Dyon Syahputra, anak yatim piatu yang hidup dari kerja serabutan, harus menghadapi perundungan sadis di SMA Negeri 7. Ketika ia jatuh cinta pada Ismi Nur Anisah—gadis dari keluarga kaya—cinta mereka ditolak mentah-mentah. Keluarga Ismi menganggap Dyon sampah yang tidak pantas untuk putri mereka. Di tengah penolakan brutal, pengkhianatan sahabat, dan kekerasan tanpa henti dari Arman, Edward, dan Sulaiman, Dyon harus memilih: menyerah pada takdir kejam atau bangkit dari nol membuktikan cinta sejati bisa mengalahkan segalanya.
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: IZIN DARI ORANG TUA ISMI
#
Tiga hari diskors berlalu. Dyon habiskan waktu di gubuk, istirahat, obati luka luka di badan. Ismi nggak tau soal pertarungan itu, Dyon sengaja nggak cerita. Dia bilang dia sakit, jadi diskors sebentar.
Ismi khawatir, tapi Dyon meyakinkan lewat SMS kalau dia baik baik aja.
Rabu sore, hari terakhir diskors. Dyon lagi beresin gubuk, nyapu, ngepel, bersihin jendela yang penuh debu. Hape berbunyi.
Nomor nggak dikenal.
Dyon angkat. "Halo?"
"Dyon Syahputra?" suara berat, formal.
Jantung Dyon langsung berdebar. Dia kenal suara ini.
Pak Hendra. Ayah Ismi.
"I... iya, Pak. Ini saya," jawab Dyon gugup.
"Datang ke rumah saya. Hari ini. Jam lima sore. Ada yang perlu saya bicarakan," kata Pak Hendra, terus tutup telepon.
Pip.
Dyon megang hape dengan tangan gemetar. Duduk di kasur.
*Kenapa... kenapa dia manggil gue lagi? Apa... apa dia mau ngusir gue lagi? Mau... mau mukul gue lagi?*
Tapi... dia nggak punya pilihan. Kalau dia nggak datang, Pak Hendra bisa lebih marah.
***
Jam lima sore. Dyon berdiri di depan gerbang rumah mewah keluarga Anisah. Gerbang yang sama. Rumah yang sama.
Tapi... perasaannya beda.
Kali ini dia nggak takut. Masih nervous, iya. Tapi... dia udah beda. Dia udah lebih kuat.
Tekan interkom. Gerbang terbuka otomatis.
Jalan ke pintu depan. Pintu kayu jati yang megah. Ketuk pelan.
Pintu dibuka. Pembantu yang sama, cewek muda.
"Masuk. Pak Hendra sudah menunggu di ruang tamu," katanya, kali ini nggak meremehkan kayak dulu. Malah... sopan.
Dyon masuk. Ruang tamu masih sama. Megah. Mewah. Tapi kali ini... ada yang beda.
Pak Hendra duduk di sofa, tapi wajahnya... nggak segalak dulu. Lebih... tenang. Di sampingnya ada Ibu Sarah, juga duduk tenang.
"Duduk," kata Pak Hendra, nunjuk sofa di seberang.
Dyon duduk. Tangan di pangkuan, gemetar dikit.
Pak Hendra ngeliatin Dyon lama. Dari ujung kepala sampai ujung kaki. Mata tajam, tapi... nggak ada kebencian kayak dulu.
"Aku dengar kamu berkelahi dengan Edward," kata Pak Hendra.
Dyon kaget. "Bapak... Bapak tau?"
"Aku punya koneksi di sekolah itu," Pak Hendra senyum tipis. "Aku tau semuanya. Tentang pisau. Tentang ancaman. Tentang... video yang Edward rekam."
Dyon pucat. "Bapak... video itu sudah saya hapus. Saya..."
"Aku tau," Pak Hendra potong. "Aku juga tau kamu melindungi Ismi. Kamu... kamu lawan Edward sendirian. Padahal dia bawa senjata. Padahal kamu bisa... bisa mati."
Hening.
"Kenapa kamu lakuin itu?" tanya Pak Hendra pelan.
"Karena... karena saya mencintai Ismi, Pak," jawab Dyon jujur. Suaranya gemetar tapi tegas. "Saya... saya nggak bisa biarkan dia disakiti. Nggak bisa biarkan nama baiknya hancur."
Ibu Sarah ngelap matanya yang basah. Ternyata dia nangis.
Pak Hendra diam lama. Napas berat.
"Dulu," katanya pelan, "aku pikir kamu cuma anak jalanan yang mau manfaatin Ismi. Aku pikir kamu... kamu cuma cari uang. Cari kehidupan enak."
Dyon nunduk. Sakit dengerin kata kata itu, meskipun itu masa lalu.
"Tapi aku salah," Pak Hendra lanjut. Suaranya... bergetar. "Aku salah menilaimu, Dyon."
Dyon nengadah. Kaget.
"Kamu bukan anak yang lemah," Pak Hendra berdiri, jalan ke depan Dyon. "Kamu... kamu anak yang kuat. Bertanggung jawab. Pemberani. Kamu... kamu rela nyawa taruhannya demi anak ku."
Air mata mulai keluar dari mata Pak Hendra. Seorang bapak besar, kuat, pengusaha sukses... nangis.
"Maafkan aku," bisiknya. Suara pecah. "Maafkan aku pernah mukul kamu. Maafkan aku... pernah hina kamu. Maafkan aku... pernah usir kamu."
Dyon berdiri, cepat. "Pak, Bapak nggak perlu minta maaf. Saya... saya ngerti. Bapak cuma... cuma mau yang terbaik buat Ismi."
"Tapi aku salah cara," Pak Hendra geleng. "Aku... aku terlalu keras. Terlalu sombong. Aku pikir uang bisa beli segalanya. Tapi... tapi ternyata nggak. Cinta... cinta nggak bisa dibeli."
Pak Hendra pegang bahu Dyon. Erat. "Dyon, aku minta maaf. Sungguh."
Dyon nggak bisa nahan lagi. Nangis. "Saya... saya juga minta maaf, Pak. Kalau... kalau saya pernah bikin Bapak sama Ibu khawatir. Saya... saya mencintai Ismi dengan tulus. Saya... saya janji akan jaga dia."
Pak Hendra peluk Dyon. Peluk erat. Kayak peluk anak sendiri.
Ibu Sarah juga berdiri, ikut peluk mereka. Nangis bareng.
"Mulai sekarang," kata Pak Hendra sambil lepas pelukan, ngelap air matanya, "kamu... kamu boleh pacaran sama Ismi. Resmi. Dengan izin aku sama ibu."
Dyon nggak percaya telinganya. "Bapak... Bapak serius?"
"Iya," Pak Hendra senyum. Senyum tulus. "Tapi ada syaratnya."
"Apa aja, Pak. Saya... saya akan lakuin," kata Dyon cepat.
"Pertama, kamu harus sekolah dengan baik. Lulus SMA. Nilai bagus," kata Pak Hendra. "Kedua, kamu harus punya rencana masa depan yang jelas. Mau kuliah dimana, jurusan apa, kerja apa. Ketiga, kamu harus hormatin Ismi. Jaga dia. Jangan sakiti dia."
"Saya janji, Pak!" Dyon angguk cepat. "Saya... saya akan sekolah dengan serius. Saya akan kuliah. Jadi arsitek. Saya akan... saya akan jadi orang yang layak buat Ismi!"
"Aku percaya kamu," Pak Hendra senyum. "Kamu... kamu anak yang kuat. Aku yakin kamu bisa."
Ibu Sarah pegang tangan Dyon. "Dyon, kami... kami juga minta maaf pernah kasar sama kamu. Mulai sekarang, kamu... kamu bagian dari keluarga kami."
Dyon nangis lagi. Kali ini bukan nangis sedih. Tapi... bahagia.
Bahagia luar biasa.
"Makasih, Pak. Makasih, Bu," katanya sambil nangis. "Saya... saya nggak akan sia siain kepercayaan Bapak sama Ibu. Saya janji."
"Kami tau," Pak Hendra senyum hangat.
Pintu ruang tamu terbuka. Ismi masuk, baru pulang sekolah. Lihat Dyon di sana, dia kaget.
"Dyon? Kamu... kamu kenapa di sini?" tanya Ismi bingung.
"Ismi," panggil Pak Hendra. "Ayo ke sini."
Ismi jalan mendekat, bingung. Tatap ayahnya, tatap Dyon yang nangis.
"Mulai sekarang," kata Pak Hendra sambil pegang tangan Ismi, terus pegang tangan Dyon, satuin tangan mereka, "kalian... kalian resmi pacaran. Dengan restu ayah sama ibu."
Ismi membeku. Mata melebar. Nggak percaya.
"A... Ayah... Ayah serius?" tanyanya, suara gemetar.
"Serius," Pak Hendra senyum. "Dyon... Dyon anak yang baik. Dia layak buat kamu."
Ismi langsung nangis. Peluk Dyon erat. "Dyon... ini... ini beneran? Kita... kita boleh bersama?"
"Iya," Dyon peluk balik, nangis di rambut Ismi. "Kita... kita boleh bersama. Resmi."
Mereka peluk lama. Nangis bareng. Bahagia bareng.
Pak Hendra sama Ibu Sarah cuma senyum, ngeliat anak mereka bahagia.
***
Sore itu, Dyon pulang ke gubuk dengan hati penuh kebahagiaan. Langit cerah. Burung berkicau. Dunia... dunia terasa indah.
Dia buka hape, ketik pesan ke Andra sama Leonardo.
"Bro, gue dapet restu orang tua Ismi. Gue... gue resmi sama Ismi sekarang."
Beberapa detik kemudian, balesan datang bersamaan.
Andra: "ASTAGA! SERIUS?! GUE SENENG BANGET BUAT LO, YON!"
Leonardo: "Bro, ini miracle! Lo hebat banget! Congrats!"
Dyon senyum lebar sambil ngetik balasan.
Sampai gubuk, dia duduk di kasur. Lihat foto orang tuanya yang ditempel di dinding.
"Mama... Papa," bisiknya sambil senyum, air mata bahagia ngalir, "Dyon... Dyon bahagia sekarang. Dyon punya Ismi. Dyon... Dyon nggak sendirian lagi."
Malam itu, Dyon tidur dengan senyum di wajah.
Mimpi indah.
Tentang masa depan.
Tentang Ismi.
Tentang... kebahagiaan yang akhirnya datang setelah sekian lama menunggu.
***
BERSAMBUNG
***
IZIN DARI ORANG TUA ISMI
dri andri chapter 32
"Ketika kita berjuang dengan tulus, ketika kita membuktikan diri dengan perbuatan bukan kata kata, hati yang paling keras sekalipun akan luluh. Dan restu yang paling sulit sekalipun... akan datang."
"Dan sesungguhnya Allah bersama orang orang yang sabar. Maka bersabarlah, karena kesabaran itu akan membuahkan hasil yang indah di waktu yang tepat."