NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Tabib Jenius

Reinkarnasi Tabib Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter Ajaib / Fantasi Timur / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Aruna, dokter bedah jenius dari masa depan, terbangun di tubuh Lin Xi, seorang putri terbuang yang dihukum mati karena fitnah. Di dunia yang memuja kekuatan kultivasi, Lin Xi dianggap "sampah" karena jalur energinya hancur.

Namun, bagi Aruna, tak ada yang tak bisa disembuhkan oleh pisau bedahnya. Menggunakan ilmu medis modern, ia memperbaiki tubuhnya sendiri dan bangkit dari liang lahat untuk menuntut balas dendam.Takdir mempertemukannya dengan Kaisar Yan, penguasa kejam yang sekarat karena kutukan darah. Dengan satu tusukan jarum, Aruna menyelamatkannya dan memulai kontrak berbahaya: Aruna menjadi tabib pribadinya, dan sang Kaisar menjadi tameng bagi balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 RTJ

Fajar menyingsing di atas Ibu Kota Kekaisaran, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Namun, bagi Lin Xi, dingin ini adalah kawan lama. Ia berdiri di depan cermin perunggu, menatap bayangan seorang pria muda dengan wajah pucat dan fitur yang sengaja dibuat lebih tajam menggunakan teknik riasan medis tingkat tinggi. Rambutnya diikat rapi dengan pita kulit sederhana, dan jubah putih saljunya memancarkan aura misterius yang tak tersentuh.

Satu menyerahkan sebuah kotak kayu cendana berisi jarum-jarum perak yang telah disterilkan dengan ramuan khusus. "Semua sudah siap, Guru. Identitas Anda sebagai 'Tabib Mo' dari Pegunungan Salju telah kami sebar di pasar dan kedai teh sejak semalam. Kabar tentang tabib sakti yang mampu menghidupkan orang mati ini pasti sudah sampai ke telinga pelayan di kediaman Lin."

Lin Xi menerima kotak itu, jemarinya mengusap permukaan kayu dengan lembut. "Bagus. Ingat, jangan ada satu pun dari kalian yang mendekati gerbang kediaman Jenderal Lin tanpa instruksiku. Aku akan masuk melalui pintu depan dengan martabat, sementara kalian tetap menjadi bayangan yang menunggu di luar tembok."

Lin Xi melangkah keluar, langkah kakinya begitu ringan hingga tak meninggalkan bekas di atas tanah yang lembap oleh embun pagi.

Kediaman Jenderal Lin Tian berdiri megah dengan tembok merah tinggi dan penjaga yang bersenjata lengkap di setiap sudut. Di pintu gerbang utama, kerumunan tabib dari berbagai penjuru berkumpul, berharap bisa menyembuhkan Nyonya Wei dan mendapatkan hadiah emas yang dijanjikan. Namun, satu per satu dari mereka keluar dengan wajah lesu atau bahkan ketakutan setelah diusir oleh pengawal.

Lin Xi muncul dari balik kabut pagi, sosoknya yang putih kontras dengan kegelapan tembok kediaman itu. Ia tidak bergabung dalam antrean, melainkan berjalan langsung menuju kepala pengawal. Aura dingin yang ia pancarkan membuat para tabib lain menyingkir secara refleks.

"Berhenti! Siapa kau?" bentak sang pengawal, menyilangkan tombaknya di depan dada.

Lin Xi tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangkat tangannya, lalu melemparkan sebuah koin perak yang diukir dengan simbol bunga teratai salju—lambang yang ia ciptakan sendiri untuk memperkuat identitas palsunya. Koin itu berputar di udara dan menancap tepat di celah sempit antara dua batu bata tembok kediaman, sepuluh meter jauhnya.

"Katakan pada tuanmu, Tabib Mo dari Pegunungan Salju datang bukan untuk emas, tapi untuk menantang penyakit yang katanya tak tersembuhkan itu," suara Lin Xi diubah menjadi lebih berat dan bergema, memberikan kesan kekuatan internal yang dalam.

Pengawal itu tertegun. Kekuatan melempar koin hingga menancap di batu bukanlah keahlian tabib biasa. Ia segera memerintahkan bawahannya untuk melapor ke dalam. Tak butuh waktu lama, pintu gerbang besar itu terbuka dengan suara derit yang berat.

"Tuan Tabib, silakan masuk. Jenderal sedang menunggu di aula dalam," ucap sang pengawal dengan nada yang jauh lebih sopan.

Lin Xi melangkah masuk, setiap jengkal tanah yang ia pijak memicu ingatan pahit tentang masa lalunya. Di sinilah ia dulu dihina, dan di sinilah ia akan memulai pembalasannya.

Aula kediaman Lin didekorasi dengan kemewahan yang berlebihan, hasil dari rampasan perang dan korupsi yang dilakukan Lin Tian selama bertahun-tahun. Di atas kursi kebesaran, duduklah sang Jenderal, seorang pria bertubuh kekar dengan tatapan mata yang tajam dan licik. Di sampingnya, seorang wanita cantik tertutup cadar tipis tampak mengerang pelan, tangannya terus menggaruk leher yang memerah.

"Jadi, kau adalah tabib misterius itu?" Lin Tian bertanya, suaranya menggelegar di dalam aula. "Banyak yang datang ke sini mengaku hebat, tapi jika kau gagal, nyawamu akan menjadi bayarannya. Kau masih ingin melanjutkannya?"

Lin Xi membungkuk sedikit, senyum tipis tersembunyi di balik ketenangannya. "Jenderal, bagi seorang tabib, penyakit adalah teka-teki, dan kematian hanyalah salah satu jawabannya. Saya tidak takut pada bayaran nyawa, karena saya tahu persis apa yang saya hadapi."

Ia berjalan mendekati Nyonya Wei. Dari jarak dekat, bau busuk yang samar mulai tercium—bau dari racun 'Bunga Malam' yang telah ia rancang untuk bereaksi dengan kelembapan kulit selir itu. Cadar Nyonya Wei disingkap, memperlihatkan bintil-bintil hitam yang tampak seperti cacing kecil yang bergerak di bawah kulit wajahnya yang pucat.

"Ah! Tolong aku, Tabib! Rasanya seperti ribuan jarum membakar wajahku!" tangis Nyonya Wei histeris.

Lin Xi mengulurkan tangannya, dua jari menyentuh pergelangan tangan wanita itu untuk memeriksa denyut nadinya. Di dalam ruang dimensinya, Kakek Bai tertawa kecil. "Akting yang bagus, Nak. Kau menanam racunnya, dan sekarang kau datang sebagai penyelamat. Benar-benar licik."

"Diamlah, Kek. Aku butuh konsentrasi untuk tahap selanjutnya," balas Lin Xi dalam hati.

Ia menarik tangannya kembali dan menatap Lin Tian dengan ekspresi serius yang dibuat-buat. "Jenderal, ini bukan penyakit kulit biasa. Ini adalah 'Kutukan Darah Hitam'. Seseorang telah meracuni Nyonya Wei dengan ramuan yang hanya tumbuh di rawa-rawa terlarang."

Wajah Lin Tian berubah gelap. "Meracuni? Siapa yang berani melakukan itu di kediamanku?!"

"Siapa pun itu, mereka sangat ahli. Racun ini tidak menyerang organ, tapi 'memakan' kecantikan korbannya sampai kulitnya mengelupas dan menyisakan tulang," jelas Lin Xi, memberikan detail yang mengerikan agar Nyonya Wei semakin ketakutan.

"Sembuhkan dia! Sekarang juga!" perintah Lin Tian dengan nada tidak sabar.

Lin Xi mengeluarkan satu jarum perak terpanjang dari kotaknya. "Saya bisa menyembuhkannya, tapi prosesnya membutuhkan ketenangan total. Dan... saya butuh beberapa bahan tambahan yang hanya ada di gudang obat pribadi milik Jenderal. Kudengar Jenderal memiliki koleksi tanaman obat langka dari perbatasan barat."

Lin Tian ragu sejenak. Gudang obat pribadinya adalah tempat ia menyimpan barang-barang terlarang. Namun, melihat penderitaan selir favoritnya yang semakin menjadi-jadi, ia akhirnya mengangguk. "Pelayan, antar Tabib Mo ke gudang samping dan ambilkan apa pun yang dia butuhkan!"

Inilah saat yang ditunggu-tunggu Lin Xi. Mendapatkan akses ke area dalam kediaman tanpa dicurigai adalah kunci dari rencana sabotase malam ini.

Di dalam gudang obat, Lin Xi bergerak dengan kecepatan luar biasa begitu pelayan itu membelakanginya. Ia tidak mencari tanaman obat untuk Nyonya Wei, melainkan mengeluarkan bubuk 'Pemantik Api Tak Terlihat' dari balik lengan bajunya.

Bubuk ini tidak akan langsung terbakar. Ia akan menguap perlahan dan menciptakan gas yang sangat mudah terbakar jika terkena percikan api sekecil apa pun. Ia menyebarkannya di sudut-sudut gudang dan di dekat jalur ventilasi yang terhubung ke aula perjamuan utama.

"Tiga hari lagi, saat perjamuan dimulai dan obor-obor dinyalakan, tempat ini akan menjadi neraka," bisiknya pelan.

Setelah selesai, ia mengambil beberapa tanaman obat acak agar tidak mencurigakan dan kembali ke aula. Dengan gerakan tangan yang lincah, ia menusukkan jarum peraknya ke titik-titik saraf tertentu di wajah Nyonya Wei.

Cesss!

Asap tipis berwarna keunguan keluar dari titik tusukan jarum. Bintil-bintil hitam itu perlahan memudar, dan rasa gatal yang hebat mereda seketika. Nyonya Wei menghela napas lega, wajahnya kembali tenang meskipun masih sedikit pucat.

"Luar biasa! Kau benar-benar tabib sakti!" seru Lin Tian, tampak sangat puas.

"Ini hanyalah pengobatan sementara, Jenderal. Racunnya sudah masuk ke sumsum tulang. Saya harus memberikan perawatan rutin setiap malam selama tiga hari ke depan agar Nyonya Wei benar-benar pulih sebelum perjamuan besar Anda dimulai," ucap Lin Xi, memberikan alasan sempurna untuk tetap tinggal di kediaman itu.

"Baik! Kau akan menginap di Paviliun Tamu. Pelayan, siapkan segalanya untuk Tabib Mo!"

Malam itu, Lin Xi berdiri di balkon paviliunnya, menatap kegelapan. Dari kejauhan, ia bisa merasakan kehadiran Satu dan yang lainnya yang berjaga di luar tembok, seperti serigala yang menunggu aba-aba.

Ia mengeluarkan sebuah peluit kecil terbuat dari tulang dan meniupnya dengan frekuensi rendah yang hanya bisa didengar oleh telinga yang terlatih. Itu adalah sinyal bahwa ia telah berhasil menyusup ke dalam.

"Lin Tian, nikmatilah sisa-sisa kejayaanmu dalam tiga hari ini," gumam Lin Xi sambil menatap bulan yang mulai tertutup awan hitam. "Karena saat matahari terbenam di hari perjamuanmu, aku akan menjadi orang terakhir yang kau lihat sebelum kegelapan abadi menjemputmu."

Di dalam kepalanya, Kakek Bai hanya mendengus bangga. "Balas dendam memang hidangan yang paling enak dinikmati saat sudah dingin, tapi kau... kau sedang memasaknya dengan api yang sangat panas, Nak."

Lin Xi menutup matanya, membiarkan angin malam menyapu wajahnya. Roda takdir telah berputar, dan kali ini, ia adalah orang yang memegang kendalinya.

Cliffhanger: Saat Lin Xi hendak kembali ke tempat tidurnya, pintu paviliun tiba-tiba diketuk dengan keras. Bukan oleh pelayan, melainkan oleh seorang prajurit bayangan yang mengenakan topeng perak—pasukan elit yang seharusnya hanya tunduk pada perintah langsung sang Kaisar, bukan Lin Tian.

"Tabib Mo, ikut kami. Seseorang yang lebih penting daripada seorang selir membutuhkan bantuanmu sekarang juga," suara pria di balik topeng itu dingin dan penuh ancaman.

1
Dewiendahsetiowati
hadir thor
MomSaa: Siap kak🤗
total 1 replies
Amazing Grace
Lo gue anjay🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!