Ini adalah memoar hidup aku. Segala hal yang aku ceritakan di sini adalah kejadian nyata yang pernah aku alami. Nama tokoh aku samarkan untuk melindungi privasi orang-orang yang bersangkutan. Aku menulis ini karena aku pelupa, jadi aku cuma enggak mau suatu saat apa yang aku ceritakan di sini aku lupakan begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lilbonpcs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 - Pelampiasan
Sebenarnya, waktu itu aku sudah cukup lama enggak lagi berhubungan dengan Veny. Tapi anak ini tiba-tiba muncul begitu saja, lalu mulai mengobrolkan hal-hal yang menurutku absurd. Mulai dari dia yang ngoceh soal belajar bahasa Jepang, sampai dia yang tiba-tiba rajin dandan. Anehnya, sisi dia yang seperti itu malah makin menarik di mataku. Dia benar-benar menunjukkan sisi manjanya sebagai seorang perempuan kepadaku.
Semakin lama aku mengobrol dengannya, semakin aku merasa aneh... tentang kenapa dia muncul lagi, dan apa alasan sebenarnya. Tapi aku perlahan mulai enggak peduli. Mungkin karena waktu itu aku cuma merasa kesepian dan butuh seseorang.
Yup... aku berhubungan dengan Veny sampai aku lulus SMK.
Tapi sebelum aku lanjut cerita tentang Veny ini, aku mau cerita dulu tentang akhir total hubunganku sama Vita.
Tiba-tiba saja Vita mengirim SMS ke aku. Waktu itu jam pulang sekolah. Aku agak heran karena kami masih sama-sama ada di sekolah. Harusnya cukup mudah buat dia nyamperin aku ke kelas, tapi dia enggak melakukan itu.
Satu pesan yang cukup singkat:
"Trick, aku mau ngomong serius."
Ah... tumben sekali. Aku pikir dia mau mempertegas hubungan aku sama dia. Misalnya berubah dari yang sebelumnya “Patrick dan Spongebob” jadi “Sayang”, mungkin saja. Itu yang dulu aku pikirkan.
Tapi, apa yang aku pikirkan tadi salah total.
Sebuah ketikan sederhana:
"Aku mau menikah, aku mau kamu datang ke pernikahan aku."
Dunia seakan berhenti di sekitarku. Semua hal yang aku pikirkan runtuh begitu saja. Semua perasaan yang masih aku simpan... dengan harapan akan tumbuh lagi... hilang begitu saja.
Aku balas dengan nada cukup dingin:
"Selamat ya."
Dan setelah itu, aku berhenti menghubunginya. Aku menghapus nomor teleponnya. Bahkan ketika kami berpapasan di sekolah, aku memalingkan muka, bersikap seolah enggak pernah kenal.
Sejak itu, semua hal soal cinta, rasanya... enggak ada lagi rasanya. Semuanya abu-abu. Sekadar pemuasan hasrat dan pelampiasan nafsu saja. Aku bahkan enggak lagi merasakan perasaan yang sama pada perempuan lain, bahkan pada Veny.
Di sisi lain, Veny mulai bersikap agak berlebihan. Hubungan kami... entahlah. Veny menganggap hubungan kami seperti “kakak-adik”. Tapi menurutku itu enggak sejalan dengan apa yang terjadi di antara kami.
Aku enggak memulainya. Aku masih menjaga batasan, karena aku tahu ada yang salah dengan Veny. Dia mulai mengajak aku melakukan “SMS seks”, sesuatu yang sama yang pernah aku lakukan dengan Vita. Dan aku menanggapinya.
Sampai satu hal memukul perasaanku...
Suatu sore yang kelabu, Veny menghubungi aku. Dia mengucapkan kata-kata yang membuat aku cukup terpukul. Dia terang-terangan bilang:
"Mas, aku hamil."
Sial...
Perasaan ini bukan patah hati, tapi rasa kecewa yang amat dalam. Kekecewaan seorang kakak pada adik perempuannya.
Aku marah. Yup... itu kesalahan pertamaku. Bukannya memberi dukungan padanya, aku malah terang-terangan marah padanya.
Lalu... aku malah berhenti menghubunginya. Meninggalkan gadis itu dalam kegelapan yang dia ciptakan sendiri, sendirian. Seharusnya aku menemaninya, bukan malah lari pergi.
Tapi aku pikir responsku waktu itu wajar. Seorang laki-laki yang pernah terlibat perasaan pada seorang perempuan, masih berhubungan dekat layaknya saudara, tentu marah melihat perempuannya dihamili laki-laki yang entah siapa.
Itu sudut pandangku waktu itu. Sudut pandang yang selalu aku sesali.
Selang beberapa waktu, segala hal tentang Veny mulai sirna. Aku disibukkan oleh urusan sekolah. Tentang ujian, tentang kelulusan, tentang masa depan.
Aku pengin banget kuliah, mengambil jurusan yang benar-benar aku minati. Aku ngomong ke orang tua, aku pengin kuliah di ISI, jurusan Musik atau Seni Lukis, apa pun itu. Yang jelas, kecintaanku pada dunia seni dari dulu memang cukup tinggi.
Tapi... orang tuaku bilang:
"Kalau kamu kuliah, kedua adik kamu enggak bisa sekolah."
Di titik itu, harapanku patah. Masa depanku... yang aku yakini akan baik-baik saja... mulai aku khawatirkan.
Dari sebelum lulus, karena aku bersekolah di SMK, banyak perusahaan besar yang sudah mulai memberikan informasi lowongan pekerjaan. Aku adalah salah satu dari ribuan siswa yang ikut mendaftar, mencari peruntungan.
Sayangnya... satu pun enggak ada yang berhasil. Aku ditolak mentah-mentah.
Hari-hari kesialanku benar-benar dimulai dari titik ini. Ke depan pasti bakal lebih berat. Itu yang aku pikirkan waktu itu.
Aku lulus dengan nilai yang benar-benar buruk...
Bahkan mata pelajaran yang seharusnya aku kuasai, aku cuma dapat nilai lima. Tapi aku lulus. Waktu itu aku cuma mikir, yang penting lulus, lalu segera cari kerja.
Aku melamar pekerjaan di berbagai tempat. Ada lebih dari sepuluh lamaran pekerjaan yang aku kirim dalam waktu satu minggu. Semuanya zonk. Ada yang sama sekali enggak memanggil, ada yang cuma sampai tes tahap pertama.
Aku menyadari sesuatu: manusia tanpa skill sama sekali itu aku.
Fakta bahwa aku benar-benar enggak punya skill. Seolah tiga tahun aku di SMK aku habiskan dengan sia-sia.
Saat aku mulai benar-benar putus asa, aku memohon ke Tuhan. Aku bilang:
"Tuhan Yesus, apa saja deh. Aku cuma pengin kerja. Pekerjaan apa saja bakal aku lakukan."
Lalu pada akhirnya, dari sekian banyak pekerjaan, aku diterima bekerja di salah satu minimarket skala nasional sebagai pramuniaga.
Gaji pertamaku cuma tujuh ratus ribu. Waktu itu aku senang banget. Bahkan aku sempat mentraktir ayahku makan “sengsu” pakai gaji pertamaku itu. Padahal faktanya, gaji segitu benar-benar kecil.
Lalu... di tengah kesibukanku bekerja, satu perempuan datang dalam hidupku. Sebut saja namanya Ani. Aku lupa kenal dia dari mana. Tapi aku sempat lupa kalau perempuan ini pernah hadir dalam hidupku.
Sekalipun hubungan kami sama rumitnya dengan perempuan-perempuan lain yang pernah hadir dalam hidupku, hubungan aku dan Ani lebih seperti hubungan saling memuaskan daripada soal cinta.
Begini, aku bakal ceritakan detailnya...
Ah... sebelum itu, soal Veny.
Dia mulai sering menghubungi aku lagi. Bukan soal cinta-cintaan, tapi sekadar berkabar. Dia mulai masuk kuliah di UGM, dan dia sudah punya pacar.
Lagi pula, aku dekat dengan Ani waktu itu. Dan ada satu fakta: dia enggak pernah benar-benar hamil.
Itu semua semacam seleksi yang dia lakukan, tentang seberapa kuat aku menyelesaikan masalah, dan seberapa besar cintaku ke dia. Tapi aku gagal di semua aspek, di matanya.
Nah, Ani...
Perempuan ini usianya jauh lebih tua dari aku. Sekitar tujuh tahun lebih tua. Pertemuan pertamaku sama dia terjadi di sebuah warung makan, dekat minimarket tempat aku kerja.
Jadi begini...
Minimarket tempat aku kerja dulu mengharuskan karyawan prianya untuk tidur di toko. Ada semacam mess kecil di belakang toko, buat tidur karyawan. Nah, dulu aku belum punya kendaraan.
Tapi salah satu teman kerjaku memang sengaja mengizinkan sepeda motornya dipinjam anak-anak toko. Berbekal sepeda motor pinjaman itu, aku janjian ketemuan sama Ani.
Gadis yang membuat aku melangkah ke sisi dewasa seorang pria.
---
Kalau kalian suka, kalian bisa mentraktirku kopi, dengan mengklik link di profilku, atau search link ini di browser kalian https://trakteer.id/lilbonpcs thanks sudah mengapresiasi karya ini...
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰
Tidak ada tujuan akhir disana. Tidak ada hadiah menanti. Tapi justru saat dia menyadari absurditas itu dan tetap memilih untuk mendorong batu, di situlah kebebasannya muncul.
Bahkan dalam penderitaan, Sisyphus bahagia
bukan karena penderitaannya menyenangkan,
melainkan karena penderitaan itu tidak lagi menguasainya🔥