Aku adalah seorang gadis yang pantang menyerah sebelum berperang. Bahkan, saat berperang sebelum pun aku tidak akan mundur sebelum aku benar-benar kalah.
Ini kisahku, aku berusaha mengejar cinta seorang rektor muda yang sangat pintar. Jalan yang aku tempun untuk mendapatkan hati pak rektor tidak lah mudah. Penuh tantangan dan penuh jurang yang sulit untuk aku lewati.
Bisakah aku mendapatkan hati rektor tampan yang aku kejar. Apakah aku berhasil menjadi kekasih rektor tampan atau aku malah kalah dalam perjuanganku kali ini. Ayo ikuti kisahku, agar kalian tahu bagaimana jalan yang aku tempuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selimut
Aku putuskan untuk kembali keranjangku, aku kembali berusaha untuk tidur. Karna besok aku harus kekampus seperti biasanya. Agar tidak ada yang tahu aku dan Nia sudah menikah.
POV Rania
Aku terbangun saat mendengarkan adzan subuh. Pastinya letak musholla atau masjid tidak jauh dari rumah ini. Sehingga aku mendengar suara adzan dengan sangat jelas. Tidak ingin membuang waktuku terlalu lama. Setelah adzan aku pun bangun dari baringku.
Saat aku ingin bangun, aku baru sadar kalau aku menggunakan selimut. Pantas saja aku merasa tidak kedinginan tadi malam. Dalam hati aku bertanya, siapakah yang memberikan aku selimut. Aku melihat kearah pak Rama, pak Rama sedang tertidur lelap saat ini.
Aku seakan tidak percaya kalau pak Rama yang memberikan aku selimut. Bagaimana tidak, ia orang yang sangat benci padaku. Mana mungkin ia punya hati untuk sekedar memperhatikan aku saja mungkin sangat mustahil. Apa lagi untuk memberikan aku selimut.
Tapi, siapa lagi yang akan memberikan aku selimut jika bukan pak Rama. Dikamar inikan hanya ada aku dan pak Rama. Siapa lagi yang berani masuk kedalam kamar ini jika bukan pak Rama.
Ah, tidak ada gunanya aku memikirkan siapakah yang telah memberikan aku selimut. Tidak penting juga bagi aku. Siapa pun yang baik hati, aku hanya bisa berterima kasih sajalah.
Aku bangun dari dudukku, lalu menuju kamar mandi. Dengan tidak membuang waktuku lagi, aku ambil udhuk untuk bisa segera sholat subuh.
Saat aku keluar dari kamar mandi, aku sangat kaget saat berpas-pasan dengan pak Rama didepan pintu kamar mandi. Bukan hanya aku yang kaget, aku lihat wajah pak Rama yang juga terlihat kaget itu. Ia segera menyembunyikan wajah kagetnya dari aku.
"Lama banget sih kamu di kamar mandi," kata pak Rama.
"Maaf pak, aku gak lama kok."
"Udah, minggir kamu dari sana. Aku ingin ambil udhu', nanti keburu waktu subuhnya habis," kata pak Rama.
Aku hanya bisa menarik nafas panjangku saja. Melihat tingkah pak Rama yang terlihat agak lucu saat berhadapan dengan aku. Dan wajahnya yang terkadang susah ditebak.
Aku menunggu pak Rama, aku ingin sholat berjamaah bersama pak Rama. Tapi sayangnya, pak Rama sangat lama dikamar mandi. Sehingga membuat aku memutuskan untuk sholat duluan saja.
Sampai aku selesai sholat pun pak Rama masih tidak keluar dari kamar mandi. Awalnya aku punya niat untuk memanggil pak Rama yang sedang berada dikamar mandi. Namun niat itu aku batalkan, aku ingat apa yang pam Rama katakan pasaku tadi malam. Aku tidak boleh mencampuri urusannya dan sama halnya dengan pak Rama yang tidak akan mencampuri urusan aku.
......
Selesai sarapan, aku bersiap-siap untuk berangkat kekampus. Tiba-tiba, aku merasa kangen sama mama dan papaku yang berada dirumah. Bagaimanapun, aku baru dirumah ini. Jelas saja aku rindu akan mama dan papaku yang selalu ada untuk aku.
"Nia, apa yang kamu pikirkan nak?" kata mama mertuaku dengan lemah lembut.
"Gak papa kok ma, Nia hanya ingat mama dan papa saja kok."
"Sayang, sekarang ada mamakan yang menjadi pengganti mama mu. Kamu jangan sedih ya nak," kata mama sambil membelai rambutku.
"Wajar dia sedih Ratih, diakan baru dirumah kita," kata papa yang tiba-tiba datang.
"Ya sudah anak manis, kamu berangkat kuliah sekarang yah. Itu Rama udah turun dari kamarnya," kata mama sambil melihat pak Rama.
"Gak usah mama, Nia pakai mobil sendiri saja ma. Nia gak enak kalau harus nebeng pak Rama untuk kuliahnya."
Aku berusaha menolak secara halus, karna aku sangat tahu siapa pak Rama. Dia yidak akan mau bareng sama aku kekampusnya.
"Eh, gak bisa gitu dong. Kamu sama Rama kan sudah menikah. Apa yang tidak enaknya kalau hanya berangkat kekampus," kata mama.
"Bukan gitu ma, aku mahasiswa sedangkan pak Rama adalah rektor. Ini bisa bikin kampus sibuk sama gosip yang gak enak dan akan membuat kenyamanan kami terganggu."
Aku berusaha keras untuk membuat mama mengerti. Tapi apa yang aku katakan adalah benar, kampus akan sibuk dengan gosip jika aku dan pak Rama kekampus bersama-sama.
"Ya udah deh, mana baiknya sajalah. Kalian berdua yang menjalaninyakan. Mama dan papa hanya bisa berdoa saja buat kalian," kata mama pada akhirnya.
coba pameran nya orang blasteran belanda indonesia
jd cewek kalem napa,jngn terlalu agresif