserta dari berbagai sekolah.
Dyon cari bangku sesuai nomor peserta. Nomor 127. Bangku di tengah.
Duduk. Tangan gemetar dikit.
"Deg degan ya?" suara dari samping.
Dyon nengok. Cowok seumur dia, pakai seragam SMA swasta elite, senyum ramah.
"Iya," jawab Dyon jujur.
"Sama," cowok itu senyum. "Gue juga deg degan. Ini kompetisi pertama gue tingkat provinsi. Nama gue Raka, dari SMA Bina Nusantara."
"Dyon, dari SMA Negeri 7," Dyon bales senyum.
"SMA Negeri 7? Wah, sekolah lo terkenal lho. Banyak siswa berprestasi dari situ," kata Raka.
Dyon kaget. "Serius?"
"Iya. Gue denger tahun lalu ada yang juara olimpiade fisika dari sekolah lo," Raka bilang. "Lo pasti jago juga ya kalau bisa masuk ke sini."
Dyon cuma senyum tipis. Nggak ngomong kalau dia baru belajar serius beberapa bulan.
Panitia masuk. Bagi kertas soal sama lembar jawaban.
"Waktu 120 menit. Sepuluh soal. Boleh mulai... sekarang!"
Dyon buka kertas soal.
Soal pertama... dia pernah liat soal mirip ini waktu latihan sama Bu Ratna!
Kerjain. Cepet. Selesai dalam lima menit.
Soal kedua... agak susah. Tapi dia inget polanya. Kerjain. Selesai.
Soal ketiga, keempat, kelima... semuanya susah. Tapi Dyon nggak panik. Dia inget semua yang diajarkan Bu Ratna, Leonardo, Ismi.
Tenang. Fokus. Lihat pola.
Kerjain satu per satu.
Jam berjalan. Keringat mulai keluar.
Soal keenam... ini susah banget. Dyon stuck. Nyoba berbagai cara. Nggak bisa.
Lewatin dulu. Kerjain soal tujuh.
Soal tujuh... bisa!
Soal delapan, sembilan... bisa juga!
Soal sepuluh... lumayan susah tapi dia bisa.
Balik ke soal enam. Masih stuck.
Lima menit tersisa.
*Ayolah... ayolah... pasti ada caranya...*
Tiba tiba... dia inget. Rumus yang Leonardo ajarkan waktu latihan minggu lalu!
Coba pake rumus itu.
Hitung cepet.
Dapat!
Tulis jawaban. Cepet cepet.
"Waktu habis! Letakkan pensil!" teriak panitia.
Dyon taruh pensil. Napas lega.
Selesai.
Dia... dia udah kerjain semua soal.
***
Hasil kompetisi diumumkan seminggu kemudian.
Dyon duduk di kelas waktu Bu Ratna masuk dengan senyum lebar.
"Dyon, ke ruang guru sebentar."
Jantung Dyon berdebar. Dia ikut Bu Ratna.
Sampai ruang guru, Bu Ratna kasih kertas.
"Lihat sendiri."
Dyon buka.
Mata melebar.
**Peringkat 7 Olimpiade Matematika Tingkat Provinsi**
**Nama: Dyon Syahputra**
**Sekolah: SMA Negeri 7**
Peringkat tujuh!
Masuk 10 besar!
"Selamat, Dyon," Bu Ratna peluk Dyon. "Kamu... kamu luar biasa."
Dyon nggak bisa ngomong. Air mata keluar.
"Ini... ini beneran, Bu?"
"Beneran," Bu Ratna senyum. "Kamu dapat beasiswa penuh ke universitas negeri manapun yang kamu mau. Kamu... kamu wujudin mimpi kamu."
Dyon nangis. Keras. Kayak semua beban di pundaknya tiba tiba hilang.
"Terima kasih, Bu... terima kasih banyak..."
***
BERSAMBUNG
***
KOMPETISI MATEMATIKA