NovelToon NovelToon
Nyonya Dibalik Tahta Alexander

Nyonya Dibalik Tahta Alexander

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action / Dark Romance / Nikah Kontrak
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: Rizky Handayani Sr.

Lucane Kyle Alexander CEO muda yang membangun kerajaan bisnis raksasa dan memiliki pengaruh mengerikan di dunia bawah. Dingin, tak tersentuh, dan membuat banyak orang berlutut hanya dengan satu perintah.

Tidak ada yang berani menentangnya.

Di sisi lain, ada Jema Elodie Moreau mantan pembunuh bayaran elit yang telah meninggalkan dunia senjata.
Cantik, barbar, elegan, dan berbahaya.

Keduanya hidup di dunia berbeda, hingga sebuah rahasia masa lalu menghantam mereka:

kedua orang tua mereka pernah menandatangani perjanjian pernikahan ketika Lucane dan Jema masih kecil. Perjanjian yang tak bisa dibatalkan tanpa menghancurkan reputasi dan nyawa banyak pihak.

Tanpa pilihan lain, mereka terjerat dalam ikatan yang tidak mereka inginkan.

Namun pernikahan itu memaksa mereka menghadapi lebih dari sekadar ego dan luka masa lalu.
Dalam ikatan tanpa cinta ini, hanya ada dua jalan, bersatu melawan dunia... atau saling menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Handayani Sr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Jema tiba di apartemennya dengan langkah berat yang penuh kejengkelan. Begitu pintu tertutup, ia melemparkan jaketnya ke sofa tanpa peduli bentuknya lalu membanting tubuh ke atas ranjang empuk seolah ranjang itu wajib menanggung semua frustrasinya hari ini.

Ia menatap langit-langit kamar yang remang gelap, dingin, tapi jauh lebih jujur dari dunia luar.

“Tuhan… aku cuma mau hidup normal.” Napasnya memburu. “Kenapa aku harus terjerumus ke kontrak pernikahan sial” ia menghentikan diri, menggeram. “Argh! Bahkan menyebut namanya saja bikin otakku gatal.”

Jema menutup wajah dengan lengannya. “Apa begini hidup orang normal? Serius? Bangun, kerja, dapat masalah! dipaksa nikah sama CEO sok dingin?”

Ia bangkit setengah duduk, rambut acak-acakan, tatapannya tajam tapi penuh sarkasme. “Ck. Dia pikir dia siapa? Keluarga Alexander.” Jema menirukan nada sombong, memonyongkan bibir. “Seakan nama besar itu semacam jimat perlindungan.”

Ia tertawa pendek tawa yang tidak sepenuhnya waras, tapi juga bukan sepenuhnya marah. “Siapa pun kalian, aku tidak takut. Aku pernah ada di medan operasi tanpa bayangan backup. Cuma kontrak pernikahan? Please.” Ia mengusap wajah, menghela napas berat namun matanya menyala penuh perhitungan.

“Tapi…,” gumamnya lirih, sebelum menyalakan lampu meja dan meraih tablet yang penuh dokumen. “Aku harus akui satu hal… lelaki itu tidak sebodoh yang kusangka.” Ia mengusap dagu, berpikir dalam. “Dia menyusun pasal ini terlalu rapih. Terlalu… strategis.”

karena penasaran Jema pun membuka ponsel nya dan mencari tau siapa Lucane Alexander.

disana tertera, Lucane Kyle Alexander adalah pemilik perusahaan Alexander Corp. berusia 33 tahun.

dan di sana terlihat banyak aset dan biodata Lucane, namun Jema hanya fokus dengan usia nya.

Jema melebarkan mata nya, "Apa!! kenapa dia sangat tua" gumam nya

"Ck!! pria tua menyebalkan" lanjut nya

Jema menyeringai. Senyuman lebar, liar, dan cerdas.

“Lihat saja, ini akan jadi kesialanmu, Tuan Alexander,” ucapnya sambil membuka dokumen itu dengan gerakan santai namun penuh determinasi. “Kau pikir kau menang? Oh tidak. Kau baru saja mengundang masalah ke dalam hidupmu.”

Ia menjatuhkan diri lagi ke ranjang, tapi kali ini dengan tatapan jauh lebih tenang dan jauh lebih berbahaya.

“Kontrak pernikahan? Baik.”

* * * *

Di tempat lain, seseorang tengah memperhatikan jema dari kejauhan.

"Alexander" gumam nya

tentu semua orang tau siapa keturunan Alexander, di dunia bisnis dia sangat di segani.

"Mungkin aku harus lebih berhati-hati lagi" gumam nya lagi lalu pergi meninggalkan area apartemen jema.

* * * *

Lampu neon hijau-ungu tempat bilyard itu berkedip. Musik keras. Asap rokok menebal. Di sudut ruangan, beberapa pria bertubuh besar menertawakan sesuatu sampai pintu kaca terbanting keras.

Braak!

Semua kepala menoleh.

Lucane masuk. Santai. Dingin. Setelan hitam nya masih rapi. Di belakangnya, Liam dan empat anak buah lain mengikuti, semuanya dengan wajah tak kalah mematikan.

Salah satu pria besar mengentak maju.

“Ada urusan apa, kami tidak menerima orang luar!”

Liam refleks maju, tapi tangan Lucane terangkat tipis memerintah untuk diam.

Lucane mengedarkan pandangan penuh jijik.

“Ini wilayahku.” Suaranya rendah tapi menggema.

“Kenapa kalian menjadikan tempat ini lokasi bordir sialan?”

Para pria itu tertawa kasar. Kesalahan pertama mereka.

Salah satu pria mencoba mendorong Lucane.

Gagal.

Lucane menangkap pergelangan tangannya, memelintir krek! dan mendorongnya ke meja bilyard hingga papan itu pecah separuh. Lelaki itu menjerit.

Anak buah lawan langsung menyerbu.

Liam menyambut dua orang sekaligus. Dengan cepat ia meraih stik bilyard dan memutar seperti bilah. Trak! Trak! Dua pukulan akurat ke dagu dan perut membuat mereka roboh.

Di belakangnya, anak buah lain menahan pintu agar tidak ada yang kabur.

Satu pria besar menghampiri Lucane sambil mengayunkan stik bilyard seperti palu.

Lucane hanya miring sedikit. Ujung stik meleset.

Lucane mengunci lengan lawan, lalu mengangkatnya dan membantingnya ke meja bilyard lain hingga bola-bola hijau melompat ke udara. Langkahnya tetap tenang, seakan dia baru saja merapikan dasi, bukan mematahkan tulang.

Tiga orang sekaligus mendekat. Lucane meraih bola bilyard warna merah di sampingnya, memantulkannya di tanah dan menghantam wajah pria terdekat secepat kilat.

Darah tersiprat.

Pria kedua menarik pisau kecil.

Lucane tidak bereaksi. Dia malah menatapnya dengan tatapan “serius? itu saja?”

Pria itu menusuk.

Lucane menangkap tangan bersenjata itu (masih dengan satu tangan), lalu sikunya menghantam wajah orang itu. Dug! Sekali. Dua kali. Habis.

Pria ketiga mencoba kabur Liam menendangnya ke arah Lucane.

Lucane menyambutnya dengan tendangan balik lurus ke dada. Tubuh pria itu terpental membelah meja sampai tergeletak tak bergerak.

HENING. SEMUA RUNTUH.

Tempat bilyard itu kini seperti habis dipakai syuting film laga,

Meja pecah, bola berserakan, beberapa pria meringis kesakitan di lantai.

"Ampuni kami tuan" ucap mereka

Lucane berdiri di tengah ruangan, napasnya stabil, tidak ada keringat.

Ia mengambil sapu tangan dari jasnya, mengusap debu di lengannya.

“Kubilang apa tadi?” suaranya tenang, mematikan.

“Siapa pun yang menyentuh wilayahku… akan aku bersihkan”

Liam mendekat.

“Semua sudah beres, Tuan.”

Lucane melangkah keluar dari ruangan yang kacau balau itu tanpa menoleh lagi.

“Biarkan mereka merenung,” katanya dingin.

“Besok tempat ini harus kembali normal. Kalau tidak… kalian tahu apa yang terjadi.”

Ketika pintu menutup di belakangnya, hanya suara erangan kesakitan dan bola bilyard yang menggelinding pelan.

* * * *

Pagi-pagi sekali, Jema sudah berdiri di depan cermin, menarik napas panjang sebelum mengancingkan blazer hitamnya yang elegan. Rambutnya disisir rapi, makeup ringan namun tegas kombinasi sempurna.

Rutinitas Ini seharusnya rutinitas biasa.

Ia meraih tas kerja, menyampirkannya di bahu lalu berjalan menuju pintu apartemen.

Cuaca cerah menyambutnya saat ia melangkah keluar. Matahari pagi menyoroti wajah cantiknya. sayangnya, dia masih penuh kekesalan sejak semalam.

“Semoga hari ini tidak ada kesialan yang menimpa ku,” gumamnya sambil menekan tombol lift. “Untuk sekali saja… please.”

Tapi tentu saja hidup Jema tidak pernah semudah itu.

Begitu ia sampai di lobi, langkahnya langsung terhenti. Di depan pintu kaca besar, berdiri seseorang yang membuat bulu kuduknya naik not because he’s scary, but because he represents trouble.

Liam. Asisten pribadi si CEO dingin, si Tuan Muda Alexander, si sumber masalah.

“Ck!! Mau apa lagi pria ini?” desisnya, tangan langsung memijat pelipis.

Begitu melihat Jema, Liam menunduk sopan. “Selamat pagi, Nona Jema. Saya datang untuk menjemput nona bertemu dengan Tuan Muda Lucane.”

Jema memutar bola mata. “Apa dia tidak tahu aku harus bekerja? Aku bukan perempuan nganggur yang bisa dia tarik kapan pun dia mau.” Suaranya rendah tapi tajam.

Liam sedikit gelagapan. “M-maaf Nona… ini perintah.”

Jema melipat tangan di dada, menatap Liam seperti menilai berapa banyak dosa pria itu dalam hidup. “Dasar pria tidak bermoral… kau pikir kau siapa, hah?” gumamnya dalam bahasa yang hampir tidak terdengar tapi tatapannya jelas kesal.

Namun meski hatinya bergejolak, langkahnya menuju mobil tetap anggun. Jema membuka pintu mobil mewah itu dan masuk dengan gerakan elegan walau wajahnya penuh kekesalan.

Liam menghela napas lega sejenak, seolah baru saja lolos dari singa betina yang nyaris menggigitnya.

Jema bersandar di kursi, menyilangkan kaki dengan aura dingin yang berbahaya.

“Baiklah, Liam. Ayo antar aku… ke pusat semesta kesialan itu.”

Liam kembali menelan ludah, tapi mesin mobil sudah menyala.

* * * *

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!