NovelToon NovelToon
ASTRALAKSANA

ASTRALAKSANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy
Popularitas:200
Nilai: 5
Nama Author: Im Astiyy_12

Sedikit tentang Arderos, geng motor dengan 172 kepala di dalamnya. Geng yang menjunjung tinggi solidaritas, pertemanan, dan persaudaraan di atas segalanya. Sama seperti slogan mereka yang berbunyi "Life in solidarity, solidarity for life." Kuat dan tangguh itulah mereka. Selain itu makna logo Arderos juga tak kalah keren dari slogannya.

• Sayap, yang memiliki simbol kebebasan, kekuatan, dan kecepatan. Bisa juga mewakili perlindungan atau penjagaan.
• Pedang, simbol kekuatan, keberanian, dan ketegasan.

Semua elemen itu saling melengkapi, dan tak akan lengkap jika salah satunya hilang. Sama halnya dengan Arderos yang tidak akan lengkap jika tak bersama.

"Solidaritas tanpa syarat, persaudaraan tanpa batas!"

"Riding bebas, tapi jangan kebablasan!"

Dengan lima pilar utama yang menjadikan pondasi itu kokoh. Guna mempertahankan rumah mereka dari segala macam badai.

Akankah lima pilar itu bisa bertahan hingga akhir tanpa luka atau kehilangan?.

~novel yang ku pindah dari wp ke sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Im Astiyy_12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka?

THE ETERNALLY; our home

Happy reading...

...Kamu berharga jika berada di tempat yang tepat....

.......

........

.........

........

.......

...(⁠✿⁠^⁠‿⁠^⁠)...

Brarak!

Brakkk!

"Arghhhhhh! T-tolong jangan lakuin itu! "

"Stoppp!"

"Aska! Please lo jangan lukain tubuh gue!!"

"Lo terlalu lemah Astra," ujarnya terus berusaha melukai tanda Astra dengan beling.

Astra menggelengkan kepalanya lemah," N-nggak! Gue nggak lemah!" lirihnya putus asa.

Kondisi kamar kontrakan yang sudah tak berbentuk lagi, selimut, bantal berserakan di lantai. Dengan buku-buku pelajaran berhamburan dari tempatnya, pecahan kaca dimana-mana, cukup untuk menggambarkan berapa kacaunya kamar pemuda itu.

"Lo, Lemah Astra!"

"Nggak! Stopp! Pergi dari hadapan gue sekarang sialan! " serunya menutup telinga rapat-rapat agar suara itu tak terdengar.

Dia tersenyum smirik, lalu menarik kasar tangan Astra, menempelkan pecahan kaca tepat di nadi pemuda tampan itu. "Lebih baik lo mati! Lo nggak berguna sialan!"

"Gue masih mau hidup!" serunya dengan kacau.

Dia terkekeh, "Hidup? Jiwa lo bahkan udah kosong, Lo masih pengen hidup?"

Ucapan orang di depannya ini membuat tenggorokan Astra kelu, benar, apa yang semua dia katakan adalah kebenaran!. Dia memang hidup tapi jiwanya kosong.

Astra menatap orang di depannya, air matanya luruh begitu saja, "Lo bener, gue emang bodoh, gue nggak berguna, gue lemah, g-gue ... "

"Ayo ... Bunuh gue sekarang!" pintanya dengan tatapan penuh permohonan, memegang tangannya lalu mengarahkan pisau di genggamannya ke lehernya.

Seseorang yang dia panggil Aska tersenyum evil, lalu menyentak tangan Astra, "Tapi sayangnya nggak semudah itu ... " desisnya, sebagai gantinya dia hanya menggores lengan Astra, lalu pergi dari sana.

Brakkk!

Suara pintu di dobrak dengan paksa dari luar.

"Astra! Lo udah gila hahh!" seru seorang pemuda dengan panik melihat kondisi temannya yang jauh dari kaya baik-baik saja.

Dengan tergesa-gesa Satya menghampiri Astra yang terduduk di pojok ruangan, dengan kepalanya yang dia tumpukan di lututnya.

Satya lantas mengikat lengan Astra menggunakan baju yang dia robek dengan paksa, darah berceceran di lantai, wajah kacau serta tatapan mata ya yang kosong membuat hati pemuda tampan itu sakit.

Sahabatnya yang selalu kuat tanpa pernah mengeluh sedikitpun, kini begitu kacau.

Aura kepemimpinan yang biasanya mengular hanya dengan melihatnya sekilas, kini redup... Bak di telan oleh kehampaan.

Satya menepuk pelan pundak Astra, "Jangan gini Tra ... " ujarnya lirih namun tak di tanggapi oleh Astra, dia masih dengan tatapan kosongnya.

"Sat ... Gue pengen istirahat." gumamnya dengan lirih bahkan hampir tak terdengar.

Satya mengangguk lantas membantu Astra untuk ketempat tidurnya, dia membereskan sedikit kekacauan yang Astra perbuat. Menata buku-bukunya di tempat semula, menyapu beling-beling yang berserakan. Setelah dirasanya cukup bersih dia lantas pergi dari sana.

Setelah berada di halaman kontrakan Astra, dia menatap dua pintu berwarna coklat yang bersebalahan. Dimana satunya adalah kontrakannya kosong milik Bumi.

Tangganya terangkat mengelus bekas luka yang berada di pergelangan tangannya, "Ternyata bukan gue doang yang gila!." lirihnya

Satya, Bumi, dan Astra, mereka bertiga sudah berteman sejak sebelum Arderos terbentuk. Dimana mereka masih menjadi anak-anak polos dengan seragam merah putih.

Dia mengenal semua temannya dengan baik, apa saja yang sudah mereka alami hingga menjadi seperti ini. Rasa sakit, kesepian, trauma, kehancuran, membawa mereka dalam sebuah hubungan erat bernama persahabatan.

Sekali lagi Arderos menjadi tempatnya pulang, tempat yang menerima dirinya dengan segalanya kekurangan dan kelebihannya.

Tangannya terkepal, dadanya terasa sesak, kenapa takdir begitu jahat kepada mereka. Mereka hanya sekumpulan anak-anak yang ingin tau bagaimana rasa dari sebuah kebahagiaan, tanpa perlu menggunakan topeng yang tebal ini.

...~(⁠◕⁠ᴗ⁠◕⁠✿⁠)~...

Malam harinya Astra mulai mengerjapkan matanya pelan, gelap. Satu kata yang terucap dari mulutnya.

Perlahan dia mulai bangkit lalu menyenderkan tubuhnya ke ranjang, memijat kepalanya yang sedikit berdenyut sakit.

"Gue kenapa?" gumamnya pada diri sendiri, dia memegang lengannya yang di balut kain terasa perih, dia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi.

Drttt ... Drttt

Dering ponsel membuyarkan lamunannya, dia lantas mengambil ponsel dan mengangkat panggilan itu.

" ... "

" Hmm, gue pulang sekarang."

Setelah menutup panggilan, Astra langsung mengambil jaket hitam yang selalu dia pakai dan keluar dari kontrakan.

Mengendarai motor hitam kesayangannya dengan kecepatan sedang, kepalanya masih sedikit pusing. Angin malam membuatnya merasa lebih baik.

Langkahnya cukup berat untuk memasuki rumah besar itu, hati nya gamang akan apa yang akan terjadi jika dia masuk kedalamnya.

Apakah dia akan di sambut dengan kasih sayang? Atau justru dengan luka yang baru?.

Gravitasi seolah hilang dari tempatnya berpijak, dengan langkah yang berat dan hati yang ragu dia melangkahkan kakinya memasuki rumah itu.

Plakkk!

Baru saja kakinya melangkah, sebuah tamparan langsung mendarat di wajah tampannya. Dia tak bergeming, apa yang dia harapkan dari orang yang berada di rumah ini.

Rumah yang setiap sudutnya menjadi saksi bagaimana kehidupannya selama ini di sana.

...(⁠ー⁠_⁠ー⁠゛)...

"Tutorial menjadi kaya dalam satu malam?" celtuk Satya tiba-tiba.

Saat ini kelima pemuda tampan itu tengah berada di WAMUD, jam pelajaran sudah berlangsung sejak tadi namun dari mereka tak ada yang ingin beranjak dari sana.

Bahkan Bumi si anak rajin pun ikut membolos, menikmati nikotin yang sedang dia hisap.

"Gimana?" balas Jaya.

"Ya gimana? Gue kan tanya tutorial bukan kasih tutorialnya."

"Ngepettt!" seru Arka.

Satya mengetuk-ngetuk dagunya, "Bukan jalan yang bagus, tapi kalo lo mau jadi babik nya ayoo,"

"Siyaland!" maki Arka, melemparkan kulit pisang yang dia makan.

Astra menabok pelan mulut Arka, "Bocil nggak boleh ngumpat."

"Tuhh cil dengerin, nggak boleh ngumpat," ledek Satya dan Jaya, membuat pemuda imut itu menggerutu kesal.

"Oh, ya, semalam Lion nantang kita buat balapan." ujar Satya memberitahukan.

"Hmm, terima." balasnya singkat.

"Muka lo kenapa?" tanya Bumi setelah lama diam.

Mereka semua menatap Astra, wajahnya masih terlihat tanpa meski banyak lebam-lebam ungu kebiruan dan plester di mana-mana.

"Lo di keroyok?" ujar Satya, seingatnya semalam wajah pemuda itu baik-baik saja. Hanya luka di lengannya saja.

"Jatuh."

Singkat, padat, dan gak jelas, lalu pergi dari sana, entah kemana sekarang tujuannya, ke kelas atau justru ketempat lain.

Mereka berempat hanya menatap malas sang ketua, jiwa-jiwa temboknya sudah kembali.

Tapi Satya merasa lega, biarlah hanya dirinya yang tau tentang apa yang terjadi semalam.

Astra melangkahkan kakinya menuju kelas sang adik, tiba-tiba saja dia ingin bertemu Calya.

Plakkk!

Plakk!

Suara tamparan terdengar di gudang yang Astra lewati, ingin tak peduli tapi hatinya berjaya lain. Dia melangkah mendekat kearah gudang, mengintip sedikit dari celah pintu yang sedikit terbuka.

"Gue bilang jauhin Astra bitch!" seru seseorang yang tengah menjambak rambut gadis bullyan nya.

Gadis itu menatap tajam Bita, "Cih, apa urusannya sama lo sialan!"

"Gue mau Astra! Dan lo penghalang hubungan gue sama dia!"

"Sadar diri mba, Astra juga milih-milih kali, ngga mau sama yang bekasan!" ujarnya tajam.

Calya tak dapat berbuat apa-apa, tangannya di jegal oke kedua antek Bita, Zoya dan Sara. Bita mencengkeram kuat wajah Calya hingga kuku-kuku panjangnya menusuk pipinya.

Plakk!

Plak!!

Brakkk!

Pintu gudang ambruk begitu saja karena tendangan Astra, membuat ketiga gadis itu tersentak kaget.

"A-astra ... " gumam Bita sedikit takut dengan tatapan mata Astra yang sangat tajam dan mengintimidasi.

"Berani lo sentuh adek gue, gue bunuh lo!" desisnya dengan nada penuh penekanan.

Sungguh aura yang Astra keluarkan begitu mencekik, baru kali ini mereka melihat seorang Astrea yang biasanya hanya memasang wajah datar menampakan ekspresi lain.

Astra mencekik leher Bita mendorongnya hingga menabrak tembok, "Berani lo ganggu adek gue bitch! Sualan!"

Tak lama keempat teman Astra datang, Bumi dan Satya berusaha melepaskan cekikan Astra pada Bita.

"Tra, lepas Tra! Lo mau bunuh anak orang hahh!" seru Satya mencoba menarik lengan Astrea.

Bita sudah tak berdaya, nafasnya memberat, bibirnya pucat pasi. Tentunya dia kesulitan untuk mendapatkan oksigen.

"Lepas!" ujar Bumi dengan nada yang cukup tinggi, lalu menghantam wajah Astra.

Cekikan nya terlepasnya, Zoya dan Sara langsung membawa Bita yang lemas keluar dari sana. Sedangkan Astra terhempas ke lantai karena pukulan Bumi yang cukup kencang itu.

Astra tak peduli, dia langsung menghampiri adiknya yang sudah duduk di kursi bersama Arka, dan Jaya.

" Lo nggak papa?"

Calya mengangguk, "Gue nggak papa, makasih Bang."

Brakk!

"CALYA LO OKE? BILANG SAMA GUE, MANA SI BITANJING ITU?!!" seru Kirana dengan menengok ke sana kemari mencari si sumber masalah.

"Gue nggak papa Ran, santai aja."

Kirana mendekat, "Nggak papa pala kau! Lihat wajah cakep lo jadi merah gini, awas aja sampe gue ketemu tu nenek lampir gue ulek sampe halus!" ujarnya dengan hati yang dongkol, tak terima sahabatnya di bully seperti ini.

"Cerewet banget lo Ran," celtuk Jaya membuat Kirana menatapnya tajam. "Suka-suka gue dong, mulut gue juga!"

"Dasar cewek preman," gumamnya masih bisa di dengar jelas oleh mereka semua.

"Apa lo bilang!"

"Gue nggak bilang apa-apa tuh," balas Jaya acuh.

Kirana ingin mendekat lalu mencabik-cabik wajah menyebabkan Jaya. Mereka memang tak pernah akur jika bertemu. Satya langsung menahan adiknya agar tidak mengamuk.

Astra membawa adiknya beristirahat di UKS, biarkan saja mereka ribut sampai mampus.

...~TBC~...

...Sayonaraa~...

...Bye~bye~...

...Jangan lupa vote dan komen nya ygy~...

...Bantu promsiin cerita aku yaww,...

1
KHAI SENPAI
sok cantik 😭
Nischaaa_
lu belum muncul lu bukan ubi kan??!
Nischaaa_: biasa ... trauma
total 2 replies
Nischaaa_
Gue kira Taehyun ternyata Soobin tohhh😭
ChocoMint!: samaaa aku jugaaaa😭
total 3 replies
Nischaaa_
astaga ... Sagara dan Aksara. Dua nama itu ....
Nischaaa_
INI NYELEKIT NYA YANG LANGSUNG BIKIN SEMUA BADAN GUE MERINDING ANJING😭
Nischaaa_: ohh enggak-enggak, aku cuma iya sedikit ... hehe, tapi aku memaklumi jika sudah lulus kontrak
total 6 replies
Nischaaa_
suka banget narasi kamu 😭
ChocoMint!: terimakasih, aku seneng dengernya 😭💞
total 1 replies
Nischaaa_
namanya agak sulit dibaca yah ...
ChocoMint!: kalo sering di baca pasti nanti terbiasa, mudah kok😊🙄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!