"Apa yang akan kamu lakukan jika harus menikahi pria yang seharusnya menjadi Ayah sambungmu?"
Ibu yang seharusnya menjadi pelindungmu tega meninggalkanmu demi mengejar cintanya, dan kamu yang dikorbankan!
Senja Irawan gadis kecil yang baru lulus SMA, terpaksa mengikuti kemauan Kakeknya untuk menikah dengan lelaki yang tak dicintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aa zigant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Setelah langkah kaki mulai menjauh Yoga menghela nafas panjang, begitu juga Mentari yang sempat panik takut ada yang mendengar pembicaraanya.
"Mas," panggil Mentari yang melihat Yoga menatap pintu dengan tatapan nanar.
"Jangan Khwatir, dia tidak akan mendengarkan pembicaraan kita tadi, Karena kita berteriakpun orang tidak akan mendengarnya." jawab Yoga, karena bisa menebak apa yang di fikrkan oleh Istrinya.
Mentari menarik nafas merasa sangat lega, Mentari bingung harus bagaimana menghadapi Papanya yang semakin menjadi, Mentari yakin Orang tuanya ingin menguasai grup Nugraha.
"Apa yang kamu firkirkan sayang, ayo tidur ini sudah malam." kata Yoga langsung membaringkan tubuhnya di ranjang.
Menteri tersenyum melihat suaminya yang begitu kelelahan, memang tidak mudah buat Yoga untuk mendapatkan kesuksesan seperti ini, belum lagi tekanan dari Papanya.
"Sayang, ayo sini," ucap Yoga menepuk tempat kosong disampingnya.
Mentari tersenyum menatap suaminya, akhirnya mengikuti suaminya untuk berbaring disamping Yoga.
"Sayang besok ajak Nenek pergi ke mall seharian ya, karena Arga sudah menghubungi sahabatnya untuk memasang Cctv yang tidak terlihat serta Alat penyadap.
"Apa harus melakukan itu Mas?" tanya Mentari merasa suaminya berlebihan.
"Harus sayang, untuk jaga-jaga," jawab Yoga sambil memeluk tubuh istrinya.
Tak lama keduanya terlelap, sedangkan di kamar Nenek Wati sangat ketakutan karena Kakek Roby menelpone beberapa kali, pasti akan kena marah oleh bos Anaknya.
Akhirnya Kakek Roby tidak menghubunginya lagi tapi ada pesan masuk di handphonenya. Nenek Wati segera membuka pesan dari anaknya Ronal yang mengatakan, kalau dirinya suskes membuat Kakek Roby murka.
Nenek Wati menangis merasa dunia ini tidak adil kenapa di saat suaminya sudah meninggal, dirinya dijadikan mata-mata oleh anak kandungnya sendiri, di usia yang seperti ini ingin rasanya hanya bermain dengan cucu-cucu kesayangannya.
Pagi harinya seperti biasa Mentari bangun pagi menyiapkan sarapan yang dibantu Nenek Wati, sikap Mentari seperti biasa, ramah dan selalu mengajak bercanda.
"Apa Nak Senja belum bangun, dari kemarin saya tidak melihatnya?" tanya Nenek Wati yang begitu Khwatir dengan Senja.
"Senja subuh tadi sudah pergi Nek, katanya ingin melihat matahari terbit di dekat danau buatan yang sedang akan buka hari ini," jawab Mentari.
"Kenapa pagi sekali perginya." ucap Nenek.
"Kalau perginya siang berarti sedang melihat matahari yang di mall Nek," balas Mentari sambil tersenyum.
"Kamu bisa saja Nak," ucap Nenek Wati tertawa
Mentari tersenyum melihat Nenek Wati yang sangat bahagia, tapi Mentari juga merasa kecewa ternyata ada niat di balik semuanya itu.
"Nek, nanti kita pergi jalan-jalan yuk, Tari sudah lama enggak jalan-jalan, dulu sering pergi sama Mama," ucap Mentari sendu.
Melihat Mentari yang bersedih, Nenek segera memeluknya dengan erat sambil mengusap rambut Mentari.
"Anggap Nenek seperti Ibumu, kamu anak baik Nenek yakin Mamamu juga merindukan anaknya," kata Nenek.
"Terimakasih Nek, Nenek juga boleh menganggap Mentari Anak Nenek," ucap Mentari.
Nenek Wati hanya tersenyum, kenapa Roby bisa sejahat ini dengan anaknya, seharusnya dia merasa bahagia melihat kebahagiaan anak dan cucunya.
Setelah selesai masak Mentari menyiapkannya di meja makan, sedangkan Nenek Wati pamit mau kekamar. Mentari menatap punggung Nenek Wati merasa tidak percaya, kalau wanita itu adalah orang suruhan Papanya.
"Pagi sayang, masih pagi bengong aja," kata Yoga sambil mengecup kening Mentari.
"Pagi, bikin kaget saja," ucap Mentari kesal.
"Jangan marah, aku jadi ingin sarapan yang lain," goda Yoga sambil mengedipkan matanya.
"Mas!" teriak Mentari dengan bibir yang cemberut.
"Apa sayang, jangan teriak-teriak," kata Yoga tersenyum.
"Ih... nyebelin," gerutu Mentari.
"Nenek mana?" tanya Yoga yang tidak melihat Nenek Wati.
"Lagi di kamar, mau istirahat," jawab Mentari sambil mengambilkan nasi dan lauk untuk Yoga.
"Apa sakit?" tanya Yoga sambil mengkerutkan dahinya.
"Enggak Mas, katanya mau baring, nyuruh kita sarapan dulu," jawab Mentari.
Yoga hanya diam sambil menikmati sarapannya, setelah selesai Yoga segera pamit ke Istrinya untuk pergi berkerja, Mentari mencium punggung tangan Yoga, dan sebaliknya Yoga mengecup kening Mentari.
"Hati-hati dirumah sayang, nanti Mas kasih tau jam berapa orang itu datang," ucap Yoga yang langsung masuk mobil. Mobil warna hitam itu meluncur dengan kecepatan sedang.
Resort
Suara Azan subuh membuat Senja mulai mengerjapkan matanya, berlahan Senja memperhatikan sekeliling, pandangan berhenti di sosok tampan di sampingnya, Senja memeluk tubuh suaminya, tapi langsung segera melepaskan, karena merasa Satya tidak memakai baju.
Senja membuka selimutnya, seketika matanya melotot melihat dirinya dan Satya polos hanya tertutup selimut. Senja mulai mengingat kejadian semalam, wajahnya langsung merona bagaimana ia menikmati setiap sentuhan tangan Satya.
Senja memandang wajah Satya yang masih tertidur pulas, di sentuhannya pipi Satya dengan lembut.
"Suamiku yang perkasa," ucap Senja terkekeh.
Satya berusaha menahan senyumnya mendengar ucapan istrinya, saat Senja menyentuh pipinya Satya langsung terbangun, ingin membuat istrinya puas menatapnya.
Senja bingung, kalau bangun harus menarik selimut yang di pakai, pasti dia akan melihat tubuh suaminya, tapi enggak mungkin dia polos berjalan ke kamar mandi.
Senja menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah Satya, Senja yakin Satya masih tidur.
Berulah Senja membuka selimutnya, saat ingin berdiri Senja merasakan sesuatu yang perih di bagian intinya, Senja menahannya, tapi baru saja menurunkan kakinya di tepi ranjang Senja merasakan sakit yang luar biasa di bagian bawahnya, Senja menutup mulutnya supaya suaminya tidak terbangun.
Satya terkejut melihat istrinya seperti menahan sakit, tanpa Satya sadari langsung bangun dan berdiri didepan senja dengan keadaan polos, Senja yang terkejut langsung berteriak menyadari suaminya berdiri di depannya dengan keadaan tidak memakai sehelai benang.
"Aakkkk....Bby!" teriak Senja sambil menutup matanya.
Satya terkekeh langsung mengangkat tubuh polos istrinya kekamar mandi, didudukkannya tubuh istri kecilnya di pinggir bathtub, Satya tersenyum melihat Senja masih memejamkan matanya.
Satya menyiapkan air hangat, untuk berendam Senja, setelah air sudah penuh Satya meneteskan sabun dan aroma terapi untuk merilekskan tubuh istrinya.
Satya mengangkat tubuh istrinya, dan memasukkan dalam bathtub, Senja tetap masih memejamkan matanya. melihat itu Satya menyentil kening Senja.
"Auhhh.,.., Bby sakit" ucap Senja tetap dengan mata yang terpejam.
"Bukalah matamu, Bby sudah memakai handuk," ucap Satya.
Berlahan Senja membuka matanya, merasa lega melihat Satya sudah melilitkan handuk di pinggangnya.
"Bby keluar saja, Mmy mau berendam," ucap Senja sambil menunduk malu.
Satya yang gemes melihat istrinya yang masih malu-malu, langsung membuka handuknya dan ikut berendam ke bathtub.
"Bby!" teriak Senja, lagi-lagi membuat wajah Senja memerah karena malu.
"Maaf, sudah membuatmu sakit," kata Satya lembut.
Senja hanya mengangguk menanggapi ucapan suaminya. Satya tersenyum entah mengapa ada sesuatu kebahagiaan dihatinya.
"Berbaliklah, biar Bby gosok pungungmu nanti kita gantian," ucap Satya
Senja hanya menurut, Karena menolakpun rasanya percumah, Satya mulai menggosok punggung Senja dengan pelan.
"Mmy, Terimakasih sudah menjaganya untukku," ucap Satya sambil menyabun punggung Senja, sesekali mengecup bahu Senja dengan lembut.
"Menjaga siapa maksudnya, Bby?" tanya Senja polos.
Satya hanya menggelengkan kepalanya, ia lupa kalau istrinya masih polos, tidak mengerti kodenya.
"Menjaga kehormatanmu selama ini," jawab Satya.
Senja yang semakin bingung, langsung nmenoleh kebelakang melihat suaminya yang juga menatapnya.
"Bukankah kehormatan harus kita jaga selama kita hidup," jawab Senja santai.
Satya menyentil hidung Senja, heran dengan istrinya entah selama ini Senja bergaul dengan siapa, bukanakah seharusnya Senja sudah mengerti maksudnya.
"Bby bangga, menjadi orang yang pertama menyentuh Mmy," ucap Satya.
Senja terdiam mencoba mencerna ucapan Suaminya, Senja yang sudah mulai paham maksud ucapan suaminya langsung memukul dada Satya.
"Dasar, Bby mesum," ucap Senja, tanpa Senja sadari sudah duduk di pangkuan Satya. Dan akhirnya kejadian semalam terulang lagi.
Bersambung ya ...Aa Ucapkan terimakasih banyak atas dukungannya, jangan lupa like dan Votenya.
Menikah Muda juga sekarang hanya update di Noveltoon/Mangatoon ya silahkan bisa di cek di profil Aa.