Ruhi amat sangat mencintai uang, karena itulah ia dipilih kakek Bizar untuk menikah dengan cucunya, Asraf.
Dua manusia berbeda generasi, mampukah mereka bersatu? atau malah berhenti ditengah jalan.
Kisah Ruhi dan Asraf di mulai...
✍🏻 revisi typo dan pemberian judul bab 💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 - Mengumpat Panjang Kali Lebar
Waktu terus berjalan, Ruhi disibukkan dengan kegiatan belajar menjelang ujiannya masuk ke perguruan tinggi. Disela-sela Kesibukannya itu, Ruhi juga selalu menyempatkan diri untuk perawatan ke salon.
Dia akui, untuk bersanding dengan Asraf dia memang harus banyak merubah penampilan. Menerima apa adanya bukan alasan untuk tidak berubah ke arah yang lebih baik, begitulah pikirnya.
Tak terasa, besok malam ia dan Asraf sudah akan menikah. Semuanya sudah disiapkan oleh Bizar, hingga Ruhi tak perlu merepotkan diri barang sedikitpun.
Acara pernikahan itu digelar di ballroom hotel bintang 5, digelar secara mewah dan besar-besaran. Semua kolega dan teman Bizar maupun Asraf diundang dalam acara pernikahan itu.
Entah kenapa, menjelang hari pernikahan baik Asraf ataupun Ruhi sama-sama merasa tak tenang, keduanya terus gelisah, meski tidak tahu apa penyebab pastinya gelisah itu menyelinap masuk ke relung hati.
"Ya Allah, benarkah keputusan yang ku ambil ini?" gumam Ruhi pelan, saat ini ia baru saja menyelesaikan shalat isya'.
Masih bersimpuh di atas sajadah, mukenah nya pun masih terpasang sempurna. Ia menoleh ke samping, melirik ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidur.
Tiba-tiba ingin sekali untuk menelpon sang calon suami.
Sejak pertemuannya dengan Asraf di hari kepulangan Randu waktu itu, hingga kini ia tidak pernah bertemu Asraf.
Akhirnya Ruhi bangkit, masih menggunakan mukenah, ia mengambil ponselnya dan duduk disisi ranjang.
Tangannya begitu lancar bergerak menggulir layar ponselnya dan mencoba menghubungi Asraf
Namun sayang, panggilannya malah ditolak oleh Asraf. Seketika itu juga hatinya langsung kecewa. Banyak pikiran-pikiran aneh yang menyerang kepala.
Apa mas Asraf masih sibuk?
Sesibuk itukah sampai teleponku ditolak? bahkan setelah sekian lama dia tidak memberiku kabar.
Apa dia sedang asik dengan wanita lain?
Ah terserahlah.
Ruhi membanting ponselnya di atas tempat tidur, benci sekali jika perasaan aneh ini menguasai hatinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di ujung sana, Aksa memperhatikan ponselnya yang baru saja berhenti berdering, panggilan masuk dari Ruhi yang langsung ia matikan.
Hatinya mendadak merasa bersalah ketika melihat panggilan itu. Pastilah saat ini Ruhi sedang menunggu kabar Asraf dan bukan kabar dirinya.
Apalagi Aksa juga tahu, jika besok Ruhi dan sang sepupu akan menikah.
Dengan ragu-ragu, Aksa mulai menghidupkan kembali ponselnya. Ia mencoba menghubungi seseorang.
Tut tut tut
"Halo," jawab seorang pria dengan malas-malasan.
"Ada apa?" tanyanya lagi dengan tak suka.
"Mas, ada sesuatu yang ingin aku katakan."
"Apa? awas kalau tidak penting!"
Aksa menjeda sejenak sebelum mulai menjawab, sedikit ragu juga untuk mengatakan maksudnya.
"Sebenarnya Ruhi_"
"Ruhi kenapa? apa kamu ingin merebut dia juga dariku?! kamu benar-benar tidak tahu malu, bahkan Ruhi yang gadis biasa-biasa saja pun tetap ingin kamu rebut. Apa Marsha tidak cukup bagimu? HAH!" Bentak Asraf, ia yang sedari tadi duduk langsung bangkit saking emosinya.
Saat ini Asraf sedang berada di kamar Bizar, sedang diceramahi oleh sang kakek, ceramah menjelang hari pernikahan.
"Bu-bukan begitu Mas, dengar dulu ceritaku," jawab Aksa gaguk, mendengar kemarahan Asraf membuat otaknya sejenak blank.
"Apa? katakan!"
"Ruhi tadi menelponku_"
"Untuk apa dia menghubungimu! telepon ku saja selalu ditolak." kesal asraf sudah sampai di ubun-ubun.
Aksa menghela napas pasrah, susah sekali memang bicara dengan si darah tinggi ini. Sedikit-sedikit marah, persis seperti anak gadis yang sedang datang bulan.
"Ruhi salah menyimpan nomor ponsel kita Mas. Dia mengira nomorku adalah nomor mas Asraf."
Asraf mengeryit bingung, sedikit ragu dengan pendengarannya sendiri. Ini salah dengar atau bagaimana? pikirnya.
"Apa Maksudmu?" tanya Asraf dengan suara yang mulai merendah.
Aksa menjelaskan panjang lebar, tentang pertama kali ia menghubungi Ruhi, lalu tentang pesan yang pernah Ruhi kirimkan padanya.
Asraf mengeram kesal, kenapa baru sekarang si culun ini memberi tahu! ingin sekali ia menendang bokong sepupu laknat ini.
"Kenapa baru memberi tahu ku sekarang? dasar ****, xxxx, ****, xxxx, ****." Asraf mengumpat panjang kali lebar, semua hewan di kebun binatang bahkan ia sebutkan satu per satu.
Bizar yang mendengar umpatan sang cucu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
Ya Allah, kalau ada tuker tambah cucu aku mau ya Allah. Aku akan bayar berapapun jumlahnya. Batin Bizar penuh permohonan.
Setelah puas mencaci maki Aksa, Asraf langsung memutuskan sambungan telepon itu. Kini giliran Ruhi yang mendapat umpatannya.
"Dasar gadis bo***, xxxx, ****, xxxx, ****, bisa-bisanya mengira nomor si culun itu sebagai nomor ku. Benar-benar tidak masuk akal, ****, xxxx, ****."
"Aduh! ampun As! telinga kakek bisa rusak mendengar semua omonganmu," keluh Bizar. Ia benar-benar tidak sanggup bertahan lebih lama lagi mendengar semuanya umpatan Asraf. Ingin segera menyumpal mulut Asraf dengan kaos kaki busuk miliknya.
"Keluarlah!" perintah Bizar, sambil membuat gerakan tangan yang seolah mengusir.
"Memang sudah ceramahnya?" tanya Asraf sambil kembali duduk di kursi di sebelah ranjang sang kakek.
"Sudah, aku hanya ingin kamu menyayangi Ruhi. Jika tidak bisa sebagai istrimu, setidaknya perlakukan dia sebagai adikmu," jelas Bizar dengan raut wajah yang serius.
"Kalau sudah menikah ya tentu saja aku akan memperlakukannya sebagai istri," jawab Asraf jujur.
"Ya sudah aku pergi dulu, ingin menemui gadis bodoh itu." Setelah mengatakan itu, Asraf langsung bangkit dan berlalu meninggalkan sang kakek.
Lagi-lagi Bizar hanya bisa menggeleng melihat kepergian sang cucu. Dalam hatinya pun merasa cemas. Merasa takut jika pernikahan yang ia rencanakan akan memberatkan 1 belah pihak, entah itu Ruhi atau malah Asraf.
Bizar hanya bisa berharap bahwa keputusannya ini adalah keputusan yang tepat. Ruhi dan Asraf bisa saling menerima satu sama lain, saling melengkapai dan bisa hidup bahagia selamanya.
Dan satu lagi, semoga saja Ruhi bisa tahu apa yang selama ini Asraf sembunyikan darinya. Hingga ia bisa berpulang ke rahmatullah dengan tenang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ruhi sengaja berniat tidur lebih awal, tapi sedari tadi mencoba memejamkan mata namun tetap saja ia tidak bisa terlelap.
Yang ada Ruhi malah gelisah, balik kesana dan balik kesini tidak nyaman.
Pikirannya melayang jauh kemana-mana, tapi dengan tujuan yang sama, yaitu Asraf.
Dasar nyebeli. Batinnya kesal.
Jika sudah menyangkut perasaan, Ruhi sangat lemah. Ia menjadi sangat sensitif dan mudah marah. Bingung bagaimana mengekspresikannya. Sebagai gadis belia, ini adalah pengalaman pertama Ruhi berhubungan dengan perasaan.
Dan ternyata rasanya itu sangat menyebalkan. Meskipun otak berulang kali berkata Tidak Usah Di Pikirkan, tapi nyatanya tetap saja hati berbisik tentang pria tua itu.
Sayup-sayup Ruhi mendengar ada sebuah mobil yang berhenti didepan rumahnya.
Ia hendak keluar dan melihat siapa yang datang, ternyata Rina pun melakukan hal yang sama.
Rina berjalan membuka pintu dan Ruhi hanya mengintip dibalik jendela.
Deg! Ruhi terkejut, jantungnya mendadak lompat kegirangan ketika melihat siapa yang datang.
Mendadak pipinya merona dengan hati yang berbunga-bunga.
"Mas Asraf," gumamnya pelan.
Krik.. kriik.. 🤣🤣😅😅