lanjutan novel "CINTA YG SALAH"
hanya saja disini lebih banyak bercerita tentang kehidupan pernikahan roman dan
tania..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuni Maryuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25
Malam hari..
Roman dan Tania sedang makan malam berdua, sedang selfi sejak setelah merapikan barang-barangnya sore tadi ia pergi entah kemana, ia hanya mengatakan akan bertemu dengan teman lamanya.
"kamu masih mual? " Roman menanyakan kondisi istrinya
"udah nggak, cuma masih pusing aja" tangannya hanya mengaduk-aduk makanan di atas piring, rasanya ia sangat tak berselera untuk menyantapnya
"di kotak obat ada obat pusing kan? " menanyakan pada sang suami yang memang rutin memeriksa persediaan obat mereka
"jangan minum yang dikotak obat, " titah Roman melarang Tania
"aku kan pusing, masa nggak boleh minum obat" tak habis pikir dengan apa yang dikatakan suaminya, istrinya pusing malah dilarang minum obat
"udah deh kamu ikutin aku aja, nanti aku kasih obat pusing buat kamu"
"emang ada bedanya? " masih juga ngeyel dan ingin tahu kenapa suaminya melarang dia meminum obat yang ada di kotak obat
"ada" menjawab singkat pertanyaan Tania
"apa? " terus bertanya yang akhirnya makanan miliknya tak dimakan
"kamu tuh banyak tanya tahu nggak, nggak bisa apa iyain aja omongan suami kamu" mulai tak sabar menghadapi pertanyaan istrinya, padahal jika mau ia bisa menerangkan pada Tania kenapa ia sampai melarang istrinya meminum obat pusing sembarangan
Tania membelalak tak percaya hari ini sudah dia kali Roman membentaknya, seketika rasanya ia ingin menangis mendengarnya
sedangkan menurut Roman perkataannya masih dengan konotasi yang terbilang biasa dan ia juga sebenarnya tak terlalu emosi menjawab pertanyaan sang istri, bahkan kini ia dengan santai melanjutkan makannya tanpa memperhatikan sang istri yang sudah terlihat menggigit bibirnya menahan tangis
namun tangisnya ternyata tak bisa ia tahan hingga akhirnya terdengar suara isakannya yang membuat Roman langsung menengadahkan wajah dan melepas sendok yang baru akan diangkat menuju mulutnya
"lah ngapa nangis coba? " membatin sendiri bingung apalagi kesalahan yang tak sengaja ia buat
melihat mata suaminya yang tengah menatapnya malah membuat suara tangisnya makin kencang
"kamu kenapa? " bertanya panik seraya bangun dari duduknya dan mendekati sang istri
bukannya menjawab Tania malah menutup wajah dengan kedua telapak tangannya
"aku salah? aku ngelakuin apa lagi? " bingung sendiri melihat istrinya sekarang ini
"kamu marahin aku tadi" menjawab dengan suara yang mulai terdengar serak
"astaghfirullah, masya Allah, subhanallah,aku nggak marahin kamu beneran" sepertinya mulai frustasi menghadapi sang istri yang kini menjadi jauh sangat sensitif terhadapnya
"aku nggak suka kamu marah-marah " mengguncang lengan Roman yang berlutut di depannya
"iya aku nggak kayak gitu lagi, aku nggak bakal marahin atau bentak kamu lagi janji" mengikuti saja kemauan istrinya
"udah sekarang jangan nangis lagi, nanti tetangga denger dikiranya aku mukulin kamu nanti" lanjutnya memohon agar Tania menghentikan suara tangisnya
Tania pun menuruti perkataan suaminya dan mengusap pipi yang basah karena air mata
"kamu makan sekarang ya, tuh makanan kamu masih utuh " melirik makanan dipiring istrinya yang belum tersentuh sama sekali
Tania malah menggeleng "aku ngantuk " sahutnya
"ngantuk? " bertanya tak percaya, setelah membuatnya panik dengan tiba-tiba menangis kini dengan santainya mengatakan bahwa ia mengantuk
mengangguk lagi "aku mau tidur aja" lalu melangkah kedalam kamar meninggalkan suaminya yang tengah mengurut kening merasakan pusing
"ampuuun dah, berbentuk juga belum, tapi udah bikin gue senewen begini tuh anak" meng geleng-geleng kepala..
*****
Selfi tengah berada di sebuah kedai kopi bersama dengan Imran, ya teman lama yang ia maksud adalah Imran mantan kekasih kakaknya sendiri
mereka sedang berbincang sesekali tertawa mentertawakan banyolan yang dilontarkan Imran
"jadi kamu tinggal sama Tania? " tanya Imran
"he em" seraya mengangguk menjawab pertanyaan orang didepannya
"Tania masih suka ngomongin aku nggak sih sama kamu? " imran bertanya lagi
"nggak tuh, semenjak kak Imran pindah mbak Tania nggak pernah lagi ngomongin kakak" imbuhnya
"masih suka ya? " bertanya curiga dengan Imran yang masih menanyakan Tania
"kalo iya kenapa? " menyahut apa adanya saja
"janganlah kak, mbak kan udah nikah kayak nggak ada cewek lain aja" tak menyukai jawaban Imran yang jujur mengatakan masih menyukai kakaknya yang telah bersuami meskipun ia terkadang merasa iri dengan kakaknya namun ia sama sekali tak suka jika ada orang yang mengganggu kakaknya, ia merasa cukup ia saja yang mengganggu kakaknya itu
"iya deh nggak" mengiyakan perkataan selfi untuk saat ini meski hatinya tetap menggebu-gebu untuk memiliki Tania
"itu muka kakak kenapa siih? " penasaran karena sejak tadi ia bertanya tak juga dijawab oleh Imran
"mau tahu? " mendekatkan wajahnya pada selfi yang kini menatapnya dengan seksama
selfi menggerakkan kepalanya mengangguk ingin tahu apa yang terjadi pada wajah Imran, apakah karena kecelakaan atau hal lain
"perbuatan kakak ipar mu! " berkata tajam mengenai kenapa wajahnya bisa menjadi seperti sekarang
"hah? " melotot tak percaya namun akhirnya ia bertepuk tangan senang
"iissh rasain emangnya enak " malah mengejek Imran yang kini mendengus kesal mendapat ejekan dari selfi si adik ipar gagalnya
"malah kesenengan dia, sial nih perempuan" menggerutu dalam hati merasa makin terhina karena ditertawakan oleh adik mantan kekasihnya yang masih sangat ia inginkan
"nih kalo bukan karena Tania, ogah banget gue nemuin perempuan modelan kayak begini" terus membatin seraya melihat penampilan selfi dari ujung kepala sampai ujung kaki yang hanya mengenakan pakaian teramat mini
memamerkan body rampingnya di malam hari seperti ini, bagai seorang wanita yang sedang menjajakan dirinya pada lelaki hidung belang
Selfi terus tertawa tidak menyadari Imran yang tengah menatapnya dengan sangat sinis..
*****