Kejutan yang Freya siapkan untuk William berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki pria itu berselingkuh. Tanpa niat melabrak, Freya justru merekam pengkhianatan tersebut dan bersumpah akan membalasnya.
Namun, sebelum rencananya selesai, Freya diculik dan dipaksa menerima perjodohan dengan Steven, pria dingin dan berkuasa.
Menolak tunduk, Freya kabur dan menghancurkan karier William dengan menyebarkan video perselingkuhannya.
Tapi, masalah tidak berhenti di sana. Steven murka karena Freya melarikan diri. Ia mengerahkan anak buah untuk menangkap gadis itu, tanpa menyadari bahwa mereka akan bertemu dengan cara yang tak terduga, yang mana Freya menyamar sebagai laki-laki, dan menjadi bodyguard barunya dengan nama Boy.
Kedekatan mereka memicu konflik yang lebih berbahaya, saat Steven mulai merasakan perasaan terlarang pada sosok yang ia yakini sebagai seorang pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Aula utama kediaman keluarga Orlando malam itu bermandikan cahaya kristal. Gaun-gaun mewah, setelan jas mahal, dan tawa para tamu berpadu dengan denting gelas yang beradu.
Pesta keluarga Orlando digelar megah, sebuah ajang perkenalan, pencitraan, sekaligus pamer kekuasaan.
Freya sudah berada di tengah pesta. Ia mengenakan gaun sederhana namun elegan, rambutnya disanggul rapi, riasan wajahnya dibuat natural. Tidak ada satu pun tamu yang menyapanya dan itu persis seperti yang ia inginkan karena tidak ada yang mengenalinya sebagai Putri Jacob.
Ia berdiri di dekat meja minuman, mengamati sekeliling dengan sikap tenang. Namun, ketenangannya terusik saat suara yang sangat ia kenal terdengar di belakangnya.
"Freya?"
Tubuhnya menegang sesaat. Suara itu, sangat familiar.
Freya menoleh perlahan. Di sana berdiri William dengan setelan jas abu-abu, diapit oleh Denis dan Rena. Tatapan William langsung mengeras, lalu berubah sinis.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya tajam. "Jangan bilang kau mengikuti ku sampai ke pesta ini."
Freya mengangkat alis, menatapnya dari ujung kepala hingga kaki sebelum terkekeh pelan. "Percaya diri sekali."
William mendengus. "Sudah kuduga. Kau memang tidak tahu diri."
Rena ikut mendekat, sorot matanya menilai Freya dari atas ke bawah. "Freya, ini bukan tempatmu. Jangan membuat malu dirimu sendiri."
Freya tersenyum tipis, mengambil segelas minuman. "Aku datang karena undangan," jawabnya santai. "Bukan untuk mengejar seseorang."
William tertawa kecil penuh ejekan. "Undangan? Jangan bercanda. Malam ini adalah malam penting bagiku." Ia mendekat, menurunkan suaranya. "Aku akan mengambil hati putri Tuan Jacob. Jadi, sebaiknya kau cepat pergi. Jangan membuat masalah."
Freya menatapnya beberapa detik, lalu tertawa. Bukan tawa gugup, melainkan tawa mengejek.
"William," ucapnya sambil menggeleng pelan, "kau yakin tidak salah minum obat?"
"Apa maksudmu?" bentak William.
Freya melangkah sedikit mendekat, suaranya direndahkan namun penuh sindiran. "Aku rasa, kau perlu mencuci mukamu. Siapa pun putri Tuan Jacob itu, dia tidak akan tertarik pada pria brengsek seperti mu."
Wajah William memerah seketika. "Kau—!" Tangannya mengepal, namun Denis cepat menahan lengannya.
"Sudah cukup," ujar Denis rendah namun, tegas. "Ini bukan tempat untuk membuat keributan."
Denis menatap Freya tajam. "Kami tidak ingin membuat masalah di acara keluarga Orlando."
Freya mengangkat bahu. "Aku juga."
Rena masih diam, namun matanya tidak lepas dari wajah Freya. Ada kerutan kecil di keningnya, seolah sebuah ingatan samar mencoba muncul ke permukaan.
"Kenapa wajahnya... " gumam Rena lirih.
"Ada apa, Ma?" tanya William kesal.
Rena menggeleng cepat. "Tidak... tidak apa-apa." Namun, tatapannya kembali tertuju pada Freya, kali ini lebih lama kali ini.
"Ayo kita pergi!" ajak Denis menarik lengan William. "Fokus pada tujuanmu."
William menatap Freya untuk terakhir kalinya dengan tatapan penuh amarah. "Kita belum selesai," desisnya sebelum berbalik pergi.
Freya menatap punggung mereka yang menjauh. Senyum tipis terukir di bibirnya. "Dasar tidak tahu malu," desisnya.
Di sudut lain aula, tanpa ia sadari, sepasang mata tengah mengamatinya.
Dia adalah Steven.
Sejak tadi, Steven tidak benar-benar ikut larut dalam pesta. Gelas di tangannya hanya ia minum sesekali, pandangannya lebih sering tertambat pada satu sosok di kejauhan, Freya.
Tatapannya mengeras saat William, Denis, dan Rena menghampiri wanita itu. Dari jarak aman, Steven memperhatikan gestur mereka.
Di lihat dari cara William berbicara, dan sorot matanya yang meremehkan, saat itu juga, Steven paham. William tidak tahu siapa Freya sebenarnya.
Jika sejak awal pria itu tahu Freya adalah putri keluarga Orlando, wanita yang selama ini berada di atas kelasnya, William tidak akan pernah berani memperlakukannya seperti itu. Tidak akan meninggalkannya, apalagi berselingkuh.
"Cih... dasar bodoh," gumam Steven pelan. Ia meletakkan gelasnya di meja terdekat. Langkahnya mantap, lebar, dan tanpa ragu. Tatapannya lurus ke depan, menuju Freya.
Begitu jarak mereka cukup dekat, tanpa peringatan apa pun, Steven meraih pinggang Freya dan menariknya ke dalam pelukannya.
"Steven?" Freya tersentak, refleks menoleh menatap pria itu.
Steven menunduk sedikit, sorot matanya tajam namun tenang. "Kenapa kau terkejut, hm?" ucapnya rendah. "Takut ketahuan karena baru saja berbicara dengan mantan kekasihmu?"
Freya berdecak pelan, lalu melepaskan pelukan Steven. "Berhenti bersikap konyol, Steve," ujarnya sambil melirik ke arah keramaian. "Kau datang ke sini bukan untuk mengawasi ku, kan?"
Steven tersenyum tipis. "Tentu saja, iya." Ia kembali melingkarkan lengannya di pinggang Freya, kali ini lebih tegas. Telapak tangannya menahan tubuh wanita itu seolah memberi peringatan pada siapa pun yang melihat, bahwa wanita itu adalah miliknya.
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun mendekatimu," bisiknya di telinga Freya. "Kau hanya milikku."
Freya menahan napas sesaat. Pipinya menghangat, entah karena tatapan orang-orang di sekitar atau karena nada suara Steven yang terlalu dekat.
"Kau terlalu percaya diri," gumam Freya, meski tangannya tanpa sadar mencengkeram jas Steven.
Steven terkekeh pelan. "Tidak," jawabnya singkat. "Aku hanya tahu, apa yang menjadi milikku."
Di sisi lain, William yang sempat menoleh kembali ke arah Freya mendadak berhenti melangkah.
Matanya membelalak saat melihat Freya dalam pelukan Steven.
William mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras, sorot matanya menggelap saat melihat Freya berdiri begitu dekat dengan Steven, terlalu intim untuk diabaikan. Padahal, ia yang lebih dulu mengkhianati Freya. Ia yang memilih untuk berselingkuh. Namun, entah kenapa, pemandangan itu membuat dadanya mendidih.
Denis yang juga melihat interaksi keduanya, akhirnya tersenyum sinis. "Cih... ternyata Steven lebih menyukai barang bekas adiknya sendiri. Sampai-sampai menolak putri Tuan Bayu demi wanita itu."
Rena terkekeh pelan, ikut menyumbang racun. "Benar. Dibandingkan putri Tuan Bayu, Freya itu tidak ada apa-apanya. Steven benar-benar bodoh."
William tersenyum miring. Ada kepuasan licik di sana.
"Kalau begitu, sepertinya aku perlu mengucapkan selamat secara langsung." Ia melangkah mendekat.
Begitu berada di hadapan Steven dan Freya, William bertepuk tangan perlahan, nada ejekannya tidak disembunyikan sedikit pun.
"Wah, wah... Selamat, Kak. Aku tidak menyangka, kau tipe pria yang suka memungut barang bekas."
Freya menatap lurus ke depan, ekspresinya datar. Bahkan melirik pun tidak.
William melanjutkan, suaranya semakin merendahkan.
"Jujur saja, aku sudah bosan memainkannya. Jadi, aku rasa pas sekali kalau sekarang dia ada di tanganmu."
Ia menyeringai. "Anggap saja, aku memberikannya."
Steven menatap William dengan tenang. Tidak ada amarah, atau reaksi apapun. Itu justru membuat William merasa lebih kecil.
"Sudah selesai?" tanya Steven akhirnya, nada suaranya dingin dan datar. "Kalau sudah, lebih baik kau minggir. Kau menghalangi pandanganku."
William terdiam, tersenyum kaku
Freya mendesah pelan. Rasa muak jelas terpancar di wajahnya. "Aku tidak tahu, kau masih suka mengigau di tempat umum," ucapnya singkat. "Saran dariku, periksakan kepalamu."
William hendak membalas, namun suara pembawa acara memotong ucapannya.
"Mohon perhatian para tamu undangan."
Lampu aula sedikit diredupkan. Musik berhenti.
Jacob dan Evelyn naik ke atas podium, berdiri berdampingan. Jacob tersenyum hangat, suaranya menggema di seluruh ruangan.
"Terima kasih atas kehadiran Anda semua malam ini," ucapnya. "Acara ini kami gelar sebagai bentuk penghargaan dan juga pengumuman penting bagi keluarga Orlando."
Evelyn melanjutkan, suaranya anggun namun tegas.
"Malam ini, kami akan memperkenalkan sosok yang nantinya akan melanjutkan bisnis keluarga Orlando."
William merapikan Jasnya. Bibirnya tersenyum lebar, tidak sabar melihat putri keluarga kaya, yang menjadi incarannya.
Jacob mengangkat tangannya, menunjuk ke arah kerumunan.
"Freya," ucapnya lantang. "Naiklah ke sini, sayang."
Waktu seolah berhenti.
William membeku, Denis terpaku dan wajah Rena memucat. Ketiganya menoleh ke arah Freya yang mulai melangkah maju dengan tenang.
"Tidak mungkin," gumam William nyaris tidak terdengar.
Di sampingnya, Steven menyunggingkan senyum tipis, senyum penuh kemenangan.
Tatapannya tertuju pada William. "Sekarang, kau baru sadar siapa yang kau remehkan, bukan? "