Kisah ini mengisahkan seorang perempuan yang ditakdirkan menjadi istri ketiga untuk murid kesayangan abahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Permata_Indah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part-25 Sarapan Bersama Umi
Didapur umi Ali sedang masak dengan Dinda dan Sarah untuk sarapan, setelah selesai masak lalu makanan tersaji dimeja makan lantai satu.
“Sarah” panggil umi Ali.
“Iya umi” jawab Sarah mendekat.
“Ali ko engga turun-turun” ucap umi.
“Mau Sarah panggilin umi” tawar Sarah.
“Iya boleh, sebaiknya kamu panggil dia untuk turun kita sarapan bersama” suruh umi.
“Iya umi” jawab Sarah mengiyakan.
Sarah langsung menaiki tangga menuju lantai tiga, dia mengetuk pintu ruang kerja Ali.
Tok.. tok.. tok..
“Masuk” ucap Ali dari balik pintu.
Sarah membuka pintunya lalu masuk, Sarah berdiri didekat Ali yang sedang duduk dikursi kerjanya didepan komputernya.
“Mas umi suruh kamu turun untuk sarapan bersama” ucap Sarah.
“Iya sebentar lagi saya turun, saya ingin menyelesaikan pekerjaan saya dulu sebentar lagi. Sarah minta tolong sekalian ajak Lizza juga untuk sarapan” jawab Ali fokus pada komputernya.
“Iya mas nanti saya sekalian ajak Lizza juga, mas Ali” panggil Sarah.
“Hhmm.. iya kenpa?” jawab Ali.
“Saya liat Lizza agak kurang nyaman dengan kehadiran umi, Sarah bener-bener engga tahu kalau umi akan datang sekaligus menginap disini” ucap Sarah.
“Menginap? Kenapa umi engga bilang kalau mau menginap, biar saja Sarah semua akan baik-baik saja. Dan soal Lizza tidak nyaman karena kehadiran umi mungkin karena Lizza belum terbiasa dengan umi mereka hanya bertemu saat lamaran dan saat ijab qobul belum sempat akrab, jadi tidak perlu difikirkan” jawab Ali.
“Baiklah mas” ucap Sarah langsung keluar dari ruang kerja Ali.
Sarah membuka pintu kamar Lizza yang berada disamping ruang kerja Ali, dan dilihatnya Lizza sedang berbaring dengan mata terbuka.
“Lizza kamu ingin tidur lagi?” tanya Sarah sudah masuk kedalam kamar Lizza.
“Ka Sarah?” jawab Lizza langsung bangit dari tidurnya menyenderkan kepalanya.
“Umi menyuruh kita untuk sarapan hayo turun bersama” ucap Sarah.
“Hhhmm... kakak duluan aja Lizza nanti menyusul” jawab Lizza.
“Lizza apa kamu merasa terganggu dengan umi mas Ali?” tanya Sarah.
“Tentu saja tidak ka, hanya saja Lizza tidak terlalu akrab dengan beliau jadi hanya sedikit cangung saja” jawab Lizza tersenyum.
“Yaudah segera turun saya tunggu dimeja makan” ucap Sarah.
“Siap ka” jawab Lizza.
Sarah keluar dari kamar turun menuju lantai satu, dikamar Lizza. Dia meraih ponselnya yang ada dimeja samping kiri, menelfon Zaynab.
“Angkat dong Zaa” ucap Lizza lirih.
Tidak lama kemudian telfon diangkat,
Zaynab: Hall
Lizza : Assalamu’alaikum Zaa kamu dimana
Zaynab: wa’alaikumussalam, ada dijalan habis beli
sarapan sekaligus beli keperluan dapur
gitu. Kenapa nih tumben nanyain?
Lizza : Jemput aku dong
Zaynab: Jemput dimana kan kamu udah pindah
kerumah suami kamu. Mana tau aku
rumahnya, lagian juga kenapa sih
mendadak banget? Lizza ini hari libur ya
jangan nambahin tugas aku deh
Lizza : Aduhh kamu nanya mulu deh udah
jemput aja dulu nanti aku ceritain kalau
udah ketemu kamu, aku serlok nih yaa
buru jemput aku
Tut.. tut.. tut..
“main matiin aja nih Lizza” omel Zaynab dibalik ponselnya karena Lizza mematikan telfonnya dengan sepihak.
Lizza bangkit dari sandarannya lalu bersiap untuk menunggu kedatangan Zaynab dan dimeja makan semua sudah berkumpul tidak lama Ali datang lalu duduk, dilihatnya kursi Lizza masih kosong yang ada disamping Dinda.
“Lizza belum turun?” tanya Ali.
“Mungkin sebentar lagi mas” jawab Dinda.
“Itu dia” ucap Sarah melihat kedatangan Lizza dengan penampilan rapih dengan tas selempang yang dia kenakan.
“Ka Ali Lizza minta izin mau pergi sama temen” ucap Lizza menghampiri Ali dan berdiri disebelah Ali yang sedang duduk.
“Teman kamu yang mana?” tanya Ali.
“Temanku namanya Zaynab” jawan Lizza.
“Oh, aku izinkan” ucap Ali.
Tumben diizinin biasanya diintrogasi dulu hhmm.. ucap Lizza dalam hatinya. Aku tahu kamu tidak nyaman dengan kedatangan umi maka dari itu aku izinkan kamu pergi karena umi dari awal tidak setuju dengan syarat yang kamu ajukan saat aku melamar maafkan aku, ucap Ali dalam hati.
Tingnong.. Tingnong.. Tingnong..
Suara bel rumah berbunyi.
“Itu pasti Zaynab aku pergi dulu” ucap Lizza mengulurkan tangannya dengan ragu menyalami umi Ali lalu saat tangannya ingin menyalami Ali jutru Ali menggandeng tangan Lizza dan bangkit dari duduknya.
“Aku antar kamu sampai pintu depan” ucap Ali menggandeng Lizza melangkah menuju pintu utama.
“Lizza” panggil Ali disela langkahnya.
“Iya ka” sahut Lizza.
“Jaga diri dan maaf membuat kamu tidak nyaman” ucap Ali.
“Bukan karena umi kakak datang aku jadi pergi, sebenarnya aku tidak ada masalah ka hanya saja aku ingin sesekali main sama Zaynab dihari libur. Jadi tidak perlu merasa tidak enak ka” jawab Lizza tersenyum.
Ali meraih knop pintunya lalu membukanya, dan didepan ada Zaynab yang sudah berdiri. Zaynab salfok sama tangan Ali dan Lizza yang saling bergandengan, setelah Lizza sadar kalau Zaynab sedang memandangi tangannya dia spontan langsung melepaskan gandengannya.
“Apa aku menganggu?” tanya Zaynab sedikit tertawa.
“Hey apa-apaan kamu ini menganggu dari mananya, sudah hayo pergi” perinta Lizza, menyalami Ali.
“Cie.. cie..” ledek Zaynab melihat Lizza mencium tangan Ali.
“Sudah hayo” ajak Lizza menggandeng lengan Zaynab lalu pergi masuk mobil dan mobil melaju.
Disela-sela perjalanan, Zaynab menyalahkan musik melayu kesukaannya.
Notes!!
Terimakasih untuk tetap membaca cerita aku, jangan lupa follow, like and coment yang baek.🤗🤗 Insyaallah up lagi besok yaa😊
thanks bt author dan jg NT uda ksih bacaan grts