NovelToon NovelToon
Sajadah Cinta Untuk Hannah

Sajadah Cinta Untuk Hannah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

"Saya tidak menuntutmu untuk langsung mencintai saya, Hannah. Saya hanya memintamu mengizinkan saya menjadi imammu."

Hannah Humaira (20) baru saja ingin menikmati masa mudanya usai lepas dari asrama pesantren. Sayangnya, skenario hidupnya berubah total saat ia dijodohkan dengan Muhammad Akbar (28).

Akbar itu kaku, dewasa, dan terlalu serius. Sangat berbeda dengan Hannah yang ceria dan masih ingin bebas. Tapi, siapa sangka di balik sikap tenangnya, Akbar menyimpan berjuta cara manis untuk memuliakan istrinya.

Ini bukan tentang cinta pada pandangan pertama. Ini kisah tentang Hannah yang belajar menerima, dan Akbar yang tak lelah menunggu. Akankah hati Hannah luluh oleh kesabaran suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Tamu Tak Diundang

Aroma masakan Umi. Itu hal pertama yang menyambut indra penciuman Hannah begitu kakinya melangkah masuk ke halaman rumah.

Gadis berusia dua puluh tahun itu menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara kebebasan. Satu tahun masa pengabdian di pelosok Jawa Timur akhirnya selesai. Tumpukan kitab kuning, jadwal mengajar diniyah yang padat, dan antrean kamar mandi asrama kini tinggal kenangan.

"Assalamualaikum! Putri cantik Abah pulang!" seru Hannah sedikit nyaring sambil menenteng tas ransel besarnya.

Ia membayangkan skenario standar: Umi akan berlari dari dapur, memeluknya erat, lalu Abah akan muncul dari ruang tengah sambil melipat koran. Mereka akan makan siang bersama, lalu Hannah bisa tidur sepuasnya di kasur empuknya sendiri.

Namun, skenario itu buyar seketika.

"Wa’alaikumsalam," jawab suara berat dari ruang tamu. Bukan suara Abah.

Hannah terhenti di ambang pintu. Senyum lebarnya perlahan surut. Ruang tamu rumahnya yang biasanya lengang, kini dipenuhi orang.

Ada Abah yang duduk dengan peci hitam rapinya, Umi yang mengenakan gamis terbaiknya, serta sepasang suami istri paruh baya yang tak Hannah kenal. Dan di ujung sofa, duduk seorang laki-laki muda.

Laki-laki itu menunduk, menatap karpet, seolah sedang menghitung motif bunga di sana. Kemeja koko berwarna navy yang dikenakannya terlihat pas di tubuhnya yang tegap. Ia terlihat rapi. Terlalu rapi untuk sekadar tamu biasa di siang hari yang terik.

"Eh, Hannah sudah sampai," Umi berdiri, wajahnya tampak gugup namun berbinar. Ia menghampiri Hannah, setengah menyeret putrinya menjauh dari pintu. "Ayo salim dulu sama tamu Abah."

Dengan bingung dan tubuh yang masih lengket keringat perjalanan, Hannah menurut. Ia menyalami wanita paruh baya yang menatapnya dengan pandangan teduh dan penuh selidik—pandangan yang membuat bulu kuduk Hannah meremang.

"Ini Hannah? Masya Allah, aslinya lebih ayu daripada di foto," puji wanita itu lembut.

Foto? Foto apa? Sejak kapan fotoku beredar? batin Hannah menjerit.

Hannah beralih menangkupkan kedua tangan di depan dada ke arah bapak-bapak dan laki-laki muda itu sebagai tanda hormat.

Laki-laki muda itu mengangkat wajahnya sebentar. Sedetik.

Mata mereka bertemu. Hannah tertegun. Laki-laki itu memiliki wajah yang tenang, bersih, dengan rahang tegas yang ditumbuhi sedikit rambut halus. Sorot matanya tajam namun teduh, tipe wajah yang memancarkan wibawa tanpa perlu banyak bicara. Laki-laki itu tersenyum tipis, sangat santun, lalu kembali menundukkan pandangannya (ghadhul bashar).

"Duduk dulu, Nak," perintah Abah. Suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.

Hannah duduk di samping Umi, meremas ujung roknya. Firasatnya tidak enak. Jantungnya mulai berdegup kencang, menabuh dada seolah minta dilepaskan. Ia baru saja pulang. Ia belum sempat meletakkan tas, belum sempat minum air dingin, belum sempat merebahkan punggung.

"Begini, Nak Hannah," pria paruh baya di seberang sana membuka suara. "Mungkin Nak Hannah kaget kami datang tiba-tiba. Tapi niat baik, insya Allah tidak boleh ditunda."

Hannah menelan ludah. Ia melirik Umi, meminta penjelasan, tapi Umi hanya mengelus punggung tangannya.

"Saya Pak Hasyim, sahabat Abahmu waktu di pesantren dulu. Dan ini putra saya, Muhammad Akbar," lanjut pria itu sambil menunjuk laki-laki berbaju navy tadi. "Usianya dua puluh delapan, alhamdulillah sudah punya usaha sendiri dan insya Allah... sedang mencari penyempurna agamanya."

Dunia Hannah seakan berhenti berputar. Kata-kata selanjutnya berdengung di telinganya seperti suara lebah. Menjalin silaturahmi... mempererat persaudaraan... mengkhitbah...

Kata terakhir itu menghantam kesadaran Hannah.

Mengkhitbah. Melamar.

Hannah membelalak. Ia baru dua puluh tahun! Ia baru saja lepas dari aturan ketat pondok. Di kepalanya sudah tersusun rapi rencana kuliah jurusan Sastra, gabung organisasi kampus, travelling dengan teman-teman, dan mengejar mimpi menjadi penulis. Menikah tidak ada dalam daftar rencananya untuk lima tahun ke depan.

"Bagaimana, Hannah?" suara Abah memecah keheningan. "Abah dan Pak Hasyim sudah sepakat untuk menjodohkan kalian. Tapi keputusan tetap ada prosesnya. Akbar ini anak yang sholeh, Abah sudah kenal betul bibit bebet bobotnya."

Hannah merasa sudut matanya memanas. Ia menatap Akbar. Laki-laki itu masih tenang, duduk dengan punggung tegak, tidak terlihat gelisah sedikit pun. Seolah ia sudah siap menerima apa pun jawaban hari ini. Ketenangan Akbar justru membuat Hannah semakin panik.

"Hannah..." panggil Umi pelan.

Hannah menarik napas panjang, berusaha menahan agar suaranya tidak bergetar.

"Hannah... Hannah baru saja sampai, Bah. Hannah capek sekali," ucapnya jujur, meski bukan itu inti penolakannya. "Hannah juga baru dua puluh tahun. Hannah mau kuliah."

Keheningan menyergap ruang tamu.

Tiba-tiba, suara baritone yang lembut terdengar. Itu suara Akbar.

"Mohon maaf, Pak Kyai, Bu Nyai," ucap Akbar sopan kepada orang tua Hannah, lalu tatapannya beralih sekilas pada Hannah, teduh dan menenangkan. "Dek Hannah sepertinya lelah sekali. Perjalanan jauh pasti melelahkan. Tidak bijak jika kita memintanya berpikir berat saat kondisinya seperti ini. Izinkan Dek Hannah istirahat dulu."

Hannah ternganga sedikit. Ia tidak menyangka pembelaan itu justru datang dari "tersangka" utama yang ingin melamarnya.

"Saya tidak keberatan menunggu," lanjut Akbar, suaranya rendah namun tegas. "Biar Dek Hannah istikharah dengan tenang. Tidak perlu terburu-buru."

Abah menghela napas, lalu tersenyum lega. "Benar juga kata Nak Akbar. Maafkan Abah ya, Hannah. Abah terlalu bersemangat."

Hannah menatap Akbar sekali lagi. Laki-laki itu tidak sedang mencoba merayunya. Ia hanya bersikap... pengertian. Dan entah kenapa, hal kecil itu membuat dada Hannah berdesir aneh.

Di hari kepulangannya yang seharusnya penuh sorak sorai kebebasan, Hannah justru mendapati kakinya terikat pada sebuah benang takdir bernama Muhammad Akbar.

1
Juwitha Arianty Ibrahim
ko ga up. lagi sih thor, ceritanya lagi seru ini, jngn bikin penasaran dong
melda melta: ceritanya bagus Thor...kasih bumbu2 pelakor dong biar tambah sedep n greget 🤭
total 1 replies
Adnan
kapan update lagi kaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!